Gotta memutar mata dengan jengah. Dia sangat muak melihat tingkah putri Retori itu. Gadis tersebut seperti cacing kepanasan dengan terus melompat kemudian menebaskan pedang ke udara. Tidak pernah sekalipun berhenti dan makin lama justru mengeluarkan segala sihir yang dia punya.
Bukan, Gotta bukan tidak berusaha untuk menghentikan tingkah gila itu. Namun seperti nya Freya sudah terlanjur gila. Hingga tidak dapat di kendalikan oleh siapa pun.
"Aku rasa Raja Retori akan menangis jika melihat keadaan putri nya pada saat ini. Sangat menyedihkan!" ucap Gotta setengah mencibir.
Gadis dari Irni itu hanya mampu menatap Freya dengan heran. Entah terkena kutukan atau mungkin itu memang sifat Freya yang sebenarnya. Yang jelas, semua orang akan tertawa jika melihat Freya seperti itu.
"Freya... bisakah kau berhenti dan kita segera keluar dari sini? Aku lelah melihat tingkah mu. Jika semua sikapmu saat ini ada hubungannya dengan rasa bersalah karena telah membunuh Naga ku. Rasanya inu semua terlalu berlebihan!"
Gotta tahu kalau mungkin saja Freya merasa tidak enak hati karena telah membunuh Naga klan Irni. Tapi bersikap bodoh seperti ini juga tidak ada gunanya. Tidak akan merubah apapun.
Akan jauh lebih baik jika mereka segera keluar dari hutan tersebut.
"Kamu fikir bisa keluar dari hutan ini dengan mudah gadis Irni? Tidak bodoh! Kita hanya bisa keluar jika salah satu peserta ada yang mati. Dan kau lihat? Gerbang belum terbuka hingga sekarang. Itu artinya belum ada yang mati!" maki Freya dengan terus berperang entah melawan siapa. Yang pasti keringat terus mengucur dari sekujur tubuh. Tampak sekali kalau gadis itu tengah kelelahan.
"Apa? Jadi kita tidak bisa keluar sebelum ada yang mati? Apa apaan ini!"
"Kamu fikir apa alasanya sejak tadi aku terus ada di pinggiran hutan? Tentu saja karena menghindari makhluk makhluk menjijikkan seperti yang ada di hadapan ku!" jelas Freya secara terperinci.
"Jadi semua ini sudah di atur? Tunggu? Maksud mu Nyonya Gerld ingin menyelamatkan kamu?" tanya Gotta yang masih tidak mengerti.
Gadis dengan kulit sawo matang itu mendekat ke arah Freya seakan ingin mendapatkan informasi yang jauh lebih jelas lagi.
"Ya...! Aku Nyonya Gerld tidak ingin aku dan juga kamu mati mengenaskan di telan hutan terlarang ini. Karena itu. Dia meminta aku memenggal kepala Naga mu sebagai hasil buruan. Kemudian meminta aku tetap di pinggiran hutan. Supaya saat gerbang terbuka. Kita berdua bisa langsung lari! Namun seperti nya Aldric tidak suka dengan keberuntungan kita!" ungkap Freya dengan marah.
Sejak tadi dia lebih memilih untuk diam dan tidak menjawab setiap pertanyaan yang sedang di ajukan oleh Gotta. Dia merasa semua tidak penting dan tidak perlu untuk di dengar. Namun lama lama dia merasa terganggu atas semua ocehan Gotta.
Freya menjadi tidak fokus dalam menghadapi mahluk kiriman dari Aldric.
"Jadi semua yang kamu lakukan ada alasannya? Tunggu... Freya, sebenarnya sejak tadi kamu melawan siapa?"
"Sudahlah tidak perlu banyak omong. Kalau kamu tidak ingin jadi tumbal. Lebih baik kamu bantu aku melawan makhluk jelek ini!" ujar Freya dengan nafas terengah.
