Mari menangis bersama. Bukan tangis tentang cerita sedih kita. Tapi tangis bahagia atas perjuangan kita bersama. Menangisi ‘jejak darah’ yang kita lewati untuk sampai pada puncak perjuangan ini. Menangis bahagia tentang cerita aku dan kamu yang bermetamorfosis menjadi kita.
“Pernah dengar kata-kata ini nggak?” Maha pandangi pantulan Pulung di cermin. Yang cantik dan anggun dalam balutan kebaya. Putih dan bersih yang mengartikan sucinya pernikahan ini. “Istilahnya kamu adalah rumah buat aku. Tempat aku bisa pulang dan ngelihat kamu aku punya rumah yang sesungguhnya.”
“Kalau gitu, aku nggak bakal pernah lepasin kamu buat singgah barang sejenak pun ke tempat lain,” jawab Pulung mantap.
Terdengar lebih agresif yang menguarkan tawa di bibir Maha.
“Kamu mainnya nggak kaleng-kaleng sekarang.” Ejek Maha.
“Nggak mau kehilangan lagi.” Rajuk Pulung.
“Aku nggak bakal pergi.”
“Yang suka kamu banyak.”
“Aku cintanya sama satu perempuan saja.”
“Siapa?” Pura-pura tidak tahu menjadi keahlian Pulung akhir-akhir ini. Perempuan itu lebih suka menggoda Maha dengan sikap dan candaannya.
“Mancing aku? Ngode banget kayaknya.”
“Nggak mau jawab ya sudah.”
“Hilih ngambekan banget sekarang. Kalah sama Bara.”
“Balita itu. Aku loh orangtua.”
“Kamu itu muda, Yang. Yang jodohnya sama om-om.”
“Kamu hot, sih.”
Yasalam. Maha skakmat di goda macam itu. Asli, Pulung nggak pakai tedeng aling-aling sekarang. Lebih ekspresif dan terkesan posesif. Tapi Maha suka. Yang begini ini menggiurkan. Maha merasa jadi manusia paling bahagia karena cintanya di balas sama Pulung.
“Bahagia bareng kamu nggak ada kurang-kurangnya, Yang. Hati aku pas bareng kamu, aku rasain yang namanya cukup ngebuat cinta aku makin hidup.”
“Jangan mulai!”
“Sumpah, Sayang. Doa aku nggak pernah putus buat setiap semoga yang akan segera di semogakan oleh Allah biar di taruh kepercayaan kalau aku dan kamu aman buat saling bahagia.”
Duh, gimana ini? Sudah begini Pulung kiceup total.
“Makasih. Aku jadi cowok paling beruntung karena punya kamu. Ngedapetin kamu buat sampai ke ikatan ini sulitnya ampun-ampunan. Tapi makasih buat semua kasih sayang kamu beri buat aku. Kesempatan yang kamu buka bikin aku sadar kalau berjuang memang harus sepenuh hati. Aku beruntung bisa kamu cintai juga mencintai kamu. Jadi jangan bosan dengar ocehan aku soal kata makasih dan ucapan syukur buat Tuhan ke depannya.”
Senyum Maha menular di bibir Pulung. Perempuan dalam balutan baju sakralnya yang sejak tadi duduk, terpaksa berdiri. Membalikkan badannya dan meraih tangan Maha. Untuk ia tatapi sejenak setelah jari-jarinya bertaut dengan pas di sana.
“Aku suka tangan kamu. Gede dan aku rasain aman serta nyaman pas kita saling bersentuhan kayak gini.” Pulung mendongak, memperpendek jarak lekas menempelkan bibirnya di atas bibir Maha. Perpaduan kenyal dan lembap tidak melenakan keduanya untuk mengikuti suasana. “Kalau bukan kamu, aku nggak akan setegar ini. Jadi biar adil, sama-sama kita ucapin makasih. Terutama aku yang harus banyak bersyukur. Kamu berjuang di tiap tangisku untuk merubah segala pandangan buruk soal rasa sakit. Kamu ngerubah aku buat bersatu bareng kamu dan menyatu dengan kita.”
Omo! Pipi Maha panas. Gombalan Pulung tepat sasaran.
“Sudah ih!” Mode manja Maha keluar. Lelaki itu menangkup kedua pipinya sampai bibirnya bimoli (bibir monyong lima) senti ke depan. Pulung mendengus. Tapi urung saat bibirnya merasai hal beberapa menit lalu dirinya lakukan. “Rasa lipstiknya harus kayak gitu, Yang? Ada pahit-pahitnya.”
Lelaki mana paham damage kekuatan lipstik. Di kira rasanya enak kayak kita makan lollipop warna-warni?
***
Sementara di lain tempat, Mija misuh-misuh. Pekerjaannya mendadak kacau. Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain sesal dan pertanyaan yang bercabang di otaknya. Mestinya tidak dirinya tolak ajakan cucu dan suaminya untuk berlibur. Sekarang, dunianya hendak runtuh kala orang kepercayaannya mengirimkan foto dalam pemandangan yang tak semestinya.
