Minggu depan datanglah ke kampus menemuiku. Aku ingin melanjutkan perbincangan terkait apa yang ingin aku katakan dulu. Untuk sementara, kau dan temanmu yang lain tetaplah di Distrik Pusat. Pihak Universitas Tenggara tak ada yang bisa dihubungi untuk sekarang, begitu juga aku setelah mengetik SMS ini. Kalian akan diberitahu soal langkah yang harus dilakukan selanjutnya begitu rangkaian rapat di kampus selesai.
Tertanda,
Jack Hannes.
Mata hijau dari pemuda bernama Rafael Zohan ini hanya bisa menerawang jauh ke arah langit mendung di luar jendela kereta ini. Semuanya semakin kompleks saja. Sepertinya memang ada yang tak beres di sini sejak awal. Profesor Jack Hannes yang ingin mengobrol dengannya soal bangsa Eropa dulu saja sepertinya memang mengetahui kalau ada suatu hal aneh.
Ditambah kedatangan pihak Universitas Herminton di Iranjia bulan Maret lalu, semuanya semakin membuat Rafa pusing karena universitas itulah yang mengumumkan bahwa Iranjia dalang di balik kasus Ex-0 di seluruh dunia. Belum lagi kepergian Mario Regardus ke negara itu di saat pandemi seperti ini, entah kenapa rasanya semakin tak beres saja. Semua hal itu entah kenapa terasa berkaitan bagi Rafa.
“Apakah kalian tahu sesuatu soal Gabriel Delio?”
Pertanyaan Rafael Zohan yang tiba-tiba membahas Gabriel tersebut langsung dibalas oleh pandangan bingung ketiga temannya yang lain. Posisi kursi duduk kereta yang berhadapan membuat mereka berempat bisa melihat ekspresi satu sama lain. Ketiga pemuda itu memang tahu kalau langit hari ini memang mendung, namun tak ada angin tak ada hujan, kenapa tiba-tiba Rafa membahas Gabriel Delio yang telah tewas dua bulan lalu itu?
Melihat ekspresi bingung temannya, Rafa langsung berinisiatif mengoreksi ucapannya tadi. “Ehm, maksudku adakah dari kalian yang tahu latar belakang anak itu?”
“Tidak, dari mana juga aku tahu?”
“Aku juga tidak.”
“Aku pun. Lagian, apa kau ingin bergosip tentang orang yang sudah tewas sekarang, Rafa?”
Rafael Zohan terlihat menghela nafas mendengar penuturan dari Hendra, Rino, dan Ardi yang secara berurutan tadi. Ia pun sontak menjelaskan latar belakang apa yang ia maksud. Hari ini Rafael Zohan akan menceritakan apa yang telah dikatakan Alexa padanya bulan lalu.
Mata Rafa menatap ketiga orang itu dengan tatapan serius. “Jadi begini, keluarga Gabriel atau lebih tepatnya sang ayah, kemungkinan besar adalah orang yang membawa virus Ex-0 ke Iranjia.”
Baik Ardi, Hendra, maupun Rino langsung membelalakkan mata tak percaya. Nafas mereka seolah tercekat saat ini juga. Rafa pun lalu melanjutkan kisahnya tentang Gabriel tadi, sama persis seperti apa yang dikatakan oleh Alexa padanya.
Hujan menimbulkan sensasi aneh dan tersendiri bagi setiap orang. Hampir sebagian orang di dunia ini selalu membenci cuaca yang satu itu. Angin yang selalu berembus kencang, guntur yang senantiasa menyambar, kegelapan yang pekat, serta air yang membasahi tubuh menjadi alasan bagi manusia untuk membencinya.
Akan tetapi, di Bulan Januari ini entah kenapa kegelapan yang melanda Iranjia seakan begitu pekat. Seluruh penduduk di negeri ini tahu bila hujan memang sudah biasa mengguyur saat bulan Januari tiba. Meskipun begitu, bulan ini terasa lebih berbeda. Ini baru tanggal 2 di tahun yang baru dan di lembaran yang baru. Tapi tetap saja, atmosfer pilu akibat Ex-0 menghantui dunia masih terasa di Iranjia.
Musibah tak henti-hentinya menghantam negeri ini dalam waktu berdekatan. Mulai dari kemunculan mutasi baru variasi zeta Ex-0 yang lebih ganas, tuduhan universitas ternama di Edelton yang mengatakan kalau Iranjia adalah dalang di balik semua ini, ditambah hancurnya laboratorium bawah tanah milik Universitas Tenggara yang dijadikan tempat pembuatan Vaksin Hektovac seakan melengkapi duka tanah air.