Dia menancapkan pedang ke tanah setelah berhasil membunuh monster kiriman Aldric untuk kesekian kali. Namun Freya tidak bisa berpuas hati. Karena sebentar lagi monster itu akan segera bangkit kemudian menjadi jauh lebih besar kemudian membuat Freya mulai kewalahan. Jika Gotta masih ingin melihat matahari hingga besok pagi. Ada baiknya gadis itu ikut membantu Freya.
"Iya aku mau membantu mu. Tapi masalahnya aku dari tadi tidak melihat kamu sedang melawan siapa. Lalu bagaimana cara aku membantu mu?" ujar Gotta dengan bingung.
Jujur saja Gotta bingung dia harus membantu apa. Bukanya sejak tadi dia tidak melihat siapapun? Selain Freya yang menantang angin? Lantas bagaimana cara membantu Freya?
"Apa? Jadi kamu tidak melihat siapa yang aku lawan? Sial. Rupanya Aldric hanya ingin membunuh ku. Pantas saja sejak tadi mahluk jelek ini tidak pernah mendekati Gotta. Rupanya dia hanya mengincar nyawa ku?"
Kini Freya mengerti kenapa mahluk bengis itu bangun lagi setelah mati. Bisa saja itu hanya dikirim Aldric lewat alam bawah sadar nya. Yang itu artinya hanya bisa di selesai kan jika Freya bisa kembali menguasai diri. Atau paling tidak, Gotta yang bisa membunuh mahluk fiktif itu. Karena Gotta tidak masuk dalam putaran sihir.
Masalahnya bagaimana caranya? Jika pada saat ini saja Gotta tidak melihat bentuk dari mahluk itu.
"Gotta... terus tebaskan pedang mu. Aku akan memandu kamu untuk mengalahkan mahluk jelek ini!"
Tidak ada jalan lain. Freya dan Gotta harus bekerja sama guna menumpas makhluk tidak berbentuk itu. Dia tidak boleh lengah apalagi sampai kalah.
Dia akan menjadi kan Gotta sebagai alat.
Akan Freya pastikan. Makhluk bengis kiriman Aldric akan mati dengan tangan nya. Kalau perlu Aldric akan ikut Freya binasakan.
***
"Hahaha... hahaha... lihat lah kedua orang bodoh itu. Dia melawan angin! Hahaha... Freya Freya, kamu memang bodoh!"
Aldric menertawakan Freya dengan terpingkal. Dia bahkan sampai sakit perut karena terlalu lama tertawa. Melihat Freya dalam keadaan panik seperti saat ini sungguh membuat dia sangat bahagia.
Pasti Freya mengira kalau pada saat ini dirinya mengirim sihir ilmu hitam di bawah alam sadar. Padahal Aldric memang benar mengirim makhluk itu, hanya saja khusus untuk Freya karena itu tidak bisa di lihat oleh Gotta.
Dan cara untuk mengalahkan mahluk itu sangat lah mudah yaitu dengan mendatangkan hujan deras. Karena mahluk itu di buat Aldric menggunakan debu.
Sayang, Freya memang tidak pernah punya otak untuk bisa mencerna segala sesuatu. Dan jadilah dia mainan Aldric.
"Heh... gadis bodoh. Kamu tidak ingin melihat kebodohan yang di lakukan oleh teman mu? Lihat, dia menuruti Freya untuk melawan makhluk yang bahkan tidak dapat di lihat oleh matanya. Astaga... kamu, teman mu dan Freya memang orang bodoh!" hina Aldric sambil melihat Arabella yang pada saat ini hanya diam saja sambil memasang muka yang masam.
"Apa melihat orang lain sengsara membuat mu sangat bahagia? Aku tidak menyangka orang dari klan terhormat bisa melakukan hal serendah itu Pangeran Aldric!" sindir Arabella secara menohok.
Dia tidak pernah tahu jika ada seseorang yang begitu bahagia melihat orang lain menderita. Jangan kan bersimpati. Sedang Aldric justru menikmati setiap peluh kelelahan seperti saat ini.
Bukan kah Aldric adalah calon raja? Dia seorang pangeran. Tapi tidak ada satu pun kelakuan nya yang mencerminkan kalau dia adalah seorang pangeran. Sangat menyedihkan.
