Penyiksaannya baru di mulai sekarang. Dan semua itu, Rambe yang menanggungnya. Mulai dari mual muntah di pagi hari yang tidak terhitung lagi sampai lemas dan pucat yang terpasang di wajah tampannya. Ayana hanya bisa menepuki punggung sang kekasih dengan pelan. Membalurkan minyak kayu putih ke d**a bidangnya agar hangat.
“Masih mual?”
Sejujurnya, tidak tega Ayana melihat pemandangan seperti ini tiap paginya. Bahkan kadang mual yang menyerang Rambe sangat tidak berakhlak. Namun ini semua bukan kehendak Ayana bukan juga keinginannya. Ini murni maunya si jabang bayi yang sengaja menyusahkan papanya. Ayana patut berbangga diri mendapat dukungan sedalam ini bahkan dari bayi yang belum dirinya lahirkan.
“Nggak ngantor deh aku, Yang.” Kambuh manjanya. Ayana hendak protes tapi urung.
Bertambahnya usia kandungan di perutnya dan bentuknya yang tidak rata lagi, kadar kecerewetan Ayana meningkat. Tahu bagaimana Rambe menyikapinya?
Lelaki itu terlihat baik-baik saja. Tidak mengeluh. Mendebat adalah makanan sehari-hari Rambe. Jadi saling menyahut menjadi hari-hari keduanya.
“Suka banget kayaknya kalau di suruh bolos kerja.”
“Punya sendiri ini.”
“Iya sementang bos! Nggak ada akhlak maennya.”
Rambe terkekeh. Selalu suka saat Ayana mulai merepet dan misuh-misuh soal dirinya yang tidak ke kantor. Tapi Rambe juga was-was ketika harus meninggalkan Ayana di rumah seorang diri. Ini Lombok dan jauh dari jamahan manusia lainnya. Seketat apa pun penjagaan yang Rambe titahkan, tetap saja. Kemungkinan buruk akan terjadi.
Bukan perihal lainnya yang Rambe takutkan. Namun Ayana yang sudah berjuang sejauh ini, apakah harus kembali terjatuh? Dia wanita kuat. Rambe tahu itu. Tapi sekuat apa pun dia, ada kalanya Ayana merasa perlu bantuan. Karena Rambe tahu, sumber kekuatan dan kelemahan seseorang tetap berasal dari orang tercintanya.
“Kamu bikin menu baru apa lagi kemarin?”
Oh ya, sejak umur kehamilannya bertambah, Ayana lebih suka berada di dapur. Dan Rambe terjamin secara klinis perutnya.
“Cookies keju.”
“Apa tuh?”
“Ya keju.”
“Cara buatnya gimana.”
“Tumben ceriwis banget.”
“Bosan, Yang.”
“Makanya kerja sana.”
Langsung lemas seketika. Wajah Rambe ogah-ogahan dan tubuhnya kembali ia geletakkan di ranjang. Tidak peduli dengan ocehan Ayana yang mulai panjang. Calonnya itu makin-makin saja durasi ceramahnya. Sudah mirip dengan Mamah Dedeh.
“Padahal tahu aku sakit.” Gerutu Rambe. “Sudah minum s**u belum?”
“Malas.”
“Alah malesan.” Cibirnya. Tak urung Rambe bergegas turun dari ranjang dan menuju dapur. Menuang s**u dengan air panas dan dingin. Lekas kembali masuk ke kamarnya. “Minum, Yang.” Ayana menggeleng. Rambe tak habis akal. Kebiasaan yang sudah selalu terjadi dirinya lakukan. Dan Ayana menerima tanpa penolakan. “Bilang dong kalau aslinya mau di cium.”
“Memang.”
Pasangan ini ngadi-ngadi. Tak ada gengsi untuk saling mengakui dan meminta.
“Kalau gitu, ibadah yuk, Yang?”
“Masih pagi Gusti. Semalam berapa ronde?” Rambe nyengir. Sedang Ayana menatapnya sinis.
“Baru satu.”
“Satu endasmu! Aku kamu gempur sampai subuh kok satu. Satu nambah-nambah-nambah—” Tidak berlanjut dan bibir Rambe yang bekerja. Membungkam milik Ayana meski sang empu terus memberontak. Bodo amat jika selesai ini akan ada gerbong kereta menghampiri telinganya. Risiko b***k cinta nggak kaleng-kaleng, Hyung.
“Yang.” Panggil Rambe sesaat setelah bibir keduanya terlepas. Benda lembap telah berpindah kening Ayana. Lama dan dalam. “Aku punya dosa bagus kayaknya di masa lalu sampai bisa ketemu sama kamu. Aku pernah mikir buat jangan percaya. Kalau aku harusnya nyerah saja. Kerdil banget otak aku semisal nggak bisa bikin kamu bahagia.”
“Tapi?” tanya Ayana dengan senyum mengembang. Rambe menggeleng. “Kamu nggak pernah ngelakuin itu. Kalau sampai terjadi, aku benci sama kamu yang lemah.”
Gelagapan Rambe di buatnya. Ayana mengarahkan anak panahnya tepat di jantungnya.
