Aksi keempat mahasiswa tenggara tersebut mengundang emosi dari Dika dan Beni. Tak segan-segan, mereka bahkan langsung membalas tepukan punggung yang sangat keras tadi dengan memukul punggung Ardi dan Hendra. Untuk sesaat, efek suara yang dihasilkan dari pukulan itu menggema di taman sepi ini.
“Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan dengan kami?” tanya Ardi dengan suara tertahan akibat sensasi panas di punggungnya.
Rafa sendiri tampak memandang dokter koas itu satu per satu. “Katanya ingin mengajak bicara kami, lalu kenapa kalian justru membahas suatu hal serius terlebih dahulu tanpa kami?”
Dika yang mendengar pertanyaan dari Ardi dan Rafa itu langsung menjelaskan semua hal pada mereka terkait latar belakang Gabriel Delio. “Aku ingin memberitahukan pada kalian terkait masa lalu Gabriel—“
Tangan Rino berayun dari kanan ke kiri. Wajahnya yang malas dan tampak sayu hanya bisa memandang Dika tak tertarik. “Aku tak perlu informasi itu karena kami semua sudah tahu.”
Untuk sesaat, Dika mengedip-kedipkan matanya tak paham. Ia memandang Rino dengan ekspresi bingung. Bagaimana bisa?
“Rafa telah memberitahu kami soal itu,” balas Hendra dengan nada acuh tak acuh.
Para dokter koas itu pun langsung memandang Alexa dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Gadis ini memang keterlaluan ya, bukannya menceritakan masalah penting ini pada mereka terlebih dahulu, ia justru memberitahu Rafa untuk pertama kalinya. Alexa yang merasa ditatap dengan pandangan aneh pun langsung menatap galak ke arah empat teman dokter koasnya yang lain.
“Apa kalian? Salah siapa yang dulu meragukanku dan mengataiku memiliki fantasi berlebihan?” Gadis itu membalas tatapan mereka dengan ucapan sadis.
Karena merasa bersalah, Dika, Beni, Ais, maupun Maria hanya bisa menghela nafas. Sudahlah, tak ada gunanya membahas masalah itu lagi. Toh mereka juga sudah tahu kebenaran terkait hal ini dan telah dibuktikan melalui rekaman panggilan di ponsel Ais tadi. Sekarang bukan saatnya untuk membahas masa lalu Gabriel lagi, mereka harus cepat memberitahu empat mahasiswa Universitas Tenggara tersebut sebelum polisi datang dan memenjarakan mereka semua karena berkumpul di sini.
“Langsung saja, aku ingin mengatakan hal penting pada kalian.”
Ucapan Beni itu sontak membuat empat mahasiswa tadi memandang ketua tim dokter koas itu dengan serius. Baik Rafa, Ardi, Hendra, dan Rino berdiri sejajar di hadapan para dokter koas itu. Dari wajah Beni ketika mengatakan kalimat tersebut beberapa saat yang lalu, sepertinya para dokter koas ini akan membahas hal penting.
Alexa sendiri yang berdiri tak jauh dari Beni hanya bisa menganggukkan kepalanya. “Benar, alasan kami memanggilmu ke sini adalah untuk mengajak kalian berempat membantu kami menyelidiki kasus p*********n lab bawah tanah Universitas Tenggara, tempat dibuatnya Vaksin Hektovac.”
“p*********n kemarin adalah bentuk dari sikap tidak becus pemerintah Iranjia.” Maria mengucapkan hal itu dengan tatapan tajam. “Harapan kita hancur, Hetalia dan Sepkai farmasi pun langsung terpuruk. Tidak mungkin bagi kedua instansi itu untuk memulai ulang proyek ini setelah proyek vaksin tersebut memiliki progres 50% lebih dan banyaknya modal yang telah terpakai.”
Ais menganggukkan kepala. Ia setuju dengan perkataan Maria dan Alexa tadi. “Oleh karena itu, aku memohon pada kalian semua untuk membantu kami menyelidiki siapa dalang di balik kasus p*********n itu. Apakah ini murni kecelakaan akibat ledakan lab atau justru p*********n bom? Tidak ada yang tahu akan hal itu dan kita harus menyelidikinya.”
