Tuhan selalu tahu rasa sakit yang masing-masing manusia sembunyikan. Dan dengan caranya sendiri, Tuhan sembuhkan tiap luka yang mendera. Tuhan tahu dengan betapa seringnya kita menangis meski bibir terulas senyum. Tuhan tahu betapa sulitnya kita melewati semuanya. Tuhan sangat tahu kesulitan apa yang kita hadapi dalam hidup setiap harinya. Tuhan bahkan tahu bagiamana air mata datang ke mata lelah kita.
Tapi selelah apa pun, selemah apa pun kita, Tuhan tahu dan tak akan pernah membiarkan kita sendirian. Tuhan selalu merangkul kita dengan bersandar pada-Nya. Tuhan yang akan menolong kita. Memang semuanya tampak sulit, tapi dengan mencoba percaya, ini akan selesai.
Tak henti-hentinya Pulung usapi punggung tangan Maha yang nampak gugup. Turun dari pesawat yang membawa ketiganya di kota ini—jauh dari hiruk-pikuk ibu kota yang ternyata sama saja macetnya. Maha menegang di tempatnya, sesekali kaku meski senyumnya terus terukir agar Pulung tidak merasa terbebani.
“Mas sudah lakuin hal yang benar lewat keputusan ini. Susah, ya?” tanya Pulung dengan tenang. Bahkan Bara memberi dukungan seolah tahu apa yang papanya rasakan. Balita itu terus mengoceh di samping Maha tanpa mau duduk di atas pangkuan seperti biasanya. “Bara ngehibur kamu.”
Tak elak tawa Maha berderai. Putranya sungguh menggemaskan. Membuat Maha sedikit lupa akan perasaannya yang campur aduk dan beralih mengecupi kepala si anak. Tidak ada protes apa pun yang keluar. Hanya ekspresi geli dan kenikmatan yang Bara tunjukkan.
“Aku hebat, kan?” Pulung mengangguk mantap. Mencium pipi sang suami, menyalurkan kehangatan.
“Kamu berani buat percaya lagi.” Imbuh Pulung memberi penjelasan.
“Kamu nggak akan ninggalin aku, kan?”
“Barusan aku ngomong padahal.” Dengusnya kesal. “Kamu sudah berjalan sampai ke sini itu sudah sangat baik. Aku kurang meyakinkan atau memang kamu ragu soal cinta aku?”
Nah, Maha lupa pula perihal prinsip wanita. Mereka mengomelkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Tapi Pulung tidak bisa diabaikan begitu saja atau perempuannya akan mengeluh dengan kata-kata: ‘nggak bisa diginin aku tuh’.
Daebak! Damage b***k cinta memang tiada duanya.
“Aku mencoba, Sayang. Maaf kalau itu bikin kamu kesinggung. Tapi suer, tentang kamu nggak ada yang aku ragukan.”
“Halah bohong!”
“Sumpah lah, Yang. Ini murni perasaan aku sendiri yang nggak mau di ajak kompromi. Padahal aku sudah berusaha memaafkan dan kata kamu itu baik. Artinya aku sudah melakukan kebaikan. Mestinya juga aku wajib dengerin kamu dan nggak boleh rungsing soal isi kepala aku. Aku juga ngalah karena kata kamu ini cara satu-satunya dalam menguatkan. Benar. Kamu selalu benar, Sayang. Kamu selalu tepat sasaran mengenai sisi terdalamku. Dengan begini, harusnya aku harus lebih berani. Entah di tempat yang sama atau pada orang yang sama.”
“Sudah?” Maha mengangguk. “Gitu dong. Jadi nggak lama. Kamu harus percaya sekali lagi buat nggak sakit atau tertipu lagi. Paham?”
Dan begitu sampai di hotel yang menjadi tempat pertemuan dilaksanakan. Pulung yang tidak paham pada keadaan. Ada sosok anak perempuan yang selama dua tahun ini tidak dirinya temui dan yang menjadi kerinduan Pulung. Wajahnya semakin cantik dari terakhir kali Pulung lihat.
Kedua matanya berkaca-kaca. Saat pelukan terjadi, tak terbantahkan lagi air mata meluruh membasahi pipi. Bisikan kerinduan keduanya ucapkan.
“Omi kangen banget sama mama.”
“Mama juga kangen sama Omi. Ya Allah, Nak.” Isaknya. Pulung benar-benar tidak mengerti ada apa ini. Tidak tahu apa yang terjadi dengan keluarganya. Terlebih papa Aksara yang tersenyum penuh arti dan memeluk Maha dengan sayang.
Ini tidak mungkin. Inginnya Pulung sangkal demikian. Tapi kala tubuh Maha jatuh bersimpuh dengan lutut mengatuk lantai, baru Pulung pahami. Ada cerita lain yang tidak Pulung ketahui.
Oh, pantas saja waktu itu, Maha begitu hafal seluk beluk Ardika kala berkunjung. Ternyata mereka …
“Om baik?” Pekik Omi kegirangan. Usai berpelukan lama dengan Pulung dan air mata telah berhenti meleleh. “Omi nggak tahu kalau om baik mau ke sini. Cia sama Cio di rumah oma.”
Maha terkekeh mendengar penjelasan Naomi. Semua yang ada di sana terlihat terkejut. Tidak Aksara, tidak Pulung. Keduanya terheran-heran pada bagaimana cara Maha mengenal Naomi.
