Pada akhirnya telah Lira dapatkan keputusan yang sesuai. Sepadan dengan pengorbanannya di masa lalu. Yang sudah melepas kehidupannya hanya untuk bersembunyi seperti pengecut. Sekarang, tahu dengan sangat mudahnya menggapai hati Aksara, sesal tak berujung bercokol di lubuk hatinya.
Tahu begini, tindakan yang selalu ingin kembali ke masa itu patutnya dirinya wujudkan. Karena apa pun yang terjadi, Aksara masih sangat menginginkan dirinya. Dan cinta yang Aksara persembahkan khusus untuknya, benar-benar murni dan tulus.
Kini, pria itu ada dalam genggamannya. Dan ucapan serta janji yang telah Aksara sampaikan meyakinkan hati Lira untuk tidak lagi melepaskan. Bahkan, Mija tak ada apa-apanya di banding dengan dirinya. Benar. Cinta tak bisa di paksakan seperti apa jalannya. Meski sah secara agama dan hukum, Mija tak pernah di kucuri kasih sayang asli dari Aksara.
“Kamu nggak mau pamitan sama anak angkatmu?”
Ah, iya. Lira bertemu seorang lelaki muda yang jika di tafsir akan seumuran dengan putranya—Maha. Belasan tahun lalu saat kedua kakinya baru menginjak tanah Semarang yang asing. Ayah dari putra angkatnya menolongnya. Memberikan tempat tinggal yang mesti itu fasilitas dari Mija. Namun dukungan non material yang Wicaksana berikan, sungguh berkali lipat berharganya melebihi nyawanya sendiri.
Si anak kini tumbuh dengan baik. Dan menggantikan peran ayahnya dalam melindungu Lira. Wajahnya ganteng, sikapnya anteng dengan pembawaan yang tenang. Namanya Rambe Wicaksana. Si pemilik saham kondang di beberapa perusahaan di Semarang.
Turunan Ningrat memang tidak ada tandingannya dalam melebarkan kancah sayapnya dalam dunia bisnis.
“Dia pindah. Dalam jangka yang tidak di tentukan. Aku nggak mau ganggu dia saat ini.”
“Kenapa?”
“Pacarnya hamil. Artinya aku bakal jadi nenek.”
“Belum menikah?”
Embusan napas Lira terdengar berat. Sayu matanya tidak memancarkan binar seperti kebanyakan orangtua yang akan mendapatkan cucu. Pasalnya, pertanyaan yang Aksara ajukan cukup sensitif di rungu Lira. Karena Rambe berkeluh kesal menyoal trauma sang kekasih.
“Kayaknya bakal susah. Dengar-dengar pacarnya pernah nikah dan ninggalin keluarganya demi cowok lain.”
“Terus, kenapa bisa bareng anakmu?” Kedikan bahu Lira tunjukkan sebagai jawaban. Wajahnya terlihat ogah-ogahan dan Aksara maklum akan hal itu. “Mungkin belum waktunya. Kalau jodoh nggak akan ke mana. Tiap orang butuh proses dan usaha buat menyeimbangkan semuanya.”
“Aku berharapnya juga gitu. Tapi semua keputusan balik ke mereka. Yang aku lakuin cuma menghibur dan ngasih masukan di saat-saat keduanya butuh.”
“Sering main ke sini?”
“Kadang-kadang kalau memang permintaan klien soal furniture melonjak.”
“Apa pun itu …” Genggam Aksara pada tangan Lira. “Aku bersyukur kamu bertemu dengan orang-orang yang baik dan tepat. Maaf, karena terlalu terlambat untuk datang. Tapi untuk memulai, kita selalu punya waktu.”
“Makasih.” Lira tersenyum.
Lain halnya dengan pasangan tua yang kasmaran. Naomi menatapi pemandangan di depan sana dengan pilu. Kodrat manusia yang katanya makhluk sosial dan tak bisa hidup secara individu adalah salah. Pada akhirnya, setiap orang berhak memilih untuk tinggal dan pergi bersama yang menurutnya membahagiakan.
Hari ini, Naomi melihat betapa bahagia terus terpancar dari wajah sang kakek. Tidak seperti saat bersama omanya, opanya jauh lebih hidup. Sampai Naomi merasakan yang namanya di acuhkan, kian bencilah dirinya dengan kehadirannya.
Yang tidak pernah diinginkan apa lagi di harapkan.
Kenapa papa harus merawatnya sedemikian baik jika akhirnya untuk di telantarkan?
“Naomi mikir yang aneh lagi?”
Terlalu larut dalam pikirannya, Naomi berjengit kaget kala sosok wanita paruh baya ayu duduk bersimpuh di hadapannya. Senyumnya manis. Sudah pernah Naomi katakan kesan pertama di pertemuannya yang lalu. Sikapnya juga ramah dan selalu mencoba memperhatikan Naomi. Tindak-tanduknya dalam mendekati Naomi sangat tidak tertebak. Sehingga lambat laun, Naomi luluh dengan sendirinya. Dalam hitungan detik, kenyamanan yang Lira haturkan sangat mengecoh hati Naomi. Yang sarat akan kurangnya kehangatan.
