Bagi Naomi, ini perjalanan terjauhnya. Untuk perdana, Aksara benar-benar melihat binar ceria yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Setelah sekian lama cahaya terangnya meredup, kini kembali muncul ke permukaan.
Menyaksikan kemacetan kota Semarang yang tak jauh berbeda dengan Karawang. Decakan kagum berkali-kali Naomi gumamkan. Membuat Aksara terkekeh gemas. Cucunya sangat lucu. Mestinya, jika dirinya tahu hal ini bisa membuat cucunya senang, sering-sering saja mengajaknya liburan.
“Oma pasti nyesal.” Naomi keluarkan kamera ponselnya. Membidik jajaran pohon yang tumbuh di sekitar laut sepanjang jalan menuju ke Lawang Sewu. “Nyari duwit harus sampai lupa sama diri sendiri, ya, opa?”
Rute yang Aksara ambil menuju Semarang daerah kota terbilang memutar. Jalur pantura menjadi lebih jauh namun memberikan pemandangan yang beragam. Setelah macet keluar dari Kawasan Bandara, kini berganti dengan jajaran pabrik dan cerobong asapnya yang terus beroperasi. Pelabuhan Tanjung Emas juga menampakkan aktivitas padatnya. Tidak peduli apakah musim liburan atau bukan. Pengiriman melalui antar pulai baik barang maupun manusia hingga ke luar negeri terjadi di Pelabuhan ini. Aksara nilai, tidak ada perubahan yang signifikan di Semarang selain tata letaknya yang mulai di perbaharui.
“Yang ini nggak bisa di tunda. Tahu sendiri oma sibuknya kayak apa. Lagi musim nikahan juga.”
Benar. Butik Mija berkembang pesat setiap tahunnya. Pesanan dari berbagai penjuru kalangan bahkan sampai pengiriman ke mancanegara menjadikan tugas istrinya berjubel. Jauh lebih padat dari milik Aksara. Pun itu sebenarnya bisa Mija limpahkan ke orang kepercayaannya. Yang sayangnya di tolak. Katanya: ‘klien lebih sering minta ke aku. Percuma aku pensiun dini kalau yang mereka mau adalah aku’.
Sudahlah. Tidak bisa Aksara membujuk apa lagi melarangnya. Selama Mija baik-baik saja. Aksara memberikan dukungan.
“Oke.” Sudah enggan diganggu lagi. Naomi fokus dengan ponselnya.
Sementara otak Aksara melanglang buana pada kisah masa lalunya. Dari sini semuanya berawal dan dari sini semuanya berakhir. Yang belum pernah Aksara temui kebenarannya hingga detik ini. Hati Aksara mungkin sudah sembuh meski tidak sepenuhnya. Bahagia juga sudah menyambangi kehidupannya yang kian hari berubah menjadi ketentraman. Selain ucapan syukur, tidak ada lagi yang bisa Aksara lakukan.
Cinta yang Aksara miliki akan baik-baik saja. Tapi bimbang terus bersemayan. Entah pada siapa cinta yang baik-baik saja ini tertuju; Mija atau wanita terkasihnya.
Hari itu, Aksara sudah terluka perihal cintanya yang gagal. Dan seikhlas mungkin Aksara menganggap bahwa itu bukanlah jalannya. Tidak ada kutukan yang Aksara keluarkan karena percuma. Menentang takdir Tuhan tidak pernah menjadi akhir yang baik. Yang bisa Aksara lakukan hanya tumbuh menjadi dirinya yang baru.
Dirinya yang siap untuk menjadi kuat. Dirinya yang siap untuk sembuh. Dirinya yang siap untuk jatuh cinta lagi walau sulit tak berkira. Dan hatinya yang baik akan terus meneguhkan kebaikan sepanjang hidupnya.
Dia yang telah Aksara paksa untuk pergi, takkan dirinya sesali. Sudah cukup air matanya menangisi hingga larut. Luka yang tertinggal sudah Aksara rawat dengan sedemikian baik untuk lekas sembuh. Dan dirinya berusaha menjadi Aksara yang hidupnya berhak bahagia.
“Opa.” Panggil Naomi. Sekarang cucunya menatap ke depan dengan pandangan kosong. “Omi pernah rasain tiba-tiba pengen nangis. Tapi nggak pernah bisa keluar.”
Hati Aksara mencelos. Mendengar keluhan cucunya yang sedang tidak baik-baik saja.
“Selain menahan, Omi biasanya makan cokelat dan es krim banyak-banyak.” Jadi itu alasannya. “Tapi nggak pernah bisa tertuang padahal d**a Omi sakit.”
