"Ak-aku mungkin akan menjelaskannya lain kali. Bukan sekarang. Karena sekarang tenagaku lumayan terkuras habis. Jadi aku rasa kamu mau mengerti."
Sebisa mungkin Arabella mencoba untuk mencari alasan. Dia tidak ingin sihir turun temurun yang diajarkan oleh Klannya akan diketahui oleh pihak lain. Apalagi orang orang di Sigyn sendiri jarang menggunakan sihir tersebut. Mereka hanya akan menggunakan sihir itu jika panen gagal. Itu pun hanya untuk mengusir hama yang ada di sawah atau pun juga para tikus yang dapat mrnyerang.
Arabella tidak bisa gegabah dan main mengajarkan pada orang lain tentang itu.
Lagipula Arabella tidak mengerti kenapa Aldric sangat tertarik dengan keluarga Sigyn.
"Kau kelelahan atau memang tidak ingin mengajari aku? Ck... apa orang orang di Sigyn memang sepelit dirimu semua? Ayolah... Klan yang lain bahkan tidak akan mempermasalahkan jika harus bertukar sihir. Itu tidak akan membuat Klan kalian jadi lemah. Kalian mengerti, kan? Ilmu sihir yang dipelajari jika bukan sihir keturunan mereka berkembang. Tidak akan bisa aku menyayangimu. Jadi tenang saja!" paksa Aldric. Yang meski Arabella menolak bagaimana pun. Dia bersikeras untuk diajari.
Lagipula menurut Aldric. Arabella tidak akan mendapatkan masalah sekalipun mengajarinya sihir tersebut. Tapi entahlah, Arabella seakan anti sekali untuk mengajari dirinya. Hingga terus saja menolak.
Arabella tampak takut dengan sihir yang dia punya. Tak tahu apa alasannya.
"Emm... ya, tentu saja aku mengajarimu tentang bagaimana menggunakan sihir Klan Sigyn. Tapi jangan sekarang. Aku harus meminta izin pada para tetua. Aku tidak bisa lancang dengan mengajari siapa saja. Maaf."
Dengan segala penyesalan Arabella harus menyampaikan itu. Sihir yang dia kuasai adalah sihir milik Klan dan tidak seharusnya Arabella menggunakan secara sembarangan.
Bukan dia ingin bersikap pelit pada Aldric. Hanya saja dia butuh izin dari tetua. Jika tetua tidak mempermasalahkan. Arabella juga tidak akan keberatan untuk mengajari pangeran dari Bath itu untuk belajar sihir mengendalikan binatang. Tapi jika para tetua bilang tidak. Maka Arabella juga tidak bisa untuk memaksa nya.
Aldric menganggukkan kepala. Meski dia kurang suka dengan keputusan yang Arabella buat. Tapi bukan berarti dia harus memaksa.
"Kenapa selama ini Klan Sigyn tidak pernah muncul ke publik? Padahal aku rasa sihir yang kalian miliki sangat luar biasa. Seharusnya Klan kalian bisa menjadi salah yang terhebat di Kwanta. Tapi kenapa seakan kalian mengurung diri?"
"Tidak. Apa yang aku lakukan tadi hanyalah sebuah kebetulan. Klan ku tentu saja tidak sehebat Klan yang kalian miliki. Jadi... tidak perlu salah faham dan terlalu membesarkan nya."
"Kamu tahu... aku merasa kalau Klan kalian adalah Klan keturunan Raja. Mungkin kau bisa menanyakan tentang hal itu pada tetua atau kepala Klan?"
Arabella tergelak mendengar perkataan Aldric yang dirasa tidak masuk akal.
"Kenapa kamu tertawa? Aku serius dengan ucapan ku. Kamu dan Klan mu bisa saja adalah keturunan Raja. Seharusnya kamu senang mendengar ini!" ujar Aldric kesal. Karena Arabella tidak percaya dengan ucapannya.
"Pangeran Aldric... aku rasa kamu terlalu berlebihan. Jika benar Klan ku adalah Klan Raja. Maka sekarang ini aku pasti sudah ada di istana dan mungkin aku bisa menjadi seorang putri. Tapi lihat sekarang. Aku justru ada disini bersama mu. Kekuatan sihir ku juga bukan apa apa jika di banding kan dengan kamu dan juga Tuan Putri Freya. Jadi jangan membuat lelucon yang tidak lucu."
