Pagi-pagi sekali Rambe menerima telepon tidak mengenakkan. Yang menjadi fokus utamanya setelah satu nama disebut adalah ketiadaannya Ayana di sisinya. Tunggang langgang Rambe kenakan celananya yang bercecer tanpa peduli kaosnya. Kedua kakinya berlari menuruni tangga dan mengembuskan napas lega kala melihat sang calon istri ada di pinggir kolam.
Duduk anteng dengan sinar mentari yang menyinari. Di temani alunan musik jazz kesukaannya. Ingin mendengus pada awalnya. Tapi tahu kalau itu buang-buang waktu, segera Rambe hampiri Ayana dan memeluk lehernya.
“Bikin aku kuatir saja.” Rambe gigit bahu terbuka Ayana yang si empunya terkekeh. “Bisa, kan bangunin aku dulu.” Bibir Rambe bergerak liar mencari posisi kesukaannya. Menciumi leher jenjeng Ayana dan menerpakan napasnya di sana.
“Geli papa.” Teriak Ayana dengan desahan yang tertahan.
Sejak hari di mana Ayana beri jawaban atas persetujuan lamaran Rambe yang belum pernah terjawab. Panggilan Ayana berubah-ubah.
“Ikut aku ke kantor yuk.”
Jauh dari hiruk-pikuk kota—setelah menerima laporan lewat telepon—membuat tingkat keparnoan Rambe meningkat. Meski keamanan rumah ini terjamin, tidak di pungkiri Rambe membayangkan hal-hal terburuknya.
“Ada rapat enggak?”
“Longgar, Sayang.”
“Oke.”
“Tumben.”
“Aku mati kebosanan kalau mesti di rumah sendiri. Mending ikut kamu nanti godain anak magang lagi.”
“Ingat umur sama status lah.” Balas Rambe sinis. Lidahnya masih bekerja aktif menyesap sana sini di kulit Ayana yang putih. Persis lintah darat. “Aku jadi mau godain cewek-cewek juga.”
“Balas dendam?” Rambe angguki dengan khidmat karena fokus antara sesap dan mendengarkan suka mengganggu. “Bisa memangnya? Kamu itu b***k cinta aku. Parah!”
“Kamu manfaatin aku?”
“Aku sih enggak.”
“Kenapa ngejek aku kayak gitu.”
“Ya gimana, ya, Yang.” Pura-pura Ayana berpikir. Menggaruk pelipisnya yang bebas dari acara sesap Rambe. “Aku sih suka saja. Lihat kamu misuh-misuh, duh rasanya endes, Yang. Sumpah.”
Cuma Ayana yang bisa dan Rambe buta untuk itu. Perempuan ini sudah merasuk jauh ke dalam hatinya. Menyatu dengan sanubarinya dan menabur benih janji sehidup semati di sana. Tidak heran, melepaskan menjadi kesukaran yang sampai kapan pun takkan bisa dilakukan. Karena sampai kapan pun juga, Rambe kucuri Ayana dengan cinta dan kasih sayang. Sampai kapan pun juga, hanya Ayana yang akan Rambe agungkan keberadaannya. Ini obsesi dan bukti nyata cinta yang tak bisa di hentikan oleh apa pun juga.
***
Tadi itu:
“Ada pergerakan dari lawan. Terbilang aman tapi incarannya Ayana.”
“Masih bisa di cegah?”
“Persiapan baru 65%. Akan ada berita buruk yang di sebar.”
“Blokir semua akses media sosial, media cetak dan stasiun tv untuk jangan menerima. Berikan berapa pun nominal yang pantas jika mereka meminta. Sisanya … jangan sampai tercium keberadaan Ayana di sini.”
“Bahaya banget?”
Rambe diam. Bagi si pelapor mungkin masih terkesan aman karena berita yang akan di sebar luaskan adalah kebenaran. Tapi Ayana dan segala pemikirannya akan kembali down. Terlebih di usia kandungannya yang cukup rawan. Dan Rambe tidak bisa gegabah dengan asal mengambil keputusan. Salah langkah sedikit, ke luar dari jalur yang sudah merupakan zona aman, Ayana akan kembali pada masanya dulu.
Pikiran Rambe kacau. Tak bisa jernih dalam mengambil langkah yang akan di ambil apa lagi dadakan dan serampangan seperti saat ini. Jika dari lawan saja sudah bertindak, bukan tidak mungkin akan ada pertumpahan darah setelahnya.
“Hubungi Maha.” Itu jalan tengahnya saat ini. Lelaki itu juga butuh melindungi keluarganya. Bukan Rambe tidak tahu. Bahkan Bara dan Pulung jauh lebih tidak aman dari Ayana.
“Secara tiba-tiba mereka juga menghilang.”