Sebagai warga negara baik, di mana nama bangsanya saat ini dipertaruhkan di hadapan seluruh dunia, Alexa Liezel tak bisa membiarkan hal tersebut begitu saja. Ia harus bertindak apa pun caranya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Gadis ini meminta pada Beni sebagai perwakilan dari dokter koas untuk menghubungi Rafa dan ketiga temannya yang lain. Mereka berlima saja tak cukup, harus ada tambahan orang untuk membantu jalan keluar dari masalah yang melanda Iranjia saat ini.
Sebelumnya Alexa hari ini izin ke Dokter Deva selaku dosen pembimbing lapangan mereka selama koas di Hetalia. Gadis dengan rambut panjang yang selalu diikat itu meminta izin agar ia dan teman-teman koasnya tidak masuk shift malam ini.
Alexa tidak mengatakan kalau ia ingin bertemu dengan mahasiswa tenggara di Taman Adiyasa, ia hanya mengatakan kalau ada urusan darurat dari kampus. Apa lagi hari ini Hetalia kedatangan sedikit pasien rujukan sehingga mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk cuti. Karena Hetalia dan Sepkai Farmasi tengah disibukkan dengan kasus kebakaran lab, akhirnya Dokter Deva pun menyetujui izinnya tersebut.
“Apakah masih lama mereka datang?”
“Aku tidak tahu. Ini aku baru saja menghubungi Hendra. Dia bilang kalau mereka sedang dalam kereta dan kemungkinan 15 menit lagi sampai. Sepertinya ketiga orang itu baru ke suatu tempat,” balas Beni pada Dika yang tadi bertanya demikian.
Kedua laki-laki itu terlihat berjongkok di atas rerumputan taman yang basah karena sore tadi terkena air hujan. Mereka terlihat mengobrol satu sama lain, lebih tepatnya menggerutu karena Rafa dan timnya belum tiba sejak tadi. Di sisi lain, tampaknya ketiga perempuan dari tim dokter koas sedang berdiri tak jauh dari mereka. Baik Alexa, Maria, atau pun Ais tak bisa duduk di bangku taman karena basah. Kelima dokter koas itu sudah ada di sini sejak satu jam yang lalu.
“Ngomong-ngomong Alexa, aku sama sekali masih tak mempercayai perkataanmu tadi. Aku seperti tidak mengira saja hal itu terjadi,” ujar Ais yang tiba-tiba langsung jadi pusat perhatian dari mereka semua.
“Akan tetapi, kenyataannya memang seperti itu. Dia sendiri yang bilang padaku seperti itu,” balas Alexa dengan wajah meyakinkan agar temannya ini percaya pada apa yang ia katakan tadi.
Beberapa saat yang lalu, saat mereka baru tiba di taman ini dan menunggu para mahasiswa tenggara itu, Alexa menceritakan masa lalu Gabriel pada mereka semua. Awalnya mereka tak percaya dan menganggap Alexa membual karena dulu gadis ini juga pernah berpikiran yang aneh-aneh soal Gabriel dan keluarganya.
Untuk membuktikan hal itu, Alexa meminta keterangan dari Maria agar bisa meyakinkan lainnya. Maria sendiri juga tak tahu akan hal itu sebenarnya namun, di saat Alexa mengobrol dengan Gabriel hari itu, ia memang memakai ponsel miliknya.
Alexa menatap mereka semua satu per satu. Ia telah menceritakan banyak hal pada mereka namun, kenyataannya para dokter koas lain seperti tak bisa menerima fakta itu.
“Kalian kan tadi sudah dengar sendiri penjelasan dari Maria. Aku mengobrol dengan Gabriel memakai ponselnya lho itu. Dia juga ada di sana namun, karena tiba-tiba perutnya mulas akhirnya Maria harus pergi ke kamar mandi. Di saat itulah, Gabriel menceritakan hal itu padaku.” Alexa pun kembali menjelaskan itu pada teman-temannya.
“Sebenarnya ini adalah bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa Iranjia bukanlah dalang dibalik semua ini.” Kini semua pasang mata tiba-tiba tertuju pada Dika yang mengatakan hal tersebut.
