“Kenapa jadi seperti ini?” Alexa menggaruk kepalanya dengan frustrasi.
Sementara itu, di sisi lain Beni, Dika, Ais, dan Maria hanya bisa saling pandang. Dalam perdebatan antara mahasiswa tenggara itu tadi, mereka sama sekali tak berani ambil suara dan ikut campur. Meskipun begitu, kelima orang itu tak tahu Rafa akan meledak dan semosi itu sampai Ardi yang temperamental pun terpancing. Semuanya tiba-tib terjadi. Rafa tadi hanya berpamitan pada mereka untuk mengejar ketiga temannya yang lain. Entah bagaimana nasib penyelidikan ini sekarang. Apakah dokter koas ini harus menyerah saja untuk mengajak para mahasiswa tenggara itu dan menjalankannya seorang diri?
Bagaimana pun juga, mereka berempat jadi bertengkar karena dipicu oleh misi penyelidikan yang digagas oleh dokter-dokter koas tersebut. Semuanya jadi kacau.
Beni yang merupakan ketua tim di antara mereka langsung menghela nafas panjang. Ia menoleh ke arah teman-temannya. “Untuk sementara lebih baik kalau kita tidak perlu hubungi mereka dulu. Ini masalah mereka dan biarkan mereka menyelesaikannya dahulu. Kita tak berhak mengganggu atau pun ikut campur.”
Dika tampaknya langsung mengangguk setuju. “Apa yang dikatakan Beni itu benar. Mereka itu sudah dewasa harusnya bisa mengatasi hal ini sendirian.”
Para dokter koas wanita yang mendengar penuturan dua pemuda itu langsung aling pandang, seolah meminta pendapat satu sama lain. Ais sendiri tampak kebingungan.
“Lalu, jadinya kita bakal mengajak mereka bergabung dalam misi penyelidikan ini?” tanya gadis berkacamata itu terhadap Beni dan Dika.
“Iya, batalkan saja daripada menunggu mereka yang masih belum jelas.” Dika mengucapkan hal itu sembari merengut kesal. Sejujurnya dokter koas yang satu ini agak kesal dengan sikap Ardi yang keterlaluan tadi. Padahal Rafa sudah setuju. Ia bisa melihat dengan jelas kemarahan di pemuda berambut coklat itu.
Beni tampaknya berpikir t6erlebih dahulu. Ia lalu menggelengkan kepalanya, tanda tak setuju dengan opini dari Dika. “Ada baiknya jika kita tetap menunggu mereka. Maksudku, kita lakukan penyelidikan dahulu tanpa mereka, kalau pun keempat orang itu akhirnya setuju ya kita terima dengan senang hati untuk bergabung. Bagaimana?”
Dika merasa kalau keputusan itu tak buruk juga. Ia lalu memandang ke arah tiga temannya yang lain yaitu Ais, Maria, dan Alexa. Terlihat para gadis itu tampaknya juga tak keberatan. Maria pun terdengar menghela nafas lega.
“Untuk sementara, memang itulah jalan terbaik saat ini,” ujar gadis berambut pendek itu dengan senyum di balik masker yang ia kenakan.
Kelima orang tersebut lalu saling berpamitan satu sama lain. Mereka pun pulang ke kediaman masing-masing. Masih tak menyangka kalau pertemuan dengan mahasiswa tenggara ini tadi akan berakhir seperti itu. Terlebih lagi, mereka juga kaget akan fakta latar belakang kehidupan Gabriel Delio. Menyelidiki keluarga anak itu terlebih dahulu sepertinya boleh juga untuk membantah tuduhan Edelton kemarin.
Sementara itu, di sisi lain ruang apartemen di mana keempat mahasiswa dari Universitas Tenggara itu tinggal selama berada di Distrik Pusat terdengar begitu hening. Tak ada suara apa pun di sana meskipun terlihat tiga orang manusia yang duduk di sofa ruang tengah. Mereka berdiam diri, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Suara bising dari kulkas dan detikan jam terdengar jelas mengisi keheningan dari ruangan tersebut.
Rafael Zohan alias ketua tim dari kelompok ini telah berhenti berteriak dan menggedor pintu sejak tadi. Itu berarti pemuda bermata hijau tersebut telah pergi meninggalkan depan ruang apartemen ini. Mereka bertiga tentu saja masih kesal dengannya. Bagaimana pun, Rafa tadi keterlaluan. Apa perlu ia semosi itu sampai mengatakan tabiat buruk mereka di depan para dokter koas itu?
