Zena terpaksa mengikuti langkah Raka keluar dari rumah Tante Wiwi. Mau bagaimana lagi, di hpnya tidak ada aplikasi untuk memesan taksi online.
Zena juga tidak mungkin bisa meminjam hp mamanya untuk memesan disaat Raka, pria yang sedag membukakan pintu penumpang mobil Porsche Boxster berwarna hitam mengkilat, bersedia mengantarkannya pulang.
Sudahlah yang penting pulang dan tidur kembali. Lumayan juga, hemat— batin Zena
Zena membuka ponselnya, menilik beberapa pemberitahuan di media sosial miliknya. Berselancar di dunia maya memang bisa membuat Zena lupa dunia nyata. Bisa juga menjadi moodbosternya.
"Ehm..." deheman serak dari pemilik mobil yang ditumpanginya tidak mengalihkan mataya dari ponsel. Zena tetap fokus pada ponselnya sambil sesekali tersenyum.
Kecepatan mobil bertambah, sangat drastis hingga Zena mau tak mau mengalihkan pandangannya ke depan.
"Eh eh, Raka! Pelanin dong!" Zena menatap horor pada Raka. Tangan Zena sudah menjatuhkan ponsel di pangkuannya dan memilih berpegangan erat.
"Kalo aku mati, aku gentayangin kamu!" Teriak Zena sambil memejamkan mata.
Ciiiit....
Mobil direm. Zena membuka matanya, lampu merah ternyata. Dia mengalihkan pandangan pada Raka yang sedang tersenyum sambil menatapnya.
Lama-lama Zena merasa merinding melihat senyum itu. Entah kenapa terasa seperti ancaman.
"Saya tidak suka diabaikan, Zena." Tangan Raka mengambil ponsel yang ada di pangkuan Zena.
"Eh apaan sih!" Zena yang berusaha merebut kembali ponselnya jelas kalah dengan kekuatan pria berbadan tegap tersebut. Raka memasukan ponsel Zena pada saku celana sebelah kanannya.
Zena yang tahu bahwa akan sia-sia untuk mendapatkan ponselnya kembali memilih untuk diam.
Sisa perjalanan sampai ke rumahnya, Zena hanya mengeluarkan kata ketika menunjuk arah. Untunglah Raka juga tidak banyak bertanya.
Ketika mobil berhenti tepat di depan rumahnya, Zena mengulurkan tangan kanannya meminta ponselnya dikembalikan.
Raka mengambil ponsel Zena dari saku celana, mengutak atik ponsel tersebut sebentar lalu menyerahkannya kepada si empunya.
Zena hanya mengerutkan keningnya, malas menanggapi ulah Raka. Zena berharap ini terakhir kalinya mereka bertemu.
"Makasih ya udah mau nganterin." Zena turun dari mobil tersebut dan masuk ke dalam rumah.
Zena merasa tidak perlu berdiri di samping mobil Raka dan menyaksikannya menghilang dari pandangan sambil melambaikan tangan.
Cih! Kayak pacar aja.
***
Senin pagi yang benar-benar menyebalkan. Setiap orang yang aku jumpai dan memfollow akun i********: miliku, akan bersiul atau mungkin mencoba berbasa-basi.
Raka sialan!
Saat Raka mengutak-atik ponselku, aku hanya berpikir bahwa dia sedang mensave nomor ponselnya. Ternyata lebih dari itu.
Dia memposting fotonya, yang diambil dari foto profil w******p miliknya ke akun instagramku. Tak lupa dengan tag akun miliknya.
Sialnya lagi, aku mengetahui hal tersebut setelah hampir tengah malam.
Setelah masuk, aku memilih mandi, makan, lalu tidur. Tak berniat mengecek ponsel yang ku biarkan di dalam tas biru kesayanganku.
Tentu saja aku langsung mengirimkan pesan berisi makian pada nomor w******p baru dengan nama Raka Abimana. Sampai sekarang tak ada balasan yang aku terima, chatku berakhir dengan centang biru.
Aku hanya tersenyum menanggapi teman-teman kantorku yang sedikit usil. Banyak yang mempertanyakan siapa itu Raka.
Belum lagi divisiku yang berisi pria-pria comel!
