Malam ini, usai makan malam yang berlangsung dengan khidmat—tidak untuk Pulung. Perempuan itu blingsatan tidak karuan. Makannya tidak nikmat, seleranya tidak ada. Tatapan matanya nyaris kosong dan hanya memandang Omi diam-diam.
Diam-diam menahan tangis. Diam-diam menahan sesak. Dan diam-diam berserapah dalam hati.
Maha yang melihatnya hanya diam. Tidak banyak yang bisa dirinya lakukan. Pikirnya, jika hati seorang ibu sudah terluka karena anaknya yang di sakiti, tamat sudah dunia. Dan kini, tidak ada yang bisa membantah arti tatapan Pulung yang nyalang menghujam Aksara.
“Papa juga nggak tahu.” Tutur Aksara. “Papa kira semuanya baik-baik saja karena Naomi nggak pernah nunjukin gelagat apa pun dan Dante memang secuek itu.”
“Papa nggak tahu atau pura-pura bungkam. Papa orangtua bukan, sih?”
Mendengar cercaan Pulung, Aksara diam. Hendak melawan bukan waktu yang tepat. Bahkan jika di beri kesempatan untuk menjelaskan secara rinci juga percuma. Emosi tengah menguasai Pulung. Bersama kebencian yang terpancar lewat sorot matanya.
“Di bagian mana?” tanya mama Lira. Wanita paruh baya itu tak menutupi raut khawatir dan sesalnya. Tak menampik juga akan amukan Pulung yang langsung Maha ungsikan kedua anaknya ke dalam kamar. “Bisa kita tuntut?”
“Dante sepupu Pulung. Aku—”
“Aku sudah keluar dari Kartu Keluarga sejak bercerai dari Ardika. Dia bukan lagi keluarga. Ayo kita tuntut dia. Papa punya koneksi buat jeblosin dia ke penjara.”
“Sayang, kamu yakin—”
“Kenapa nggak yakin? Dia bikin anak aku sakit dan punya luka trauma yang berbekas. Bukan salah Omi nggak mau di sana.”
“Kamu emosi—”
“Aku sudah ngambil jalan paling benar buat Omi.”
Sejak tadi ucapan Maha selalu di potong. Alih-alih marah, Maha rengkuh tubuh istrinya untuk ia salurkan ketenangan.
“Kamu nggak bisa ngambil keputusan sepihak. Yang nantinya bikin kamu nyesal. Emosi kamu meledak-ledak kalau aku boleh jujur.”
Tersedu-sedu Pulung tumpahkan air matanya. Meremas bagian depan kaos Maha dan memukulnya sesekali.
“Aku nggak bisa di kayak giniin. Cukup Dante ambil apa yang aku punya tapi jangan sentuh apa yang aku lindungi. Aku pikir dia sebenar-benarnya perempuan sama kayak aku. Tapi sama saja.”
Mendadak Maha merasa bersalah. Jika bukan—dulu—dirinya ikuti semua mau Dante, takkan ada kejadian semacam ini. Mungkin saat ini Naomi takkan bersedih merasakan sakit akibat di pukul. Mungkin hatinya takkan mengangakan luka akibat melihat perpisahan kedua orangtuanya. Atau mungkin malah hati Maha sendiri yang takkan setegar sekarang melihat Pulung bersama Ardika.
Sejatinya Maha juga pengecut. Tidak hanya berambisi namun juga obsesinya terhadap Pulung sudah mendarah daging. Tapi … bukankah semua itu wajar dilakukan oleh seseorang yang ingin melindungi cintanya? Atau malah cara Maha yang sudah sangat salah?
“Ardika rujuk kembali sama Dante.” Jelas Aksara. “Sebelum Naomi benar-benar mau tinggal sama mama dan papa, surat cerai sudah Ardika layangkan. Dan nggak tahu kenapa mendadak batal. Mungkin pada akhirnya dia berpikir secara waras kalau Naomi sudah sangat kesakitan dan enggan menahan kesakitan yang lainnya. Armani baru dua tahun.”
“Itu bukan anak Ardika.” Sahut Maha cepat. “Ardika cuma Dante jadikan alat buat dirinya hidup bahagia tanpa susah-susah kerja.”
“Papa sudah duga. Pasti ada hal terselubung yang nggak di ungkapkan.”
