Sebelumnya, sudah pernah Lira dengar kisah yang jauh mengerikan dari ini. Lewat seseorang yang telah Lira anggap sebagai putranya, yang menolong dirinya, memberikan perlindungan dari kehidupan kejam yang menyeret nasibnya pada keburukan.
Aksara boleh saja berbicara panjang lebar. Poin di sini, Lira dendam. Ingin mendapatkan pria-nya lagi apa pun yang terjadi. Menyingkirkan wanita ular yang telah membuat cerita rekayasa belasan tahun lalu. Untuknya merasakan apa yang telah Lira lewati. Untuknya tahu seberapa hancur hidupnya terpisah dari separuh napas dan belahan jiwanya.
Mija sungguh kejam. Tidak jauh berbeda dengan keluarganya yang mengagungkan uang dan kekuasaan. Sehingga nyawa orang lain akan selesai dengan nominal yang berjejer di selembar kertas. Jika bukan dalam kondisi yang mendesak, takkan Lira lakukan hal demikian. Tapi ini menyangkut keselamatan putranya yang masih bayi dan tidak tahu apa-apa.
“Seharusnya Mija bisa berbagi suami.” Penuturan Lira tidak sepenuhnya salah. Tapi Aksara mengernyit keheranan. “Dia sudah cukup puas bersama mas sedangkan aku harus melepaskan orang terkasih, dua sekaligus.”
Ini bukan seperti Lira yang Aksara kenal. Wanita yang Aksara cintai, yang membuatnya rela kesakitan adalah wanita baik dan rendah hati. Tidak pernah memancarkan benci apa lagi dendam seperti yang saat ini terlukis. Aksara heran, dari mana dan sejak kapan perubahan itu terjadi.
“Kita bisa bersama mulai sekarang.” Atas apa yang Aksara ucapkan, Lira tertawa mengejek. “Kamu bisa ke Karawang dan memulai segalanya dari sana. Maha menikah hari ini.”
Ada sesak dan sakit yang menaungi hati Lira. Sudah tidak hadir dirinya di masa-masa pertumbuhan sang putra. Bahkan sekarang sekadar menyaksikan hari besar Maha pun tidak bisa Lira lakukan.
“Aku nyaman di sini.”
“Kita nggak bisa jauh-jauhan lagi. Please.” Aksara raih kedua tangan Lira untuk ia genggam. Genangan air mata hendak meleleh tapi Aksara menahannya. Naomi hanya diam menyaksikan sang opa dengan wanita yang sama sekali tidak dirinya ketahui siapa. “Semuanya akan baik-baik saja sekarang.”
“Kamu nggak bisa ngambil dua-duanya. Jangan egois.”
“Kamu.”
“Mas.” Lira frustasi. Terakhir kali berurusan dengan Aksara, nyawanya meregang dengan dramatis. Mija seorang wanita mengerikan yang menjelma menjadi sosok manusia cantik. “Ini sudah terlambat dan nggak ada yang benar. Buat apa bersama kalau bakal ada pertumpahan darah?”
“Bukan aku yang egois kalau gitu.” Kening Lira berkerut. “Kamu sudah cukup berjuang buat Maha tapi bahkan nggak mau ngelihat seberapa tampannya dia di kehidupan ini. Dia benar-benar butuh kamu dan aku lebih dari itu.”
Diam dan bungkam. Negosisasi bersama Aksara takkan pernah ada jalan terangnya. Pria itu punya sejuta cara untuk menyeret Lira terlibat dalam kehidupannya yang sudah aman dan damai ini.
Sebenarnya ada. Lira sudah dapatkan niat Aksara untuk membawanya kembali. Hanya saja, ini terlalu cepat tanpa bisa Lira pikirkan lebih dalam. Jika Mija berbuat demikian di masa lalu, di pastikan ada rencana yang saat ini sedang di susun. Dan tidak mungkin jika harus ada yang meregang nyawa.
Kira-kira, kali ini siapa sasarannya?
Haruskah Lira hubungi putranya angkatnya?
***
“Yang, ibadah yuk?” Vokal Maha yang penuh tahanan menggoda Pulung. “Nggak pakai kode lagi aku.”
“Yah bocor.” Desah Pulung kecewa. Sanggul di kepalanya sudah terlepas. Tinggal bajunya yang harus di hempas. “Turunin resletingnya.” Pintanya membelakangi Maha yang meneguk lidah mati-matian.
Sudah sering melakukan hubungan ranjang namun tetap saja, pesona Pulung tidak terkalahkan. Perempuan itu mampu menaik turunkan jakunnya. Dan ketika aroma vanilla kesukaan Maha tercium dari tubuh Pulung, bergegas giginya menancap di bahu terbuka Pulung.
“Kenapa sekarang, sih?” Gerutunya tidak terima. Tubuhnya yang bertelanjang d**a berguling ke sana ke mari di kasur yang biasa Pulung tempati bersama Bara. “Nggak asik banget.”
Bicara-bicara, Bara anteng maksimal. Tidak mengganggu Maha dan Pulung barang merengek sekali pun. Hebat sekali memang asuhan nenek itu.
“Masih ada waktu padahal.”
“Kan sekarang momennya.”
“Nah jadi kamu nikahin aku buat malam pertama doang.”
“Nggak gitu, Yang. Lebih ada kesannya gitu maksud aku.”
“Malam-malam yang lain nggak punya kesan?”
“Ah sudah lah. Kamu riweuh.”
Pulung terkikik menatapi Maha yang merajuk. Suaminya—hiya d**a Pulung dag dig dug serr saat menyebut panggilan baru itu—suka sekali membesar-besarkan masalah yang ujung-ujungnya merajuk. Lucu, sih. Tapi bikin kesal juga. Karena ngerayunya nggak segampang kelihatannya.
