Semua orang di dunia ini tahu bahwa zaman akan menjadi modern ke depannya. Manusia akan terus berinovasi menemukan berbagai hal yang mampu mempermudah kehidupan mereka. Salah satu benda yang tak kalah dalam inovasinya ialah telepon. Di Iranjia sendiri, telepon sudah sedikit ditinggalkan oleh sebagian orang karena adanya ponsel yang bisa dibawa ke mana-mana dan tak perlu mengantre seperti di wartel.
Ponsel telah bermunculan sejak sepuluh tahun belakangan di negeri dengan daratan utama yang begitu luas tersebut. Iranjia telah bekerja sama dengan Jesai yang merupakan salah satu negara dengan inovasi teknologi terkemuka di seluruh dunia. Dari kerja sama itulah, Iranjia menjadi salah satu negara di mana pasar ponsel berkembang begitu pesat dan hampir dimiliki oleh setiap orang. Meskipun begitu, penggunaan warung telepon masih terus efektif hingga sekarang.
Pada tahun 2001 ini, internet masih belum mampu diakses oleh telepon genggam yang memakai jaringan seluler 2G. Orang yang ingin berselancar di internet pun harus menggunakan perangkat laptop atau komputer. Meskipun begitu, negara Jesai yang menjadi pemasok utama ponsel di Iranjia tak mau ketinggalan akal. Mereka terus berinovasi dan menemukan berbagai fitur baru untuk mendukung keterbatasan yang ada pada ponsel jaman sekarang.
Perlu diketahui bahwa teknologi 2G memungkinkan berbagai jaringan untuk menyediakan layanan seperti pesan teks, pesan gambar, dan MMS (pesan multimedia). Sinyal radio pada jaringan sebelumnya bersifat analog, sedangkan sinyal radio pada jaringan 2G sifatnya digital. Sinyal digital tersebut digunakan untuk menghubungkan menara radio ke seluruh sistem seluler.
Selain melakukan telepon dan menghubungi seseorang lewat SMS, seseorang juga mampu melakukan panggilan video meskipun wajah si penelepon akan terlihat begitu kecil. Kamera yang terdapat di ponsel pun juga sebenarnya tak terlalu bagus, tapi masyarakat Iranjia sudah bahagia dengan fitur ponsel dari Jesai tersebut. Ada juga grup percakapan yang bisa dilakukan oleh beberapa orang dalam waktu bersamaan. Kedua kegiatan itu uniknya tidak memakai jaringan internet melainkan hanya dengan sinyal digital saja.
Jadi, karena masih terbatasnya internet dan komputer yang tidak dimiliki oleh setiap orang, penyebaran informasi di Iranjia pun terkesan lambat. Beberapa orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi di Liden TV tadi malam tampak kebingungan begitu mendengar orang lain dengan hebohnya membicarakan itu. Mereka harus menonton televisi atau radio yang membahas topik itu. Satu-satunya media informasi yang bisa digapai dengan mudah oleh banyak orang adalah koran.
Karena Alexa merupakan salah satu dari orang yang ketinggalan informasi itulah, ia harus pergi dahulu sejauh 100 meter dari Rumah Sakit Hetalia untuk membeli koran. Gadis itu kini tengah berjalan kembali menuju Hetalia dengan tangannya sibuk membentangkan lembaran koran. Ia terus membaca koran itu sembari berjalan di trotoar.
“Edelton gila. Bagaimana mungkin mereka berpendapat bahwa Iranjia menjadi asal dari virus Ex-0 hanya karena sumber daya manusia di sini masih belum maju?” gumam Alexa. Alisnya saat ini menukik tajam karena emosi.
Di koran yang dibaca olehnya sekarang, tertera informasi yang begitu jelas dan mendetail. Jurnalis dari redaksi koran yang tengah dibaca olehnya saat ini sepertinya mencari tanggapan langsung dari beberapa orang di luar negeri sana, terutama negara-negara Eropa lain terkait pernyataan lembaga penelitian di Edelton semalam.
“Aku sama sekali tak paham sebenarnya. Iranjia saja tidak tahu di mana tempatnya. Kenapa setiap orang terus membicarakan hal ini?”
“Aku tidak akan pernah meragukan pernyataan dari Edelton. Edelton adalah negara adidaya dulu maupun sekarang. Negara bernama Iranjia itu telah keterlaluan karena membuat kekacauan seperti ini. OPB harus menghukum mereka seberat-beratnya.”
