Rambe kalang kabut. Kesiangan. Berkas-berkas rapat terpaksa dirinya cek ulang. Kemeja yang sudah di siapkan Ayana berubah lecek akibat ulahnya yang berlarian. Dasi yang sudah Ayana pasangkan miring ke kiri. Rambut yang sudah Ayana rapikan, amburadul. Serangan badai bella tiba di Lombok dan Rambe korban utama.
Inginnya Ayana marahi. Tapi urung melihat bagaimana tersiksanya Rambe yang harus memuntahkan makanannya lantaran efek morning sickness. Berkali-kali Ayana usapi perut buncitnya untuk jangan rewel sejenak. Kasihan Rambe.
“Besok lagi jangan bobok kemalaman.” Ayana berikan teh mint untuk Rambe seruput. Dan anggukan kepalanya membuat Ayana tersenyum.
“Nanti mama ke sini.” Ayana mengangguk. Tahu bahwa mama angkat lelakinya akan datang bersama rombongan keluarga lainnya. “Kamu nggak perlu repot. Mama nggak mau kamu dan babynya kenapa-kenapa. Jangan capek-capek.”
Ini rasanya luar biasa sekali. Dicintai dan mencintai Rambe membuat Ayana tidak menjadi orang lain. Segala kebaikan dan keburukan Ayana, Rambe terima dengan baik. Dia adalah lelaki yang menjelang terlalap akan melihat bagaimana rupa Ayana dan yang akan memandang Ayana kala kelopak matanya terbuka. Apa adanya Ayana, Rambe terima dengan sederhana tanpa tuntutan apa pun yang tidak Ayana miliki.
Sejak dicintai Rambe, Ayana tahu pemahaman terbaik dari mencintai dan dicintai ialah hati yang saling menerima tanpa mengubah apa pun dengan memaksa. Dan kepada Rambe, harus Ayana jujurkan sudah banyak rasa syukur kepada Tuhan untuk sesuatu (cinta) dan atas kehadiran Rambe di hidupnya, rasa syukurnya bertambah satu setiap harinya.
“Jangan ngelamun. Minum s**u kamu? Aku berangkat.”
Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sebagian orang yang benar-benar berusaha dalam mencari kebahagiaan. Sebagian lainnya hanya bisa menunggu kebahagiaan itu datang. Atau berusaha sekuat mungkin untuk selalu terlihat bahagia.
Bagi sebagian orang, cinta itu seperti laut. Ada pasang surutnya tapi yang pasti laut itu sangat dalam, sangat luas. Tidak ada habisnya.
Ayana tahu tentang itu. Karena tidak semua orang bisa merasakannya. Dan selalu ada batas untuk bisa melewati semua itu; kematian.
“Hati-hati.” Ayana kecup lama bibir Rambe. Meninggalkan lumatan sebelum benar-benar memeluknya sekali lagi. “Aku suka kangen sama kamu. Dedeknya juga gitu.”
“Oh ya?” Rambe terkekeh. “Aku bakal pulang lebih cepat.” Letupan bahagia hadir di desiran dadanya yang berdetak. Tuhan sangat baik kepadanya sehingga memberikan nikmat semacam ini tanpa kurang sedikit pun. Ayana dan bayinya adalah satu kesatuan yang membuat diri Rambe kian hidup setiap harinya.
Tahu tidak kalau Rambe suka takut sendiri meninggalkan Ayana sendirian? Padahal tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Tetap saja ketakutan menjadi nomor wahid akhir-akhir ini.
Ini terasa benar dan memang sangat di benarkan. Pernah Rambe berpikir, apakah dirinya bisa bertemu dengan seseorang yang lelah bermain dalam kekecewaan dan kesakitan?
Sekarang, saat itu semua ada di hadapan matanya, berjarak dekat dengan pelukannya, Rambe tahu selelah apa Ayana dalam menghadapi kehidupannya. Dan sebesar apa Ayana merangkul kecewa atas masa lalunya yang pernah terjadi.
Perempuan ini, yang sangat Rambe cintai, tidak pernah membuat kesalahan fatal. Entah untuk masa lalu atau pun kehidupannya yang akan di pijaki. Dia, hanya salah satu di antara banyaknya perempuan yang menelan pil luka atas perbuatan orang terdekatnya.
“Gih berangkat sana mas.”
“Ok—apa tadi, Yang?” Rambe takut-takut salah mendengar.
“Berangkat sekarang.”
“Setelah itu?” Ayana terlihat berpikir dengan jari di dagunya. Dan menggeleng dengan watados (wajah tanpa dosa). “Alah kamu sukanya bikin aku baper muluk tapi nggak mau ngulang yang sudah di bilang.”
