"Kejutan...!" ucap Aldric dengan senyum sumringah. Dia mengangkat kedua bahu dengan begitu bahagia saat mengatakan kata kata tersebut.
Mungkin bagi Freya itu terdengar seperti kata penghinaan. Namun bagi Aldric itu lebih seperti hiburan. Dia teramat senang karena berhasil membuat Freya terperangah dan tidak percaya, jika pada saat ini, semua gedung Hugvindor tersedia seperti semula. Padahal Freya sangat yakin jika dia telah menghancurkan semua.
Tangan Freya mengepal keras dan membuat seakan cepat untuk menonjok Aldric secara langsung. Untung saja Aldric dapat menghindar dengan cepat. Hingga pukulan Freya hanya mengenai udara.
"Aku benar-benar akan membunuhmu, Aldric!"
Kebencian di hati Freya bertambah besar. Dia bersusah payah untuk menghancurkan Hugvindor. Namun kenyataan nya semua itu sia sia. Tidak sedikit pun dia berhasil membuat tempat itu luluh lantah. Bahkan mungkin sedari tadi dia hanya seperti orang gila. Dengan membacakan mantra tiada guna.
Freya lupa, jika pangeran dari Bath itu adalah seorang pengendali fikiran. Dengan emosi yang memuncak yang pada saat ini Freya rasakan, pasti membuatnya mudah sekali di perdaya.
Aldric pasti telah membuat Freya berhalusinasi menghancurkan seluruh gedung. Padahal sedikit pun Freya tidak mampu untuk menyentuh Hugvindor.
Rasanya Freya marah dan benci pada saat yang bersamaan. Dia berjanji untuk menjadi lebih kuat dibanding Aldric.
"Sudah aku bilang Freya. Kita ini tidak sebanding. Anak manja seperti kamu tidak seharusnya melawan aku. Lebih baik kamu belajar dulu ilmu sihir, baru melawan aku. Tanpa ayah kamu, kamu hanyalah seseorang yang tidak ada gunanya!"
Ucapan dari Aldric sungguh menyakiti hati. Tapi bagi Aldric, itu adalah kenyataan. Freya tidak akan pernah sanggup untuk menghadapi dirinya. Dengan kemampuan yang biasa biasa saja. Aldric butuh seseorang yang jauh lebih baik dari pada Freya untuk dia jadikan lawan.
Bermain main dengan Freya hanya akan menjadikan levelnya jadi turun. Tapi jika Freya bersikeras untuk melawannya, ada baiknya, wanita itu meningkatkan kemampuan dulu. Supaya kekuatan keduanya tidak timpang.
"Baik baik anak manja, belajarlah yang rajin!" ujar Aldric. Berbalik badan hanya karena ingin mengusap kepala Freya sebagai penghinaan. Tidak lupa dia menyunggingkan senyum, supaya Freya makin sakit hati.
Hari ini, hari yang paling menyenangkan bagi Aldric. Dia bisa menang melawan Freya, dan menjadi juara dalam perburuan kali ini. Bukan hanya itu, dia juga telah berhasil membuat Freya mati kutu.
Aldric tahu, kalau emosi Freya pasti sedang tidak stabil, karena itu, dia masih begitu tenang saat Freya datang menyerang. Alih alih ingin membalas semua serangan yang dilakukan Freya. Aldric justru memanipulasi fikiran Freya.
Pangeran dari Bath itu sengaja membuat Freya seolah berfikir telah berhasil menghancurkan Hugvindor untuk membuktikan kekuatan yang dia miliki.
Aldric pura pura panik dan memarahi sikap Freya yang dia anggap mencelakai orang lain. Padahal jauh di dalam hati, Aldric sedang menertawakan kebodohan yang Freya miliki.
Bukanya dari awal Freya sadar, kalau tidak ada seorang pun murid Acavalati yang lari menyelamatkan diri saat gadis itu menghancurkan Hugvindor.
Tapi Freya yang terlanjur diliputi amarah justru diam saja dan tidak sedikit pun curiga. Justru gadis itu merasa sangat hebat karena berhasil melampiaskan semua kemarahan.
Sekarang setelah dia tahu apa yang terjadi. Rasa terluka dari Freya bertambah berkali lipat.
"Kroyes... kroyes... abracadabra!"
Freya mengucapkan mantra dengan berbisik. Pelan, sangat pelan, sepelan angin sore yang tengah berhembus.
Aura dingin yang sedari tadi menyelimuti. Perlahan justru berubah menjadi panas, sepanas magna yang baru saja dimuntahkan gunung berapi.
Jika tadi Aldric yang tersenyum senang. Kini giliran Freya yang mengulas senyum. Saat melihat Aldric mematung di tempat.
