Setiap orang selalu mengira kalau musibah tak mungkin datang berturut-turut dalam satu waktu. Bahkan kalau dipikir lagi, tidak ada manusia di dunia ini yang berharap musibah menimpa dirinya. Akan tetapi, takdir yang telah digariskan oleh Tuhan memang aneh. Ada kalanya manusia diuji dengan berbagai cobaan yang membuatnya lebih kuat.
Namun, kali ini bukan ujian lagi namanya. Mungkin saja, Tuhan memang membenci Iranjia. Atau mungkin ini balasan? Tapi, apa yang sudah Iranjia buat?
Pria yang berdiri mematung di antara banyak orang itu hanya bisa bertanya kenapa dan kenapa. Segala hal yang telah diperjuangkannya kini hancur lebur dan musnah. Mata Adam Hillary bergetar hebat melihat kobaran api melahap seisi bangunan di kawasan Oud Centra. Tempat peninggalan sejarah yang berisikan kastil dan bangunan mewah dari Eropa itu dipenuhi warna merah menyala di antara gelapnya malam.
Tidak, Adam tak bersedih karena kawasan wisata ini hancur. Adam Hillary bersedih karena segala hasil kerja keras yang telah dibangunnya siang dan malam hancur dalam hitungan jam.
“Cepat! Padamkan api di area jam 1!”
“Komandan! Api di area jam 5 terlalu kuat karena sepertinya ada bahan bakar di sana yang memicu berkobarnya api semakin kencang!”
“Apa pun yang terjadi, kita harus padamkan tempat ini sebelum jam lima pagi!”
Puluhan orang berjaket jingga itu hanya bisa mengangguk paham tatkala sang komandan memberikan komando seperti tadi. Mereka berlari ke sana ke mari bagai semut yang bercerai berai dari barisannya. Adam hanya diam mematung, ia bahkan bingung harus berbuat apa kali ini. Dirinya berdiri di samping mobil pemadam kebakaran seorang diri, melihat mimpinya dan harapan seluruh orang di Iranjia telah musnah.
“Pak, kenapa Anda berdiam diri di sini? Lokasi ini sangat berbahaya karena apinya sangat ganas dan cepat menyebar. Mohon tinggalkan tempat ini,” ujar seorang petugas pemadam kebakaran yang berlari menghampiri Adam.
Untuk sesaat Adam hanya bisa diam kemudian menggeleng pelan. “Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini."
Petugas yang memakai helm anti api itu langsung keheranan. Ia membuka kaca hitam yang sedari tadi menghalangi pandangannya dan melihat siapa sosok di depannya. “Pak, kau jangan keras kepala— tunggu, apakah kau Adam Hillary?!”
Sontak pekikan dari seorang pria petugas pemadam kebakaran tadi menarik perhatian dari sang komandan yang berada tak jauh dari mereka berdua. Komandan itu pun segera berbalik dan menghampiri mereka begitu menyadari ada sosok pria berjas di sini sejak tadi.
Adam masih tak bergeming dari tempatnya. Ia bahkan menghiraukan sosok komandan pemadam kebakaran yang berada di depannya baru saja. Mata hitam Ketua Sepkai Farmasi itu hanya bisa menatap kosong ke arah kawasan Oud Centra. Ia sangat ingin berlari ke sana, mengambil sampel dan uji coba temuan vaksin, lalu menyelamatkan semuanya. Akan tetapi, Adam masih memiliki akal sehatnya. Dalam kobaran api sebesar itu, siapa yang bisa lolos dari kematian selain pemadam kebakaran?
“Tuan Adam Hillary, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya komandan tadi dengan nada keheranan.
“Komandan.” Adam mengucapkan hal itu sambil menatap pria tersebut. “Hancur sudah, segalanya sudah hancur. Lantas, bagaimana mungkin aku meninggalkan tempat ini?”
Sensasi panas dari kobaran api yang merajalela membuat komandan itu sedikit menyipitkan matanya. Ia memandang bingung ke arah Adam. “Apa yang hancur? Apa? Aku sama sekali tak mengerti!”
“Seluruh harapan Iranjia telah hancur di depan sana! Laboratorium tempat pembuatan Vaksin Hektovac berada antara gedung itu. Laboratorium yang merupakan milik Universitas Tenggara tersembunyi di area bawah tanah lokasi ini. Aku sama sekali tak tahu harus apa!”
