Tumpukan abu di depan puluhan orang yang berdiri mematung itu beterbangan di bawa angin. Puluhan orang yang memakai masker berwarna putih itu hanya bisa berdiri, membisu, dan tak bisa berkata apa pun. Segala usaha keras mereka dalam tujuh bulan terakhir ini hancur begitu saja padahal proyek tersebut memiliki progres yang sudah melebihi 50%, lantas kenapa semua kejadian ini harus terjadi?
“Kudengar beberapa polisi dan anggota militer yang menjaga lab tewas seketika akibat ledakan dan sekarang jenazahnya tak dapat diidentifikasi.”
“Bukan polisi saja, satpam penjaga kawasan Oud Centra juga dinyatakan tewas kemarin. Kebetulan saat terjadi ledakan kebakaran kemarin, dia malah berkeliling. Coba kalau Pak Satpam tetap di pos, kemungkinan dia bisa selamat hari ini.”
“Apakah kalian juga tahu kalau saat pemadaman api ini tadi malam ada beberapa orang dari petugas pemadam kebakaran yang meninggal?”
Rafa terus mendengar berbagai bisik-bisik orang di sampingnya. Beberapa kru lab yang merupakan pegawai dari Sepkai Farmasi saat ini sedang berbisik-bisik membicarakan kejadian yang terjadi semalam ini. Sementara itu, pemuda bermata hijau tersebut hanya mampu berdiri dalam diam sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.
Ini tidak benar. Insiden kebakaran ini tidak benar. Ada yang aneh di sini dan Rafa menyadari itu semua. Kenapa kejadian ini terjadi secara tiba-tiba? Apakah isu yang mengatakan kalau lab bawah tanah milik Universitas Tenggara dibom itu benar? Kalau memang begitu, ini tidak bisa dibiarkan.
Pagi ini berbagai jurnalis dan reporter telah datang di lokasi kawasan Oud Centra yang menyisakan abu. Kedatangan mereka juga membuat beberapa penduduk melihat kawasan wisata peninggalan bangsa Eropa yang sekarang hancur lebur tersebut. Beberapa polisi juga datang untuk mengevakuasi berbagai hal termasuk jasad anggota kepolisian dan militer.
Meskipun begitu, jauh agak ke sana, terlihat Adam Hillary dan berbagai orang penting lainnya seperti Direktur Liliana Seran, Dokter Deva, dan Profesor Jack Hannes yang sedang menatap hampa lab bawah tanang yang juga menyisakan puing sekarang. Meski letaknya di bawah tanah dan dijaga dengan ketat, nyatanya lab tempat pembuatan Vaksin Hektovac ini ikut hancur. Bukan itu saja, kehancuran lab ini lebih parah dari pada bangunan lainnya.
Pemuda bersurai coklat itu kini telah beranjak dari posisinya melihat tadi dan berjalan mendekati lokasi labnya yang hancur saat ini. Tidak sendiri, Rafael Zohan berjalan menyusuri puing abu dari kastil-kastil megah Eropa itu bersama ketiga temannya yang lain yakni Ardi, Hendra, beserta Rino. Mereka tak berani mendekati Adam dan lainnya, karena bagaimana pun juga, orang-orang penting tadi begitu hancur saat ini. Rasa hancur mereka lebih dari siapa pun karena orang-orang tadilah yang telah memulai penelitian ini.
Rafa dan teman-temannya saat ini hanya bisa berdiri mematung beberapa meter dari orang-orang penting itu. Tak ada suara yang mereka hasilkan, keempat pemuda itu terlalu sibuk dalam pikirannya masing-masing seraya menatap hampa ke arah lab bawah tanah itu.
“Kalau dilihat dari kehancurannya yang seperti ini sepertinya memang pemicu kebakaran hebat ini berasal dari lab. Terlebih, beberapa anggota polisi dan kemiliteran yang ditugasi untuk menjaga ketat laboratorium oleh pemerintah tewas seketika dengan kondisi mengenaskan,” ujar salah seorang penyidik yang berada tak jauh dari Rafa.
Kedatangan beberapa anggota penyidik dari Kepolisian Distrik Pusat itu menarik perhatian empat pemuda tersebut. Gerombolan polisi itu berjalan mendekati Adam dan lainnya. Salah satu orang di antara petugas itu adalah Zainudin Keil yang merupakan Ketua Kepolisian Distrik Pusat.
“Itu mustahil,” sanggah Rino. Pemuda itu menatap lekat area lab di depan sana. Beberapa polisi itu langsung memusatkan perhatian ke arah mahasiswa psikologi tersebut.
Rafa yang mendengar ucapan dari Rino tadi langsung melanjutkan, “Bagaimana pun juga, lab yang dipakai dalam proses pembuatan vaksin ini tidak berisi bahan-bahan yang mudah meledak. Apalagi, tidak ada pemicu ledakan yang bisa menyebabkan lab meledak. Menyalahkan lab atas kejadian ini sepertinya bukan kesimpulan yang tepat.”
Untuk beberapa saat, langkah anggota kepolisian itu terhenti. Mereka menatap empat orang pemuda itu dalam beberapa saat. Zain sendiri saat ini terpaku dengan sosok anak bersurai coklat dan bermata hijau itu. Pria ini merasa familier dengannya tanpa suatu alasan pasti.
