Langkah kaki yang melangkah dengan tergesa terlihat jelas melewati anak-anak tangga dari gedung bertingkat tersebut. Tidak hanya sepasang kaki saja melainkan lebih dari satu. Hal itu menandakan bahwa orang yang melangkah tadi tidak seorang diri saat ini. Mereka terus melaju tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan semakin mempercepat jalannya.
Begitu tiba di depan ruang yang dituju, mereka membuka pintu dengan kasar dan membantingnya begitu saja. Suara bantingan itu sontak mengeluarkan bunyi keras dan membuat orang di sekitar bertanya-tanya.
Agak jauh dari keberadaan orang-orang tadi, sepasang langkah kaki lain terlihat begitu tergesa sekarang. Ia berlari dan menaiki anak tangga dengan cepat. Nafasnya tak henti berpacu sejak tadi. Detak jantungnya terus berdetak begitu kuat karena ia paksa untuk berlari sejak tadi. Ketika tiba di ruangan yang dituju, pemuda itu langsung saja menggedor-gedor pintu.
“Kalian bisa dengarkan aku kali ini?!” teriaknya. Ia menggedor pintu tanpa henti. Alisnya terlihat menukik, mendadakan betapa emosinya ia sekarang.
Sosok pemuda yang sejak tadi menggedor pintu itu ialah Rafael Zohan. Siapa pun yang melihatnya saat ini bisa tahu kalau Rafa sangat emosi sekarang. Teman-temannya ini untuk sekali lagi berulah dan menentang apa keputusannya. Bukannya dikomunikasikan dengan baik, mereka bertiga justru membisu dan mengurung diri dalam ruang apartemen dan menguncinya dari luar. Apakah mereka gila? Mereka bukan anak kecil lagi, tapi kenapa justru seperti ini?
“Bukankah kalian sudah berjanji untuk mematuhi apa perkataanku?” Rafa menanyakan itu pada Rino, Ardi, dan Hendra dengan sorot mata kecewa. Ia memukul pintu dengan keras untuk melampiaskan betapa marahnya pemuda ini sekarang.
Tidak ada jawaban dari mereka bertiga di dalam. Karena menjadi pusat perhatian dari para penghuni di ruang apartemen lainnya, Rafa pun berhenti menggedor pintu dan berteriak. Tangannya terkulai lemas ke bawah yang menandakan ia telah menyerah membujuk mereka bertiga saat ini. Badan Rafa merosot jatuh. Ia tertunduk di lantai dengan raut sedih dan kecewa yang begitu kentara.
Bagaimana pun juga, Rafa setuju dengan ajakan para dokter koas tadi. Ia juga ingin melakukan penyelidikan sendiri terkait kasus kebakaran lab kemarin. Mana mungkin dirinya bisa diam dan menunggu laporan dari polisi setelah hasil kerja kerasnya sejak bulan Maret lalu telah hancur lebur tak tersisa? Apa lagi, masa depannya tengah dipertaruhkan saat ini. Rektornya telah memberikan mandat untuk melakukan penelitian ini sebagai pengganti dari skripsi.
Ketika penelitiannya telah hancur, apakah ia akan berdiam diri saja dan hanya menunggu tanpa melakukan hal lain? Tidak, Rafa tak ingin melakukan hal itu. Kalau pun ia harus menyusun skripsi saat ini, maka terlambat sudah. Teman-temannya yang lain pasti sudah melakukan sidang sekarang. Bagaimana mungkin ia masih memulai menyusun skripsi di saat seperti ini?
Mencari tahu siapa dalang di balik ini semua adalah jalan terbaik. Toh, mereka berempat alias para mahasiswa tenggara ini tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Profesor Jack bahkan menyuruh mereka untuk menetap di Distrik Pusat sementara waktu. Waktu adalah emas. Tidak mungkin Rafa harus membuang-buang waktunya yang berharga hanya untuk menunggu dan tidak melakukan apa pun kan? Lantas kenapa mereka bertiga masih menolak keputusannya itu? Secara rasional, ikut dalam penyelidikan tim dokter koas itu adalah jalan terbaik saat ini.
Baik Rino, Ardi, maupun Hendra langsung terlibat cekcok dengannya tadi. Mereka terus beranggapan bahwa penyelidikan atau apalah itu adalah hal yang merepotkan. Rafa pun menyampaikan argumennya seperti tadi, bahkan didukung oleh lima dokter koas yang lain. Karena kalah dalam jumlah, opini dari Rino, Ardi, dan Hendra langsung terbantahkan. Mereka yang merasa atak terima langsung pergi begitu saja dari apartemen dan Rafa pun mengejarnya.
Meskipun begitu, akhirnya justru seperti ini. Ardi, Rino, dan Hendra yang tetap keras kepala dengan opini mereka bahwa penyelidikan ini merupakan hal kekanakan dan tak berguna langsung mengurung diri di dalam apartemen. Rafa pun berakhir dengan tertunduk lemas di depan pintu apartemen. Ia dikunci dari dalam dan duduk dengan sirat mata kosong. Pemuda itu terlihat memeluk lututnya, merenungkan apa yang salah dari ucapannya tadi. Kalau pun salah, seharusnya mereka bertiga tak perlu emosi seperti itu dan mengkomunikasikan hal ini baik-baik dengannya.