Ucapan Adam itu sontak membuat mata sang komandan bergetar dengan hebat. Lidahnya kelu, ia bingung harus berucap apa. “A-apa kau bercanda?”
“Apa wajahku ini terlihat seperti orang yang membuat lelucon?!” ujar Adam retorik sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan kesal.
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Komandan itu langsung merasakan sensasi jantung berpacu dengan kuat saat ini juga. Ia melirik ke arah kobaran api Oud Centra dan Adam berulang kali. Dengan cepat dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang komandan itu berlari menjauhi Adam dan memerintahkan seluruh anggota untuk mempercepat aksi pemadaman api ini bahkan kalau bisa sebelum jam tiga.
Adam sendiri hanya bisa terpaku melihat aksi komandan tadi. Ia terbengong untuk beberapa saat dan terkagetkan oleh tepukan keras di pundaknya. Sontak, ketua dari Sepkai Farmasi itu memandang pelaku si pemukulan yang berada di sampingnya.
“Kau bilang, lokasi lab itu di bawah tanah bukan? Lalu kenapa kau bingung? Harusnya tempat itu tak terjamah oleh api jika pengamananmu kuat.” Ucapan tenang dari petugas pemadam kebakaran yang masih di sini tadi membuat Adam melebarkan mata tak percaya.
“Apa ... apa yang kau katakan tadi ada benarnya juga. Lab itu pasti aman kan saat—“
“Tapi, tunggu dulu. Kudengar dari komandan, penyebab kebakaran lokasi Oud Centra ini dikarenakan suara ledakan. Dari radiusnya, sepertinya ini bukan ledakan tabung gas atau apa. Area kobaran api ini sangat luas. Ada kemungkinan seseorang melemparkan bom di sini.”
Ucapan dari petugas kebakaran di depannya ini membuat wajah Adam terkejut bukan main. “A-apa katamu?”
“Berdasarkan penuturan salah seorang saksi yang kebetulan lewat tak jauh dari sini, ada suara ledakan yang sangat keras tadi. Ketika ia mencari asal suaranya, saksi itu melihat kobaran api yang sangat besar melahap Oud Centra dan menelepon pemadam kebakaran.”
Mengabaikan wajah Adam yang masih terkejut itu, sang petugas pemadam kebakaran tadi berucap, “Lokasi ini terbakar sekitar pukul 12 malam tadi dan sekarang sudah hampir jam dua namun, apinya tak kunjung padam. Ini hanya dugaanku saja. Tapi, aku rasa kebakaran Oud Centra ini adalah tindak kejahatan. Ada seseorang yang tahu kalau lokasi lab pembuatan vaksin di sini lalu dengan sengaja melemparkan bom.”
Adam mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mustahil jika ini semua terjadi, pasalnya setiap malam ada polisi dan tentara yang berjaga di tempat ini. Akan tetapi, pernyataan pria di depannya ini ada benarnya juga. Aneh sekali ada orang yang membakar lokasi peninggalan sejarah, kecuali ada motif di balik aksinya tadi. Dan motif itu adalah menghancurkan proyek vaksin Hektovac yang digagas olehnya.
“Jika itu yang terjadi maka sudah jelas mereka menargetkan lokasi lab bawah tanah milik Universitas Tenggara, yang berarti peluang lab itu masih selamat sangatlah kecil,” ujar petugas pemadam kebakaran tadi kepada Adam yang masih menahan emosi.
Petugas itu pun berlari kembali menghampiri teman-temannya lain yang berjibaku melawan api ini. Mobil-mobil pemadam kebakaran lainnya telah dikerahkan oleh sang komandan tadi karena kondisi kebakaran ini berubah menjadi berstatus darurat. Total ada 20 mobil yang saat ini telah tiba di lokasi ini. Beberapa polisi dan aparat militer pun tiba begitu mendengar kabar dari petugas pemadam kebakaran. Apa pun yang terjadi, si jago merah ini harus dipadamkan secepat mungkin agar Vaksin Hektovac terselamatkan.
“Berita utama pagi ini, laboratorium bawah tanah milik Universitas Tenggara yang berada di lokasi Oud Centra terbakar habis akibat serangan bom. Laboratorium itulah yang menjadi tempat pembuatan Vaksin Hektovac yang digagas oleh Rumah Sakit Hetalia dan Sepkai Farmasi.”