“Aku sendiri agak ragu kalau ditanya terkait hal itu. Iranjia setahuku adalah negara berkembang. Bagaimana mungkin mereka bisa membuat hal seperti ini? Ini tak masuk akal sama sekali.”
Alexa mengerutkan kening begitu membaca pernyataan dari orang-orang di luar negeri itu. Sepertinya masyarakat di luar sana terbagi dalam beberapa kubu dalam menanggapi permasalahan ini. Ada orang yang setuju dengan Edelton, ada yang merasa tak masuk akal, dan ada juga tipe orang yang tak peduli.
Gadis itu melirik ke arah jam tangannya yang saat ini menunjukkan pukul delapan. Ini adalah jam kerjanya, ia harus segera pergi menuju Hetalia. Alexa dengan cepat melipat koran itu menjadi kecil dan memasukkannya ke dalam tas. Tak lupa ia mengambil ponsel terlebih dahulu. Karena Rafa tak bisa dihubungi sejak tadi, Alexa pun menuliskan pesan padanya. Gadis itu berharap Rafa akan membukanya nanti.
Dengan tergesa, Alexa segera berlari menuju Hetalia begitu ia selesai menulis pesan pada Rafa. Apa pun yang terjadi saat ini, ia sangat berharap bahwa tuduhan Edelton kemarin bukan menjadi pembuka awal tahun yang buruk bagi Iranjia. Semoga negara ini bisa cepat mengatasi masalah tersebut dan membuka lembaran tahun baru yang lebih indah.
Jam pun terus berputar hingga tak terasa dua jam telah berlalu. Di pukul 10 pagi ini, orang-orang yang tahu kalau Presiden Rika hari ini akan mengadakan konferensi pers langsung menyalakan televisi mereka. Konferensi pers darurat ini sebagai tanggapan sikap Iranjia atas pernyataan salah satu lembaga penelitian dari Edelton semalam. Beberapa kru dan ilmuwan dalam laboratorium bawah tanah milik Universitas Tenggara pun langsung fokus memperhatikan acara tersebut sejak satu jam yang lalu.
“... selama ini Edelton dan Iranjia telah berhubungan satu sama lain dengan baik. Kedua negara telah bekerja sama dalam waktu yang lama untuk urusan ekspor-impor bahan tambang nikel. Pernyataan dari lembaga penelitian yang masih menjadi bagian dari Universitas Herminton kemarin sebelumnya hanyalah dugaan belaka. Saya sebagai Duta Besar Edelton telah mengonfirmasi hal itu.”
Seorang pria tinggi dengan rambut pirang dan mata biru tampak berdiri tegap di podium istana presiden saat ini. Ia adalah duta besar Edelton untuk Iranjia. Hadirnya pria bule yang fasih berbahasa Iranjia di konferensi pers ini untuk menyampaikan sikap negaranya atas pernyataan lembaga penelitian Universitas Herminton semalam. Presiden Rika mempersilahkannya untuk menyampaikan pernyataan sejelas mungkin kepada seluruh masyarakat Iranjia.
“Saat ini, pihak Kerajaan Edelton bahkan memanggil lembaga penelitian tersebut ke kerajaan untuk dimintai keterangan lebih lanjut karena OPB telah mendatangi negara tersebut,” sahut Presiden Rika yang saat ini juga berdiri di podium yang sama.
Setelah beberapa saat terdiam, Presiden Rika kembali melanjutkan pernyataannya. “Ada kemungkinan kalau Duta Besar Edelton akan ditarik sementara dari Iranjia karena masalah ini untuk keamanannya.”
Pernyataan dari wanita bernama Rika tersebut memang masuk akal. Karena situasi yang tak kondusif saat ini, kantor kedutaan Edelton di Iranjia pasti berpeluang besar mendapatkan serangan dan teror dari masyarakat Iranjia. Untuk keamanan, Edelton pasti akan menarik duta besarnya.
“Hal yang ingin aku tegaskan sekali lagi adalah Edelton bukanlah pihak yang mengatakan bahwa Iranjia adalah dalang di balik kasus Ex-0. Ingat, bukan Edelton. Pihak yang mengatakan itu ialah lembaga penelitian dari Universitas Herminton dari Edelton dan bukan bagian dari pemerintahan mereka. Lembaga itu adalah pihak swasta dan penelitian yang dilakukannya berdasarkan sains semata, bukan urusan politik atau apa pun lainnya,” lanjut Presiden Rika.
