"Terima kasih! Lo harus bilang gitu. Tanpa bantahan apa lagi singkatan ‘makasih’.” Paksa Maha selalu seperti biasanya. Damage sikapnya yang bossy dan jiwa otoriternya nggak akan dilupain sama orang sekitar. Termasuk yang di seberang.
Pagi-pagi—karena waktu yang berselisih—tentu Rambe mencak-mencak. Jika di Jakarta pukul dua belas malam, maka berbeda dengan tempatnya. Jarum pendek menunjukkan angka satu dan Rambe baru terlelap setengah jam setelah Ayana yang merengek lantaran pinggangnya yang sakit.
Semakin hari, bertambah usia kandungan Ayana, ada saja keluhan yang calon istrinya keluarkan. Tidak itu saja. Sikap manjanya berkali-kali lipat mengerikan. Dan Rambe menikmati perannya sebagai calon papa yang gesit dan tanggap darurat.
“Oke terima kasih.” Ikuti saja. Mendebat Maha sama saja memasukkan diri ke liang lahat. Lelaki itu susah di ajak kompromi apa lagi bernegosiasi. “Tapi njir …” Sadar Rambe melebarkan matanya. “Ngapain lo nelepon gue di dini hari buta gini? Lo kesambet setan atau bini lo kurang ngasih belaian.”
“Nah …” Teriaknya girang sekali. Dapat Rambe dengar hisapan dan embusan yang terbuang lewat mulut Maha. Rokok pastinya. “Barusan di manjain bini. Memangnya lo yang kebalikan!”
“Karma susah anjir. Berat. Lo pikir kayak gini adem ayem enak yahud.” Cerocos Rambe menyerapah.
“Salah sendiri punya lo suka nggak nahan lihat Ayana.”
“Sialan banget cocotnya.”
“Punya gue ini. Dah lah. Gitu doang. Intinya jangan lupa bilang ‘terima kasih’ tanpa di singkat secepatnya. Janji adalah hutang.”
“Kapan gue bilang—”
TERPUTUS. MATI. SIALAN. k*****t. BA—
Rambe elus dadanya perlahan. Begini juga sia-sia karena tidak langsung berhadapan dengan Maha. Akan lebih enak jika ada Maha di depannya dan Rambe memaki sampai puas. Pikiran Rambe bercabang pada obrolannya dengan Maha sebelum ini. Saran dan solusi yang Maha berikan, nyatanya cukup membuat hatinya tenang meski belum sepenuhnya bisa meninggalkan Ayana sendirian.
“Musuh datangnya dari mana saja. Kadang, kita orang terdekat lah yang paling bisa menorehkan lukanya.”
Tidak Rambe sangkal. Saking runyamnya segala isi di otaknya, sikap Rambe berubah. Dan serangan yang akan dirinya tempurkan, menjadi akhir untuk semua ini. Harus selesai. Harus tanpa ada halangan. Ayana harus selamat, harus terlindungi bagaimana pun caranya. Bayinya harus lahir bersama dengan Ayana. Semuanya harus berjalan sesuai rencana tanpa ada halangan.
***
Perasaan terbaik yang pernah Pulung terima ialah mencintai Maha dengan segala rasa penuh ketenangan, jauh dari perasaan takut kehilangan, atau ada ambisi lebih untuk memiliki: perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa ada paksaan, rasa selalu ingin melihatnya bahagia meski senyum yang terkembang tidak berasal dari dirinya.
Dulu, pernah Pulung berpikir satu-satunya alasan tiap orang sulit melupakan ingatan buruk yang begitu menyakitkan adalah hal-hal yang tidak berubah. Sedangkan manusia berubah-ubah.
Makanya Pulung tersadar kalau semua kesakitannya tak bisa terus bertahan selamanya. Dirinya butuh perubahan. Butuh kemajuan untuk menggapai impian di masa depan. Bukan soal dirinya saja. Ada Baraja yang harus di utamakan. Balita dua tahun itu harus mulai tahu dan mengenal baik buruknya kehidupan agar bisa menghargai lebih dalam.
Bahwa berjuang tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Ada kesakitan dan keikutsertaan rasa lainnya; kehilangan, luka dan kesakitan. Itu risiko yang harus di ambil.
“Omi suka banget sama Bara kayaknya.”
“Nggak mau bobok kalau nggak sama Bara.” Pulung cemberut.
Semalam, posisi dirinya yang ada di samping Bara harus tergeser—terpaksa—lantaran Naomi mengambil alih. Putrinya berterus terang ingin tidur dengan Bara dan putranya sama sekali tidak rewel seperti biasanya. Anehnya lagi, tidak terbangun sekadar meminta s**u.
“Kata papa, Omi sudah nggak mau sama Ardika.” Pulung terlonjak kaget. Melepas pelukan Maha yang sejak tadi melingkarkan tangan di perutnya. “Mas juga nggak tahu. Tapi kayaknya ada hubungannya sama Dante.”
“Dante?” beo Pulung. Alisnya berkerut-kerut. “Kenapa sama Dante.”
“Persisnya belum mas lihat. Tapi papa cerita, Dante cuek sama Omi yang terus berontak nyari kamu. Maunya sama kamu saja. Puncaknya setelah anaknya lahir. Ardika juga nggak sayang-sayang amat sama keluarganya yang sekarang. Tapi nggak tahu setelah Naomi pergi. Ada perubahan atau enggak.”