Namun otak warasnya mencoba mensugesti bahwa semuanya tidak akan terjadi. Tidak akan pernah ada kisah lama bersemi kembali. Dan tidak perlu dirinya uring-uringan seperti ini.
Sialnya tetap saja. Sepintar apa pun cara Mija menghalau, bayang-bayang foto itu menghantui. Berputar bak kaset rusak yang membuyarkan fokusnya.
“Kalau sampai wanita itu mendekat… berarti sudah ada omongan yang keduanya ciptakan. Dan Aksara, tua bangka itu kapan mau move on?!”
Capek-capek Mija memutar segala rencana, membuat rekayasa yang nampak seperti aslinya. Percuma saja jika tahu-tahunya mereka bertemu. Gilanya jika sampai merajut kisah kembali. Akan dengan siapa Mija bersandar?
“Sudah kamu cari tahu?”
“Sejauh ini aman.”
“Ke depannya akan ada bencana, gitu maksudnya?” Guratan di wajah Mija sinis bersama jawaban sarkasnya. “Kamu pikir ketika segelontor uang saya keluarkan, kerjaan kamu cuma nebak-nebak doang, gitu?”
Hanya diam. Suara AC dan embusan napas samar yang menemani lingkup pembicaraan keduanya. Kepala yang tertunduk patuh sudah cukup memberi penjelasan bahwa bawahannya begitu loyal terhadap titah Mija.
“Wanita itu hanya lewat. Pertemuan keduanya tidak di sengaja.”
“Walaupun begitu, saya tidak menerima alasan apa pun.”
“Dan dia menjadi lebih terlindungi berkat seseorang.”
Oh, seperti itu. Kaca mata baca Mija di lepas dengan elegan. Jari-jari lentiknya bertaut dengan kedua mata memicing. Ekor mata si bawahan—Danta—melirik dengan pelan. Dan menyunggingkan seringai samar.
“Siapa?”
Galian dalam memori Mija masih sangat buntu. Sejauh ingatannya, wanita itu dirinya buang ke Semarang karena menurutnya itu jalan yang paling aman. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, semua itu tak berlaku. Ternyata jarak Karawang-Semarang tak sejauh apa yang dirinya kira. Wah, kenapa dulu tak Mija kirim saja ke neraka? Itu jauh lebih aman dan semuanya takkan menimbulkan konflik seperti sekarang ini.
Sesal selalu datang belakangan. Coba bisa di depan? Akan Mija pikirkan matang-matang tiap rencananya. Sial!
“Mungkin—”
“Selain mungkin dan urutan kemungkinan. Danta, saya menyukai jawaban pasti dan mantap. Kamu tidak bisa mengambil jalan hanya karena menebak. Singkirkan perasaanmu!”
Ah, ular cantik ini mestinya Danta basmi. Benar-benar cerewet dan merepotkan.
“Dia wanita penghibur. Dan petinggi di Semarang memberi belas kasihan. Semua fasilitas yang kita kirimkan setiap bulannya terlihat percuma karena orang itu menguasai segala bisnis di sana.”
Jadi, wanita itu berpura-pura diam tanpa suara seolah Mija tidak tahu apa-apa? Baik. Mija mengerti sekarang. Kenapa tidak pernah ada protes yang mantan wanita panggilan itu keluhkan tiap uang yang Mija kirimkan selalu telat.
“Lebih kaya dari Aksara.”
“Di bawahnya. Koneksi dan kenalan orang-orangnya luas. Dia berpengaruh.”
“Cari tahu.”
“Rambe. Rambe Wicaksana.”
Rambe, ya?
Rambe.
Rambe.
Kepala Mija meneleng. Nama itu terdengar tidak asing di telinganya.
“Pebisnis muda yang punya daya saing kuat di seluruh jajaran furniture dan properti lainnya. Sekarang dia lagi punya proyek besar di Lombok. Secepatnya, bisa di pastikan serangan dadakan bakal muncul. Lira nggak mungkin setenang itu di pisahkan dari Aksara dan putranya.”
“Kita sudah bertindak?” Danta mengangguk. “Sejauh apa?”
Lingkaran setan ini takkan bisa lepas jika bukan di putus mata rantainya. Maka Danta kumpulkan orang-orang dalam lingkup Rambe. Dan nama yang pernah bersama dalam keluarga Aksara cukup mengejutkan untuk di bawa ke permukaan. Perannya mungkin tidak begitu di perlukan. Tapi kelamnya masa lampau cukup bisa untuk di kulik. Di sebar luaskan lewat media agar merusak tidak hanya satu keluarga.
“Ayana Kalias bisa kita jadikan umpan. Dia kekasih Rambe bahkan sedang mengandung benih lelaki itu. Dan Lira ada dalam genggaman Ayana sejauh ini.”
Yang tidak Mija ketahui: bagaimana mereka bisa saling mengenal?
Wah, Ayana penuh kejutan.
Semakin menarik kisah ini.
***