Seperti cerita hujan yang menghadirkan sejuta kenangan bagi orang-orang. Mereka yang berteduh di bawah payung mengembangkan senyumnya karena bahagia air turun dari langit. Membasahi bumi yang gersang. Rintik-rintiknya beragam ukuran. Ada yang besar dan ada yang kecil. Suaranya juga berbagai macam. Kadang keras dan kadang kalem. Begitu juga sama dengan yang tidak berada di bawah teduhan payung. Ada lelehan air yang turun dari sudut mata tanpa orang lain lihat. Mereka juga mengingat tentang kenangan-kenangan yang berkelebat.
Sejatinya rintik dan senja saling menyatu. Hanya berbeda waktu kehadirannya. Kedatangan keduanya paling di nanti-nanti oleh beberapa umat pecinta rintik dan penikmat senja. Sembari duduk di balkon, menyeruput teh panasnya. Dengan mata yang menatap luas hamparan ciptaan Tuhan. Tidak ada yang memungkiri betapa damainya hidup ini kala pagi di sambut binaran mentari dan sore di tutup oleh senja jingga yang cantik.
Sama halnya dengan Ayana. Perempuan hamil itu berdiri menatapi rintik hujan. Bersandar pada kusen pintu apartemennya. Kedua tangannya bersidekap d**a, menghalau embusan angin dingin yang menyapa. Dan ketika netranya puas menatapi jatuhnya air ke dasar lantai marmernya, tangannya menengadah.
Kembangan senyumnya sungguh cantik. Nampak eksotis karena kebaikan dalam hidupnya yang telah berubah. Dua tahun pasca penyembuhan hatinya, Ayana sadari ada banyak momen terlewat yang ia lupakan dengan ucapan syukur. Ayana akui itu dengan lantang bahwa dasar hatinya masih ingin bergelut dengan masa lalunya. Andai dan jika bisa Ayana ingin menoleh ke arah sana. Sayangnya, ada tembok penghalang yang menutupi penglihatannya. Tersenyum manis, menggapai jari-jari Ayana dan menyeretnya ke jalan yang paling aman.
Adalah Rambe. Tembok kokoh yang senantiasa menghalau kegilaan Ayana akan otaknya yang tidak waras. Lelaki itu mengorbankan segalanya; waktu dan penantian yang hari ini nampak terlihat dengan jelas. Pantas senyumnya tak pernah luntur. Semenyebalkan apa pun sikap Ayana, Rambe akan terus memperlihatkan gigi putihnya dengan cerah.
Katanya: ‘aku sudah menapaki jalanan terjal untuk sampai sini. Aku anggap ini sebuah risiko di mana hati aku serahkan di tanganmu. Di mana masa depan yang aku impikan, ada dalam genggamanmu. Bahwa dunia akan runtuh jika aku tidak bersamamu.’
How cute? Ayana sampai tak bisa berkata-kata. Sisi romantis Rambe tidak pernah Ayana temui sebelum ini. Lelaki itu terkenal dengan wajah datar dan omongannya yang nyelekit. Tapi bisa sebucin (b***k cinta) seperti ini kepada Ayana. Apa Ayana boleh melakukan salto untuk predikat dirinya yang di puja oleh Rambe?
“Kalau nggak sayang nyawa, timbang jumpalitan byayak’an (pecicilan) terjun bebas langsung deh dari sini.”
Kan maen! Ayana cuma ngebatin dan Rambe langsung sarkas. Ini amit-amit banget anaknya plek-ketiplek kayak Rambe. Bisa pingsan dadakan Ayana.
“Terus kamu punya pacar baru.”
“Iya. Jadi terkabul tuh harapan kamu buat ngejauh dari aku. Aku di sini, kamu di neraka.”
ETA MULUT!
Di mana Ayana temukan lelaki bermulut mercon ini?
“Kalau sudah nggak sayang aturan ngomong. Jangan matiin aku kayak gini.”
“Kalau masih mau hidup, janga keterlaluan overthinking-nya. Aku juga punya perasaan.”
Ada yang tahu emot muka datar di w******p? Kurang lebih begitu wajah Rambe. Matanya juga menatap Ayana sinis. Tidak peduli pada baju tidur Ayana yang sudah basah akibat percikan air dari tangannya. Hujan semakin deras. Dan Rambe masih betah dengan kekesalannya.
“Kamu kalau ngambek lucu.”