Tatapan Pulung berubah sendu. Maha tahu artinya apa. Hanya membiarkan yang bisa dirinya lakukan karena bagaimana pun, keputusan ada di tangan istrinya.
“Boleh Omi sama kita? Kalau mas keberatan aku nggak masalah.”
Belum apa-apa sudah memberikan komentar yang cukup mencengangkan. Padahal Maha oke saja. Jika Pulung ingin memboyong Naomi.
“Ominya mau?” Gelengan yang diberikan. “Mas nggak masalah. Omi ponakan mas secara nggak langsung. Kita sudah saling kenal.”
“Gimana bisa?”
“Mas tuh suka mantau dia saja. Dia murung kalau di sekolah. Teman-temannya suka ngejek karena nggak pernah ada mama. Dante nggak pernah mau datang ke rapat sekolah. Selalu Ardika itu pun kalau sibuk di wakilkan Mija. Sebegitu obsesinya Dante sama Ardika sampai lupa kalau dia punya tanggungjawab sebagai ibu.”
Siapa yang ingin menyangka bahwa nasib buruk ada di pundak Naomi?
Baru berusia tujuh tahun sudah harus menyaksikan carut-marutnya keluarga. Baru tujuh waktu di mana umur segitu masa senang-senangnya bergaul sana sini dengan semua teman-temannya. Naomi justru menutup diri. Di usia yang terbilang; main menjadi andalannya. Harus Naomi lalui seorang diri.
Dunia sebercanda itu untuk Naomi yang selalu mengembangkan senyum hanya dengan sikap manja dan memberinya perhatian kecil.
“Kalau mas, lebih ngebayangin, gimana seandainya posisi Naomi di alami anak mas sendiri. Nggak sanggup banget semisal Bara kudu alami itu. Cukup mas saja. Cukup kita yang terluka. Anak-anak jangan. Mereka berharga. Mereka tak ternilai harganya.”
Amat sangat bersyukur untuk Pulung ucapkan. Memeluk dan di peluk Maha dalam balutan cinta yang tiada tara habisnya.
“Coba dari dulu aku ketemunya sama kamu.”
Maha terkekeh. Mencium dalam puncak kepala Pulung. “Jalurnya harus gitu, Sayang. Aku ikhlas.”
“Makasih—”
“Terima kasih lah, Yang. Jangan di singkat-singkat.”
“Kamu sukanya protes.”
“Terlahir untuk protes.”
“Nyebelin banget!”
***
“Omi mau makan apa?” Maha bertanya bocah perempuan yang selalu asik menowel-nowel pipi Bara. Dan yang di towel-towel anteng cekakak cekikik wekaweka dengan senang.
“Ayam om ayam.”
“Ayam lagi?” Pulung mengulang. “Dari kemarin ayam muluk nggak bosan kak?” Itu cara Pulung memanggilkan Bara.
“Ayamnya enak mama. Nggak kayak yang di rumah opa.”
Sama-sama tertawa. Naomi dan segala bentuk kejujurannya. Pulung akui, selama menikah dengan Ardika, mama mertuanya tidak pandai memasak. Karena sibuk dengan urusan bisnisnya dan hanya sesekali bergelut dengan dapur.
“Mama mau tanya.”
“Omi mau jawab.” Adalah hasil perilaku Maha yang mencekoki putrinya dengan tingkah konyolnya.
“Kenapa nggak mau sama papa?”
Diam. Gerakan Naomi yang hendak menowel pipi Bara terhenti. Membuat Bara menatap dengan mata bulat penuh keheranan.
“Lebih enak sama opa.”
“Nggak mau cerita sama mama?” Belum putus asa. Pulung harus tahu secara detail sebelum mengeluarkan keputusannya.
“Tante Dante nggak pernah baik.”
“Dalam hal?”
“Apa pun. Cuma perhatian sama papa dan anaknya.”
“Omi nggak salah?”
Selanjutnya yang Naomi lakukan adalah menyingkirkan baju yang menutupi pundaknya. Menampakkan bekas luka yang tidak Pulung ketahui dari mana asalnya.
“Mas!” Pulung memekik. Maha mengangguk. Mengisyaratkan untuk tenang.
“Itu yang aku takutkan.”
“Apa? Mas tahu semuanya? Dan nggak ngambil tindakan?”
“Tante Dante kesal tiap Omi nangis dan manggil mama.” Cerita Naomi. Tangan kecil Bara merambat dengan kedua kakinya yang berdiri. Mengusap bahu kanan Omi yang terbuka. “Geli adek.” Saat Bara cium bahu Naomi dengan liur yang tertinggal.
“Ini masalah keluarga mereka.”
“Papa dan mama tahu?” Maha menggeleng. Tangis Pulung menjadi-jadi. “Kejam nggak, sih kalau anak seumuran Naomi sudah dapetin yang nggak semestinya? Kenapa harus Naomi?”
Ya, kenapa harus Naomi?
Kenapa bukan yang lainnya saja. Kenapa harus anak yang selalu Pulung kasihani dan sayangi kehadirannya. Tidak tahukah mereka bahwa kesakitan seorang anak selalu ada meski tidak bisa diungkapkan?
Apa mereka tidak berpikir dengan baik saat melakukan hal yang demikian?
Apa dunia akan terus kejam seperti ini?
Sampai kapan kira-kira?
***