Fredrick masih gusar dalam singgahsana. Perkataan dari abdi kepercayaan yang dia miliki membuat dia terus memikirkan kemungkinan Klan raja yang hingga saat ini masih ada dan bahkan mungkin keberadaan nya sangat dekat dengan dirinya.
Sudah puluhan tahun, dia dan para klan nya melakukan pencarian. Tapi tidak pernah sekalipun dia menemukan dimana klan itu berada. Dan hingga saat ini dia tidak percaya jika klan itu masih ada dan bahkan ada di Acavalati saat ini.
Semua klan yang ada di Kwanta diketahui oleh Fredrick. Tidak ada satupun yang terlewat. Dan hingga saat ini nampak tak satupun terlihat mencurigakan.
Peserta dengan kemampuan terbaik di Acavalati adalah Aldric dan putri Freya. Kedua orang itu tentu bukan berasal dari Klan raja. Karena jika benar Klan Raja itu ada di Acavalati, pasti kemampuan yang dia miliki telah mencuri perhatian semua orang.
"Zayn... tetap awasi siapa orang yang memungkinkan sebagai keturunan Raja itu. Kita harus menyelamatkan dia sebelum Retori menyadari ini dan mulai membuat masalah."
Retori menjadi Raja bukan karena kehendak penghuni Kwanta. Dia menjadi Raja hanya karena menggantikan Raja dan Klan nya yang mendadak menghilang. Maka jika sungguhan Klan Raja itu ada. Tidak ada salahnya jika Klan Bath segera menyelamatkan.
Fredrick tidak boleh terlambat mengambil langkah.
"Baik Tuan. Saya akan terus mencari tahu siapa orang itu-"
Zayn menghentikan ucapan setelah melihat kabut yang pada saat ini ada di depannya begitu kental. Dia tahu jika sumber kabut itu berasal dari kamar Eric.
Kabut pekat dan panas yang keluar itu adalah sihir berbahaya yang Eric keluarkan.
"Tuan... apakah ini-"
"Eric... mau sampai kapan kamu membuat masalah!" geram Fredrick yang kemudian menghampiri kamar sang putra sulung.
Eric tidak bisa di biarkan terus terusan. Karena dia bisa mencelakai semua orang. Bukan hanya para peserta yang ada di dalam hutan terlarang. Tapi juga Klan Bath sendiri.
***
Sementara Fredrick tengah panik karena kelakuan Eric, Eric sendiri tengah berkonsentrasi dalam pertapaan. Dia membuat sihir nya menjadi kuat berkali lipat. Hingga tidak bisa untuk ditandingi oleh siapa pun.
"Habiskan tenaga mu, Freya. Habiskan hingga kau tidak akan sanggup lagi bernafas. Retori harus melihat jasad putri kesayangan nya dalam keadaan mengenaskan."
Tawa Aldric menggelegar, melihat Freya makin kesulitan dalam menghadapi Raksasa bengis kiriman dari Aldric.
Raksasa yang dikirim Aldric tentu bukan raksasa biasa. Karena dalam sihir yang dibuat Aldric, ada sihir tumpangan yang Eric kirim. Raksasa itu bukan hanya untuk menakuti Freya, seperti tujuan awal. Tapi untuk membunuh putri dari Retori itu.
"Mati kau Retori. Akan aku hancurkan kamu lewat putri mu."
***
"Apa lagi yang di perbuat anak itu?"
Mata Nyonya Gerld menyalang penuh dengan kemarahan. Dia sangat tahu bagaimana Aldrich. Pemuda itu suka sekali membuat masalah hingga kadang membuat kepala Nyonya Gerd menjadi pusing.
Saat pertama datang ke Acavalati, pangeran dari Bath itu membuat semua orang kelimpungan. Aula menjadi penuh dengan riuh ketakutan karena Aldrich memamerkan kemampuan sihir ilmu Hitam.
Andai saja tidak takut dengan Klan Bath. Nyonya Gerld sudah akan memberi hukuman yang berat pada pemuda itu. Di tambah lagi saat kemarin hampir saja membahayakan nyawa Freya di tengah laut. Entah harus dengan cara apalagi Nyonya Gerld memperingatkan Aldric.
