Waktu berlalu. Hari berganti minggu dan seterusnya. Namun segala kehidupan yang terjadi tidak merubah tatanan yang telah Tuhan berikan. Semuanya masih sama hanya perubahan-perubahan yang tidak signifikan terjadi. Itu pun tidak seluruh umat manusia mengalaminya. Hanya yang mau merubahnya. Sisanya telah Tuhan berikan kesempatan lain untuk menentukan pilihannya.
Sama halnya dengan keluarga Maharaja Askara.
Melalui perubahan kecil yang terjadi pada keluarganya. Ada yang harus kepala keluarga itu syukuri banyak-banyak. Untuk istrinya yang selalu setia berada di sisinya membina rumah tangga selama hampir delapan tahun. Untuk putra-putrinya yang tumbuh dengan baik. Naomi yang cantik dan pintar. Baraja yang kian tidak bisa di kalahkan omongannya. Terakhir untuk calon anaknya bersama Pulung yang berusia delapan bulan.
“Ayo bang minum dulu susunya.” Adalah Pulung Rinjani yang masih kekeuh dengan caranya untuk merawat putra-putrinya. Padahal Maha sudah sering mengejek perihal perut buncitnya. Yang tidak memengaruhinya sama sekali. “Mama bilang apa soal s**u?”
Kian hari, pesona Pulung tak terelakkan lagi. Persentasi yang tumbuh ketika Maha tambahkan cukup membuat kepalanya panas. Terbakar api cemburu dan kekesalan yang mendalam. Tidak diragukan lagi hormon kehamilan bisa merembet ke mana-mana.
“Abang kenyang mama.” Baraja pintar menjawab. Pandai mengelak dan melawan mamanya jika di rasa memang perlu di keluarkan ultimatum ketidaksukaannya. “Mama saja yang minum sama dedek.” Dan sejak tahu Pulung hamil lagi, Baraja menolak keras di panggil adek. Panggilan ‘abang’ pun menjadi pilihannya sendiri tanpa mau di bantah.
Berbeda lagi dengan Naomi. Gadis 13 tahun yang mengenakan seragam putih-birunya cengengesan menahan tawa. Menertawai tingkah ibu dan adiknya yang tiada beda. Asli, bagi Naomi, pemandangan keduanya seperti hiburan dan adupan untuk hari-harinya.
Mata Pulung mendelik tidak suka. Tidak tajam namun menyipit menunjukkan kekesalannya. Menatap putra-putrinya dengan bergantian dan lekas hengkang dari ruang makan. Membuat Maha geleng-geleng kepala.
Beberapa tahun yang sudah terlewati mengajarkan Maha banyak hal. Sampai bingung ingin memulai dari mana. Tapi yang pasti, semua lingkaran setan yang sudah tercipta, bisa di putus meski tidak sampai ke akarnya.
Saat itu, Mija harus jatuh—terpaksa di gulingkan kata kasarnya. Wanita paruh baya itu membayar apa yang pernah menjadi perbuatannya di masa lampau. Meski tidak terima, tapi tetap saja hukum alam punya jalan untuk menuntun di pembuat onar.
Sampai dengan papanya yang bersatu dengan mamanya dan Maha berterima kasih untuk itu. Pada akhirnya, apa yang telah dirinya tunggu, bersambut dengan lapang. Diiringi senyum merekah bahagia.
“Kamu nggak apa-apa di tinggal?” tanya Maha sekali lagi memastikan. Biasanya Pulung akan ikut serta ke kantornya. Dan siangnya akan menjemput Naomi serta Baraja guna makan siang bersama.
“Malas mas.” Pulung serahkan tas kerja beserta jas Maha.
“Mas saja yang pulang kalau gitu.”
“Nggak rapat?”
“Hari ini lumayan free. Nanti habis pulang nggak usah balik ngantor juga bisa.”
“Mau di masakin apa?” Pulung mencuri cium di bibir suaminya. Yang akhir-akhir ini sangat menggoda dan Pulung tidak bisa berjauhan barang sejengkal pun.
“Ayam teriyaki.” Itu hanya satu dari tiga request. Pulung menjadi ibu dan istri yang ekstra pintar mengatur menu makan sehari-hari agak tidak terjadi kebosanan. Mendapatkan makanan enak di luar sana mungkin tidaklah sulit. Namun cakupan gizi yang setara dengan empat sehat lima sempurna menjadi kendala yang harus Pulung tangani dengan kepintarannya mengolah menu.
