Maha yang sudah menunggu Pulung dengan penuh kesabaran. Menanti dengan harapan yang melambung ke angkasa. Tidak peduli pada berapa banyak waktu yang telah terbuang. Terkadang, kita tak tahu apa yang diyakini orang namun nampak terasa benar bagi hati kita yang menjalani.
Sejatinya, mulut-mulut yang sering melemparkan cibiran untuk seseorang yang sedang menunggu cinta bersemi tidak tahu arti sebuah harga sampai harus merasakan kehilangan lebih dulu. Mereka tidak tahu sebaik apa orang yang ditunggunya sebelum melihat kekurangan diri mereka sendiri. Maka, Maha meneguhkan hatinya. Karena takut jika sampai kehilangan yang memberi tahunya. Sekarang, napasnya bisa terasa lebih lega. Sudah melihat dan menjaga apa yang dirinya impikan. Hidup belum tentu bisa diputar ulang dengan kejadian yang sama.
“Menu baru lagi?”
Pulung mengangguk. Sejak pindah ke rumah baru, ekspreimen bersama dapur menjadi teman satu-satunya dalam membunuh kebosanan. Maha melarang dirinya bekerja dan fokus mengurus dirinya, Bara serta anak-anaknya kelak.
“Request kamu ini.”
Nila goreng bumbu kuning. Tidak tahu mengapa sejak semalam Maha mengidam-idamkan makanan itu. Membayangkannya saja membuat air liurnya menetes.
“Bara juga minta sesuatu katanya.”
“Apa?”
“Adik.”
Dengusan yang Pulung perlihatkan. Sudah sejak seminggu ini topik adik menjadi kesenangan Bara. Bayi lelakinya it uterus merengek meminta kehadiran seorang adik seolah-olah membeli mainan ke Pekan Raya Jakarta.
“Kamu, kan biangnya.” Kan maen! Tidak ada elakan yang Maha tunjukkan. Wajahnya semringah. Alisnya naik turun yang artinya benar. “Anak sendiri di cuci otaknya.”
“Murni Bara, Sayang. Nah aku sebagai papa yang baik jadi pendukung akrobatnya saja. Kan lucu semisal aku main solo.”
Astagfirullah. Mulut Maha menjadi-jadi sejak menikah. Lucu, sih. Hiburan tersendiri bagi Pulung yang kadang kala kebanyakan berpikir. Dan Maha memberikan pengalihan serta tahu caranya memanjakan dirinya.
“Mas.” Panggil Pulung lirih. Tubuh Maha yang hendak pergi ke luar dapur membeku. Ada keterkejutan di raut wajahnya meski senyum di sudut bibirnya terlihat jelas. “Manggil gitu boleh?”
Selama ini keduanya belum menentukan panggilan yang pas dan tepat. Seringnya Pulung memanggil Maha dengan sebutan papa guna mengarahkan Bara agar mengikuti.
“Aku pikir itu cocok. Kamu hampir 33 tahun dan aku menuju 27 tahun. Jadi oke, kan?”
“Apa pun,” balas Maha. “Selama kamu nyaman dan memang begitu pilihan terbaiknya, aku manut. Lagian perkara panggilan bukan jadi masalah buat aku.”
“Oke. Tunggu di luar geh. Bentar lagi ini selesai.”
“Jangan lupa sambalnya.”
“Baik mas bos.”
***
Kalau kita punya kebahagiaan pastinya ada hal terburuk yang terjadi secara berdampingan. Entah di belahan bumi mana, itu pasti sedang berlangsung.
Sama halnya dengan Maha yang tidak bisa menerka-nerka. Karena bahagia sudah cukup banyak dan adil melingkupi kehidupan barunya. Kini, salah satu orang terpenting dalam hidupnya harus terenggut oleh takdir.
Bukan hendak marah. Setiap yang hidup akan merasakan mati. Maha tahu betul hukum alam itu. Tapi seperti ini sudah terencana. Tugas yang diemban selesai dalam mengawasi takaran hidup untuk Maha, nenek pergi secara tiba-tiba.
“Nenek sudah lega sekarang. Pergi dengan melihat kamu yang menemukan hidup sesungguhnya.”
Maha peluk tubuh Pulung. Perempuan itu juga menangis namun jika mengikuti arus yang ada, semuanya akan kacau. Jadi, cukup Maha saja. Dan Pulung akan menguatkan.
“Aku belum sempat bilang makasih ke nenek soal kamu, Mas,” ujarnya di d**a bidang Maha. “Kayak mimpi bisa ada di sini bareng kamu. Karena nenek ngejaga kamu sedemikian baik dan di pertemukan aku yang nggak lengkap. Jadi, aku juga mau kamu kuat. Aku janji, bakal selalu ada di sisi kamu apa pun keadaannya.”
Senyum Maha terkembang. Di atas puncak kepala Pulung dan mengecupnya berkali-kali. Aroma jeruk dari rambut sang istri menghantarkan sejuta kehangatan yang menelusup dan ketenangan yang melingkupi. Tidak salah lagi. Pilihannya jatuh pada tangan dan hati yang tepat. Hatinya di peluk kasih sayang yang tulus. Dan matanya di bukakan pada masa depan yang begitu cerah.
“Untuk segalanya aku ucapin makasih, Sayang. Kamu yang terbaik.”
***
“Jadi ini sengaja?” Maha dengarkan penjelasan di saluran nirkabel. Tengah malam begini saat Pulung dan Bara meringkuk di alam mimpi. Maha menyelinap keluar. Membaca sederet ketikan di papan pesannya lantas segera mendial nomor yang tertera.