“Mau aku bantu?” Tidak ada pergerakan. Maha sepenuhnya memejamkan mata dengan anteng. “Aku beneran, nih. Mau nggak?”
Bergerak juga tidak. Ya sudah, Pulung anggap selesai. Sisanya terserah saja. Pulung akan mandi dan pergi membuatkan s**u untuk Bara. Akan Pulung tangani Maha nanti. Secepatnya akan sembuh dari masa ngambeknya yang persis bocah ABG tidak diajak nongkrong.
***
Entah siapa di antara keduanya yang saling mengenal. Rambe yang hobi fokus dengan game di ponselnya atau Ayana yang suka memanjakan kekasihnya.
Pembaca percaya?
Kelakuan keduanya menjadi sangat menyatu. Ayana anteng dengan novel romansanya. Kakinya selonjoran seolah kode untuk Rambe merebahkan kepalanya di sana. Dan pergerakan otomatis yang biasa Ayana lakukan ialah tangannya mengusapi rambut Rambe sampai mata lelaki itu memberat.
“Kamu sudah minum s**u?”
“Malas.” Selalu begitu jawaban Ayana.
“Oke.” Bukan membiarkan atau menuruti kemalasan sang pemilik hati. Rambe akan bangun dari rebahannya dan mengelus perut buncit Ayana. “Anak papa keturunan malas, ya. Untung papamu ini tajir, nak.”
Disindir macam itu bola mata Ayana berputar malas. Mencebik kesal dan melanjutkan aksi bacanya. Sesekali Rambe kalau mau ngajak ngobrol bayinya apa nggak bisa jangan pamer? Sombong bener sementang turunan tajir melintir tujuh turunan, tujuh tanjakan.
Hanya kekehan yang Rambe berikan bersama kecupan di bibir Ayana yang di sematkan. Lekas berdiri dan melangkah menuju lantai bawah di mana dapurnya berada.
Suasana Lombok jelas jauh berbeda dengan Jakarta yang ramai. Hiruk pikuk ibu kota tidak berlaku di sini. Sunyi yang berlangsung menciptakan kedamaian bagi Rambe yang suka menyendiri. Rasanya seperti tenang tanpa gangguan. Dan bebas melakukan apa saja selama dalam batas yang wajar.
Tangan Rambe membuka rak lemari teratas dapur. Meraih gelas dan menuang s**u bubuk sesuai takaran. Air panas dan air dinginnya di aduk agar mau menyata. Lantas membawanya menuju kamarnya kembali.
“Ini.”
“Nggak mau.”
“Sayang, jangan mulai.”
“Kamu dulu yang minum.”
Berhubung Rambe b***k cinta Ayana level akut bergaris keras. Permintaan Ayana langsung di turuti tanpa bantahan. Sisa setengah dari seduhan yang Rambe lakukan, kembali dirinya sodorkan kepada Ayana.
Kan maen. Ayana bertingkah lain dan itu tidak pernah Rambe duga-duga sebelumnya. Kecupan yang Ayana sapukan di atas bibir Rambe cukup mengejutkan.
“Jadi ini gimana?”
“Begini lebih enak.” Pertanyaan Rambe tak di hiraukan. Ayana sibuk dengan bibir miliknya. “Lebih nikmat yang begini soalnya.”
“Kalau gitu … gini.” Rambe minum sisanya secara perlahan dan membungkam mulut Ayana untuk menyalurkan susunya. “Gitu enak juga, kan?”
“Kamu nggak sopan!”
“Kata kamu gitu lebih enak.”
“Aku benci susu.”
“Aku suka susu.” Rambe remas pelan milik Ayana. “Nanti nggak bisa bagi-bagi sama aku kalau Cil sudah lahir.”
“Cil siapa?” tanya Ayana bingung.
“Ini yang di perut kamu.”
“Namanya Cil?” Rambe mengangguk. “Nggak ada yang lain?”
“Kalau sudah lahir baru kita ganti.”
“Siapa?”
“Nanti aku pikirin.”
“Ada nama kamu di sana?”
“Kenapa tanya itu.” Ayana menggeleng. Tangannya mengibas meminta melupakan atas apa yang dirinya tanyakan. Dan meraih buku novelnya kembali. “Cil punya aku. Jadi jelas ada andil namaku di sana. Kamu kapan siapnya?”
Ayana tahu ke mana arahnya. Ada kebekuan yang terjadi meskipun matanya menari di atas kalimat-kalimat yang terangkai. Bukankah ini sudah sangat lama dirinya abaikan sampai Rambe tanyakan kembali?
Ketika Rambe beranjak menjauh. Raupan udara di sekitarnya menipis. Ada tangis yang hendak meluruh tapi Ayana menahannya. Rambe begitu sabar menghadapi dirinya yang terus bertingkah seperti bayi.
“Aku mau,” jawabnya lirih.
Tungkai Rambe terhenti. Membalikkan badannya dan melongo tak percaya.
“I will,” sambung Ayana lagi.
Karena kita hanya bidak kecil dalam permainan catur. Setiap langkah yang akan di ambil hanya Tuhan yang tahu. Tiap rencana yang telah di susun, hanya Tuhan yang menentukan akhirannya. Sedang bahagia yang perlu di kejar, akan serius Tuhan kabulkan jika kita pun benar-benar mau bersabar tanpa lelah berusaha.
Masih percaya pada diri yang baik akan digenggam sebuah cinta yang baik pula?
Kini, Ayana merasakan itu semua lewat Rambe. Yang mau menutupi kecacatan dirinya dengan tabah. Yang mau bersama dengannya di sisinya begitu sabar. Semuanya Ayana dapat dan itu Rambe yang menjadi awalan dan terakhir kalinya.
***