"Kamu itu tampan, Aldric. Sayang... kau itu banyak bicara! Dengan diam begini, kamu jauh lebih baik!"
Freya membisikkan kalimat itu tepat pada telinga Aldric yang kini telah berubah menjadi lempengan batu. Tidak, bukan hanya telinga Aldric yang berubah. Tapi seluruh tubuhnya.
Pangeran Bath itu telah dirubah oleh Freya menjadi patung kera.
***
"Putri Freya sangatlah hebat. Tapi aku rasa pangeran Aldric jauh lebih hebat!"
Becca menatap tidak percaya. Pada asrama Hugvindor yang tadinya hancur seperti bekas medan peperangan, kini dapat kembali seperti semula, bagaikan nirvana, hanya dalam sekejap.
Tidak, ini bukan hanya sihir biasa. Hanya para Klan atas yang memilikinya.
Setelah Freya menunjukkan bagaimana dia mampu menghancurkan seluruh bagian Hugvindor dalam satu jentikan. Maka Aldric membalas dengan membangun Hugvindor hanya dengan satu kali kedipan mata.
Keduanya hebat dengan cara masing masing. Tidak ada yang meragukan itu. Siapa pun pasti setuju jika kedua orang itu adalah peserta dengan kemampuan terbaik hingga saat ini.
"Waw... mereka seperti Romeo dan Juliet!" sahut Valeri dengan melihat ke arah Hugvindor yang indah.
"Ck... Romeo dan Juliet itu kisah cinta romantis Valeri. Sedangkan mereka saling bunuh!" toyor Becca pada teman satu kamar nya.
Bukan saling mencintai, pasangan yang punya kemampuan sihir tinggi itu justru saling jegal.
"Itu artinya kita sudah tidak punya kesempatan untuk mengalahkan mereka kan? Astaga... apa kita disini hanya sebagai penonton dan menyaksikan keberhasilan mereka? Sulit untuk dibayangkan!"
Gotta adalah seorang ambisius. Bukan senang setiap kali melihat kemampuan lawan, dia justru sedih.
"Tapi aku rasa pertandingan itu belum selesai. Ada yang sepemikiran?" tanya Arabella yang bisa merasakan hawa panas seakan sedang membuat dirinya terbakar.
Pertandingan itu terlalu singkat. Tidak mungkin keduanya menyudahi.
"Ck... itu berakhir Arabella. Meski Putri Freya menunjukkan sihir yang menakjubkan, tetap saja pemenangnya adalah Pangeran Aldric. Proses tidak penting yang paling penting adalah hasil akhir. Sudahlah. Tutup gorden. Dan kita pergi tidur. Tidak baik menyaksikan orang lain untuk kemampuan. Hanya akan membuat kita merasa tidak percaya diri!" ujar Gotta yang mulai menutup gorden dan menarik selimut.
Dia ingin istirahat saja. Beberapa hari ini, dia sudah di lelahkan dengan semua jadwal di Acavalati.
Akan ada banyak sekali tantangan yang akan dia hadapi di Acavalati, sudah sepatutnya dia menjaga kondisi tubuh.
***
"Cepat Nott, aku tidak bisa membiarkan dua anak nakal itu menghancurkan sekolah sihir ku. Astaga... apa aku harus menetralkan semua kekuatan di luar jam pelajaran? Ini gila Nott, aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak sejak Putri Freyaan pangeran Aldric masuk sini. Apa tujuan mereka masuk Acavalati memang untuk membuat aku gila?"
Kaki kaki Gerld yang masih saja lemah karena Aldric menghabisi Zetty masih terasa, namun terpaksa dia paksa untuk melangkah untuk menghentikan Aldric dan Freya saling serang. Jika tidak, kedua orang itu mungkin saja akan menghancurkan Acavalati bersama sama.
Kedua putra bangsawan itu memang biang kerok.
"Saya rasa itu ide yang bagus Nyonya. Kita akan mati kelelahan jika harus datang setiap saat untuk memisahkan mereka berdua. Astaga Nyonya. Aku bahkan belum tidur dalam beberapa hari ini! Dan mereka dengan seenaknya membuat aku tidak bisa berhenti mengurus kekonyolan yang mereka lakukan! Sekarang juga kita harus menetralkan tempat ini Nyonya!" ungkap Nott, yang setuju dengan usul dari Nyonya Gerld.
Kelakuan dari Freya dan Aldric sudah diluar batas. Dua orang itu sudah tidak bisa untuk didiamkan lagi.
Harus ada sikap tegas agar keduanya diam dan tidak membuat masalah.