“Cuma takut saja. Kamu pasti tahu rasanya saat orang yang kamu cintai memandangmu dengan hina.”
“Aku nggak pernah mandang kamu kayak gitu. Benar, otak kamu cetek, segini …” Praktek Ayana dengan jari kelingkingnya. “Kurangin ah. Segini.” Dan berlalu pergi saking kesalnya dengan cara pikir Rambe. “Cowok tuh sukanya mikir ribet tentang cewek. Padahal simpelnya, kamu ngajak aku kencan cuma dengan duwit lima puluh ribu, bagi aku itu sudah yang paling wah. Bisa beli es krim dan leker.”
***
“Aku sudah ikhlas mama. Aku juga pasrah buat semua yang terjadi. Yang sudah ya sudah. Kita anggap itu pengalaman buat pembelajaran ke depannya,” kata Maha. Suami Pulung itu masih enggan beranjak dari pelukan sang ibu yang terus merintih penuh sesal. Padahal pagi tadi—Maha pikir—telah selesai. “Mama percaya, kan kalau semesta punya rencananya sendiri.” Lira mengangguk.
Dalam pelukan putra besarnya yang sangat nyaman, tak dapat Lira pungkiri ada sejuta syukur dan ucapan yang tak bisa di suarakan. Hatinya masih belum meyakini bahwa ini nyata. Namun dekapan serta pelukan yang Maha berikan, mengguncang relung Lira.
“Aku janji bahwa di antara kita nggak akan terjadi kayak gini lagi. Saling mencari satu sama lain apa lagi sampai mengejar. Aku punya prinsip dan teguh buat megang apa yang sudah aku ambil sebagai pilihan. Ma, semakin kita nahan seseorang buat ada di sisi kita, semakin keras dia ingin berlari. Jadi, biarkan saja. Mereka yang mau berlari, aku persilakan. Yang mau menghilang, aku lihatin saja. Gitu, kan cara kerjanya. Tuhan itu adil. Mama percaya? Hati mama juga pasti punya stok capek.”
Putranya sungguh dewasa. Lira seketika merasa malu. Umurnya sudah tua tapi pola pikirnya tak lebih labil dari remaja. Hanya pernah kehilangan dan di paksa pergi, Lira memukul rata semua cobaan yang Tuhan berikan. Tanpa sadar, sudah Lira jauhkan Tuhan dalam hatinya. Tanpa ia pahami, sudah tidak ada Tuhan dalam benaknya sejak kemarahan lebih menyelubung di dadanya.
“Mama jadi kalah sama kamu.” Lira urai pelukan sang putra. Yang tersenyum menawan. Betul-betul duplikat Aksara di masa lampau. “Beruntung punya kamu.”
“Aku juga beruntung punya mama.”
“Nggak malu punya mama—”
“Wanita penghibur?” Potong Maha menerka. Di ikuti kekehan kalem. “Kayak Maha paling benar saja, ma. Maha tahu, di balik apa yang mama lakukan, ada alasan yang mendasari.”
Anggukan kepala Lira berikan. “Ekonomi. Mau dengar?”
“Menarik nggak? Takutnya Maha bobok nih.” Aduh, Maha dengan mode manjanya menjadi satu-kesatuan yang bertabrakan di rungu Pulung yang mengintip dari balik pintu.
Perkataan Pulung mengenai siapa Maha tidak meleset sedikit pun. Putranya itu humoris dan jujur ceplas-ceplos. Suka, akan disampaikan suka. Tidak suka, akan langsung di utarakan. Menjadi nilai tersendiri untuk Lira kagum pada putranya.
“Istri kamu sudah hamil belum?”
“Yeee!” Decak Maha saat mamanya merubah topik. “Nggak like lah aku kalau sudah keluar jalur.”
“Jawab deh. Jangan ngeles.”
“Siapa yang ngeles?” Lira memutar kedua matanya malas. “Mama tuh yang mengalihkan pembicaraan.”
“Nanti mama certain.”
“Sekarang lah.”
“Ya makanya jawab dulu.”
“Memangnya kenapa?”
“Dah lah bobok saja mama.”
Nggak ada titik terangnya ngomong sama Maharaa Askara ini. Buntu.
“Ciye ngambek ciye. Malu dong sama umur. Sudah tua juga. Cucu sudah dua padahal.”
“Benar sudah hamil?”
“Naomi kan cucu mama juga.”
Kiceup. Lira hengkang dari sana. Nggak berfaedah sama sekali. Namun tertahan sebelum benar-benar menjauh dari jangkauan Maha.
“Aku kasih tahu sesuatu.” Lira kembali di tarik untuk duduk. “Ada empat hal yang harus mama ingat. Ini penting jadi dengarkan. Pertama, segera minta maaf. Kedua, benar-benar peduli. Ketiga, tidak gagal membuat mama senyum. Dan terakhir, bikin mama yang paling beruntung di dunia ini. Itu kuncinya biar mama lebih tenang. Papa gimana?”
Ya, Aksara bagaimana?
Apakah sudah melakukan salah satunya dari yang Maha pesankan?
***