Selama kau mencintaiku
Aku tertekan
Tujuh milyar orang di dunia berusaha selaras
Terus bersama
Wajahmu tersenyum meskipun hatimu kecut
Tapi kini kau tahu
Kita berdua tahu dunia ini kejam
Tapi kan kuambil kesempatanku
Pulung bersenandung lirih. Lewat earphone dengan kepala yang sesekali terangguk. Nyanyian di atas menunjukkan bahwa si pemilik cinta tidak mendapatkan restu entah karena apa. Yang pasti, keduanya saling mencintai dan mau memperjuangkan satu sama lain. Rasanya sangat manis ketika apa yang menjadi impian kita bisa terwujud bersama orang tersayang.
Cinta dan penderitaan selalu berdampingan. Entah karena apa. Heran saja. Zaman sekarang perkara memberi restu punya syarat sepanjang pembangunan tol baru. Bangun jalan saja jika izin resmi sudah turun, maka lekas segera di laksanakan. Nggak buang-buang waktu sampai berkelit sana-sini. Lah ini? Cuma perkara dua anak manusia yang saling suka, saling sayang, dan saling cinta. Ngasih restu apa masih susah?
Kalau masalahnya cuma madesu (masa depan suram) di usahakan menuju langkah yang cerah itu lebih baik. Daripada memisahkan dan ujung-ujungnya ada nyawa yang di cabut paksa sama Izroil. Kan berabe. Ujungnya pada mewek-mewek dan nyesal sendiri. Huh! Ribet banget manusia ini.
Oke, lanjutkan!
Misuh-misuh nguras tenaga, Bund.
Selama kau mencintaiku
Kita boleh kelaparan
Kita boleh tak punya rumah
Kita boleh tak punya rumah
Selama engkau mencintaiku
Aku akan menjadi platinum
Aku akan menjadi perak
Aku akan menjadi emas
Selama kau mencintaiku
Gila banget, sih damage orang yang sudah terlanjur cinta ini. Mereka bisa melakukan apa saja untuk bisa bersama dengan orang tercintanya. Rela meninggalkan keluarga agar tetap bersama dengan pujaan hatinya. Rela menjadi miskin karena bersama dunia telah memberikan warna yang sepatutnya. Mereka rela menjadi perisai satu sama lain asal bersama dan saling mencintai.
Tapi ada yang membuat Pulung terkekeh. Makna lagunya belum Pulung pahami selain cinta yang di tentang dan terhalang restu. Namun lucunya adalah ketika lirik ‘aku akan menjadi platinum, perak, dan emas’ itu apa ya maksudnya? Jujur Pulung bingung.
Lagu terus berputar. Mengarak pada bait-bait berikutnya. Yang dalam benak Pulung, bahwa membahagiakan sekali dicintai dan mendapatkan cinta yang berbalas. Itu lebih dari apa pun yang ada di dunia ini. Seolah-olah apa yang kita mau sudah tercapai dalam satu kali genggaman.
Aku akan menjadi tentaramu
Berjuang di setiap detik di tiap harinya untuk impianmu, Sayang
Aku akan menjadi Hova
Kau bisa menjadi takdirku, Sayang
Jadi jangan stres, jangan menangis, kita tak perlu sayang untuk terbang
Hanya perlu mengambil tanganku
Selama kau mencintaiku
Karena cinta memang sesederhana itu bagi mereka yang menghargai keberadaan cinta. Bagi mereka sang petualang cinta akan paham makna dari sebuah kehilangan. Yang membuat beberapa orang takut sendirian, setelah di tinggalkan. Membuat beberapa orang takut kesepian, setelah tidak ada lagi komitmen dalam sebuah hubungan. Ia ketakutan, kesepian dan isi kepalanya sering bertengkar. Menyangkal segala kemungkinan-kemungkinan baik yang akan mampir ke dalam hidupnya.
Mereka hanya lupa pada luka lamanya yang belum sembuh total namun terburu dalam membuka lembaran baru. Itu tidak salah. Wajar, karena kesepian seorang diri bukan pilihan tepat untuk dijalani. Sayangnya, keputusan yang di ambil secara terburu, selalu meninggalkan jutaan luka saat hubungan barunya tak sesuai ekspektasi.
Tidak banyak yang tahu, bahwa menikmati kesendirian bukan sebuah hukuman. Bebas mengekspresikan diri, menggunakan waktu untuk bepergian ke mana saja tanpa harus memikirkan berkabar dengan siapa. Yang pernah terluka dan sedang takut menghadapi kesendirian, berbahagia adalah kewajiban yang tak bisa dihindari. Jangan biarkan ketakutan kian menggerogoti dan mematahkan senyum yang harusnya terkembang. Pada masanya, luka-luka itu akan sembuh. Tidak sepenuhnya menghilang, hanya sisa bekas untuk kita ambil pelajaran bahwa menggantungkan harapan pada manusia tidaklah perlu dilakukan.
Sama halnya dengan Pulung. Yang tidak membenarkan atau menyalahkan keluarganya saat namanya tercoret dari daftar. Namun, ada rasa bangga yang Pulung bawa. Begitu kakinya menapak keluar pintu, di situ senyumnya terbit. Tidak apa-apa. Ini sebuah pengorbanan. Ketimbang memilih nama keluarganya yang hancur, baiknya Pulung saja yang mundur. Toh lambat laun, luka itu memudar. Terganti dengan sesuatu yang lebih berharga sekadar cinta; keluarga yang baru.