Dari awal, pemuda bermata hijau ini tahu bahwa memimpin tim mahasiswa tenggara ini begitu susah. Hendra, Rino, dan Ardi memiliki kepribadian hampir mirip yang sialnya justru kontras dengan kepribadian Rafa sendiri. Ia tahu akan hal itu sejak pertama kali bertemu dengan mereka semua di ruang rektorat hari itu.
Rafa kembali mengingat bagaimana kacaunya apartemen ini sejak pertama kali mereka berempat tiba di Distrik Pusat. Baik ia, Rino, Ardi, maupun Hendra saling adu argumen dan tak ada seorang pun dari diri mereka yang mematuhi perintah masing-masing. Meskipun ketiganya segan terhadap Rafa karena pemuda itu ialah orang yang paling tekun dan suci di antara mereka, nyatanya mereka masih saja membantah keputusannya sebagai ketua tim.
Dari awal bulan Maret lalu Rafa masih bisa bersabar hingga sekarang. Ia tidak pernah dengan serius marah pada mereka bertiga. Kemarahannya yang pertama terjadi saat insiden tahun baru kemarin lusa. Hal itu baru terjadi dua hari yang lalu.
Lantas kenapa mereka kembali melakukan hal yang sama sekarang? Kenapa mereka membantahnya lagi? Kenapa mereka bertiga justru marah padanya? Bukankah ia yang harus marah karena keputusannya dibantah lagi?
Rafa tak tahu. Ia sama sekali tak paham. Masih teringat jelas di benaknya bagaimana Ardi, Rino, dan Hendra yang marah di taman tadi. Mereka langsung tersulut amarah begitu merasa bahwa opini mereka terbantahkan oleh Rafa dan tim dokter koas itu.
“Rafa, kenapa kau justru memihak mereka berlima? Bukankah kami timmu di sini?!” Ardi menunjuk Rafa dengan emosi.
“Kalian ini yang apa-apaan. Ini bukanlah permainan anak kecil atau apa pun itu. Bukankah tadi aku bilang pada kalian kalau Profesor Jack meminta kita untuk berdiam diri di Distrik Pusat sementara waktu sampai pihak universitas memanggil kita untuk kembali ke sana? Dengan penyelidikan ini, kita bisa melakukan suatu hal yang berguna saat berdiam diri di sini dan mencari kebenaran di balik semua hal yang terjadi sekarang.”
Rafa menjelaskan hal itu panjang lebar. Ia sudah tiga kali menjelaskan ini namun mereka bertiga tetap kukuh dan keras kepala. Tak ada satu pun dari temannya ini yang setuju dengan opininya. Baik Hendra, Rino, maupun Ardi terus beralasan bahwa mereka ingin beristirahat saat masa libur ini.
Hendra yang selama ini paling dekat dengan Rafa langsung berusaha membujuk pemuda berambut coklat itu. “Rafa, pikirkan ini baik-baik. Kita tidak pernah mendapatkan libur kalau kita tidak meminta cuti. Bukankah kesempatan untuk berdiam diri ini harus kita manfaatkan dengan baik untuk beristirahat?”
“Apa yang dikatakan oleh Hendra itu benar, Rafa.” Kali ini Rino yang berusaha membujuknya. “Kegiatan penyelidikan apalah itu adalah hal yang merepotkan. Kita tidak perlu melakukan ini. Kalau kau mau, aku bisa meminta kenalanku di kantor kepolisian untuk melaporkan penyelidikan mereka secara berkala pada kita semua. Jadi, kita berempat tak perlu repot-repot dan tinggal tidur di apar—
“
“Tidur katamu?!” Rafa emosi. Ia langsung mengeraskan rahangnya. Rino, Hendra, dan Ardi yang menyadari kalau nada suara Rafa meninggi langsung mengernyit heran.
“Kau bilang kita bisa tidur sementara hasil kerja keras kita dihancurkan begitu saja di depan mata kalian?! Apa kalian i***t hah?!” Baru kali ini Rafa marah sembari mengeluarkan kata-k********r seperti itu. Baik para mahasiswa tenggara maupun dokter koas pun terkejut dengan hal itu.
Rafa langsung menatap ketiga temannya dengan pandangan tajam. Ia masih belum puas meluapkan emosinya saat ini.
“Sejak aku pertama kali mengenal kalian bertiga, kalian selalu saja bermalas-malasan. Tidur, main game, menonton TV, dan apa pun itu. Kalian selalu membantah perintahku sebagai ketua tim. Bahkan kadang kuajak membersihkan apartemen saja tak mau!” Alis Rafa menukik tajam.
Melihat mereka terdiam, pemuda yang satu masih terus lanjut membuka suara. Ia kesal, sangat kesal sekarang.