Sebagai penutup atas persetujuan keinginan sang suami kepala Pulung terangguk patah. Di tambah ciuman panjang tepat di d**a Maha yang sungguh estetik. Dan perempuan ini sungguh lain dari yang lainnya. Bahagia selalu terukir sejak Maha memiliki Pulung.
***
Sudah pukul sebelas siang. Pulung di bantu asisten rumah tangga yang Maha siapkan berkutat dengan dapur. Sebentar lagi memasuki jam makan siang. Suaminya berpesan akan menjemput kedua anaknya dan segera pulang.
“Ibu istirahat saja. Biar bibi yang lanjutkan.” Bi Yah namanya. Usianya 45 tahun dan Pulung sudah menganggap seperti ibunya sendiri.
“Ini bentar lagi bi. Bibi bisa bikini jus sama motongin buah-buahan saja. Kaki aku sakit.”
Berdiri terlalu lama menjadi sangat tidak nyaman untuk Pulung lakukan. Bahkan dengan duduk pun demikian. Hanya duduk dan sakitnya minta ampun. Apa lagi berbaring. Maha harus mengalah mengurangi jam istirahat malamnya untuk memijat pinggang sang istri kala merengek kesakitan.
“Bapak itu beruntung punya ibu.” Buka bi Yah memulai obrolan. “Sudah cantik, pintar masak, pintar ngurus anak dan suami. Dan yang paling penting, pandai merawat diri.”
Kekehan Pulung lolos dari bibirnya. Merasa tersanjung atau harus bangga, entahlah. Di puji demikian memang sangat menyenangkan. Peremuan mana pun akan suka.
“Cantik, kan, relatif bi.”
“Yang pintar masak nggak semuanya bisa bu.”
Tidak ada yang salah dengan pendapat sang bibi. Namun jika memang ada kemauan, yang tidak mungkin pun bisa berubah dalam sekejap. Urusan dapur sudah melekat di diri perempuan sesibuk apa pun perannya di luar rumah. Dan Pulung hanya mencoba belajar untuk menjadi seperti apa yang semestinya telah Tuhan kodratkan.
Hukum alamnya begitu. Menjadi seorang istri bukanlah mudah. Dan menjadi ibu juga bukan pekerjaan yang mudah selayaknya membalikkan tangan. Ada peran-peran penting yang harus dilakukan. Ada banyak kewajiban yang tak bisa di lepas tangankan begitu saja. Ibu adalah sosok pertama yang anak-anaknya ketahui begitu tersambut oleh dunia. Maka ibulah yang menjadi bahasa pertama mereka dalam sehari-hari.
Belajar dari pengalaman pun harus Pulung lakoni. Saat ini, banyak pasangan muda yang menikah namun belum siap menjadi orangtua. Padahal itu salah satu syarat terbentuknya keluarga. Jika hanya menikah sekadar menikah tanpa hadirnya seorang anak, kehampaan lebih mendominan.
Alasannya juga beragam. Ingin menikmati masa pacarana dan ada yang ingin mengejar karir. Jika demikian, kenapa mengambil keputusan ‘menikah’ secara acak begini?
Mereka ingin pacaran, ya pacaran saja tanpa perlu mengikatnya dalam sebuah pernikahan. Jika ingin mengejar karir, bisa memfokuskan diri tanpa perlu melibatkan ikatan yang serius.
Oh, jangan-jangan mereka memutuskan menikah hanya untuk berhubungan intim saja?
Aish! Zaman sekarang memang gila.
“Mikirin apa?”
“Ngagetin!” Teriak Pulung begitu lengan kekar melingkar dan mengusap perut besarnya.
“Asik banget soalnya.”
“Kapan pulang?”
“Baru banget.” Maha cecapi leher sang istri yang jenjang dan terekspos bebas. Rambut panjangnya di ikat asal membuat Maha ingin cepat-cepat makan.
“Ini di dapur, loh. Dan aku lagi masak.”
“Matiin saja kompornya. Beres.”
Keduanya memang sangat susah di tebak. Pulung dengan segala kecerewetannya dan Maha yang suka sekali menjawab apa pun perkataan sang istri.
“Ayamnya bentar lagi. Duduk sana!”
***