Akan tetapi, setelah beberapa saat terdiam di ruangan ini dan tak ada yang mengatakan sepatah kata pun, ketiga orang itu mulai diselimuti rasa bersalah di dalam hatinya. Apakah selama ini mereka memang sudah keterlaluan seperti itu pada ketuanya? Tapi, mereka merasa kalau memang itulah sifat alami ketiganya sejak dahulu. Apakah secara tak langsung Rafael Zohan ingin sifat mereka berubah? Mana bisa coba?
Saat ini, Hendra adalah orang yang paling merasa bersalah dan kesal secara bersamaan terhadap Rafa. Ia adalah orang yang paling dekat dengannya di antara mereka bertiga. Tentu saja, mana tega pemuda yang merupakan juara dari perlombaan e-sport ternama itu membiarkan teriakan Rafa dan gedoran pintu tadi. Meskipun begitu, pemuda ini tak bisa melakukan banyak hal. Rasa kesalnya pada Rafa selama ini membuncah. Entah kenapa, hinaan Rafa tadi begitu kejam.
Ardi yang berdebat langsung dengan Rafa di taman tadi hanya merasakan amarah, amarah, dan kemarahan saat ini. Ia menganggap kalau Rafael Zohan adalah sosok bermuka dia. Di depan mereka saja, ia selalu bersikap biasa dan santai. Akan tetapi, siapa sangka kalau di dalam hatinya ia akan mengecap mereka bertiga seperti itu? Ada ungkapan yang mengatakan kalau sifat asli seseorang akan terlihat kita dia marah. Mungkin saja, ungkapan itu benar. Rafa belum pernah semarah ini dan akhirnya sifat asli dari ketua tim tersebut keluar juga.
Di sisi lain, Rino hanya merenung. Ia sadar kalau apa yang diungkapkan oleh Rafa tadi benar apa adanya. Sifatnya dan sifat kedua temannya yang lain selama tinggal bersama di sini memang seperti itu. Apakah mungkin Rafa sudah kewalahan dengan mereka? Jujur saja, hatinya sedikit tak enak pada pemuda itu begitu mendengar teriakannya tadi yang penuh akan syarat permohonan.
Perlu diketahui saja, pemuda dai jurusan psikologi ini telah mengenal Rafa sejak dahulu. Ia sudah paham betul dengan tabiatnya. Meskipun begitu, sepertinya Rafa lupa siapa dia. Kemarahan Rafa yang seperti itu tak asing lagi baginya. Rino paham betul kalau orang seperti Rafa itu sekali meledak maka ia mampu membendung emosinya. Memikirkan itu semua membuat kepala pemuda dari jurusan psikologi tersebut berdenyut sakit. Ia menghela nafas panjang lalu berdiri dari posisi duduknya.
Aksi Rino yang berjalan mendekati pintu keluar itu sontak saja jadi pusat perhatian dari Hendra dan Ardi. Alis Hendra mengernyit heran melihat pemuda yang saat itu membuka pintu. Ia lalu bertanya, “Kau mau ke mana?”
Itu adalah perkataan yang pertama kali terdengar dari ruangan ini setelah hampir satu jam lamanya mereka bertiga hanya diam dan merenung. Rino yang hendak berjalan keluar pun langsung saja menoleh ke arah mahasiswa farmasi itu.
“Kepalaku sakit sekali sekarang,” ujar Rino seraya memukul-mukul pelan kepala miliknya. “Aku akan pergi ke atap apartemen untuk mencari angin segar.”
Tak ada yang berujar lagi setelah itu. Rino pun menutup pintu dan berjalan keluar. Ruang apartemen yang satu itu kembali hening seperti sedia kala. Apa pun yang terjadi sekarang, Rino Falderon hanya ingin menghirup banyak udara segar sebisa mungkin agar kepalanya tak lagi berdenyut sakit.
Bulan Januari itu memiliki banyak ciri khas tersendiri. Masyarakat di Iranjia selalu menganggap kalau Januari senantiasa membawa harapan baru bagi semua orang. Jujur Rino juga setuju akan kiasan tersebut. Bagaimana pun juga, euforia dari penyambutan acara tahun baru senantiasa terasa sepanjang bulan Januari. Meskipun begitu, pemuda yang satu ini juga membenci Januari di saat yang bersamaan.