Bersama Bara dan Maha, Pulung arungi kehidupan barunya. Tidak mudah. Ada banyak rintangan yang harus dirinya lalui dalam mencapai puncak. Sukses tidak melulu soal harta. Sukses tidak selalu bersama orang terkasih. Tapi sukses bagi Pulung, cukup satu dan untuk selamanya.
Maha pernah mengatakan untuk dirinya tanamkan sepenuhnya percaya. Agar apa yang Maha lakukan tidak sia-sia. Ragu? Maha tidak memberi tekanan apa lagi memaksa. Selayaknya ksatria yang tahu kapan waktunya untuk maju ke medan perang, perlahan dan pasti, telah Maha isi kekosongan di hati Pulung dengan tindakan-tindakan nyatanya.
Bukan menunda. Pulung hanya sedang mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapi. Sampai tiba di masa yang pas untuk memanen hasil tanamannya. Ada sejuta kembang yang mekar. Kupu-kupu yang beterbangan. Dan cinta yang tak pernah Pulung rasakan, mendetakkan jantungnya dengan keras.
“Bara manggil kamu.”
Pelukan Maha dan tangannya yang menarik turun earphone di telinga Pulung, membuat perempuan itu berjengit kaget. Lebih dari apa pun, ketimbang menuruti apa yang calon suaminya katakan, Pulung lebih serius mengeratkan tangan Maha yang melingkari perutnya.
Hari-hari menuju pernikahan, tingkah Maha persis ABG kurang asupan gizi. Menempeli Pulung ke mana pun tungkai perempuannya melangkah. Sampai-sampai lupa pada tanggungjawabnya di kantor. Membuat nenek—seseorang yang baru Pulung ketahui sebagai salah satu keluarga Maha berteriak heboh.
Wanita berumur itu sangat galak pada Maha namun lembuh dan penuh perhatian terhadap Pulung. Bahkan menyayangi Bara padahal baru bertemu dengan putranya sekali ini.
“Lagunya enak banget.”
“Apa memangnya.”
“Dengerin saja. Aku mau ke Bara.”
“Duh, masih kangen, Yang.” Pelukan Maha kian mengerat. Terkesan membelit dan enggan melepaskan Pulung sedeti pun. Baru hari ini tak ada yang merecokinya. Karena biasanya, ada saja lalat pengganggu yang menghambat aktivitas skinskip dirinya dan Pulung.
Tuh, gitu tuh perilakunya. Nenek yang melintas geram melihat cucu semprulnya. Dan sandal yang bertengger di kakinya menjadi senjata untuk menyasar Maha.
“Belum sah Gusti. Bukan muhrim. Kamu jadi manusia kok bebalnya ampun-ampunan! Masih mau di kata manusia enggak, sih?”
“Aduh-duh, nenek. Sakit.”
Telinga Maha di jewer. Di pelintir sehingga spontan melepaskan pelukan Pulung. Dan perempuan itu lolos dengan aman.
“Tahu, kan sekarang alasan kenapa nenek ngomong soal nikah?! Ini alasannya. Kamu punya nap—aduh mulutku.” Rutuknya. Maha tertawa kencang di sela kesakitan kupingnya yang di pelintir. “Memang nggak ada akhlak sama sekali kamu mah. Sukanya mancing emosi nenek. Mau nenek mati sekarang?”
“MULUT, NEK, MULUT!”
“Ya makanya.”
Maha ngegas, nenek kian bergegas. Dua orang beda usia itu selalu punya cara tersendiri untuk mengumpat dan memaki dirinya masing-masing. Demi kebaikan dan kelancaran hidup. Nenek yang tahu seperti apa jalan hidup Maha, sebisa mungkin membimbingnya. Dan Maha yang memang tidak punya sandaran untuk berkeluh kesah, sebisa mungkin menuruti meski mengawali dengan perdebatan.
Keduanya, tanpa sadar melengkapi satu sama lain. Tanpa mereka ketahui, saling menggantungkan dari nasihat yang di haturkan.
“Kalau sudah jadi suami …” kata nenek mengelus sisi wajah Maha dengan sayang. “Harus jadi lelaki yang bertanggungjawab. Nggak cuma kuat secara fisik. Ingat, kamu itu kepala keluarga. Pengendali ke mana arah kapal yang kamu kendarai menuju. Pada dermaga yang sudah pasti tujuannya atau ada dermaga lain yang hendak kamu tepikan. Menjemput atau sekadar mampir beristirahat.
“Jangan jadi apa yang selama ini kamu benci. Jangan jadi sesuatu yang buruk untuk putihnya masa depanmu. Cukup di masa lalu saja kebobrokan merusak tatanan hidupmu. Sekarang, ada Pulung dan Bara yang mesti kamu perjuangkan. Ada mereka berdua yang harus kamu bimbing.”
Tidak akan pernah Maha lupakan. Sebandel apa pun dirinya, nenek tetap seorang tua yang harus dirinya hormati. Tanpanya, hidup Maha takkan sampai di puncak. Tanpanya, takkan hadir kebahagiaan yang sesungguhnya. Karenanya memberi dukungan dan percaya pada apa yang Maha lakukan. Maka sepatutnya, Maha menjaganya.
***