Zendaya Maharani, perempuan berparas ayu bertubuh mungil yang akan genap berusia 25 tahun pada 3 bulan 10 hari lagi.
25 tahun merupakan usia yang dianggap banyak orang sebagai usia matang seorang wanita untuk menikah. Sayangnya tidak untuk Zena, sapaan akrab Zendaya, yang belum mampu menemukan tambatan hatinya.
Kisah cinta terakhirnya sudah terjadi sangat lama. Kisah yang mengubur keinginannya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Menutup hati tanpa menutup diri. Menjadi sosok yang antipati terhadap kata cinta itu sendiri.
Kisah yang sudah lima tahun berlalu, tapi selalu membekas. Enrio, kakak tingkat semasa kuliahnya yang saat itu mampu mengetuk hatinya.
Usia mereka terpaut 3 tahun. Semua berjalan lancar. Enrio dan Zena saling menerima kekurangan dan kelebihan. Pada tahap dimana keseriusan sudah terjalin, rintangan terasa mulai semain besar.
Keluarga Enrio tidak menerima Zena, terutama ibunya. Tipekal calon mertua yang selalu mengharapkan menantu sempurna dengan pikiran kolot.
Perempuan harus bisa semua pekerjaan rumah dari a-z, sedangkan pria diperbolehkan duduk santai sambil minum kopi. Belum mulai apa-apa, nasehat menjadi istri yang baik sudah diterimanya.
Harus mampu masak, membersihkan rumah, dan mendidik anak. Bukannya Zena tidak mau melakukan itu, tapi dia ingin menjadi wanita karir yang sukses. Membahagiakan kedua orangtuanya yang sudah membiayai kuliahnya.
Jangan berpikir ketika memimpikan menjadi wanita karir dia tidak memikirkan pasangannya. Gagasan ini sudah Ia sampaikan pada Enrio. Enrio tidak menolaknya. Malah cenderung mendukung.
Puncaknya ketika ibu Enrio tahu Zena tidak bisa memasak. Sama sekali. Saat itu Zena menghadiri acara akekah keponakan Enrio dari kakak pertamanya. Ibu Enrio memintanya datang untuk membantu menyiapkan makanan.
Acara tersebut dihadiri oleh keluarga besar Enrio. Zena pikir itu akan menjadi langkah awal pengenalan Zena pada keluarga Enrio. Ternyata dia salah besar. Ibu Enrio marah dan memakinya di hadapan keluarga besar Enrio.
Yang lebih sangat disayangkan, Enrio hanya diam tidak membelanya. Enrio jelas tahu bahwa Zena memang tidak bisa memasak dari awal mereka menjalin hubungan. Entah kenapa dia hanya diam di sebelah ibunya, bukan di sebelah Zena.
Meskipun acara belum selesai, ibu Enrio meminta putranya mengantarkan pulang kekasihnya. Pengusiran halus- batin Zena kala itu.
Perjalanan pulang dari rumah Enrio ke kos Zena tidak diisi percakapan apapun. Zena yang masih kecewa terhadap sikap Enrio dan Enrio yang kebingungan untuk membuka percakapan.
Tak ada Enrio manis yang selalu membukakan pintu dan mengantarkan Zena sampai depan pintu kos. Semua seakan berubah dalam satu hari.
Zena tak ingin mempersalahkan itu saat ini. Dia hanya ingin membuka kamarnya, menyalakan AC sedingin mungkin dan tenggelam dalam hangatnya selimut tercintanya.
Tidur setelah lelah menangis membuat mata Zena bengkak. Dia memutuskan untuk membolos kuliah pagi agar tidak banyak yang bertanya.
Saat Zena bersiap-siap untuk kuliah siang, pintu kamarnya di ketuk. Enrio datang, begitu kata Dita, teman kosnya. Anak kos memang hanya berjumlah 10 orang sehingga akrab satu-sama lain, atau minimal tau siapa itu Enrio.
Setelah menyelesaikan kegiatannya, Zena memutuskan untuk menemui Enrio. Mereka perlu bicara.
Enrio tidak lebih baik dari dirinya, kecuali untuk bagian mata yang bengkak. Rambut acak-acakan, wajah berantakan, dan pakaian lusuh.
Enrio berdiri saat melihat Zena mendekat. Mereka sama-sama diam, saling menatap.
Enrio maju selangkah, menggenggam kedua tangan Zena membawanya ke dadanya. Zena merasakan detak jantung Enrio.
"Aku minta maaf, tapi mama benar. Aku tidak mungkin melanjutkan hubungan kita. Kamu gak bisa masak, gak akan bisa mengurus rumah dengan benar. Aku butuh seseorang yang bisa mengurus keperluanku dari bangun tidur sampai tidur lagi. Aku perlu seseorang yang bisa mendidik anakku dengan baik, bukan mengejar karirnya saja. Aku memilih mengakhiri semua ini sebelum terlalu jauh. Maaf untuk semua kesalahanku dan terimakasih sudah bersamaku dua tahun terakhir ini. Aku mencintaimu!" Enrio pergi setelah mengatakannya.
Kata-kata menyakitkan yang mengakhiri semuanya. Zena memaki Enrio.
Kenapa baru sekarang dipermasalahkan? Kenapa diam saja saat aku dihina dihadapan keluargamu? Kenapa hal yang sudah kamu ketahui sejak lama menjadi alasan kamu memutuskan hubungan ini?
Zena mengurungkan niatnya untuk mengikuti perkuliahan siang ini. Mungkin sebaiknya aku melanjutkan tangisku-batin Zena kala itu.
Zena masuk kembali ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya dan duduk bersandar pada pintu.
Hari ini, hari dimana Zena menutup pintu kamarnya, akan menjadi hari dimana Zena menutup pintu hatinya. Menyembunyikan kepingan hatinya yang hancur dan menguncinya rapat.
Tidak akan Zena biarkan ada Enrio lain yang membuat kepingan hatinya menjadi semakin hancur.
***
posted on w*****d: 19 januari 2019