“Dengan berat hati, kali ini saya sebagai Direktur dari Rumah Sakit Hetalia yang merupakan salah satu penggagas dari Proyek Vaksin Hektovac harus menyampaikan pengumuman bahwa proyek tersebut secara resmi dibatalkan.”
Puluhan lampu lensa dari kamera langsung mengenai Liliana Seran yang saat ini duduk bersama Menteri Kesehatan dan Adam Hillary. Konferensi pers yang diadakan pukul tujuh malam tersebut didatangi oleh banyak jurnalis meskipun hujan sedang turun sekarang. Mereka bertiga duduk di meja pers milik Kementerian Kesehatan untuk mengumumkan bagaimana kejelasan dari proyek vaksin Hektovac sekarang.
Seluruh masyarakat Iranjia malam ini telah tahu bahwa terjadi kebakaran hebat tadi malam sekitar pukul 12 hingga 4 pagi di kawasan wisata peninggalan sejarah Iranjia yakni Oud Centra. Dari insiden kebakaran itu, masyarakat sipil langsung mengetahui fakta bahwa ternyata tempat dibuatnya Vaksin Hektovac itu dilakukan di bawah tanah Oud Centra. Tentu saja, masyarakat dibuat terkejut akan insiden ini. Apalagi banyak isu yang mengatakan kalau lab itu diserang dengan sengaja oleh suatu oknum.
“Sampai sekarang polisi terus melakukan penyelidikan terkait serangan bom di kawasan Oud Centra yang memang kemungkinan besarnya menargetkan laboratorium milik Universitas Tenggara. Jadi, kalian tak perlu khawatir akan hal ini,” ujar Adam Hillary seraya menatap serius ke arah juru kamera.
Setelah dua orang penting di balik proyek Vaksin Hektovac itu menjelaskan semuanya, sang menteri kesehatan yang duduk di antara mereka langsung menghela nafas. Ia menoleh ke arah Adam dan Liliana secara bergantian. Kasus ini memang berat, tak mungkin kedua belah pihak swasta ini bisa melanjutkan program pembuatan vaksin kalau semua aset mereka telah hancur total.
“Untuk sekarang, hanya itu yang bisa kami sampaikan. Jadi saya sebagai Menteri Kesehatan Iranjia izin pamit dari konferensi pers ini. Semoga apa yang terjadi sekarang bisa dimaklumi oleh seluruh penduduk di negeri ini. Terima kasih. Sekian untuk hari ini. Selamat malam.”
Dengan langkah kaki yang berat Adam dan Liliana pun juga ikut undur diri dari ruang konferensi pers Kementerian Kesehatan. Saat ini kedua orang tersebut tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Suasana hati mereka sedang kacau. Masih ada banyak hal yang harus dilakukan oleh keduanya. Untuk sekarang, mereka hanya bisa berharap jika kepolisian segera mengungkap apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Di sisi lain, Rafa dan ketiga temannya saat ini pergi berkunjung ke suatu apartemen. Mereka bertiga tampak kebingungan sedari tadi menyusuri lantai-lantai ruang apartemen di gedung bertingkat ini.
“Apakah resepsionis adi sudah menunjukkan arah yang benar?” celetuk Hendra sembari menengok ke sana ke mari.
“Seharusnya sih benar. Coba lihat ini pintu ruangan nomor 133.” Rino menunjuk ke arah pintu yang berada di sampingnya. Kita hanya harus mencari nomor 155, seharusnya itu tak jauh dari sini.”
Rafa yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya setuju. Apa yang dikatakan oleh Rino tadi benar adanya. Mereka hanya kurang sedikit lagi untuk menemukan ruang apartemen yang disewa oleh para profesor Universitas Tenggara. Keberadaan mereka berempat di sini semata hanya untuk menemui para profesor tersebut. Sebelumnya pagi tadi mereka juga berhasil menemui mereka namun, orang-orang itu justru tampak begitu siuk dan meminta keempatnya untuk datang ke apartemen mereka saja saat malam harinya.
Rafa dan yang lainnya hanya ingin memastikan apa yang mereka harus lakukan saat ini. Apakah mereka harus kembali ke kampus atau bagaimana? Pasalnya, keempat pemuda itu terombang-ambing di sini. Adam dan Liliana juga telah mengumumkan secara resmi bahwa proyek Vaksin Hektovac tak akan dilanjutkan lagi. Itu berarti mereka tak ada gunanya lagi berada di Distrik Pusat.
“Ini dia! Ini ruang nomor 155!” Ardi berteriak seraya menunjuk ke pintu bertuliskan 155 di samping kanannya.
Ketiga temannya yang lain pun sontak melihat ke arah pintu itu. Tak salah lagi, ini memang pintu apartemen yang disewa oleh para profesor dari universitas mereka. Rafa pun langsung mengetuk pintu itu beberapa saat namun, tak ada jawaban dari si empunya di dalam sana. Keempat mahasiswa tenggara itu pun saling pandang dengan tatapan bingung. Kenapa tidak ada jawaban dari sana?