Semua yang Aldric katakan. Serasa tidak masuk akal. Tidak mungkin dia dan juga Klan nya adalah keturunan Raja. Sedang lebih dari satu abad saja tidak ada satupun keluarga Klan Sigyn yang mampu menembus ke Acavalati.
Tidak ada yang bisa Arabella banggakan dengan Klannya. Jadi dia ingin Aldric tidak membuat candaan yang membuatnya tidak tertawa.
Wajah Aldric datar seakan tidak setuju dengan apa yang Freya katakan. Menurutnya, Freya terlalu merendahkan.
"Kau ingin tahu? Kenapa semua hewan purba masih hidup dan juga tumbuh besar dan buas disini?"
Arabella menggeleng kan kepala. Tidak tahu menahu alasannya. Jujur, dia kurang faham dengan seluk beluk Acavalati.
Ayolah... ini adalah kali pertama ia dan Klan Sigyn masuk ke tempat tertinggi di Kwanta itu. Sebelumnya mereka hanya bisa membayangkan bagaimana kerennya Acavalati. Tapi seluk beluk di dalamnya siapa juga yang bisa tahu?
"Karena Nyonya Gerld hanya bisa mengurung para hewan itu di hutan terlarang. Alasan kenapa Nyonya Gerld jadi kepala sekolah dan punya kekuatan tertinggi adalah karena dia satu satunya orang yang mampu menguasai sihir binatang. Tapi aku sudah bilang kan? Sihir tidak akan bisa berkembang dengan baik jika bukan di lakukan oleh Klan asli. Karena itu semua binatang disini dibiarkan hidup ganas. Gerld tidak mampu mengendalikan mereka dan kamu bisa."
Aldric ingin Arabella tahu satu fakta unik yang mungkin akan membuatnya tercengang. Tentang kemampuan gadis itu yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata.
Arabella harus tahu sehebat apa kemampuannya.
"Kau-kau pasti bercanda kan? Tidak mungkin tidak ada satupun orang yang bisa sihir pengendalian binatang. Itu tidak mungkin."
"Kau bisa mengajak Gerld untuk bertanding. Untuk menguji kekuatan sihir kalian. Kemudian kamu bisa lihat. Seberapa keren kamu. Dan seberapa Gerld tidak kompeten. Kau ingin aku menantang Gerld untuk itu?" tawar Aldric kemudian.
***
Gotta terus mengikuti langkah Freya. Kemanapun gadis itu akan pergi. Gotta ketakutan sendiri atas ucapan Freya, yang mengatakan kalau mahluk jelek seperti kata Tuan putri itu akan datang lagi.
"Freya... tapi kamu bisa kan menghadapi para mahluk itu lagi? Maksudku. Kamu adalah seorang putri. Harusnya kamu bisa mengalahkan para makhluk itu. Astaga... sebenarnya ini tempat apa? Kenapa mengerikan sekali!"
Setelah mengalami teror dari mahluk kiriman Aldric. Gotta fikir dia tidak akan kembali mengalami hal yang buruk lainnya. Namun apa daya. Semua hanya sebatas angan. Mereka tetap harus menyelamatkan diri dari ancaman para binatang buas.
"Ck.. sudahlah diam saja. Selama kamu tidak bergerak satu senti pun dari ranting yang aku buat. Semua akan baik baik saja. Tidak perlu khawatir."
Freya sudah sangat lelah hari ini. Dia membaringkan tubuh di tumpukan ranting dan mengistirahatkan diri. Semua tenaga yang dia miliki seakan tersedot karena melawan raksasa.
Putri dari Retori itu benar benar ingin tidur meski hanya sesaat.
"Ya... aku tidak akan pergi kemana mana. Aku akan pastikan untuk tetap disini!" jawab Gotta sembari memeluk lututnya.
Dia terus memandang ke sekeliling. Dan berharap jika makhluk yang mengerikan tidak akan datang lagi.
"Freya... ta-tapi kenapa pohon itu terus bergerak? Aku rasa ada yang tidak beres- kelabang raksasa?"