"Kak, anterin mamah arisan dong!" Kata-kata yang akan merusak rencana minggu pagi Zena diucapkan 1 jam 30 menit lebih awal dari biasanya.
"Kakak bangun ih! Mandi, dandan yang cantik, trus pake dress ya jangan celana jeans." Zena mengerutkan keningnya. Tidak biasanya mamahnya memberikan kalimat tambahan.
"Orang pake motor, kalo pake dress ntar terbang-terbang, Mah! Lagian ini masih jam 7. Kalo cuma mau ke rumam Tante Suji mah kayak biasanya aja. Sejam lagi lumayan bisa buat bobok, Mah." Zena menyingkap selimut yang menutupi wajahnya.
"Kakak mah gitu dibilangin orang tua juga!" Mamah Zena keluar dari kamar putrinya.
"Iya-iya. Ini kakak bangun!" Dengan suara sedikit meninggi agar mama Zena dengar.
Zena mandi kurang lebih 15 menit. Keluar menggunakan handuk yang melikit badannya, Zena terpaku pada dress sederhana yang nampak anggun tergeletak di kasurnya.
Ini mamah seriusan pengen aku pake dress? Wah gak beres nih- batin Zena sambil melangkah mendekati tempat tidurnya.
Mau tidak mau Zena memakai dress tersebut.
'Daripada si mamah ngambek!' batin Zena.
Zena sebenarnya bukan tipe perempuan tomboy yang anti dress, hanya saja Ia lebih nyaman dan merasa bebas bergerak saat menggunakan celana jeans. Selain itu juga memudahkan Zena saat mengendarai motornya.
Jadi isi lemarinya 60 persen setelan kerja formal bercelana 10 persen rok span 25 kaos nyaman dan 5 persen dress untuk acara formal saja.
Dress ini mungkin salah satu dress baru mamah. Ukuran badan Zena dan mamanya memang sama, pun dengan ukuran kaki. Beruntungnya lagi, mamahnya adalah tipe perempuan yang selalu memperhatikan penampilan dan mengikuti trend.
Jadi jika Zena tidak memiliki baju yang dirasa pas, Zena hanya perlu pindah ke kamar mamanya. Membuka lemari dan mengacak-acak isinya.
Terkadang Mamahnya juga berperan sebagai penasehat umum masalah fashionnya. Lebih seringnya, tanpa diminta.
Seperti dugaanya, dress putih sederhana ini melekat pas di badannya. Aksen bunga berwarna biru di bagian bawah roknya menambah apik tampilannya. Beruntungnya dress ini memiliki lengan sampai siku.
Gak perlu nyukur rambut ketek deh- batin Zena sambil mematut penampilannya di depan cermin full body di kamarnya.
Zena keluar kamar sambil menenteng tas selempang berwarna biru. Melirik kamar sebelah yang masih tertutup.
Tok tok tok...
"Mah, kakak dah siap nih!"
"Iya bentar kak, pake anting doang nih!" Jawab mamanya dari dalam tanpa membuka pintu.
Bohong. Pasti masih milih baju! Gerutu Zena dalam hati. Mana berani dia mengungkapkan. Bisa diambekin sama nyonyah.
Zena melangkah meninggalkan kamar mamanya ke arah ruang tamu. Atau ruang tivi, terserahlah apapun sebutannya.
Rumah Zena adalah rumah sederhana berlantai satu, tapi sangat cukup untuk Zena dan sang mama.
Setelah kepergian sang ayah dan sang adik, dua tahun silam, Zena memutuskan untuk pindah rumah. Setiap sudut di rumah lamanya hanya akan membuat sang mama meratapi nasib buruk yang menimpa keluarganya dan semakin terpuruk.
Bukan berarti Zena tidak terpukul atas kabar naas yang menimpa sang ayah dan adik laki-laki tersayangnya. Zena hanya merasa dia harus segera bangkit untuk sang mama. Memulai langkah baru dan berharap akan ada sesuatu yang baik menunggu.
Rumah lamanya tetap dirawat dengan baik. Untuk menjaga kenangan di dalamnya. Atau menjadi pelipur dikala rindu sedang menerpa. Selain itu, setiap tahunnya selalu diadakan doa bersama di sana untuk kedua mendiang orang terkasih Zena.
Zena menilih rumah sederhana yang terletak di perumahan cukup asri. Letak rumah ini juga tidak terlalu jauh dari rumah lamanya. Kurang lebih hanya berjarak 75 km yang bisa ditempuh dalam 2 jam perjalanan santai.
Rumah ini terletak di dekat kampusnya dulu. Untuk itu, mama Zena berencana membuat kamar baru untuk disewakan. Lumayan, bisa untuk tabungan.
***
"Ya kalo pake taxi ngapain bangunin kakak sih mah! Sok-sok an minta dianterin!" Gerutu Zena saat melihat taksi online pesanan mamanya ada di depan rumahnya.
"Ya tadi katanya susah pake motor kalo pake dress!" Sewot sang mama.