“Dan sekarang, kalian ingin membantahku lagi hah?! Bukankah kalian berjanji kemarin untuk selalu menuruti apa perkataanku? Apakah kalian tak punya akal pikiran? Ini adalah jalan terbaik bagi kita sembari menunggu perintah selanjutnya dari kampus!”
Bukannya introspeksi diri atau merasa bersalah, Ardi yang memang sosok temperamental langsung menatap garang ke arah Rafa.
Tatapan itu entah kenapa membuat amarah di sorot mata Rafa sedikit mengendur. Pemuda berambut coklat itu nafasnya tersengal saat ini. Untuk sesaat, ia merasa bersalah dengan apa yang telah diucapkannya tadi.
“Oh, jadi begitu selama ini penilaimu pada kami?”
Ardi mengucapkan hal itu dengan senyum menahan amarah. Para dokter kaos yang menyadari kalau mereka berempat sedang bertengkar hebat saat ini langsung tak berani mengucapkan satu patah kata pun. Alis Rafa yang mendengarnya pun sontak mengernyit heran.
"Apa maksudmu?” tanya Rafa tak paham dengan nada pelan.
“Kau menilai bahwa kami bertiga adalah orang yang suka bermalas-malasan dan membangkang dari perintahmu kan?! Begitu kan katamu tadi?!”
Raut wajah Rafa berubah. Ia menatap Ardi dengan sorot mata bersalah. “Bukan seperti itu, aku hanya—“
“Ah sudahlah, Rafa! Aku yang tak punya akal pikiran ini tidak mau mendengarkan apa perkataanmu lagi! Kami memang orang yang suka bermalas-malasan, dasar Tuan Jenius! Kami memang seperti itu, jadi bermainlah bersama dokter-dokter koas itu yang sama-sama jeniusnya denganmu itu!"
Lidah Rafa kelu. Ia tak bisa mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya. Melihat wajah Rafa yang seperti itu, Ardi pun berbalik. Rino dan Hendra yang sejak tadi tampaknya juga terlihat kecewa dengan sosok Rafael Zohan tersebut.
“Rino, Hendra! Ayo kita pergi dari sini dan tinggalkan tuan jenius itu bersama para jenius lain. Kita gila dan tak punya akal, jadi ayo pergi dari sini!”
Kedua pemuda tadi pun akhirnya mengangguk setuju dan berjalan mengekori Ardi. Ketiganya meninggalkan Rafa yang masih menatap nanar mereka bertiga. Tanpa berpikir panjang pun, Rafa langsung berpamitan pada Beni dan lainnya. Ia berlari mengejar mereka bertiga menuju apartemen yang tak jauh dari taman ini.
Dan beginilah akhirnya, pemuda itu duduk seorang diri di lantai apartemen yang dingin. Ia bersender di pintu sembari menatap kosong ke sekitar.
Sudahlah, tak ada gunanya juga ia menunggu di depan pintu seperti ini. Rafa dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa pula ia harus merasa bersalah atas semua hal yang terjadi sekarang? Ia hanya melampiaskan rasa kesalnya terhadap sikap mereka bertiga yang seperti itu. Harusnya ia yang marah kan? Akan tetapi, rasa bersalah dalam hati Rafa terlalu besar sampai mengalahkan amarahnya. Ia berdiri dari posisi duduknya tadi dan menatap nanar pintu coklat di depannya.
“Sudahlah Rafa, sudah. Tak ada gunanya kau berada di sini lagi. Mereka telaah mengusirmu. Biarkan mereka berdiam diri dulu dan semua akan kembali seperti semula besok hari,” gumam Rafa menghibur dirinya sendiri. Ia mengucapkan hal itu dengan nada lirih.
Meskipun begitu, pemuda bermata hijau ini paham betul bahwa hal itu kemungkinan mustahil. Ardi, Rino, dan Hendra sangat marah padanya tadi. Rafa bahkan tak mengira bila aksinya mendukung para dokter koas itu akan berujung perpecahan dalam tim yang selama ini dipimpin olehnya itu.
Pemuda ini pun menghela nafas panjang. Ia berjalan pelan meninggalkan ruang apartemen tersebut. Semuanya telah berakhir. Proyek vaksin ini berakhir dan persahabatannya dengan ketiga pemuda itu pun harus berakhir sekarang. Jadi, untuk apa ia bersedih saat ini? Rafa bahkan tak mengenal ketiga orang itu dulu semasa di kampus.
Persahabatan yang terjalin akibat suatu proyek penelitian pun akan berakhir saat proyeknya habis kan?
Meskipun akalnya terus berteriak seperti itu, hati Rafa berkata sebaliknya. Ia hancur, sangat hancur saat ini. Bahkan tanpa terasa, air mata telah menggenang di pelupuk mata hijaunya. Ketika menyadari hal itu, Rafa dengan cepat menggosok matanya. Memalukan sekali, anak laki-laki harusnya tak menangis. Ia terus berusaha menghibur diri sendiri.
Dan pada akhirnya, pemuda keturunan Eropa itu pun benar-benar berlalu dari depan ruang apartemen tadi.