"Emm... sebenarnya tidak juga. Hey... kau lupa? Beberapa menit yang lalu aku baru saja menyelamatkan nyawa mu dari kematian. Jika aku tidak baik. Sudah aku biarkan ular kepala tiga itu menerkam mu hidup hidup!"
Aldric tidak suka di anggap bengis dan juga tidak berempati. Karena julukan itu seharus nya di sematkan kepada ayah Freya yaitu Retori. Karena raja itu adalah raja yang kejam dan juga bengis.
Kalau apa yang di lakukan Aldric saat ini kan hanya main main. Dia suka saja melihat Freya dalam kesusahan.
Menurut Aldric, gadis sebodoh Freya tidak pantas untuk ada di Acavalati apalagi sampai menjadi ratu di suatu saat nanti.
"Lalu kenapa kamu tertawa seperti itu? Itu artinya kamu orang jahat Pangeran Aldric. Kalau kamu bisa baik kepada ku. Kenapa kamu tidak bisa baik kepada Princes Freya? Apa karena dia hebat? Maka kamu takut tersaingi?"
Arabella setuju. Aldric bukan orang yang se mengerikan itu. Pemuda itu bahkan mau menyelamatkan nyawa Ara dari mara bahaya. Padahal mereka baru saja kenal. Namun pada Freya, Aldric seakan menyimpan dendam yang begitu besar dan tidak bisa untuk dia bendung. Ara rasa semua itu ada hubungan nya dengan Aldric yang tidak ingin di saingi.
Konflik para klan atas memang susah untuk di mengerti.
"Ada banyak hal yang tidak kamu tahu tentang Freya dan apa yang dia dan keluarga nya lakukan untuk negeri ini. Hah... andai saja kemarin aku berhasil untuk menenggelamkan nya di Samudra. Pasti hari ini tidak akan ada yang mati!" ungkap Aldric dengan kembali merebahkan tubuh. Untuk saat ini dia memejamkan mata. Seolah ingin mengistirahatkan diri dari lelah nya hidup.
Apa yang di katakan oleh Arabella benar. Aldric sangat ingin menyingkirkan Freya dari dunia ini. Dia tidak suka melihat gadis tidak kompetens seperti Freya itu bersikap angkuh. Kemampuan yang dia miliki tidak sebanding. Harusnya dia tidak perlu sombong.
"Kemarin pasti ada seseorang hebat yang menolong nya. Entah siapa!"
Aldric sudah memantau Freya selama ini dan perempuan manja lagi bodoh itu tidak pernah sekali pun kemampuan untuk mengendalikan binatang. Entah Freya mengelak atau pun tidak. Tapi pasti ada seseorang yang diam diam selalu saja membantu dia. Dan kali ini orang yang membantu Freya sangat tidak bisa di remehkan. Aldric sangat yakin itu.
"Emm... kenapa kamu sangat yakin kalau ada seseorang yang membantu Putri Freya? Padahal kan bisa saja selama ini putri Freya diam diam punya kekuatan itu?" tanya Arabella dengan wajahnya yang pucat pasi. Dia seakan sedang menyembunyikan sesuatu agar tidak ada yang tahu.
Berulang kali Arabella terus menyelipkan rambut di telinga.
"Tidak mungkin. Klan Freya bukan keturunan yang bisa mengendalikan binatang dan juga tumbuh tumbuhan. Mereka hanya ahli dalam mengendalikan cuaca! Mustahil jika Freya bisa melakukan nya!"
"Memang menurut mu siapa yang bisa untuk mengendalikan para binatang dan juga tumbuhan? Apa mereka hebat?" tanya Arabella lagi. Seolah ingin tahu banyak tentang sejarah kwanta dan para klan nya.
Selama ini Arabella tidak terlalu mendengar kan cerita semacam itu saat para tetua sedang mendongeng. Menurutnya itu tidak penting. Toh dia tidak akan masuk Acavalati. Begitu fikiran nya dulu. Tapi siapa sangka jika saat ini dia justru harus ada di Acavalati sebagai salah satu peserta.