“Ini benar kan ruang apartemennya?” Rino bertanya-tanya. Pemuda dari jurusan psikologi itu terlihat curiga jika ada yang tak beres di sini.
Hendra yang mendengar itu pun langsung melirik temannya tersebut. “Benar, ini memang ruang apartemen mereka. Kau tadi juga dengar sendiri kalau mereka tinggal di Apartemen Riot ruang 155. Profesor Min yang mengatakan itu bukan?”
Rafa terus mengetuk pintu itu namun hasilnya tetap nihil. Mereka terabaikan dan tak mendapat jawaban apa pun. Ardi yang sedari tadi mendengar celotehan ketiga temannya ini tampak tak bisa bersabar lagi. Ia menahan tangan Rafa yang masih terus berusaha mengetuk pintu ini. Rafa yang dicegah pun sontak memandang mahasiswa dari jurusan kedokteran itu dengan tatapan tak mengerti.
“Apa maksud tanganmu ini?” tanya pemuda bermata hijau itu sembari melirik ke arah tangannya yang dicegah oleh Ardi.
“Ini sia-sia saja. Tak ada gunanya kita mengetuk pintu ini terus.”
Rafa yang mendengar Ardi berkata seperti itu pun sontak menurunkan tangannya. Ardi sendiri tampak menukikkan alisnya dan menatap tajam pintu berwarna coklat di depannya. Ada yang aneh di sini. Karena rasa penasarannya yang menggebu, mahasiswa jangkung itu sontak bersiap untuk mendobrak pintu.
Sayangnya, Rino dengan sigap mencegah aksi pemuda berandal tersebut. Mahasiswa psikologi tersebut langsung memegang sekuat mungkin tangan milik Ardi. “Apa kau gila mau mendobrak pintu ini?!”
“Kau ini yang apa-apaan? Aku hanya memastikan sesuatu! Jangan cegah aku, Cebol!” balas Ardi dengan pandangan tajam.
“Apa katamu?!” Tentu saja saat itu Rino langsung emosi. Ia dengan sengaja memelintir lengan Ardi yang dipegangnya sedari tadi. “Kau gila mau menghancurkan pintu apartemen ini? Mendobrak pintu bukanlah jalan keluar dari masalah ini! Aku tahu keluargamu kaya tapi tetap saja kau tidak bisa menghancurkan pintu sembarangan!”
Wajah Ardi langsung kesakitan, tentu saja ia meringis akibat rasa sakit yang ditimbulkan dari pelintiran tangan Rino. Hendra sendiri tampak mengabaikan pertengkaran antara Ardi dan Rino di sampingnya. Pemuda itu terlihat menempelkan telinganya di permukaan pintu dan sontak saja aksinya langsung jadi pusat perhatian dari Rafa.
“Kau mendengar sesuatu dari sana?” tanya ketua tim tersebut. Untuk sesaat Hendra hanya diam, memfokuskan telinganya untuk mendengar sesuatu namun hasilnya nihil.
Pemuda dari jurusan farmasi itu menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tak bisa mendengar apa pun.”
Rafa yang dijawab seperti itu langsung saja ikut menempelkan telinganya ke permukaan pintu. Benar, tidak ada suara apa pun dari dalam. Itu berarti AC di ruangan ini pun juga tidak dinyalakan saat ini. Kemungkinan besar memang para profesor tersebut tak berada di sini. Mereka mungkin saja belum pulang atau justru sudah pergi ke suatu tempat. Jalan keluar untuk menemukan solusi dari masalah ini adalah bertanya pada resepsionis sekali lagi.
Rafa pun menyeret Ardi dan Rino yang bertengkar. Hendra sendiri tampak mengekori ketiga orang tersebut dengan senyum yang merekah di balik maskernya. Mereka berempat akhirnya kembali turun ke lantai pertama, tempat di mana resepsionis berada.
“Benar, Profesor Jack Hannes yang merupakan perwakilan dari para profesor yang menempati ruang 155 sudah melakukan check out sekitar pukul lima sore tadi.”
Perkataan wanita cantik yang merupakan resepsionis dari apartemen ini langsung membuat keempat pemuda tersebut membelalakkan mata tak percaya. Tunggu dulu, kalau mereka sudah pergi dari apartemen ini sejak pukul lima sore tadi, lantas kenapa pagi tadi Profesor Min meminta keempat mahasiswa tersebut datang ke apartemen mereka?
“Kenapa Anda tak mengatakan hal ini sebelumnya?” tanya Rafa dengan pandangan tak habis pikir. Resepsionis ini harusnya mengatakan fakta itu ketika ditanyai di mana ruang 155 tadi.
Ardi yang berada di samping Rafa pun langsung menggebrak meja resepsionis dengan kesal. “Ya! Kenapa kau tak mengatakan itu? Aku hampir saja mendobrak pintu ruang 155.”
