"Ayo kita ke ruangan ku. " Abram menarik tangan Luna. Luna yang kaget berusaha melepaskan tangannya. "Pak.. tunggu dulu.. untuk apa saya ke ruangan Bapak? " Tapi apalah arti perlawanan Luna. "Sudah kamu nurut aja. Apa kamu mau jadi perhatian orang-orang di lantai ini? "
Luna hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang dikatakan bos nya ini.
Sesampainya di ruangan, Abram mempersilahkan Luna untuk duduk di Sofa. Ckckck.. memang beda ya ruangan bos ini. Luas, nyaman dan berkelas. Tapi untuk apa aku dibawa kesini. Dia ngga tau apa kalau kulit dadaku ini terasa perih dan panas. Luna membatin sendiri sambil memperhatikan isi kantor Abram.
" Widi perintahkan ceaning service untuk membersihkan tumpahan kopi Saya di Lantai 9. Dan handel semua urusan Saya karena Saya tidak mau diganggu. " Abram memberi perintah kepada sekretaris nya melalui interkom.
Abram lalu berjalan ke arah Luna sambil memegang sebotol minyak olive. Abram duduk di samping Luna.
"Buka baju kamu. "
Luna membelalakkan matanya. "Apa? Jangan aneh-aneh dong pak. Kenal aja ngga, udah nyuruh buka baju segala. Saya ngga mau Pak. Saya pulang saja. "
" Sekali lagi saya bilang buka baju kamu Luna Kusumahadi. Kamu pikir Saya buta huruf ngga bisa baca Nametag kamu. Kamu aja yang jalan ngga pakai mata tadi. Dan jangan pikir saya mau aneh-aneh sama kamu ya. Kopi Saya itu tadi diseduh dengan air panas. Pasti kulit d**a kamu yang terkena tumpahan kopi tadi perih dan sakit. Dan atas dasar kemanusiaan, saya mau mengoleskan dengan olive oil ini untuk mengurangi rasa panas dan sakitnya. Emang kamu mau kalau aset berharga kamu itu cacat? Jangan-jangan kamu ditinggal suami waktu malam pertama nanti" jelas Abram panjang lebar.