Alis milik Ais mengernyit heran. Ia mempertanyakan maksud dari pemuda yang satu itu. Dika pun dengan santai menjelaskan bahwa latar belakang keluarga Gabriel telah membuktikan kalau Ex-0 pertama kali datang di Indonesia sejak Januari karena ada seseorang yang baru pulang dari negara Seraporl pada bulan November. Dengan fakta itu, maka mereka bisa menyatakan kalau virus ini tidak berasal dari Iranjia dan memang dari Seraporl sana. Meskipun begitu, Iranjia harus bersiap menerima sanksi OKD atau Organisasi Kesehatan Dunia akibat tidak menyadari adanya kasus Ex-0 sejak Januari lalu.
“Andai saja Alexa punya rekaman dari panggilan itu maka bisa saja kita membuktikan hal ini pada orang di luar sana,” celetuk Beni yang tiba-tiba membuat mata Ais melebar. Ia seakan teringat dengan sesuatu.
Gadis yang bertubuh paling pendek di antara dokter koas yang lain itu langsung menoleh ke arah Maria. “Hei, apakah aku boleh melihat ponselmu?”
“Eh? Untuk apa? Kenapa tiba-tiba?” Tentu saja, Maria terkejut dengan aksi temannya yang tiba-tiba ini. Ia pun dengan canggung memberikan ponselnya pada Ais.
Beni dan Dika sontak saling pandang melihat tingkah aneh dari Ais. Mereka berdiri dan berjalan mendekati ketiga dokter koas perempuan itu. Di sisi lain, Alexa baru tersadar kalau selama ini Ais sangat ahli di bidang teknologi. Sejak dulu berada di bangku kuliah yang sama, Alexa selalu ditolong olehnya apabila mengalami masalah dalam berbagai perangkat elektronik, mulai dari komputer hingga ponsel.
Ais tampak terus mengotak-atik ponsel milik Maria dengan ekspresi datar. Ia memencet-mencet tombol di ponsel itu. Seluruh ponsel yang beredar di Iranjia dipasok oleh produsen sama yakni sebuah perusahaan ponsel terkenal dari negeri Jesai. Seharusnya ia bisa melihat riwayat panggilan telepon milik Maria hari itu.
“Kau tidak menghapus riwayat telepon hari itu bukan?” tanya Ais pada Maria.
Bukannya Maria menjawab, Beni yang justru buka suara. Dia memandang gadis berambut sebahu di sampingnya dengan pandangan meledek. “Maria terlalu sibuk untuk menghapus riwayat pesan atau panggilan di ponselnya. Kalau kau mencari itu di ponselnya, maka kau bisa menemukan riwayat dari tahun 2018 lalu.”
Ais terus menelusuri folder-folder dalam file penyimpanan milik ponsel Maria. Kedua pasang matanya begitu berbinar begitu melihat file dengan ekstensi xys yang berada di ponsel putih tersebut. Sejujurnya telepon genggam buatan negeri Jesai ini masih memiliki kekurangan di mana ia selalu menyimpan memori dari panggilan atau pesan dengan file berformat aneh yang tidak dapat dibaca namun, kalau dibiarkan bisa menguras penyimpanan.
“Akhirnya, ketemu juga!” ujar Ais kegirangan.
Ia langsung menyalakan bluetooth dan mengirim file itu ke ponselnya yang memang dari awal sudah Ais modifikasi sedemikian rupa agar ia bisa membaca file-file dengan ekstensi aneh seperti ini. Aksi Ais itu langsung disambut kegirangan oleh para dokter koas yang lain. Mereka sangat berharap Ais mampu mengatasi masalah ini meskipun sejujurnya keempat orang itu tak tahu apa yang dilakukan oleh gadis berkacamata tersebut.
Cukup lama proses pemindahan file ke ponsel milik Ais terjadi. Mereka menunggu hampir sepuluh menit lamanya dan sebuah suara tiba-tiba terdengar dari ponsel milik gadis bertubuh pendek itu.
“Halo, Gabriell! Apakah kamu baik-baik saja sekarang?”
Mata Alexa dan Maria melebar tak percaya mendengar suara mereka yang tiba-tiba muncul dari ponsel milik Ais. Benar, ini memang suara mereka hari itu. Hari di mana kedua gadis ini mengobrol dengan Gabriel sebelum ia meninggal. Ais yang melihat reaksi kedua temannya yang seperti syok menyimpulkan bahwa memang file inilah yang berisi rekaman mereka melakukan telepon dengan Gabriel di hari itu. Gadis berkacamata tersebut langsung menggeser video panggilan itu dan melihat-lihat video lain yang agak tengah, di mana Alexa mengobrol seorang diri dengan Gabriel membahas masa lalunya.