Jam makan siang terasa sangat lambat, padahal perutku sudah terasa kosong. Belum lagi setumpuk laporan yang harus aku selesaikan.
Divisi keuangan memang akan lebih sibuk saat menjelang akhir bulan. Tutup buku istilahnya. Belum lagi jika terdapat ketidak samaan antara nota dengan jumlah yang tertera dalam buku besar.
Aku memijat kepalaku sendiri. Pusing rasanya jika menemukan nota yang tidak sama seperti ini. Aku harus menghubungi divisi yang bersangkutan. Menanyakan kenapa terjadi perbedaan dan mengakalinya dengan nota baru.
"Zen, kantin gak?" Tanya Putri mengintip dari samping kubikelku.
"Nitip aja deh put. Tolong beliin satu paket paha aja ya. Tehnya gausah pake gula."
Setelah menyerahkan selembar uang berwarna biru, putri memberikan tanda oke sambil berlalu ke kantin. Aku kembali berkutat pada laporan ini.
"Dor.."
Aku terlonjak kaget. Memejamkan mata sambil mengusap dadaku yang masih berdebar kucup keras.
Tak perlu menebak siapa si jahil ini. Siapa lagi kalo bukan Fatih. Satu-satunya manusia yang hobi membuat jantungku bergerak ekstra. Kami cukup dekat satu-sama lain karena berasal dari universitas yang sama.
Meskipun berbeda divisi, kami sering makan bersama atau sekedar pulang bersama. Mama juga sudah mengenal Fatih sejak lama.
Bahkan setahun yang lalu mama sempat mengusulkan kami untuk menikah. Jelas usulan itu ku tolak mentah-mentah.
Fatih berusia 2 tahun lebih muda dariku. Aku tau dia belum cukup matang untuk menikah. Bukan berarti aku sudah siap. Lagi pula kami hanya teman. Benar-benar teman.
"Kalo sampe jantung aku copot, kamu yang harus jadi donornya!" Kataku galak. Dia hanya cengengesan.
"Nih!" Fatih menyodorkan sekotak makan siang. Persis paket yang ku pesan pada Putri.
"Ketemu sama Putri di kantin?" Aku membuka bungkus atas makan siangku.
Fatih menarik kursi dari samping kubikelku entah milik Putri atau milik Edo. Dia membuka menu makan siangnya juga.
"Iya tadi. Eh elunya gak ada. Kata putri elu lagi stress mikirin tutup buku. Ya karena gue takut elu bunuh diri karena stres, jadi gue temenin. Hahaha..." katanya sambil tertawa dan mulai melahap makan siangnya.
"Sialan lo!"
"Ck! Elu tuh ga cocok pake elu-gue an. Aneh tau gak!" Balas Fatih sambil mengacak rambutku. Aku hanya tertawa.
Setelah sesi makan siang dengan selingan ketawa ketiwi yang tidak jelas, Fatih membereskan sampah makan siang kami dan membuangnya di tempat sampah pojok ruangan.
"Zen, cowok yang kemaren tuh siapa?"
Akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Aku pikir dia tak akan peduli. Mau tidak mau aku menceritakan semuanya kepada Fatih sampai akhir jam makan siang.
Jam makan siang berakhir, Fatih kembali ke divisinya, pun dengan teman-teman satu divisiku.
Putri mengembalikan uang yang aku berikan. Katanya, Fatih membelikan tanpa meminta uangku.
Ck, akhir bulan gini sok kaya dia.
Kembali berkutat dengan laporanku, bolak balik menuju mesin fotokopi di sudut ruangan. Belum juga membuat laporan ini selesai sampai jam pulang kantor. Kami memutuskan untuk pulang tanpa lembur hari ini.
Setelah membereskan meja kerja dan mengirimkan pesan pada Fatih aku menuju lift untuk turun ke lantai 1.
Saat melewati meja resepsionis, langkahku terhenti saat namaku dipanggil. Aku menolehkan kepala ke arah sumber suara.
"Ya?" Tanyaku memastikan.
"Ada titipan." Aku melangkah menuju meja.
Sebuah totebag berwarna hitam polos diserahkan kepadaku.
"Makan siang dari Ibu Wiwi."
Eh?
***
posted on w*****d: 20 juni 2019