"Jangan-jangan kamu ditinggal suami pas malam pertama nanti" Kalimat terakhir Abram itu sontak mengejutkan Luna. " Ih. .. Bapak apaan sih? Ngga ada hubungannya tau. Kalau sampai itu terjadi, Bapak yang harus tanggung jawab. " protes Luna sambil menahan emosi. Tarikan nafas Luna seirama dengan dadanya yang naik turun. Dua gunung kembar itu langsung menjadi fokus netra hitam Abram.
Gila.. menggoda banget p*****ra si Luna ini. Kok jadi kayak manggil-manggil gue, tutuk Abram dalam hati.
Dengan perlahan Luna mulai membuka kancing kemeja putihnya. Hanya kancingnya saja. Ingat, hanya kancingnya saja ya Luna bisik suara hatinya.
"Pak.. Pak Abram.. ini udah pak. Sekarang mau diapain? " Suara Luna menyadarkan Abram dari pikirannya yang sudah travelling ke bulan.
Deg. Dua gundukan putih tersangga bra hitam 34C menantang netral hitam Abram.
"Oh. . Oke.. Kamu yang rileks ya.. " Abram mulai mengolesi kulit halus putih di pangkal gundukan kenyal Luna.
"Ah... pelan Pak.. Perih banget soalnya. " Luna terlihat meringis menahan sakit. " Ya iyalah Lun.. Sampai memerah begini pasti sakit. Tahan sebentar ya Lun. " Tangan Abram dengan lembut mengolesi kulit yang memerah tersebut. Abram mendekat sambil meniup-niup permukaan kulit itu. Jari-jari kokoh tangan seorang Abram kini meluncur melintasi gunung kembar Luna. Bahkan tanpa sadar jari-jari itu mulai bergerak sesukanya. Huh. Abram lepas kontrol. Tak ingin kehilangan kesempatan terbaik ini. Sambil menahan sesaknya celana, Abram berusaha tenang di depan Luna yang menutup mata menahan rasa perih... atau nikmat... mungkin?? Who knows???
"Hmmm... indah kamu Lun.. Cantik.. " Abram semakin mendekati wajah Luna. Abram meniupkan nafasnya ke ceruk leher Luna. Dan tentu saja jari-jari kokoh Abram semakin menuntut, membelai , mengusap-usap tepi puncak Luna yang sudah mengeras Holy s**t!!! Ntah bagaimana caranya Bra Luna sudah terlepas. Membuat kedua puncak Luna semakin menggemaskan.
Seketika Luna tersadar karena hawa dingin AC ruangan Abram. "Pak Abram.. Hmmm... sudah selesai belum? Nanti Luna masuk angin.. " bisik Luna. Luna merasakan kedua pucuk kembarnya menegang, mengeras, ingin disentuh.
"I want to kiss you Lun.. " Abram langsung meraup bibir Luna yang berbisik tadi. Luna yang baru pertama kali ini disentuh pria kaget setengah mati. Luna kebingungan harus bagaimana. "Rikeks Lun.. ikuti saja insting kamu. Aku yakin ini pasti ciuman pertama kamu kan? " Abram dengan lembut melumat bibir Luna. Dihisap nya rasa manis bibir itu. Sambil tangan kanan Luna membelai, meremas p*****ra Luna. Tak lupa sesekali memainkan puncaknya.
"Ahhhh.. Hmmm... " desah Luna yang terdengar sangat indah di telinga Abram. Tanpa aba-aba lidah Abram langsung melesak ke dalam mulut Luna ketika bibir sexy itu mendesah. Lidah Abram seolah membangunkan lidah Luna yang masih kaku. Abram terus meremas puncak Luna bergantian. Hingga akhirnya terdengar suara lirih Luna " Don't stop.. please.. "