“Ayahku meninggal awal tahun lalu. Ini sedikit memalukan sih, tapi ia bunuh diri saat itu.”
Mata Alexa semakin melebar saat itu juga. “Ini dia! Ini! Ini adalah pembicaraan Gabriel hari itu soal ayahnya!”
Teriakan Alexa itu membuat wajah mereka menegang. Kelima dokter koas itu seperti takut mendengar penuturan itu dari Gabriel langsung, terutama Alexa yang harus mendengarkan ini kedua kalinya. Meskipun mereka awalnya ragu dan takut, kelima dokter koas itu pada akhirnya mendengarkan rekaman panggilan telepon di ponsel milik Ais itu sampai habis karena tiba-tiba saja panggilan dari Gabriel terputus.
Baik Dika, Beni, Maria, Ais, maupun Alexa saat ini hanya bisa terdiam. Mereka telah mendengar langsung penuturan dari Gabriel hari itu melalui rekaman ini. Tak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengira Alexa membual. Apa yang terjadi pada Gabriel dan keluarganya pasti benar. Mereka tinggal menunjukkan rekaman panggilan ini ke depan umum dan nama baik Iranjia pasti menjadi bersih karena dari sini bisa ditarik kesimpulan kalau Ex-0 pertama kali datang di negeri ini dari Seraporl. Kalau virusnya saja datang dari Seraporl, maka tak mungkin bagi Iranjia untuk membuat hal seperti virus Ex-0 ini kan?
“Hei, apa yang kalian lakukan sampai berkerumun seperti itu?!”
Teriakan yang tiba-tiba terdengar dari jarak kejauhan itu membuat kelima dokter koas tersebut tersentak kaget. Mereka sontak menjaga jarak dan berdiri kaku bagaikan tentara yang tengah berbaris. Jantung kelima anak muda itu berdegup kencang karena kaget mendengar suara teriakan tersebut. Mereka langsung berdiri membelakangi arah teriakan tadi dan berharap semoga polisi tak akan menangkap kelimanya.
Dari belakang lima pemuda tersebut, alis Rafael Zohan hanya bisa mengernyit tak mengerti. Kenapa mereka bertindak berlebihan seperti ini karena teriakan dari Ardi beberapa saat lalu? Apakah mereka mengira Ardi adalah seorang polisi?
“Mereka ini kenapa sih?” Rino hanya bisa memandang tak habis pikir kelima dokter koas di depannya itu.
Para mahasiswa tenggara itu akhirnya mempercepat langkah mereka dan berjalan mendekati kelima dokter koas tersebut. Dengan senyum iseng, Ardi dan Hendra langsung memukul punggung Beni dan Dika yang berdiri membelakangi para mahasiswa tenggara tersebut.
“Maafkan kami, Pak! Kami berjanji tak akan mengulangi hal ini lagi dan segera pergi dari Taman Adiyasa!” Dika mengucapkan hal itu sembari memejamkan mata karena menahan rasa sakit ketika punggungnya dipukul. Tidak terlalu sakit sih, tapi tetap saja ada sensasi panas di sana.
“Kami berjanji akan segera pulang dari sini tapi biarkan kami menemui seseorang terlebih dahulu!” teriak Beni yang juga sama-sama menahan rasa sakit dan sensasi panas dari bekas pukulan telapakan tangan tadi.
Rafa dan Rino yang saat ini hanya berdiri diam pun tak mampu menahan gelak tawa. Mereka terkekeh di balik masker yang digunakan. Rafa pun berjalan mendekati kelima dokter koas itu. Tangan kirinya dengan santai ia letakkan di samping pinggang. Ardi dan Hendra sejak tadi tampak membungkam mulut mereka yang ditutupi dengan masker agar tak mengeluarkan suara tawa. Dengan tatapan tak habis pikir, pemuda bersurai coklat itu meledek mereka semua.
“Oi oi oi, kalian ini kenapa coba? Apa kalian tak waras? Ini aku, Rafa.”
Sontak saja, ucapan itu langsung membuat kelima orang tersebut menoleh ke arah belakang. Kedua pasang mata mereka semua sontak melihat keempat mahasiswa tenggara yang tengah berdiri dengan wajah tak berdosa dan tampak asyik menahan tawa, lebih tepatnya menertawakan aksi bodoh kelima dokter koas tersebut.