Meskipun begitu, apa yang dikatakan pemuda itu benar adanya. Rasanya mustahil kalau lab bisa meledak tanpa adanya suatu pemicu ledakan atau sumber api. Adanya isu yang mengatakan kalau ada seseorang yang melempar bom ke area Oud Centra sepertinya bisa diselidiki.
“Abaikan anak-anak ini, mereka ikut campur saja.”
Seorang petugas wanita dari gerombolan polisi tersebut tampak menatap keempat mahasiswa elit dari Universitas Tenggara itu dengan pandangan ketus. Wanita itu merasa anak-anak mahasiswa ini sok tahu dan ikut mencampuri urusan orang dewasa saja. Lagi pula, apa yang dilakukan anak-anak ini di lokasi kebakaran coba?
“Benar, tinggalkan saja mereka, Ketua Zain. Ayo kita segera menemui Adam Hillary dan yang lain di sana.”
Petugas polisi lain tampak ikut-ikutan memandang tak suka ke arah keempat pemuda itu. Zain yang mendengar ajakan dari bawahannya tersebut hanya bisa menghela nafas panjang. Dia melirik ke arah anak bermata hijau tadi untuk beberapa saat. Rafael Zohan yang berasa di tatap pun sontak memandang keheranan ke arah ketua polisi itu. Zain dan pasukannya pun pergi berlalu dari hadapan mereka berempat. Mereka berjalan menghampiri Adam di sana.
Setelah kepergian polisi tadi, Hendra tampak menghela nafas panjang. Suara helaan nafasnya yang keras itu sontak dipandang dengan tatapan tak suka oleh Ardi yang berada di sampingnya.
“Kau ini kenapa sih? Seperti orang yang memiliki banyak beban hidup saja. Jangan menghela nafas seperti itu.” Ardi mengucapkan hal tadi sembari berkecak pinggang. “Perlu kau tahu ya, Hendra. Satu helaan nafas dari mulut seseorang akan mengakibatkan umurnya berkurang 1 menit.”
Si mahasiswa dari jurusan farmasi itu hanya memandang Ardi dengan tatapan tak habis pikir. “Oh ayolah, ini bukan saatnya bercanda, Ardi.”
Setelah mengucapkan hal tersebut, Hendra langsung menatap Rafa yang masih menatap hampa ke sekeliling kawasan Oud Centra.
“Setelah ini semua terjadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Semuanya telah hancur. Kemungkinan besar proyek ini pasti dibatalkan karena Sepkai Farmasi maupun Rumah Sakit Hetalia tak bisa menutup kerugian akibat insiden ini. Mereka pasti rugi besar. Proyek vaksinnya hancur lebur.”
Ucapan Hendra itu sontak menarik perhatian Rafael Zohan. Pemuda berambut coklat itu tak tahu harus berkata apa saat ini. Sebagai ketua tim, sudah kewajibannya untuk membuat keputusan yang tepat bagi temannya yang lain. Akan tetapi, insiden kebakaran ini terjadi secara tiba-tiba. Ia tak tahu harus apa saat ini.
“Apakah kita harus kembali ke kampus dan mulai mengajukan program skripsi? Karena bagaimana pun juga, aku tak mau tidak lulus tepat waktu hanya karena insiden ini,” ujar Rino seraya memandang sendu tumpukan abu di bawah kakinya.
Apa yang diucapkan Rino tadi benar. Alasan keempat pemuda itu berada di sini selain uang ialah agar mereka bisa lulus tanpa skripsi. Akan tetapi, kalau kondisinya seperti ini maka kelulusan mereka yang akan dipertanyakan. Apakah keempat mahasiswa ini masih bisa lulus tepat waktu? Atau mereka harus mengajukan skripsi saat ini juga? Keempatnya benar-benar bimbang.
“Kita harus tunggu dulu sampai malam nanti. Seharusnya, baik pemerintah, Sepkai Farmasi, kepolisian, termasuk Hetalia akan mengadakan konferensi pers nanti. Kita pasti diberi tahu langkah selanjutnya oleh pihak Sepkai Farmasi maupun Hetalia,” ujar Rafa menghibur ketiga temannya yang lain.
“Lagi pula, profesor dari kampus kita ada di sini.” Hendra mengucapkan hal tadi sembari menunjuk ke arah Profesor Jack Hannes yang bersama dengan Adam dan lainnya. “Kita harus meminta keputusan dari mereka saja.”
Alis Ardi saat ini terlihat menukik. Ia menampilkan ekspresi begitu kesal sekarang. “Lagi pula, kenapa rektor kita tak bisa dihubungi sampai sekarang? Ini benar-benar menjengkelkan!”
Rafa yang mendengar Ardi menggerutu hanya bisa diam. Sampai sekarang dirinya belum mengatakan satu hal pun pada mereka bertiga. Lagi pula berbagai kejadian datang secara bertubi-tubi yang menyebabkan Rafa merenung. Padahal Iranjia belum mampu membersihkan namanya dari tuduhan Edelton yang mengatakan kalau Ex-0 berasal dari negara ini, sekarang justru lab pembuatan Vaksin Hektovac hancur lebur tak tersisa.
Pemuda bermata hijau itu menengadahkan kepalanya. Mata hijaunya hanya bisa menerawang jauh sembari menatap langit mendung di atasnya.
Mengabaikan semua hal yang terjadi sekarang, apakah mungkin dua kejadian tadi saling berhubungan?