Tidak mungkin jika ini kebetulan semata. Pasti Maha sudah tahu tak-tik apa yang harus di ambilnya sehingga memboyong serta keluarga barunya ke luar dari Jakarta di jadikan tindakan paling tepat.
“Sudah lacak ke Bandara?”
“Nihil.”
Itu berarti ada di dalam kota atau hanya luar kota yang belum pernah terendus media.
“Oke.”
Sekarang Rambe sedikit bisa bernapas dengan lega. Kepalanya yang di guyur air dingin tidak meninggalkan sensasi menenangkan. Namun untuk beberapa saat keterdiamannya dan rasa hangat melingkupi perutnya, barulah desiran ketenangan itu menyapa.
Kedua lengan Ayana melingkar di sana. Di peluk secara intens oleh Ayana memang menghasilkan sensasi yang tiada tara nikmatnya.
“Kamu banyak ngelamun.” Seperhatian itu Ayana terhadap Rambe. Sikap kerasnya mulai melunak. Kekakuannya kepada Rambe perlahan terkikis. “Katanya nggak ada kerjaan. Tapi kalai kamu kayak gini, aku jadi mau masak banyak-banyak.”
“Ada menu baru?” Anggukan di balik punggung Rambe terasa. “Kalau gitu…” katanya membalik tubuhnya dan mencium bibir Ayana sejenak. “Karena aku free, kita bisa ke kantor lebih siang. Aku temenin kamu bikin pecah dapur.”
“Ya?”
“Baju aku sudah siap belum?”
Agaknya Ayana tidak terima di katai demikian. Mulut Rambe memang sejulid itu jika menyangkut soal dapur dan memasak. Padahal sejauh ini, lelaki itu sangat menikmati apa yang Ayana suguhkan. Dan mode bercanda yang Rambe lemparkan cukup menurunkan mood Ayana.
“Anak papa jangan ngambek.”
Selesai.
***
“Paa … paa.” Heboh Bara.
Maha tersenyum. Putra sulungnya sangat menikmati perjalanan yang Maha lakukan. Sejak tadi terus berdecak dengan teriakan. Meski pelafalan kata tidak jelas—lidah cadelnya tidak bisa Maha protes.
“Es kim maa.” Pinta Bara.
“Boleh memang?” Yang Pulung ajukan tanya dengan menghadap pada sang suami.
“Enggak.”
“Tuh dengerin.”
“Paa peyit.” Bara protes. Dan mengguselkan wajahnya di d**a Pulung. Membuat Bara iri saja.
“Bara mau punya gigi ompong? Di gigit sapi entar.”
“Cekali jaa paa.”
“Sekali jadi berkali-kali loh, Nak.”
Bukan maksud Maha ingin perhitungan dengan putranya. Tapi sehat itu mahal. Dan Maha pernah berada di posisi Bara yang sakit. Tidak ingin mengungkit perkara rasanya menahan kantuk. Lebih dari itu, Maha cemas dan kekhawatiran yang tiada berujung membuatnya belajar dari pengalaman. Tidak masalah jika saat ini Bara ingin merajuk. Sampai di tempat tujuan nanti, akan Maha jelaskan perlahan.
“Jelek ih kalau ngambek.” Pulung mengejek. Menowel-nowel pipi gembul Bara. “Halah katanya mau di panggil abang. Apaan kalau masih suka merajuk gini!?”
Tawa Maha mengudara. Satu tangannya yang bebas melakukan hal yang sama seperti yang Pulung lakukan tadi. Begitu saja wajah semringah Bara kembali nampak.
“Kayak yang mau di ajak gelut siap saja.”
“Kalau nggak bocor tuh bisa.”
“Cor.” Ulang Bara mengikuti.
“Ya lagian kenapa nggak kamu cegah saja, sih?”
“Ya kali kayak nolak lamaran kamu.”
“Kan pernah.”
“Nggak terima?”
Makin di jawabi, Pulung akan semakin membantah. Ada saja jawabannya seperti memang sudah di siapkan. Sedang Maha hanya cemberut. Dengan banyak doa-doa baru yang dirinya panjatkan.
Keinginannya sangat sederhana tapi mewujudkannya perlu perjuangan dengan kompleksitas mahadahsyat dan kesabaran melebihi tingkatan normal.
Tidak mengapa. Selama Tuhan bersamanya. Memberi jalan untuk membuka tiap-tiap tabir kehidupan dan itu ada Pulung di sisinya. Semuanya sudah lebih dari lengkap.
Meski kalimat: bila datang hari di mana dirinya menginginkan sesuatu dan itu belum dapat dirinya wujudkan. Gaungan kekuatan dalam hatinya ‘tolong jangan kecewa’ selalu mensugesti kepercayaannya bahwa Tuhan selalu adil.
Sesimpel itu.
***