Dengan tenang dan tak merasa terintimidasi sedikit pun, resepsionis itu hanya bisa tersenyum. “Bukan kewajiban saya untuk mengatakan informasi tadi. Kalian hanya bertanya di mana ruangan 155 dan aku menunjukkan tempatnya. Kalian tak memiliki hak untuk mendapatkan info ini saat bertanya seperti itu tadi.”
Ucapan dari sang resepsionis yang entah kenapa terdengar menyebalkan itu langsung membuat kepala Ardi berdenyut. Kalau saja resepsionis ini wanita, maka ia sudah babak belur di tangannya. Melihat kepala Ardi yang sepertinya sudah mengepulkan uap karena emosi, Rafa pun segera berpamitan dan mengajak keluar ketiga temannya tersebut sebelum Ardi meledak dan marah-marah di sana.
“Untuk sekarang, mustahil bagi kita untuk mencari mereka.” Rafa mengucapkan itu sembari menoleh ke arah tiga temannya yang lain. “Mereka telah pergi sejak dua jam yang lalu. Kemungkinan besar mereka kembali ke kampus.”
Keempat orang itu terlihat berjalan di trotoar jalan menuju stasiun terdekat di wilayah ini. Perlu diketahui bahwa di setiap distrik utama di Iranjia terdapat setidaknya lima stasiun yang menghubungkan wilayah satu dengan wilayah lainnya dalam satu distrik yang sama. Apartemen Riot yang merupakan tempat menginap dari para profesor tadi terletak tak jauh dari kawasan Oud Centra. Empat mahasiswa tenggara ini pun harus menaiki kereta untuk kembali ke apartemen mereka yang berada di dekat Rumah Sakit Hetalia.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Hendra pada teman-temannya yang lain.
Rafa sendiri terlihat mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia memainkan benda kecil itu seraya berjalan bersama mereka. “Untuk sekarang, kita kembali dulu ke apartemen. Di perjalanan nanti aku mohon pada kalian untuk terus menghubungi para profesor itu. Aku juga akan terus berusaha menghubungi Profesor Jack Hannes atau pun Mario Regardus sekarang.”
Mendengar ucapan Rafa yang seperti itu, Ardi, Rino, maupun Hendra langsung mengangguk paham. Tak terasa, langkah kaki mereka telah membawa keempat orang itu di stasiun. Empat mahasiswa tenggara tersebut sudah berdiri di peron stasiun dan menunggu kereta selanjutnya datang.
“Apa yang akan kita lakukan saat sampai di apartemen nanti?” celetuk Ardi seraya mengetik sesuatu di ponselnya. Ia menanyakan hal tadi tanpa memandang ketiga temannya.
“Ah! Aku lupa!” Ucapan Hendra itu langsung jadi pusat perhatian temannya. Mereka mengalihkan pandangan dari ponsel dan melihat mahasiswa dari jurusan farmasi tersebut.
“Apa yang kau lupa?” tanya Rino dengan ekspresi heran.
“Siang tadi Beni menghubungiku dan meminta kita untuk datang ke Taman Adiyasa malam ini. Aku lupa memberitahu kalian,” balas Beni sembari menoleh ke arah jam tangannya. Ini masih jam tujuh lebih, seharusnya tak akan terlambat jika mereka tiba di Hetalia pukul 8.
“Kenapa dia menyuruh kita ke sana?” Kali ini Rafa bertanya dengan heran. Dari kejauhan, suara kereta api mulai terdengar.
“Para dokter koas itu ingin bertemu dengan kita semua dan menyampaikan suatu hal.”
Wajah Rafa tampak merenung. Apa pun yang dipikirkan oleh para dokter koas itu, Rafa tak bisa menebaknya. Untuk apa mereka ingin bertemu dengan keempat mahasiswa tenggara tersebut? Meskipun begitu, insting Rafa berkata jika ada suatu hal penting yang sepertinya ingin mereka bicarakan.
“Yah, apa pun itu aku tidak keberatan untuk menemui mereka. Bagaimana dengan kalian?” tanya Rafa seraya menoleh ke arah Ardi dan Rino. Kedua pemuda itu dengan kompak menggelengkan kepala yang berarti mereka tak keberatan kalau harus ke Taman Adiyasa dulu malam ini.
Hendra yang melihat itu sontak melebarkan senyumnya. Ia dan ketiga mahasiswa tenggara lainnya langsung berjalan memasuki kereta begitu kendaraan tersebut tiba di hadapan mereka. Sebelum keempatnya masuk, ponsel Rafa tampak bergetar dan menampilkan satu pesan. Mata hijau Rafa langsung membaca seluruh isi pesan tersebut dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.
Untuk sesaat, ketua tim mahasiswa tenggara tersebut melirik ke arah temannya satu per satu. Masih dengan ekspresi yang tak bisa diartikan, Rafa dengan cepat membalas isi pesan tersebut dan memasukkan ponselnya ke dalam saku tanpa disadari oleh siapa pun. Mahasiswa dari jurusan mikrobiologi tersebut langsung menyambung obrolan dengan ketiga temannya yang lain.