Aksara tidak tahu dari mana cucunya mendapatkan sumber kesenangan berupa dua kucing kembar berjenis kelamin lelaki dan perempuan. Bentuknya lucu sekali. Bulu-bulunya yang baru tumbuh—karena kedua hewan itu memang baru lahir—terlihat menggemaskan.
Ketika Aksara bertanya, dari mana asalnya, Naomi menjawab: dari om baik. Yang tentu tidak Aksara ketahui siapa orangnya dan bagaimana bentuknya. Ingin mengikuti bahasa gaul anak zaman sekarang, kepo, Aksara takut cucunya akan ngambek. Kadang-kadang Naomi sukar untuk di tebak. Entah dalam mood mau pun keinginan. Selalu berubah-ubah.
“Namanya siapa?”
“Cia sama Cio.”
“Yang Cia mana, yang Cio mana?” Bodo amat lah semisal Naomi akan meledak-ledak. Bibir Aksara sangat gatal ingin bertanya. Makhluk dua itu pun sangat yahud di pandangi.
“Cia yang ini opa, kalungnya pink muda dan pink tua. Dia cewek, opa jangan lupa. Kalau Cio yang kalungnya putih sama hitam. Dia cowok dan mereka saudara.”
Innalilah. Aksara memasang wajah yang tidak enak meski setengahnya di paksa untuk tersenyum. Naomi sungguh sesuatu sekali. Terus Aksara perhatikan tingkah cucunya yang amat nyaman dengan keberadaan dua kucing barunya. Sesekali salah satu di antara keduanya akan menjilati kaki Naomi sampai cucunya tertawa terbahak-bahak. Dan satunya lagi akan bertingkah penuh kemanjaan.
“Yang ngasih nama Omi semua?”
“Cia dari om baik itu. Kalau Cio Omi. Soalnya dia cowok. Opa lihat.” Aksara melototkan matanya begitu tahu tingkah apa yang kucing berkalung putih hitam, itu Cio, pipis. Naomi dengan girang mengangkatnya. Membuat ceceran air seninya ke mana-mana. “Mereka lucu opa.”
Tidak ada yang bisa Aksara lakukan selain bahagia melihat cucunya juga senang. Karena baginya, ini tentang seorang anak yang hidup namun seperti mati. Yang rautnya selalu bahagia tapi hatinya sangat terluka. Bukan karena cinta atau kekurangan hal lainnya berupa materi. Aksara menjamin keberlangsungan hidup Naomi sampai kedua kakinya tak bisa lagi menapaki tanah. Tapi hal lain yang Naomi percaya nyatanya tidak sesempurna apa yang di lihatnya.
Keluarga.
Itu awal dari segala sumber di mana kesepian mulai menyambangi hidup cucunya. Bukan inginnya Aksara mengutuki keluarganya. Alih-alih mengeluhkan apa yang telah terjadi saat ini, masa lalu Aksara yang kelam seolah sedang menyapa Naomi. Cara kerja karma yang tidak instan membuat Aksara was-was selalu.
“Opa.” Aksara menoleh. Membalas senyum Naomi yang sama lebarnya. Baru kali ini tak nampak luka di pancaran netranya. “Kita nggak liburan? Sekolah Omi bentar lagi libur.”
“Oh ya?” Kesempatan bagus yang bisa Aksara gunakan untuk memberikan hiburan kepada cucunya. “Tumben Omi ngijinin opa bolos kerja?”
“Opa tetap kerja.”
“Gimana tuh caranya.”
“Bawa laptop opa lah.” Oh, Naomi sudah tahu cara bekerja di belakang layar nampaknya. “Opa tinggal telepon orang buat jadi mata opa di kantor. Tapi opa tetap sama oma dan Omi. Beres, kan?”
“Kenapa tiba-tiba?”
Karena Aksara tidak siap dengan jawaban apa yang paling di takutinya. Musim liburan seringnya Naomi habiskan di sanggar dengan menari dan ke mall sesekali. Tidak sampai meminta liburan. Bukankah Naomi pernah menyuruhnya bekerja selagi masih sehat?
Tahun sudah berganti. Waktu juga menggerus zaman yang berbeda tiap harinya. Perubahan-perubahan kecil biasa terjadi di lingkungan. Tapi pembullyan tidak pernah hilang. Dari kalangan mana pun, seseorang bisa di tindas dan mengalami pengucilan. Aksara hanya menakutkan apa yang sedang berjalan-jalan di benaknya detik ini. Apa iya cucunya mendapat perlakuan yang demikian?
“Biasanya pas masuk ke kelas yang baru, ada tugas buat nulis kegiatan apa saja yang kita lakuin selama liburan. Omi, kan sudah semua. Mulai dari les tari jaipong, pergi ke puncak bareng oma sama opa, ke Dufan dan tempat-tempat lainnya. Sekarang Omi pengen ke Semarang.”
“Kenapa ke sana?”
“Oh…” Jeda Naomi menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Kebiasaannya jika sedang memikirkan cara dan jawaban apa yang tepat untuk di sampaikan. “Pengen ke Sam Poo Kong sama Lawang Sewu. Omi lihat ini.” Naomi berdiri dan berlari menuju kamarnya. Lekas kembali dalam hitungan detik. Memperlihatkan hasil pencarian di mesin Google dan menunjukkannya pada Aksara. “Kayaknya bagus opa. Omi pengen makan lunpia Semarang. Bikin ileran.”