Arabella harap, Aldric mau untuk menceritakan semua kepada dirinya.
" Dulu...Raja sesungguhnya Kwanta adalah seorang yang adil dan juga bijak. Dia tidak pernah sekali pun berlaku tidak adil. Suatu ketika di ceritakan bahwa datang monster pemakan penyihir. Seluruh Kwanta di buat kacau balau. Banyak penyihir yang mati. Akhirnya raja berhasil untuk melawan mahluk itu. Sayang sejak saat itu, Raja dan para Klan nya tidak pernah terlihat lagi. Orang orang percaya, raja dan semua klan nya mengorbankan diri untuk dapat membunuh monster jahat itu. Dan...hanya Klan raja yang mampu menguasi binatang dan tumbuhan!"
Aldric selalu suka tentang cerita itu. Cerita yang entah sudah di ulang berapa kali oleh Ayah dan juga kakak nya.
Menurut Aldric Kwanta tidak akan sekacau ini jika saja Raja dan para klan nya masih hidup. Sayang semua hanya tinggal kenangan.
Kwanta justru sekarang di pimpin oleh seorang raja yang sangat bengis dan tidak punya hati. Tidak heran jika pada saat ini Aldric sangat bernafsu untuk membuat Retori lengser. Meski untuk dapat mencapai itu tidak akan mudah.
"Klan ra-raja?" tanya Arabella dengan tidak percaya. Entah kenapa pada saat ini wajahnya jauh lebih pucat dari yang sebelumnya.
***
Gerld memandangi hutan belantara yang ada disisi belakang Acavalati dengan bibir yang takjub. Dia terlihat sangat bahagia karena hari ini binatang binatang purba peliharaan nya pasti akan kenyang karena menyantap para penyihir yang bodoh dan juga tidak mampu melindungi diri.
Selain itu Gerld juga berharap jika saudara kembarnya bisa memakan barang satu penyihir agar bisa senang.
Andai saja bisa menemukan saudara kembarnya. Gerld pasti akan sangat senang.
"Apakah putri Freya sudah mendapatkan binatang buruan itu?" Gerid bertanya dengan hati hati pada Nott. Dia tidak ingin jika sang putri akan kembali mendapatkan masalah. Apalagi sampai terluka oleh salah satu hewan purba.
Kalau sampai itu terjadi. Maka Retori tidak akan sungkan untuk mengirim nya ke neraka.
Gerld sudah susah payah memuluskan jalan Freya untuk menjadi pemenang dalam buruan liar saat ini.
Biasanya tidak ada satu pun yang mampu membawa binatang purba ke hadapan Gerld. Karena bisa membawa nyawa kembali saja sudah bersyukur.
Yang tereliminasi tentu saja dia yang mati karena tidak sanggup untuk melawan para penghuni hutan terlarang.
"Sudah Nyonya. Tuan Putri sudah berhasil membawa hewan buruan itu. Tinggal menunggu gerbang terbuka dan Tuan putri akan keluar sebagai pemenang."
Nott berdiri di belakang Gerld, mengikuti kemana pun wanita itu melangkah kan kaki. Saat Gerld ke kanan ia ikut ke kanan. Begitu juga saat Gerld berjalan ke kiri.
"Gerbang belum juga terbuka? Waw... peserta tahun ini tangguh tangguh. Baguslah. Itu artinya aku berhasil memilih para penyihir terbaik di Kwanta. Ya tentu saja kecuali si gadis dari Sigyn. Aku yakin dia akan pulang hari ini!"
Gerld selalu saja meremehkan Arabella. Dia merasa kalau memilih Ara adalah kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan.
"Emmm... tapi dia bersama dengan pangeran Aldric. Saya rasa dia akan selamat Nyonya."
"Aldric? Hahaha... apa yang bisa di lakukan oleh bocah ingusan itu. Kekuatan nya tidak akan sebanding!"
"Tapi Nyonya... Pangeran Aldric kembali menempatkan Tuan Putri dalam bahaya."