"Emm... Pangeran Aldric mengirimkan monster yang tidak bisa mati kepada Tuan putri Nyonya. Saat ini Tuan Putri menjadi orang paling sibuk untuk menyelamatkan diri. Bukan hanya itu saja. Bahkan pada saat ini Pangeran Aldric sudah berhasil mendapatkan hewan buruan. Dan... hewan buruan nya adalah ular kepala tiga yang sangat anda andalkan."
"Apa?"
Nyonya Gerld berteriak hingga urat leher nya akan putus, dia kembali naik darah setelah mendengar penjelasan dari Nott. Bukan hanya membuat Freya dalam kesusahan, Aldric juga berhasil membunuh hewan kesayangan Nyonya Gerld.
Sedari awal memang bukan hal yang benar terlalu meremehkan Aldric. Kemungkinan, pria itu jauh lebih baik dari pada kakaknya.
"Benar Nyonya. Ular kepala tiga itu sudah di penggal Pangeran Aldric dan Arabella. Saat ini mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk keluar dari hutan terlarang, dan sembari menunggu. Mereka sengaja mempermainkan Putri Freya. Apa yang perlu saya lakukan Nyonya? Keadaan Tuan Putri sudah sangat terdesak!"
Nott khawatir jika terus dibiarkan. Freya akan mengalami kesulitan dan bisa saja berakhir dengan kematian. Jujur, Nott sangat menghindari hal itu, karena Freya adalah calon pemenang.
"Ck... jadi mereka berdua berhasil lolos dan bahkan menjebak Freya dalam masalah. Tidak bisa dibiarkan!" ujar Nyonya Gerld dengan mengepal kan tangan.
Rencana yang dia susun gagal total. Niat awalnya adalah menyingkirkan Aldric dan Arabella secara bersamaan. Namun apa boleh buat? Justru keduanya tampak solid.
Sedari awal Nyonya Gerld tahu, jika Aldric tidak bisa terbang. Dan oleh karena itu dia sengaja memasangkan Pangeran dari Bath itu dengan Arabella yang notabene penyihir paling lemah.
Nyonya Gerld fikir. Jika Aldric tidak akan mampu melawan para bala tentara yang ada di hutan. Tapi siapa sangka, justru Aldric dapat mengatasi semua dengan mudah. Ada kemungkinan Klan Bath mempersiapkan Aldric sebaik mungkin. Dia tentu tidak ingin jika kejadian yang menimpa Eric akan terulang lagi. Karena itu seperti nya Klan Bath begitu berambisi menjadikan Aldric pemenang.
Tapi tentu saja itu tidak akan di biarkan oleh Nyonya Gerld dengan begitu saja.
"Nott... kau tahu aku tidak akan bisa masuk kedalam hutan itu kan? Semua orang akan mengira aku memihak pada salah satu orang. Kamu faham maksud ku?"
Ini adalah pertandingan. Seharusnya siapa pun dibiarkan bebas untuk saling menjatuhkan dan Nyonya Gerld di larang keras untuk ikut campur. Namun tentu saja sebagai pengikut Retori yang setia dia akan membiarkan Tuan Putri nya dalam kesulitan yang besar.
"Siap Nyonya. Saya akan melakukan yang terbaik untuk menolong Putri Freya," ungkap Nott penuh dengan keyakinan.
Izin dari Nyonya Gerld sudah dia dapat. Kini tinggal saatnya untuk dia menjalankan aksi.
Sementara di tempat lain. Freya sudah mulai kehabisan tenaga. Gadis itu sudah berusaha keras untuk membuat mahluk bertaring itu mati. Tapi yang ada makhluk itu justru bertambah besar. Hingga Freya nyaris untuk putus asa melawan nya.
"Freya... apa kau yakin yang kamu lihat adalah sungguhan? Bisa saja itu hanya halusinasi mu saja. Jujur aku sudah tidak sanggup."
Gotta telah kehabisan seluruh energi. Hingga tidak mampu berdiri. Mengenai mahluk yang di maksud Freya. Dia pun tidak dapat melihat.
" Entahlah Gotta. Aku juga tidak tahu. Sebenarnya mahluk itu nyata atau tidak. Yang jelas... aku juga sudah tidak sanggup menghadapi nya!"