Ini gila. Naomi Aksara baru berusia tujuh tahun dan sudah merasakan yang namanya tekanan batin. Dan Aksara tidak punya akses apa pun untuk mengajak cucunya berbicara lebih mendalam. Terkadang, pergerakan Omi sukar di tebak. Ada kalanya bocah itu akan mendekat. Meminta di manja dan Aksara dengan tangan lapang menerimanya. Kadang menjauh yang Aksara pikir cucunya sedang ingin sendiri. Terkadang juga cuek meski berujung pada kepedulian-kepedulian kecil terhadap sekitar. Aksara bingung terus terang. Harus mengambil langkah yang bagaimana.
“Omi belajar dari mana soal pengalihan?”
“Makan es krim dan cokelat itu namanya pengalihan opa?” Kedua pipinya mengembung lucu.
Yang Aksara cubit pelan pipi gembilnya. “Bisa janji sama opa?”
“Soal?”
“Teman.” Aksara julurkan jari kelingkingnya. Menunggu reaksi Naomi yang terus menggulirkan matanya ke wajah dan tangan Aksara bergantian. “Omi bisa ngomong apa saja ke opa. Karena kita teman. Mulai sekarang, opa bukan cuma kakek buat Omi. Tapi juga teman atau mau Omi anggap lebih. Opa it’s oke.”
“Serius?”
Ada sebuah cuplikan kalimat di drama korea yang akhir-akhir ini booming. Ialah: perasaan yang membuatmu bersedia terlukan dan menderita. Namanya cinta.
Naomi membutuhkan itu. Dan cara ini untuk sementara waktu akan Aksara ambil. Tidak mengapa jika terkesan lambat. Lebih penting prosesnya ketimbang hasilnya yang terburu membawa dampak buruk.
“Hm, kita teman.” Aksara legut ludahnya yang sulit di telan. Kerongkongannya perih. Air mukanya tak bisa di tebak. Sejuta luka di wajahnya takkan bisa Naomi nilai apa lagi mengambil kesimpulannya. Tapi orang dewasa normal lainnya tahu bahwa Aksara sedang kesakitan. Memetik hasil karma yang sedang di jalankan saat ini atas dosa masa lalunya.
“Sampai, pak.” Yan, sopir sewaan yang Aksara pesan selama dirinya dan Naomi berkeliling Semarang. Siap sedia dalam 24/7 melayani apa yang Aksara dan Naomi butuhkan. “Ini peta rute Lawang Sewu. Dek Naomi bisa main ke mall di belakang sini nanti setelah selesai berkeliling.”
“Ada time zone om?” tanya Naomi antusias.
Yan memang seramah itu. Melihat dari wajahnya yang masih kinclong, Ardika tebak jika Yan adalah mahasiswa yang menyambi bekerja. “Ada. Seru juga. Saya parkir di belakang gedung ini pak. Kalau bapak sudah selesai bisa telepon saya.”
Aksara setuju. Membuka pintu dan membantu Naomi untuk turun. Mengecek barang bawaan cucunya yang kalau boleh Aksara simpulkan jauh lebih ribet dari orang dewasa umumnya.
“Kamera polaroid kamu—”
“Sudah opa. Aih, opa kok pikun, sih?”
“Faktor U.”
“Pantas.” Naomi mendengus dan berjalan nyeruntul. Meninggalkan Aksara yang mengejarnya dengan semangat ’45. Untungnya, sekali pun sudah tua, dukungan olahraga dan makanan sehat bergizi dari istrinya menjadi pendukung untuk Aksara mampu menyeimbangi Naomi.
“Jangan lari. Tunggu sini.” Aksara keluarkan uang lembaran tepat di depan loket masuk. Memberikan kepada petugas dan menuntun tangan Naomi agar tetap aman dalam jangkauannya. “Omi tahu sejarahnya belum?”
“Bangunan ini?” Kepala Aksara mengangguk. Matanya berpendar menelisik tiap sudut dan lalu lalang orang. Sudah di pugar dan lebih rapi dari beberapa tahun silam. “Peninggalan Belanda. Lawang Sewu artinya seribu pintu, opa. Ada penulisan Hanacaraka-nya loh. Tapi Omi nggak bisa bacanya. Susah kayaknya. Jadi ini dianggap sebagai gedung bersejarah di Indonesia yang dulunya itu kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij disingkatnya NIS. Belibet banget ngejanya tahu.
“Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Nah Tugu Muda itu sebagai ancer-ancer yang gampang buat di ingat, opa. Dulu disebutnya Wilhelminaplein.”
Jempol Aksara teracung untuk memberi bisikan mantap lewat gerakan bibirnya. Naomi sudah sepintar ini untuk menjelaskan sejarah yang bagi sebagian anak kelas 2 Sekolah Dasar amatlah membosankan. Gadget di tangan mereka hanya bisa digunakan sebagai game dan permainan sosial media yang pemakaiannya melebihi orang-orang dewasa.