“Kok mas ngambek?”
“Nah itu dia. Kenapa kudu aku merepet dulu baru kamu ulangi?”
“Kenapa sama panggilan ‘mas’? Itu wajar, kan?” Ayana lebih kesal dan Rambe semakin gemas. Tidak tahan jika tidak mencium pipi gembulnya.
“Pipi kamu makin empuk aku cium. Dahh Sayang.”
***
Mija tidak tahu jika dirinya mendapat serangan mengerikan di pagi harinya. Bangun dari tidur nyenyaknya, sekretarisnya menelepon ada beberapa klien yang membatalkan pesanannya. Tentu itu melanggar aturan. Terlebih mereka meminta uang muka di kembalikan secara penuh. Hell, bagaimana bisa?
“Sudah kamu hubungi?” Masih dengan baju tidur satinnya, jemari Mija bergerak lincah di atas keyboard laptop dengan satu tangan menempel di telinganya. “Silakan di batalkan.” Ini cara terakhirnya untuk menggertak. Pusing mendera kepala Mija dan kedongkolan hatinya yang membumbung.
Kira-kira siapa yang sedang bermain api dengan dirinya, ya?
Saat ini pun menumpuk email dengan sejumlah tagihan yang tidak Mija ketahui dari mana asalnya. Ini mengesalkan. Demi apa pun ada orang yang sedang memainkan perannya tanpa Mija ketahui siapa.
“Berengsek!”
***
“Tenang. Sudah gue kirim.”
“Yakin?”
“Nggak pernah seperti ini sebelumnya.”
“Asli atau palsu?”
“Main lo kejauhan kalau pakai cara kayak gitu.”
“Lo memang terbaik Maha.”
“Biang kerok di lawan.”
Dendam dan luka jarak dekatannya tidak terlalu jauh. Harus ada luka dulu untuk bisa mencuatkan dendam. Harus kesakitan dulu untuk bisa membalaskan semuanya. Ah, hidup ini tidak jauh berbeda dengan ajang lomba yang siapa cepat dia dapat. Maha sedang memerankan susunan rencananya.
“Ardika?”
Di tempatnya Maha berpikir. Menimang apakah perlu dirinya libatkan atau mengampuni karena sama-sama korban. Tapi mengingat kelakuannya yang b***t terhadap Ayana dulu dan menuduh dirinya, rasanya ingin Maha lemparkan satu bom ke tempatnya.
“Bisa nih—”
Satu elusan di d**a Maha membuat ucapannya tertahan. Sedang Rambe yang di seberang masih menunggu. Kecupan Pulung tepat di tempat paling melemahkan saraf-saraf Maha membuatnya terpaku.
“Nggak baik buat bikin semua orang ngerasain yang nggak seharusnya. Benci boleh, tapi jangan biarkan Omi kehilangan momen kenangannya lagi dengan kejadian buruk.”
Hatinya terbuat dari apa, sih? Maha heran. Dan mengangguk setelah mematikan sambungan nirkabel.
“Padahal aku juga jahat sama kamu,” kata Maha berterus terang. “Aku bikin kalian bubar. Dan kamu masih ngelindungin dia?”
“Buat Omi. Coba mas pikir. Kalau semisal anak mas di perlakukan kayak gitu. Terima?”
“ENGGAK LAH. ENAK SAJA!” Ngegas poll Bund.
Pulung tersenyum. Mengelus rahang Maha dan mengecupnya sebentar.
“Yang sudah, ya lewatkan. Itu pelajaran buat kita. Belajar dari pengalaman untuk kebaikan di masa depan. Yang saat ini, ayo kita jalani. Penting, aku punya kamu dan kamu punya aku. Tahu nggak, ini membahagiakan karena aku bisa nunggu dengan sabar.”
“Beruntung banget punya kamu. Nggak nyesal dulu bikin kalian pisah.”
“Jahara banget kamu mas.”
“Yang penting sama kamu.”
“Ya nggak gitu juga Bambang!
***
Sampai di sini saja perjalanannya berlangsung. Akan hadir keceriaan-keceriaan baru yang sudah Tuhan susunkan. Akan datang masa di mana bahwa menanti kebahagiaan tidak seburuk ketika kita kehilangan. Karena Tuhan tahu batasannya. Tuhan tahu kemampuan tiap-tiap umatnya. Dan Tuhan tahu dengan pilihan jalan yang harus di tempuh.
Setiap pengorbanan, tidak akan pernah berakhir sia-sia. Setiap perjuangan akan menghasilkan kebaikan ketika puncak dari tujuannya tercapai. Manusia berusaha, Tuhan yang tentukan.
Itu benar dan sangat sering kita dengar.
***