“Oh jadi dia masih terus berulah?” Dan orang di seberang memberikan penjelasan secara detail. Sehingga mengeraskan rahang Maha. Obsidian matanya yang pekat kian menajam. Ekspresi wajahnya benar-benar keruh. “Bahkan tanah kuburan nenek belum mengering—”
“Serius? Jangan bercanda. Itu nggak mungkin.” Sepertinya penuturan selanjutnya sangat mengejutkan bagi Maha.
Cepat-cepat dirinya nyalakan laptop dan mengarahkan cursor menuju ruang chat di emailnya. Itu benar dan nyata. Potret-potret yang di kirimkan bukan rekayasa. Ada tanggal, tempat dan waktu yang tertera. Semuanya asli dan masih baru.
“Di mana?” tanyanya serius. “Oke. Pantau dan laporkan.”
***
“Ada masalah?” Pulung usap pundak sang suami. Yang kentara terlihat air mukanya kusut. Dengan mata memerah menahan kantuk. “Mau cerita sambil aku bikini kopi?”
Tidak ada sahutan yang Maha lakukan. Tapi pergerakan tangannya yang menarik Pulung dan membawanya duduk di atas pangkuannya cukup membuat perempuan 27 tahun itu mengerti. Suaminya kalut dan dalma masalah yang tentu butuh waktu untuk menjelaskan.
Tepukan Pulung di punggung lebar Maha sangat membantu. Napasnya yang tersengal-sengal kembali normal. Lekas kepalanya terangkat dari ceruk leher Pulung dan tersenyum menawan.
Ya Allah, Pulung bisa-bisa diabetes kalau mendapat perlakuan seperti ini tiap harinya.
“Kamu memang yang terbaik.” Puji Maha menyematkan kecupan-kecupan di seluruh wajah Pulung. “Kamu cuma di sini, pikiran aku sudah tenang. Tapi Sayang, ada yang belum aku kasih tahu ke kamu.”
“Soal?”
“Mamaku.”
“Kenapa?”
“Ini rumit.”
“Bukankah begitu cara kerja pasangan?”
Ada jeda yang Maha ambil. Kepalanya kembali menelungkup dan belahan d**a Pulung menjadi sasaran.
“Mama ketemu.”
“Eh?”
Siapa yang tidak terkejut soal ini.
“Harus nggak kita temui mama?”
Tatapan Pulung masih lurus ke depan. Ini aneh dan janggal. Kenapa bisa ada kejadian seperti ini yang tidak Pulung ketahui sama sekali. Ke mana saja dirinya selama ini?
“Aku belum siap. Antara benci dan nggak terima, aku lebih pengen menghujat keadaan.” Maha hanya perlu di dengarkan dan di beri dukungan. Maka usapan Pulung terus berlanjut dengan mulut bungkam. “Aku nggak tahu siapa yang salah dan siapa yang patut aku salahkan. Keadaan atau Tuhan yang bikin semuanya kayak gini. Sekarang, di saat aku ngerasa ini sudah lebih dari cukup, dia datang. Mestinya nggak perlu, kan?”
“Kamu kangen, ya?” Respon Pulung sangat jauh melenceng dari apa yang Maha sampaikan. “Aku barusan keingat sesuatu. Waktu itu ada nih cowok yang bilang mau jadi papa favoritnya Bara. Sekarang aku lumayan pengen mengumpat, sih. Soalnya nggak sesuai ekspektasi. Kan jatuh itu sakit.”
“Itu aku yang ngomong kayaknya, Yang.”
“Nah … Bara bakal kecewa total lah kalau dengar.”
“Beneran?”
“Papanya ingkar janji soalnya.” Sindir Pulung. Detik berikutnya, bergegas Pulung rangkum wajah Maha. Ia raup bibir merahnya dengan perlahan dan penuh sayang. Setelah melepasnya, Pulung berbisik, “semuanya atas kuasa Tuhan. Kamu nggak bisa menyalahkan. Kecewa boleh, itu wajar. Tapi kamu harus tahu, kamu juga sudah lihat aku yang berjuang demi Baraja untuk sampai di dunia ini. Aku seorang ibu yang kamu pilih sebagai wanita masa depanmu. Apa tega bikin aku rasain sakit atas kebencianmu?” Maha menggeleng. “Mas, mama kamu punya alasan kenapa harus bertindak demikian. Kita datang dan dengarkan semuanya. Setelahnya, aku nggak bisa masuk terlalu dalam. Aku sudah bilang, kan buat selalu ada di samping kamu.”
Lega rasanya. Segala keluhan yang membebani hati Maha terasa ringan di pundaknya saat di bagi. Jadi ini, ya fungsi sebuah keluarga harus di bentuk? Untuk menguatkan dan saling mendengarkan satu sama lain. Untuk berbagi dalam susah dan senang, dalam suka dan duka.
Dan meski terkadang wanita itu memang sangat menyebalkan, menjengkelkan, dan kadang suka bicara asal, suka bertingkah aneh—seperti almarhum neneknya dulu yang sering membuat dongkol hati Maha—sesungguhnya mereka hanya khawatir, tidak lebih.
“Aku nggak cukup baik buat jadi istri kamu,” ucap Pulung. “Kita dekat dan menjadi teman tapi baru tahu sekarang masalah kamu.”
“Kamu yang terbaik. Kamu tahu caranya bikin aku senang dan merasa di butuhkan sepanjang waktu.”
Kecemburuan wanita dan caranya menuntut adalah sebuah cara betapa besar ketakutan yang mereka alami.
***