Aksara nampak mempertimbangkan. Jika Naomi sudah sampai meminta begini, mengabulkan menjadi satu-satunya cara.
“Oke. Kapan mau berangkat.”
“Besok.”
“Biar oma yang bebenah.”
“Jangan.” Kembali Aksara dudukkan bokongnya di tempat semula. Cengiran Naomi menghipnotis mata yang melihatnya. “Oma capek. Sudah tua oma tuh.”
ETA MULUT!
“Opa juga sudah tua.”
“Beda dong!” Gasnya langsung pol. Aksara diam menyaksikan Naomi bersama dua kucingnya. “Opa cowok, pasti kuat. Cio saja kuat.”
Ya?
Kenapa kedengarannya sangat murahan sekali, ya? Aksara di bandingkan dengan kucing yang baru kemarin sore lahir. Sungguh… mengesankan cucunya ini.
“Oke. Berarti kita saja yang siap-siap. Oma terima beres, ya.”
“Setuju.”
***
Memang semanis itu Tuhan dalam memberikan cinta.
Yang menurutnya kurang, akan Tuhan lengkapi. Yang menurutnya melemahkan, akan Tuhan kuatkan. Yang menjadi mimpi-mimpi tiap Hambanya, Tuhan senantiasa menjaga dan mengabulkannya di saat yang sudat tepat. Dan hal-hal apa saja yang membuat tiap Umatnya ketakutan, akan Tuhan peluk seraya berkata; selama kita (manusia dan Tuhan-Nya) saling memiliki satu sama lain, tidak perlu ada yang ditakuti.
Maka untuk itu semua, Ardika berdoa. Semoga terus dirinya yang Tuhan mampukan untuk menjalani tiap harinya dengan baik. Untuk terus berada di jalur benar bersama bimbingan Tuhan lewat keluarganya yang harus dirinya jaga. Semoga Tuhan senantiasa memberikan dirinya kesempatan memperbaiki sekecil apa pun kesalahannya dan menegurnya lewat tamparan-tamparan yang tidak sakit namun lekas menyadarkan.
“Gimana?” Sudut bibir Ardika berkedut menahan tawa. Melihat ekspresi lucu Dante yang di tengah malam ini memaksa ikut lembur. Dan sejak tadi, Dante duduk anteng di kursi samping Ardika sembari mengecek tiap-tiap laporan ganjil yang menyakitkan kepala Ardika.
“Ini seriusan aneh ya, pa,” jawabnya setelah lama terdiam. Rambut rapinya kusut masai dan meski sudah Ardika benahi, akan kembali pada tatanan awalnya. “Masa ada pengeluaran segini banyaknya buat proyek baru papa.”
Ah, sekarang Dante membiasakan diri untuk memanggil Ardika demikian. Karena terakhir memanggil hanya dengan namanya saja, Armani ikut serta. Lucu, namun jika berkelanjutan akan bahaya.
“Sebenarnya nggak masalah, Yang. Memang sudah aturannya begitu. Anehnya di bagian ini.” Ardika lingkari nominal angka fantastis yang cukup membuat Dante tercengang.
“Gila. Ini, sih bisa buat jalan-jalan ke luar Negeri sebulan penuh.”
“Kan maen.” Ardika terkekeh. Dante menggelengkan kepalanya. “Korupsi bukan?”
“Mulai, deh.”
“Serius, Sayang.”
“Ya, papa pikir ini donator perusahaan yang nyumbang korban banjir?”
Dante suka sensi dengan pertanyaan yang Ardika ajukan. Suaminya memang orang konyol yang ngadi-ngadi.
“Aku jadi mikir.”
“Sudah cukup ini saja papa. Jangan nambah pikiran lain.”
“Kali ini serius.”
“Hm, percaya.”
Hening. Ardika raup udara banyak-banyak sambil menatapi Dante yang masih memfokuskan pikirannya pada laporan kantornya. Ingin menertawai apa yang istrinya lakukan, Ardika tahu itu tidak berguna. Syukur-syukur dirinya yang selamat dari cubitan maut Dante. Kalau cubitan yang lain mah oke saja.
“Jadi aku berdoa nih.” Dante menyahut dengan deheman pelan. “Karena kita sudah menjadi pasangan suami istri maka aku minta sama Tuhan buat cukup aku saja yang jadi pendamping kamu. Yang kayak sahabat dan tidak sekadar teman hidup tapi juga penyeimbang buat kamu. Begitu juga sebaliknya.” Ardika menjeda. Dante meletakkan bolpoinnya.
Membalas tatapan Ardika yang sayu. Kantuk dan lelah bernaung di dalam netranya.
“Kamu bahagia aku, kamu juga prioritas aku. Aku mau ngejaga sisi kenyamana kamu saat bareng aku, begitu juga sebaliknya. Demi mimpi masa depan kita. Aku serius dalam berdoa.”
“Kalau kamu sudah di mode berdoa gini artinya kamu serius,” jawab Dante. “Dan kalau kamu sudah serius gini, semut juga takut mau ngeduluin langkah kamu.”
Cukup di biarkan bersama seperti ini, Ardika lebih dari cukup. Setidaknya Tuhan memberi kemudahan berada di titik ini. Harapannya tetap ia gantungkan pada Tuhan agar semua doa-doanya di peluk oleh-Nya. Dan semoga restu semesta berpihak pada dirinya dan Dante dalam doa di mana banyak amin yang turut memeluk bahagia keduanya.
***