"Ya bukan gitu, maksudnya ngapain juga kakak harus ikut kalo mama udah pake taksi. Kan mubazir waktunya kakak, mending buat tidur tadi."
Meskipun menggerutu Zena tetap memasuki taksi online tersebut setelah mamanya membuka pintu. Meski dengan wajah yang cemberut.
Setelah menyapa ramah dan memastikan tujuan, sopir taksi langsung menjalankan mobilnya.
Tunggu... Zena merasa ada yang aneh.
Pertama, mama membangunkan lebih awal.
Kedua, mama memintanya menggunakan dress dan berdandan.
Ketiga, alamat yang disebutkan bukan milik Tante Suji. Sebenarnya sih kalau yang ini mungkin saja memang geng arisan mama sudah bosan di rumah Tante Suji. Tiga bulan belakangan arisan memang dilaksanakan di rumah Tante Suji.
Sampai di tujuan, Zena dan mamanya turun dari taksi. Zena terpaku sejenak menatap rumah besar di hadapannya. Rumah besar bercat putih tanpa cela dengan kesan jawa yang masih kental.
Gerbang yang tadi dilewati Zena memberikan kesan sangat modern sehingga dia tidak menyangka akan menjumpai beberapa perabot bernuansa adat. Mulai dari kursi depan, lampu, pintu, dan patung di taman.
Zena baru menyadari bahwa banyak sekali mobil yang terparkir di depan rumah megah ini.
Tidak seperti biasanya-pikir Zena. Geng arisan mama Zena hanya terdiri dari 7 orang.
Tidak mungkin ada mobil sebanyak ini-pikir Zena lagi.
"Kak! Ih malah bengong. Ayok masuk." Mama Zena menghentikan pikiran Zena yang sedang menebak-nebak.
"Mah, kok kayaknya rame banget?" Tanya Zena menghentikan langkah mamanya.
"Iya, soalnya ini sekalian sambutan anaknya si Wiwi yang baru pulang dari luar negri. Ayok, ntar keduluan anaknya Tamara." Mama Zena menarik tangannya masuk.
Eh? Keduluan ngapain?
Zena yang sudah mengetahui arah niatan sang mama langsung menatap horror.
"Mah, kakak gak mau ya ini dijaiin ajang jodoh-jodohan. Kakak udah gede. Bisa nyari sendiri. Lagian ini udah gak zaman yang begituan. Pokoknya kakak mau pulang aja!" Mama Zena hanya diam sambil terus menarik tangan Zena menuju kerumunan.
"Mamah ih!"
"Diem kenapa sih kak! Siapa juga yang mau jodohin kamu sama anaknya si Wiwi. Belom tentu anaknya si Wiwi mau." Jawab sang mama enteng.
Dih si mamah
"Hai, Wi!" Sapa mama Zena pada tuan rumah yang sedang dikerumuni banyak orang.
Zena mengedarkan pandangannya ke ruangan luas tempatnya berdiri. Zena mengenal beberapa dari mereka sebagai bagian dari geng arisan sang mama, beberapa lagi anak-anak dari anggota arisan, dan beberapa lagi asing.
Kebanyakan wajah asing terlihat masih muda. Mungkin sekitar 28-30 an.
"Ini loh Rak yang namanya Zendaya. Anaknya cantik, mandiri lagi. Lulus kuliah langsung dapet kerja dia. Udah gitu dia masih single loh!" Wiwi mendekat bersama Raka, si pemilik acara. Zena hanya tersenyum kikuk mendapatkan pujian seperti itu.
"Hai Zen...daya" sapa pria itu ramah.
"Zena aja biar gampang." Ralat Zena sambil menyalami tangan pria tersebut.
"Raka.." ucap sang pria lagi.
Bodo amat- batin Zena. Dia tidak peduli siapa si pria tampan dengan bahu tegap dan tinggi yang semampai di depannya. Dia hanya mau pulang.
Dia tidak nyaman berada diantara kerumunan dengan jumlah pria yang lebih banyak. Meskipun mereka adalah pria-pria tampan berbadan tegap sekalipun.
Zena merasakan adanya remasan pada telapak tangan kanannya. Ternyata tangannya masih berada di genggaman Raka.
Dih. Apaan sih nih orang- Zena mengernyitkan alisnya tidak suka.
Pandangan mereka bertemu, Raka tersenyum ramah. Bukanya membalas senyuman Raka, Zena justru memaksa menarik lepas tangannya.
"Nah kalo udah saling tatap gini mah tinggal nunggu nyebar undangan aja ya, Far!" Ucap Tante Wiwi pada mama Zena.
Zena menatap horor keduanya yang sedang cekikikan.
"Mah, Tante, kayaknya Zena harus pulang deh. Ada kerjaan yang perlu Zena beresin buat senin soalnya." Zena mencoba peruntungannya untuk keluar dari situasi menyebalkan ini.
"Eh kakak pulangnya gimana? Kan kita naik taksol tadi?" Tanya mama Zena.
"Biar Raka aja yang nganterin Tan!"
What?
***
posted on w*****d: 10 juni 2019