Ada ungkapan yang mengatakan kalau Januari itu adalah kepanjangan dari hujan sehari-hari. Pemuda yang satu ini tak pernah menampik akan hal itu. Sebagai negara tropis, Iranjia hanya memiliki dua musim saja yakni kemarau dan hujan. Di bulan Januari inilah, hujan semakin sering muncul bahkan tak jarang setiap harinya selalu turun hujan di sini. Semuanya terasa menyebalkan saja. Apalagi Rino Falderon sama, sekali tak menyukai hujan. Ia benci dengan sesuatu yang identik dengan hal-hal basah dan dingin.
Ketika membuka pintu atap apartemen, pemuda yang memiliki usia paling muda di antara mereka bertiga itu langsung merengut kesal. Alisnya terpaut yang memandakkan bahwa ia kesal sekarang. Bagaimana tidak, mendung dan awan bergerombol malam ini di atas langit Distrik Pusat. Mau tak mau ia harus menerima kenyataan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Sepertinya pemuda ini harus secepat mungkin menghirup udara segar yang banyak dan kembali ke ruang apartemen miliknya di bawah.
Rino tampak menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri, ia tengah berusaha melemaskan otot lehernya yang kaku. Bagaimana pun juga, leher kaku bisa memicu sakit kepala. Setelah melakukan pemanasan itu, ia dengan cepat menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya beberapa saat kemudian. Mahasiswa dari jurusan psikologi itu terus melakukan kegiatan yang sama berulang kali sampai rasa sakit di kepalanya berkurang.
Dengan senyum yang merekah lebar karena kondisinya sekarang yang lebih baik, Rino pun melihat-lihat pemandangan di sekitar atap ini. Mata hitamnya sontak saja terpaku pada seorang lai-laki berjaket hitam yang saat ini berdiri diam di tepi pagar pembatas atap. Segala spekulasi langsung saja muncul secara liar dalam pikirannya saat ini. Ekspresinya begitu bingung sekarang.
Apakah orang itu akan melakukan bunuh diri? Apa yang harus ia lakukan saat ini? Apakah Rino perlu memanggil Hendra dan Ardi yang berada di apartemen untuk membantunya mencegah orang itu? Atau ia harus bergerak sendiri ke sana dan melarangnya bunuh diri? Ah sial, pemuda ini tak bisa berpikir banyak lagi. Kalau ia masih diam di sini, maka orang itu bisa saja akan terjun sekarang dan tewas di hadapannya.
Akan tetapi, bagaimana jika orang itu adalah orang yang terkonfirmasi Ex-0? Ia masih waras untuk tak melakukan kontak langsung dengan pasien Ex-0. Meskipun begitu, Rino masih bingung. Tak mungkin ia membiarkan orang itu mati di hadapannya bukan?
“Arghh persetan dengan Ex-0 atau bukan sekarang. Aku harus segera mencegah orang itu untuk jatuh dari ketinggian ini,” ucap Rino dengan kesal. Pemuda itu pun akhirnya berlari ke arah laki-laki berjaket hitam tersebut.
Mahasiswa psikologi tersebut dengan kesal berteriak, “Oi, apakah kau gila ingin melakukan bunuh diri di sini?! Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja!”
Terlihat dengan jelas bahwa teriakan Rino itu membuat pundak orang tadi tersentak kaget. Orang berjaket hitam itu pun berbalik dan melihat ke arah sumber suara yang meneriakinya tadi. Begitu terkejutnya mereka tatkala melihat satu sama lain. Mata Rino pun sontak melebar tak percaya.
“Eh? Rafa?”
Rino sama sekali lupa pakaian apa yang dikenakan oleh Rafa tadi. Ia bahkan masih kaget jika orang asing yang dikiranya akan bunuh diri tadi adalah ketua timnya. Sosok laki-laki berjaket hitam itu pun hanya bisa menatap Rino dengan heran. Apakah anak ini mengira dirinya akan melakukan bunuh diri di sini?
Suasana canggung di atap ini terasa begitu jelas. Apa yang telah mereka alami di Taman Adiyasa tadi membuat atmosfer canggung ini menguar dengan kuat. Mata Rino terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia tak berani menatap Raffa langsung sekarang. Dengan gagap, pemuda dari jurusan psikologi itu pun memarahi Rafa yang hanya berdiam diri di hadapannya.