“Aku sering ketemu dia.” Maha buka suara dan matanya memandang Pulung lekat. “Tadinya mau aku bawa ketemu kamu. Tapi nunggu momen yang tepat.”
“Kenapa?” Aksara menyahut. “Kamu menyembunyikan semua ini dari papa.”
Papa?
Kata it uterus bersemayam dalam pikiran Pulung. Setelah Naomi yang memanggil Maha dengan sebutan ‘om baik’, kini ada panggilan lain yang tersemat untuk mantan mertuanya. Atau memang masih mertuanya jika Maha adalah putranya?
“Kita impas papa,” jawab Maha. “Tapi setidaknya untuk mama, makasih karena sudah hadir di sini.”
Wanita yang berumur kurang lebih seperti Mija tersenyum dengan kedua tangan menyatu di depan bibirnya. Ekspresi wajahnya campur aduk. Sedih, senang dan bahagia. Dan Pulung yang melihatnya tak bisa memberi penilaian.
“Ini anak siapa? Kalian baru nikah kemarin. Jangan bilang …”
“Iya papa. Baraja.” Dan balita itu sudah anteng bersama Naomi yang juga sama-sama girang.
“Dia patut menyesal.” Ardika maksud papa Aksara. “Sudah mengambil langkah dan keputusan yang salah.”
“Jangan ada informasi untuknya. Dante saudara Pulung. Mau gimana pun, dia menantu papa. Terlepas dari seberapa b****k sikapnya.”
Makin kagum saja Pulung dengan sikap suaminya. Jika selama perjalanan menuju ke sini pikirannya selalu goyah mengenai keraguannya, kini terlihat dengan binar ketenangan bahwa Maha sudah menerima semua ini.
***
Cerita-cerita masa lalu mulai di tuangkan. Maha dan Pulung menjadi pihak pendengar yang baik tanpa menyela sedikit pun. Lira membuka semuanya dari awal hingga detik ini tanpa ada yang di tutupi.
“Papa minta maaf sudah sebodoh ini.”
“Dengan papa yang bersikap seperti itu, aku mandiri dan sukses. Jadi nggak ada yang salah soal cara papa ngedidik aku. Justru, kalau papa membuai aku dengan segala fasilitas yang ada tanpa tekanan buat maju. Aku nggak yakin bisa berdiri kayak gini.” Kepalanya menoleh dan tangannya menyusup masuk ke dalam sela-sela jari Pulung. “Dan istri serta anak yang baik.”
Uwuphobia sedang berlangsung. Lira terkekeh, Aksara mencibir.
“Harusnya mama temui Maha begitu tahu informasinya sudah lengkap. Tapi mama terlalu pengecut buat nyapa kamu. Pasti pengecut banget, kan?”
“Pengecut banget.” Pulung pukul bahu sang suami dengan keras. Matanya melotot dan bibirnya bergerak ‘nggak sopan’. “Mama dan papa sama-sama pengecut. Nggak heran kalau kalian berjodoh.”
“Soal—”
“Ayana.” Potong Maha cepat. “Dia hamil anak Rambe.”
“Kalian saling kenal.” Adalah Lira yang bersuara. Wajahnya terkejut.
“Kita teman ma. Rambe… gimana aku jelasin. Dia intinya relasi bisnis Maha. Dan pacarnya itu selingkuhan Maha—dulu—sebelum cerai sama Ardika.”
“Astaga.”
“Mamanya Naomi?” tanya Pulung. Ia tidak tahu menahu perkara ini. Maha mengangguk. “Aku pernah ketemu sekali. Tapi nggak tahu kalau dia mamanya Omi dan Omi nggak tahu kalau itu mamanya.”
“Memang Ardika sengaja, Yang. Dia nggak mau Omi tahu tentang siapa mamanya.”
“Dan sekarang juga berlaku buat Dante. Naomi nggak mau sama Dante.”
“Kenapa?”
“Dia maunya kamu, Pulung. Tanpa bantahan.”
Sudah. Pulung benar-benar bingung dengan semua ini. Masalah ini amat pelik dan lingkaran satu dengan yang lainnya saling menyambung.
Maha yang merupakan adik Ardika (satu ayah beda ibu) dan Ayana yang pernah berselingkuh dengan Maha. Perempuan itu terlalu bernyali bermain api dengan saudara suaminya sendiri. Menguji adrenalin katanya. Itu aneh, kan kalau nggak ada unsur lainnya yang menyelubung. Dan Rambe yang sebagai relasi bisnis Maha, menolong mama Lira. Memang sudah sejak dulu, tapi kenapa bisa ada kebetulan yang menyambungkan benang merah seperti ini?
“Incarannya Ayana papa.” Apa lagi ini? “Mija mau Ayana hancur lebih dulu sebelum Rambe di buat kalang kabut dengan perusahaan yang bangkrut.” Aksara mengeraskan rahangnya. Tidak heran jika istri sahnya bisa bertindak sedemikian jauh. “Papa patut nyesal sudah buang mama.” Dan tohokan Maha tepat sasaran.
“Kalau papa bisa balik ke masa dulu, bakal papa lakuin.”
“Ini bukan drama korea The King Eternal Monarch papa! Jangan konyol buat mutar waktu kayak di dramanya. Nyegah buat nggak terjadi pembunuhan. Papa freak!”
Mulut Maha sangat tajam. Tapi kejujurannya wajib diacungi jempol. Dan Aksara tidak menunjukkan kemarahannya sedikit pun.
“Bisa-bisanya papa nikah sama nenek lampir kayak Mija.”
***