Untuk sesaat, Rafa dan ketiga temannya hanya bisa terdiam. Angin malam di musim hujan yang berembus pelan entah kenapa terasa begitu dingin. Keempat mahasiswa tenggara tersebut saling pandang untuk sementara waktu. Ini adalah aksi besar. Kenapa para dokter koas ini ingin melakukan penyidikan seperti itu?
“Apakah kalian bercanda? Kalian ingin bermain detektif-detektifan seperti ini di umur kalian yang bukan anak-anak lagi?” tanya Ardi dengan mulut tajamnya.
Dika yang mendengar perkataan itu rahangnya sontak mengeras. Berani sekali anak ini berkata demikian. “Apa katamu tadi, hah?”
“Apa yang dikatakan Ardi benar.” Sontak saja, Rino langsung jadi pusat perhatian saat ini. Pemuda itu memandang malas ke arah dokter koas tersebut. “Serahkan saja hal ini pada polisi dan kalian bisa duduk diam menikmati coklat panas di rumah.”
Tidak, ini tidak seperti apa yang mereka bayangkan. Beni dan lainnya berpikir bahwa para mahasiswa Universitas Tenggara itu akan setuju dan membantu mereka begitu saja. Tak terlintas secuil pun di pikiran kelima dokter koas itu jika mereka akan menolak hal ini. Bagaimana pun juga, keempat pemuda itu terlibat langsung dengan proyek pembuatan vaksin bukan? Apakah mereka tak merasakan amarah apa pun ketika hal yang telah mereka perjuangkan kini hancur tak tersisa?
Melihat para dokter koas yang hanya bisa diam itu, Rino melanjutkan omongannya, “Ini gampang saja. Kalian bisa meminta bantuan dariku untuk menghubungi polisi atau pun militer saat ini juga agar bisa membantu kalian menyelidiki masalah ini. Aku punya banyak kontak mereka. Kasus kebakaran kemarin bukanlah ranah pekerjaan kami. Tak mungkin kami mau repot-repot melakukan itu.”
Maria memandang pemuda bermata malas itu dengan tatapan tak percaya. Alis gadis berambut sebahu itu menukik tajam yang menggambarkan betapa emosinya ia sekarang.
“Rino? Kau benar-benar keterlaluan!” Maria mengucapkan hal tersebut dengan nada marah yang begitu kentara. “Aku pikir apa yang telah kita lalui saat bersama di tim gabungan kemarin membuat kalian berempat merasa bahwa mahasiswa tenggara dan dokter koas sudah menjalin hubungan persahabatan. Lalu, apa sekarang?”
“Maria, kami hanya realistis saja. Memangnya apa yang ingin kalian buktikan? Apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita hanya mengandalkan kemampuan deduksi pribadi untuk mengidentifikasi ciri-ciri pelaku?” Setelah Ardi dan Rino yang buka suara, Hendra kini mempertanyakan keputusan dokter koas itu.
Dalam beberapa menit, para dokter koas dan mahasiswa tenggara itu tampak cekcok. Beni, Dika, dan para dokter koas perempuan tampak paling emosi menghadapi Hendra, Rino, dan Ardi yang mempertanyakan keputusan ini. Para dokter koas tersebut bahkan mengungkapkan berbagai alasan kenapa mereka berlima memutuskan untuk melakukan penyelidikan ini.
Tanpa disadari oleh siapa pun, Rafa sedari tadi belum mengucapkan sepatah kata pun. Ia terjebak dalam dunianya sendiri dan menghela nafas begitu menyadari kalau perdebatan kedua kubu ini belum selesai juga hingga kini. Mata hijau Rafael Zohan melirik mereka semua satu per satu.
“Aku pikir keputusan yang dibuat para dokter koas ini benar adanya.”
Sontak saja, ucapan pelan itu langsung membuat perdebatan mereka berhenti begitu saja. Baik Rino, Ardi, dan Hendra yang merupakan rekan satu tim Rafa langsung memandang ketua mereka dengan tatapan tak percaya. Apa maksud dari ketuanya ini? Apakah dia memiliki sel otak yang sama anehnya dengan para dokter koas itu?
Lagi pula, untuk apa mereka harus repot-repot melakukan aksi penyelidikan ala-ala detektif di saat kepolisian Iranjia juga pasti melakukan hal yang sama? Rafa benar-benar tak bisa diprediksi.