"Aku bingung.” Keluh Pulung begitu bangun pagi.
“Apa?”
“Kenapa kita pindah? Aku pikir itu cuma sekadar liburan karena kamu cuti setelah nikah.”
“Oh itu.” Maha menggaruk rahangnya yang mulai kasar di tumbuhi bulu-bulu halus. Dan merangkum pipi Pulung untuk ia kecupi. “Pengen ganti suasana, Yang.”
“Benar?” Maha mengangguk. Tapi ada guratan lain di wajahnya. “Bukan karena ada masalah.”
“Enak saja.” Maha ngegas. Yang selalu membuat Pulung heran jika suaminya sudah meninggikan suaranya. Tindakan Maha sulit di tebak. Itu sudah terbukti dengan adanya kejadian seperti hari kemarin.
“Salah kamu, sih.”
“Kok aku?!”
Kan maen vokalnya Gusti. Bisa-bisanya berteriak di pagi hari yang cerah benderang. Semarang dalam kondisi sehat walafiat dan sinar mentari yang menerobos masuk lewat celah gorden sudah memberikan gambarannya.
“Aku kan sudah bilang, kamu misterius. Kamu tertutup nggak mau ngomong apa pun ke aku. Tapi kamu tahu semuanya tentang aku. Nyebelin, kan! Coba bayangin kalau aku di posisi kamu.” Protes Pulung menantang.
“Kamu ribet, Yang. Pengen aku kebiri jadinya.”
“Heh! Mulut kamu nggak ada sopan-sopannya sama istri sendiri.”
“Heh! Kamu istri tapi berani ngelawan suami.”
“Heh! Kamu nggak boleh dendam sama istri.”
Terjadilah adu mulut yang berakhir dengan bungkaman saling cecap sana-sini. Setelah oksigen di sekitar habis, barulah terlepas. Dan Maha terkekeh diikuti Pulung yang masuk ke dalam rengkuhan hangatnya.
“Lega?” Pulung mengangguk. Embusan napas Maha menggelitiki ceruk lehernya yang Maha endusi. “Kita pindah karena kantor pusat memang ada di sana. Itu yang pertama. Kedua, aku pengen kita punya lingkup baru buat tumbuh kembangnya Bara dan calon adik-adiknya nanti. Bukan berarti Karawang toxic atau semacamnya. Ini murni tujuanku sejak awal. Terus, aku punya kafe di sana. Biar kamu nggak bosan, kamu yang kelola di sana. Berhenti jadi penari jaipong ya. Please.”
“Kenapa?” Pasalnya, ini perdana Maha memohon kepada dirinya.
“Kamu seorang istri dan ibu. Peran kamu berjubel kalau harus ngajar di sanggar.”
“Aku nggak masalah.”
“Aku yang bermasalah.” Kening Pulung mengerut. Maha lepas dekapannya dan meregup bahu Pulung. “Aku bukan mau meremehkan. Tapi pandangan masyarakat dan stigma sosial soal tari jaipong suka salah kaprah. Bukan juga karena status janda yang pernah kamu sandang. Selama itu cinta dan kamu menerima aku, memberi dukungan serta kita yang saling bersama, bukan perkara berat buat aku pikirin. Tapi aku nggak suka ketika orang lain mandang kamu rendah dan sebelah mata.
“Pernah dengar folosofi raja dan ratu? Mungkin bisa saja sebuah kerajaan hanya di pimpin oleh seorang raja dengan beberapa selir yang akan melahirkan keturunannya. Tapi kodrat seorang ratu memang sudah di takdirkan untuk raja. Sama halnya dengan kamu yang sudah punya garisnya tersendiri. Basic kamu tari jaipong, kamu menguasai segala gerakan dan musik pengiringnya. Dan kamu adalah ratu buat kehidupan aku.”
“Kamu khawatir?” Maha menggeleng. “Aku belum jadi yang terbaik dalam melayani kamu?” Lagi, Maha menggeleng. “Kenapa mendadak kayak gini?”
“Yang.” Sejenak Maha hela napasnya. Matanya menghujam netra kabut Pulung yang sudah ingin meruntuhkan mendung. “Derajat kamu harus aku angkat demi kebaikan. Bukan untuk aku, tapi kamu. Tahu rasanya hidup nggak punya keluarga? Karena sekarang cuma aku yang kamu punya. Tolong ngeluhnya ke aku. Tolong, berbaginya ke aku. Apa pun yang mau kamu bilang. Apa pun yang kamu rasakan. Dan apa pun yang pengen kamu inginkan. Ini hanya salah satu bentuk caraku buat menunjukkan kasih sayang buat kamu.”
“Kamu lebay!”