Presiden Rika menegaskan hal itu berulang kali sejak tadi untuk mencegah aksi masyarakat yang mungkin saja melakukan hal nekat ke pada negara maju di Eropa itu. Ia tahu betul kalau penduduk Iranjia memiliki nasionalisme tinggi sehingga hal itu bisa saja terjadi. Aksi nekat itu kalau dibiarkan justru akan memperburuk situasi antara Iranjia-Edelton saat ini. Ia juga mengatakan bahwa Lembaga Penelitian Nasional atau LPN saat ini berusaha keras mengkaji pernyataan mereka semalam untuk membuktikan bahwa Iranjia tak bersalah.
Tepat di pukul 10 lebih 15 menit, konferensi pers itu akhirnya berakhir. Penduduk Iranjia termasuk kru pembuatan Vaksin Hektovac di lab saat ini hanya bisa termenung. Pernyataan dari konferensi pers tadi sepertinya terasa begitu cepat. Presiden Rika juga tampaknya tidak terlalu tegas kali ini karena ia hanya mengatakan kalau LPN akan mengkaji penelitian itu tanpa melakukan aksi protes atau tak terima kepada Edelton.
“Kenapa rasanya masih ada yang kurang ya?” tanya Hendra kepada ketiga temannya yang lain. Saat ini, empat pemuda itu tengah mojok di sudut ruangan dan melihat acara tadi bersama seluruh kru lab yang ada di sini.
“Sepertinya Presiden Rika melakukan konferensi pers tadi semata untuk menenangkan kondisi masyarakat yang tak kondusif akibat pernyataan Edelton semalam. Masyarakat akan cenderung agresif saat negara ini dihina. Ia melakukan konferensi pers tadi hanya untuk mencegah aksi brutal penduduk Iranjia yang bisa saja melakukan demo di kantor kedutaan,” sahut Rafa.
Rino dan Ardi mengangguk. Kedua mata Rino bahkan saat ini tak lepas dari sosok Presiden Rika yang undur diri dari area konferensi pers.
“Apa yang dikatakan Rafa tadi benar. Dari gerak-geriknya, ada banyak hal yang diketahui Presiden Rika saat ini namun ia berusaha menyembunyikan itu dari masyarakat. Mungkin saja ia menyimpannya untuk diberitahukan di konferensi pers yang akan datang,” sahut mahasiswa jurusan psikologi itu.
Ardi pun langsung menoleh ke arah Rino yang saat ini duduk bersama dengan Hendra. “Lagian ya, konferensi pers tadi seperti tergesa. Pernyataan dari Presiden Rika hanya satu jam. Staf istana pasti akan melakukan konferensi lanjutan nanti.”
Hendra yang mendengar pernyataan dari teman-temannya itu tampak menghela nafas panjang. Ia berdiri dari posisi duduknya. “Ya sudahlah, itu tak penting, biarkan itu menjadi urusan pemerintah saja. Sekarang tugas kita sudah dimulai kembali. Kita harus segera menyelesaikan proyek ini untuk membuktikan kalau Iranjia itu bukan pelakunya.”
“Kau benar,” sahut Rafa sembari tersenyum. Ia juga berdiri menyusul dan menatap mereka semua. “Tugas kita saat ini hanyalah fokus pada pembuatan vaksin dan obat. Kita adalah tim yang solid bukan? Jadikan ini urusan bagi pemerintahan dan mari kita selesaikan dengan cepat proyek ini.”
Baik Ardi maupun Rino sontak mendengus geli mendengar pernyataan kedua orang tadi. Mereka berdua ini selalu saja bersikap optimis dan tenang dalam menyikapi segala hal. Bedanya adalah kalau Hendra itu pemalas dan Rafa adalah orang yang begitu rajin. Dan kalau ditanya siapa yang paling buruk antara keempatnya maka sudah jelas jika itu adalah Ardi dan Rino yang suka membantah dan malas-malasan.
“Oke, kita berpisah di sini. Aku akan kembali ke divisiku.” Rino pun akhirnya undur diri dari hadapan mereka.
Ardi yang melihat itu sontak tersenyum lebar. “Aku juga akan kembali ke divisiku. Semangat bagi kalian semua!”
Rafa menyipitkan matanya. Ia tersenyum ke arah berandal kedokteran tadi. “Kau juga. Kita harus segera menuntaskan ini semua!”
Setelah berpamitan dengan Hendra, akhirnya Rafa berjalan menuju tempat di mana divisinya bertugas. Di perjalanan itu, ia berpapasan dengan Profesor Jack Hannes yang kebetulan juga satu divisi dengan pemuda bersurai coklat tersebut. Mereka akhirnya berjalan bersama, dengan sesekali Profesor Jack meledek ke arah anak didik favoritnya itu.