“Mereka mungkin pernah one night stand atau malah berkali-kali. Tapi Sayang, aku juga salah. Aku di sini setelah kamu pisah dari Ardika. Kayak aku pun memberi dukungan untuk kebersamaan mereka. Aku akui aku salah memberi jalan buat mereka. Maaf, mestinya—”
“Aku dan Ardika nggak jodoh. Mungkin memang ini jalannya. Kayak kata kamu; takdir.”
“Kalau gitu—”
“Papa tenang saja.”
Lira bingung melihat drama ini. Heran dengan cara Mija mendidik putranya. Jelas-jelas gagal mewujudkan keluarga bahagia versi Mija. Tapi tetap kekeuh bahwa uang dan kekuasaan yang di milikinya bisa membeli segalanya. Selain penderitaan, tak ada yang Mija hasilkan. Selain memisahkan kehidupan orang dari takdirnya, Mija sudah kalah telak ketika Aksara memilih dirinya dan berada di sini membangun semuanya dari nol.
“Soal Mija?” tanya Aksara sekali lagi. Otaknya sudah buntu menghadapi istri sahnya. Terlebih tak ada hal mencurigakan seperti telepon yang berdering sejak dirinya sampai di Semarang.
“Aku punya rencana. Biar dia jera. Mama ikut aku pulang, ya? Please.”
***
Naomi Aksara punya cerita.
Waktu itu saat usianya masih sangat-sangat membutuhkan dukungan seorang ibu, Pulung Rinjani yang menjadi wanita kesayangannya harus pergi dengan terpaksa. Lagi pula, siapa yang mau bertahan dengan pria semacam papanya yang pulang membawa istri barunya?
Dalam penilaian Naomi, papanya adalah sesosok yang sangat antagonis. Kejam dan tidak punya hati sama sekali. Jadi pantas ketika Naomi enggan menganggapnya papa dan menjauhinya secara perlahan.
Tapi sikap Naomi yang demikian juga salah.
Tanpa sadar, ketergantungannya terhadap Pulung menjadi-jadi. Setiap hari hanya ada tangis dan rengekan meminta Pulung di kembalikan. Sayangnya, ada tokoh baru yang berkali-kali lipat lebih jahat masuk ke dalam rumahnya.
Penuh misteri dan manipulatif. Hanya baik terhadap papanya, begitu sayang terhadap papanya dan memperlakukan Naomi seperti anaknya sendiri jika sedang ada papanya.
Di balik itu semua, ada kesakitan yang harus Naomi tahan. Ada ruam-ruam berbekas yang tak bisa Naomi hilangkan. Berbagai cara melalui obat telah mbok Sinah balurkan. Namun tak ada hasilnya. Luka-luka itu tetap terlukis indah di tubuhnya hingga sekarang.
Mengundang tangis tak berkesudahan yang Naomi senyumi dengan sayang.
“Mama kalau nangis jelek banget. Kata om Maha gitu.”
Tidak Pulung hiraukan. Membiarkan olokan Maha menang malam ini.
“Pasti sakit banget.” Lagi, Naomi balas dengan senyuman kecil yang menyipitkan kedua sudut matanya. “Maafin mama yang nggak bawa Naomi waktu itu. Mestinya Naomi nggak boleh sakit kayak gini.”
“Tapi Omi nggak nakal lagi. Nggak manja lagi dan bisa mandi sendiri. Omi bisa sisiran rambut sendiri, pasang tali sepatu sendiri dan makan sendiri. Omi bisa ngelakuin semuanya sendiri. Mama benar-benar ngajarin hal baik ke Omi.”
Usia Naomi boleh saja hanya tujuh tahun. Tapi Ardika dan Dante patut mendengar betapa dewasa cara pikirnya. Betapa ikhlas caranya menerima sesuatu. Pulung saja tidak yakin jika masa kecilnya bisa setegar Naomi.
“Ayo tinggal sama mama dan adek. Om Maha, papanya Omi juga.”
“Boleh?” Pulung angguki dengan bulir yang terus menetes. “Selamanya?”
“Selamanya. Mama serius. Omi milik mama mulai sekarang. Nggak ada yag bisa nyentuh Omi bahkan papa sekali pun.”
“Mama nggak bohong, kan?”
“Maaf, Sayang.”
Sejauh mana Dante menyakiti Naomi sampai hilang percayanya?
Sejauh mana Ardika berperan sebagai papa sampai mengabaikan Naomi yang dulu begitu di sayang?
***