“A-apa ... apa kau itu gila hah?!”
Alis Rafa sontak mengernyit heran mendengar penuturan dari temannya ini. Ia masih saja diam dan melihat Rino yang malu dan kesal secara bersamaan sekarang. Jujur saja, ia tak tahu harus berkata apa saat ini. Pikiran Rafa masih kacau sekarang, apa lagi kondisi hatinya saat ini. Ia sama sekali tak menyangka jika Rino akan datang ke atap di jam ini. Tahu begini, Rafa tadi tak usah pergi ke tempat ini.
Melihat Rafa yang masih terdiam membuat Rino semakin kelimpungan. Bukankah Rafa tadi terdengar begitu memohon agar mereka bertiga mau membuka pintu dan berbicara dengannya? Lantas kenapa pemuda yang satu ini malah terdiam saja ketika Rino sudah ada di depannya? Padahal Rino sudah berbicara terlebih dahulu padanya.
“K-kau itu gila hah? Apakah pertengkaran kita tadi membuat otakmu tak bisa berpikir dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dari sini hah?!” tanya Rino dengan kesal. Fakta bahwa Rafa hanya diam pun membuatnya semakin kesal.
“Siapa juga yang memangnya mau bunuh diri?” gumam Rafa santai.
Rino sedikit tersentak dengan gumaman santai dari Rafa itu. Pemuda ini terlihat bersikap biasa dengannya dan bahkan tidak gugup seperti dirinya tadi ketika mencoba berbicara. Meskipun begitu, sorot mata dari Rafa langsung menarik perhatian Rino. Mata hijaunya terasa begitu kusam dan tak seperti biasanya. Rino entah kenapa tiba-tiba teringat dengan kenangan yang ia lalui bersama Rafa dulu saat masih kecil.
Di sisi lain, Rafa membalikkan badannya. Ia kembali bersandar ke arah atap dan melihat pemandangan Distrik Pusat dari sini. Pemuda dari jurusan mikrobiologi tersebut tampaknya mengabaikan Rino dan kembali dengan dunianya sendiri. Melihat itu, tentu saja Rino langsung menghela nafas panjang. Ia pun berjalan mendekati Rafa dan ikut-ikutan bersandar di pagar. Keduanya saat ini menatap pemandangan Distrik Pusat dari sini.
“Maafkan aku,” ujar Rafa tiba-tiba.
Nadanya begitu pelan ketika ia mengucapkan hal tersebut. Pemuda yang satu ini bingung harus bagaimana. Ia terlalu lelah berteriak-teriak seperti di depan pintu apartemen tadi. Energinya telah habis ia gunakan untuk memikirkan banyak hal di atap ini sejak beberapa saat yang lalu. Rino mau berdiri di sampingnya, itu berarti ia telah memaafkan kejadian di taman tadi bukan?
Rino menoleh ke arah Rafa di sebelahnya. “Sudahlah, saat ini bukan waktu tepat untuk membahas itu lagi.”
“Mereka masih marah?”
“Siapa? Ardi dan Hendra? Entahlah.”
Keadaan menjadi hening lagi sekarang. Angin dingin yang membawa mendung kembali berembus pelan di atas atap ini. Rambut dua orang itu terlihat bergoyang pelan karena tiupan angin. Mereka berada di dalam dunianya masing-masing. Melihat Rafa yang hanya diam dan menatap kosong ke arah gedung-gedung bertingkat Distrik Pusat, entah kenapa membuat Rino dejavu. Kenangan ini entah kenapa, seperti pernah terjadi di antara mereka berdua.
“Hei.”
Ucapan Rino itu sontak saja membuat Rafa menoleh. Ia menatap temannya yang satu ini dalam diam. Rino sendiri saat ini terlihat menarik maskernya ke arah dagu. Matanya masih menatap lurus ke depan.
Dengan senyum simpul, Rino bertanya, “Kau masih ingat kenangan tiga belas tahun lalu, di SD Mentari, tepatnya di atas gedung sekolah?”
Senyum Rino merekah lebar saat ini dan Rafa hanya bisa mengerutkan alisnya sebagai tanda tak mengerti. Apa maksud dari pemuda yang satu ini? Mata Rafa pun sontak kaget begitu ia mengingat apa kejadian yang telah terjadi 13 tahun lalu.