Maha tahu Pulung gugup. Perempuan itu sudah sangat mandiri sejak muda. Wajar jika apa yang Maha berikan hendak di tolaknya. Tapi Maha seorang otoriter yang satu kali berucap, titahnya harus di turuti. Maha tidak suka bantahan bahkan jika itu seseorang yang paling berharga baginya.
“Paham maksud aku, kan? Aku nggak mau kamu di nilai buruk lagi. Maaf, ini telat banget.”
***
Dante memasak. Di temani Armani yang anteng di strollernya. Bayi cantik itu mengoceh dengan berbagai mainan yang ada di tangannya. Dan mengepal kuat-kuat ketika gemas pada sesuatu.
“Ami suka?” tanya Dante.
“Ka mam,” jawabnya diiringi tawa.
Rasanya bahagia sekali bisa mendapatkan kebahagiaan selengkap ini. Memiliki Ardika yang tadinya hanya ada dalam bayangan Dante, nyatanya bisa dirinya raih. Meski tidak mudah, namun perlahan menuju perubahan. Dante ucapkan syukur sebanyak-banyaknya terhadap Tuhan.
Percaya bahwa apa pun yang Tuhan berikan sebagai ujian selalu memiliki makna di dalamnya. Dante tidak ingin waktu yang saat ini berjalan lekas berlalu. Ah, bagaimana Dante jelaskan. Ini terlihat sangat egois karena permintaannya melebihi yang telah Tuhan berikan. Mestinya sebagai manusia biasa, Dante cukup berusaha menjaga bukan meminta secara tamak.
“Masak apa?” Peluk Ardika melingkarkan lengan di leher istrinya.
“Ngagetin!” Armani tertawa. Dante berdecak kesal.
“Uh anak papa.” Ardika angkat tubuh mungil Armani dari dudukannya. Menciumi pipi gembulnya dengan sayang dan menerbangkannya perlahan ke udara.
“Jatuh nanti!” Pekik Dante. Ini di dapur dan suaminya bertindak ngadi-ngadi. “Kok tumben sudah pulang.” Setelah mematikan kompor, Dante beralih menuang hasil olahannya.
“Jam empat pas.”
“Oh ya?” tanyanya kaget sembari melirik jam di ruang makan. “Duh, aku belum siap masak malahan saking fokusnya.”
“Masih kurang apa?”
“Jusnya belum.”
“Ganti deh, Yang. Aku pengen es teh. Segar kayaknya.”
Segera Dante buatkan. Hanya tinggal menuang racikan teh ke dalam gelas dan es batunya.
“Makan sekarang apa mandi dulu? Biar aku siapin airnya.”
“Mandi bareng yuk.”
“Yee kode banget bang. Sore-sore juga.” Ardika terkekeh. Dante ambil alih Armani yang mulai nyaman bersandar di d**a sang papa. “Papa mandi dulu, dek. Ayo.”
“Pa.” Rengeknya enggan berjauhan. Dan Ardika memberikan ciuman sebelum bergegas memasuki kamarnya.
Kehidupan rumah tangga Ardika dan Dante berubah setelah banyak ujian yang menerpa. Keduanya jadi mengerti caranya memahami satu sama lain dan menguatkan di kala salah satunya terjatuh. Tidak memaki meski amarah bergerumul dan mengumpat saat pendapatnya tidak di terima. Keduanya saling memberi nasihat dan terbuka.
“Kantor lancar?” Dante selalu menanyakan itu. Setiap harinya dan Ardika menjawab dengan senang. Sembari melungsurkan kaos serta celana santai untuk suaminya kenakan. “Rapatnya?”
“Aman semuanya. Paling salah input data. Papa tumben liburannya lama. Sama Omi.”
“Omi sudah libur sekolah?” Ardika angguki. “Nggak kita susul saja?”
Bukan Ardika tidak mau. Tapi lebih kepada memberi waktu untuk putri sulungnya menimang dan mengambil langkah untuk ke depannya. Tidak masalah jika akhirnya Naomi memutuskan tinggal tidak bersamanya. Ardika akan terus memberikan perhatian yang sama. Untuk Naomi dan Armani. Agar tidak memberatkan ke depannya.
“Nanti begitu pulang kita ketemu langsung. Sekarang, biarin Omi punya kesempatan mengisi liburan dengan banyak pengalaman.”
Kebijaksanaan yang Ardika ambil, Dante dukung. Meski dalam hatinya teriris lantaran tidak adanya putri sulung di sini, Dante cukup menjadi seseorang yang paling bersalah. Namun merenung tanpa mau bertindak maju, juga bukan solusi yang tepat. Jadi, ya sudah. Kita ikuti alurnya saja.
***