“Terus apa lagi?”
“Bentar. Omi ingat-ingat lagi. Soalnya panjang banget. Tapi kalau nggak salah, dinamai Lawang Sewu karena kata masyarakat sekitar punya pintu yang banyak banget. Padahal aslinya nggak sampai seribu. Omi penasaran banget opa. Benar, nggak sih?”
“Bangunan ini punya banyak jendela yang tinggi dan lebar.” Telunjuk Aksara mengarahkan mata Naomi untuk memperhatikan bangunan yang ada di atasnya. “Jadinya dianggap kayak pintu atau lawang. Nah ada dua lantai di sini. Setelah Indonesia merdeka, dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) sekarang disebutnya PT Kereta Api Indonesia. Dan kantor-kantor lainnya. Banyak deh pokoknya. Coba deh Omi cari penulisan model zaman dulu. Itu unik loh.”
Omi turuti. Melarikan jarinya pada kolom pencarian dan bersorak senang kala mendapatkannya. Menunjukkan hasil pencariannya kepada Aksara yang ekspresi wajahnya sekeras batu. Tak ada tanggapan yang Aksara berikan selain tatapan lurus ke depan membuat Naomi mengikuti arahnya.
Pertanyaannya hanyalah; kenapa sekarang? Apakah harus sekarang? Setelah sekian tahun bangkit dari lukanya? Setelah sembuh dari kubangan dosanya? Apakah harus takdir membangkitkan sisi lain di diri Aksara sekarang ini?
Sedang objek yang sama-sama membeku di tempatnya, melarikan kakinya untuk mendekat. Degupan jantung Aksara menggila. Lucu. Bahkan sudah setua ini umurnya, efek wanita itu masih melekat.
“Apa kabar?”
Sangat tenang. Bolehkah Aksara terlena? Di depan cucunya sendiri. Apa itu cukup pantas untuk dilakukan?
“Kenapa baru sekarang.”
“Dia cantik.”
“Anak Ardika.”
“Bagaimana Maha?”
“Akan menikah dalam beberapa hari.”
Keduanya sama-sama bungkam. Berbeda dengan Naomi yang melayangkan tatap penuh telisik pada wanita di hadapannya. Dia cantik dan anggun. Pakaiannya menunjukkan seberapa tinggi derajatnya. Make-upnya tidak menor dan terlihat natural. Dan umurnya… Naomi tidak pandai menebak perihal umur. Tapi dia cantik dan keibuan.
“Nama kamu siapa?”
Mata Naomi mengerjap. Mendapati lesung pipi yang cantik namun juga familiar di ingatannya. Siapa? Di mana? Belum ada jawaban sampai Aksara melakukan hal serupa; bersimpuh dengan lutut di lantai.
“Omi bisa panggil tante kalau nggak keberatan. Tante Lira. Dia teman opa.”
Agaknya Lira kecewa dengan jawaban yang Aksara berikan. Sudah sekian tahun dan sematan teman tidak juga berubah. Hanya tahun dan waktu saja yang berubah. Pendirian seseorang tetap sekokoh karang di tengah lautan.
“Dan aku pikir, kamu pergi untuk selamanya.”
“Mija merawatku dengan baik.”
“Mija?” beo Aksara.”
“Atas perintahmu?”
“Aku?”
Berganti Lira yang kebingungan. Kenapa ada kejadian semacam ini atau memang ada rekayasa yang belum terungkap hingga saat ini?
“Ada yang salah?” tanya Lira memastikan. “Kamu yang mengambil hak asuh Maha atas permintaanmu sendiri—itu kata Mija. Kamu yang membawa masuk Maha ke dalam rumahmu—”
“Bohong!” Bentak Aksara. “Kamu yang menuliskan surat pisah di bawah bantal Maha dan pergi tanpa mau mendengarkan penjelasanku. Kamu membuat Maha tidak tahu siapa ibunya dan kamu—”
“Aku yang salah jika begitu?”
“Ya. Kamu yang salah. Kamu membuat putra kesayangan kita tidak tahu siapa ibunya. Tidak tahu seperti apa keluarga yang sesungguhnya. Aku kecewa Lira. Aku nggak menyangka kamu berbuat demikian demi uang dan kekuasaan. Kamu—”
“Sepertinya benar. Kamu pria bodoh yang nggak akan pernah berubah. Belasan tahun berlalu kamu nggak pernah tahu kebenaran yang sebenarnya. Pantas, Mija bekerja ekstra merawatmu. Menutup akses untuk bisa membawa Maha masuk. Aku sudah cukup diam memberikan nama Askara di belakang Maha. Bisa kamu bayangkan itu?”
***