“Ya-ya. Apa pun yang kamu suka.”
“Kiyowo.”
Ayana hampiri Rambe. Mengalungkan kedua tangannya di leher Rambe dan mencecap di bibir Rambe yang bertautan dengan miliknya. Hanya sebentar, setelahnya Ayana usapi rahang lelakinya yang mengeras. Menatapnya penuh cinta dan kembali menyatukan sulaman saliva. Lebih intens dan terasa hidup.
“Aku tuh nggak suka.” Protes Rambe. “Berjuang sejauh ini bukan hal sepele buat aku.”
“Kamu nggak ikhlas?”
“Bukan masalah itu… hng.” Rambe lepas pelukan Ayana dan duduk di tepi ranjang. Menepuk sisi sebelahnya untuk Ayana tempati. “Aku punya prinsip buat dapatin kamu sampai sedalam ini. Nggak cuma beban dan pikiran yang berat. Tapi, saat keduanya bersemayan di otak aku, satu yang aku jadiin kunci; don’t think about it too much. Nasihat dari Anya Geraldine aku terapin. Karena katanya, kebanyakan mikir nggak bakal nyelesaiin masalah. Nambah iya.”
“Memang.”
“Gitu?”
“Terus aku mesti gimana lah.” Ayana kesal. Rambe lebih labil dari dirinya yang butuh di manja. “Kamu sukanya salah paham sama aku—”
“Ya gimana enggak!? Siapa pun bakal mikir kayak gitu. Sudah lewat loh, Yang. Aku nggak ngelarang kamu buat ingat apa yang pernah kamu alami, yang terjadi di hidup kamu. Itu milik kamu. Tapi kamu jangan lupa; buat ngambil hak kebahagiaan kamu usai badai menerjang.”
“Bahasamu itu anjir sekali.”
“Terserah.”
Apa Ayana bilang. Rambe bisa lebih-lebih-lebih labilnya dari dirinya. Bawaan bayi yang Ayana kandung—masih bisa dikatakan normal. Tapi Rambe dengan segala pemikiran ruwetnya, memang tiada duanya. Yahud dan sedap di saat bersamaan.
“Kamu ngambek?” Ayana mengejar Rambe yang hendak memasuki kamar mandi. “Hujan-hujan mau mandi?”
Semacam kode, tapi Rambe enggan berpikir dua kali. Tungkainya lekas menapaki lantai kamar mandi dan menutup pintu. Meninggalkan Ayana dengan cemberut di wajah ayunya.
“Nggak asik banget sumpah. Kesal lah sama papa kamu.”
Tapi ya sudahlah. Ayana malas berdebat dengan pikirannya. Rambe suka menilai yang tidak-tidak jika dirinya sedang merenung. Sekarang ini, Ayana hanya punya cara terbaik untuk menemukan yang terbaik untuk hatinya. Berhenti pula untuk kenangannya yang kadang kala membandingkan kehidupan lampau dengan masa lalu. Karena bagaimana pun, Rambe dan pemberian cinta yang tercurah, jauh lebih baik.
Yang Ayana perlukan hanyalah fokus dengan perbaikan diri dan sabar menunggu. Proses jauh lebih mengesankan untuk hasil yang maksimal. Itu tidak akan pernah mengkhianati dirinya, Ayana percaya itu. Dan cara terbaik untuk menunggu sesuatu adalah berhenti menunggu atau jangan terlalu berharap. Ini juga Ayana benarkan.
Pernah dirinya sangat meminta pada Tuhan dan menggantungkan harapan pada manusia—Ardika. Pada akhirnya tidak ada yang terjadi selain luka yang kembali di buka. Ayana yang menyusun strategi dan menjalankan misinya. Bukan hanya satu luka yang menganga. Namun seluruhnya terdampak. Bahkan Naomi pun membayar seluruh perbuatannya.
Kini, Ayana cukup percaya dan menikmati setiap waktu di momen yang sementara ada.
Sudah hadir Rambe di sisinya. Ada calon anaknya yang terus berkembang. Jadi, egois tidak harus Ayana tinggikan. Terpenting di sini, cukup percaya dengan apa yang sedang Tuhan jalankan. Itu kunci bahagia yang akan Ayana raih di saat ini dan masa depan. Tuhan berbaik hati memberikan kehidupan yang lebih baik dan layak untuk Ayana lewati.
***