“Enggak tante.” Naomi ukir senyum sebelum berlalu.
“Opa bilang d**a Omi suka sakit.” Langkah yang hampir menjauh kembali terhenti. “Mau tante bantu gosok pakai minyak telon?”
Karena Lira tahu bagaimana rasanya hadir namun tidak diinginkan. Karena Lira tahu rasanya sakit sendirian. Dan Lira jauh lebih tahu bagaimana kesepian sering menyerang tanpa mau berujung kepastian.
“Tante suka nepuk-nepuk pelan gini. Barangkali Omi nggak suka pakai minyak baby.” Prakteknya pada d**a Naomi yang telah sepenuhnya ada dalam rengkuhan Lira. “Kalau Omi nggak suka cara ini, cukup silangkan tangan kanan di bahu sebelah kiri, dan tangan kiri ke bahu sebelah kanan. Setelahnya tepuk bersamaan keduanya. Omi pejamkan mata dan dengarkan melodi yang mengalun.”
Dalam bayangan Lira detik ini hanyalah Maha.
Apakah putranya itu tumbuh dengan baik?
Apakah putranya menjadi baik-baik saja saat masa sekolahnya penuh dengan ejekan?
Apakah ada seseorang yang mau berteman dengan putranya—anak yang terlahir dari rahim seorang wanita panggilan seperti dirinya?
Apakah mentalnya sekuat baja saat ujian demi ujian merundung kehidupannya?
Apakah semua berjalan sesuai harapannya karena Tuhan selalu punya rencana di balik rencana?
“Dia baik dan selalu tumbuh dengan mengesankan. Prestasi-prestasi yang dia dapat nggak pernah mengecewakan.” Tutur Aksara menjelaskan. “Dia tidak menjadi seseorang yang buruk meski kataku itu hal yang wajar. Omi?”
Mata Naomi terbuka. Pelupuk matanya di penuhi kabut bening yang siap menerjang pipinya.
“Omi harus maafin papa dan nerima mama.”
“Mas?!” Bentak Lira lirih.
“Ardika harus tahu seperti apa sakitnya Naomi. Dia tidak bisa semena-mena hanya karena Naomi menolak pulang. Dia cucu pertamaku yang harus menanggung dosa-dosaku. Semestinya jangan, kan? Tuhan apa adil kalau sudah begini.”
“Makin salah kalau kamu nyalahin Tuhan terus.” Tegur Lira. Tangannya menepuk-nepuk punggung ringkih Naomi dengan sayang. “Kita nggak bisa memaksakan kehendak terlebih Naomi butuh waktu lebih banyak. Luka trauma nggak sembuh dalam satu dua hari. Butuh bertahun-tahun lamanya untuk bisa membuka lembaran yang baru. Kamu mau Omi semakin tertekan?
“Omi harus tumbuh dengan baik, oke?” Kepala Naomi mengangguk dengan senyum yang terpampang penuh semangat. “Harus sekolah dengan benar. Dan … mulai sekarang harus tebal telinga. Wajib!”
Lira letakkan kedua tangannya menutupi telinga Naomi. “Kayak gini,” ujarnya. “Kalau ada yang ngatain Omi nggak punya mama, jangan dengerin. Tapi Omi harus tahu, ada yang jadi mama terhebat untuk Omi meskipun nggak sekarang.”
“Mama Pulung.”
“Nah iya. Omi bisa ketemu mama Pulung dan bilang ke mama kalau Omi sayang mama.”
“Tapi Omi nggak tahu di mana mama.”
“Yakin nggak tahu?” Kerlingan mata Lira mengerjapkan Naomi yang seolah baru tersadar. “Kamu bantuin dong mas. Masa tega lihat cucu sendiri kayak gini.”
“Kamu merajuk?”
Daebak! Jika sampai iya, Aksara kudu pesta makan udang tepung banyak-banyak. Atau bebek bakar dengan sambal tomat di warung Lamongan samping hotelnya menginap sore nanti.
“Ini demi Omi.”
Aksara tahu segigih apa Lira dalam mencoba. Wanitanya akan terus membujuk dan merayu jika sudah menginginkan sesuatu.
Ingatan Aksara melayang pada beberapa tahun silam saat mengandung Maha.
Lira mengidam aneh di jam dua dini hari; bubur ayam dan rujak.
Coba pikir!? Orang gila mana yang akan berjualan di jam dua dini hari? Uniknya lagi, bubur ayam yang Lira inginkan harus dari Jakarta Selatan Kawasan pasar Blok A. Sedang dirinya ada di Karawang. Butuh waktu berapa jam bolak-balik Karawang-Jakarta dan Jakarta-Karawang? Gila sekali, kan?
Itu jelas memusingkan kepala Aksara yang malam itu pulang telat lantaran rapat bersama para dewan.
“Jangan ngadi-ngadi lah.”
“Aih, gaul sekali kakek tua ini.”
Baik Lira mau pun Naomi sama-sama tertawa.
Bahagia yang sesungguhnya, memang sesederhana ini. Tanpa Aksara sadari, menemukan yang telah hilang, jauh lebih baik.
***