Check up kedua Ayana dilalui seorang diri—ah, ralat—ada asisten Rambe yang mengemban amanat untuk menemaninya. Dari mulai menjemput ke unit apartemen sampai di sini tubuhnya berada. Namanya Natalie. Dan Ayana suka memanggilnya dengan ‘Nat’ karena terdengar unik dan lain dari lainnya. Seperti orang luar negeri kedengarannya. Padahal orangnya sangat Indonesia sekali.
Berasal dari Padang. Di tanah jam gadang itu tanah kelahiran Natalie. Wajahnya cantik dan manis khas milik orang-orang Padang pada umumnya. Rambutnya hitam, di bagian atasnya. Karena bawahnya berwarna-warni—paduan hijau dan kuning menyala menghias di sana. Semakin mempercantik tampilannya yang kasual meski tipe pekerja kantoran. Asli, Ayana like sama cewek model begini. Fashion modenya bikin Ayana yang sedang mood swing melek seketika.
Dan cara Natalie memperlakukan Ayana amatlah ramah. Tidak memandang siapa dirinya yang sebagai kekasih bosnya, Natalie melihat Ayana selayaknya teman dan sahabat. Jadi wajar jika bibir tipisnya yang terpoles lipstik nude terus mencerocos. Mengangkat berbagai topik untuk naik ke permukaan. Menggantikan kebosanan Ayana di sela-sela namanya di panggil.
“Dia galak?” Rambe maksud Ayana dan Natalie menggeleng dengan tawa yang tidak di tutupi. Tidak mencoba menjadi elegan sekadar mencuri perhatian Ayana.
“Bapak itu kalau di kantor bisa di bilang riweh, bu.” Duh, Ayana setua itu, ya sampai di panggil Ibu? Tapi maklum saja, ini pasti karena Natalie sungkan perihal siapa Ayana. “Biasanya yang paling kena imbasnya tuh OB. Karena soal kopi yang kemanisan, bapak minta di bikin ulang. Atau pas pesan gado-gado samping kantor dan kurang pedas, minta di belikan yang baru.”
“Maafin, ya.” Ayana merasa tak enak hati. Sedang Natalie mengibaskan tangannya tanda tidak perlu.
“Kita kerja sama bapak nggak sebulan dua bulan bu. Tapi bertahun-tahun. Contohnya saya yang sejak lulus kuliah S1 sampai yang kelar S2 tetap betah sama bapak. Karena bapak tahu sama kita yang loyal dengan perusahaan dan yang cuma mau cari gaji doang.”
“Oh ya?” Natalie mengangguk antusias. Di seruput sejenak Cha timenya. Boba menggiurkan meliuk masuk ke dalam sedotan besar dan berakhir di mulutnya untuk Natalie kunyah pelan-pelan. “Umur kamu berapa memang?”
“28. Tua, kan?”
“Tapi masih cantik.”
“Nggak secantik ibu. Pantas bapak nolak cewek-cewek yang ngejar-ngejar dia. Ternyata ibu memang sebadai ini. Savage banget pokoknya buat bapak yang sekalinya pacaran nggak kaleng-kaleng kelasnya.” Natalie terkikik.
“Sampai sekarang masih ada?”
Bola mata Natalie tertarik ke atas. Mengingat-ingat apakah ada kejadian menarik sesuai yang Ayana ajukan sebagai tanya dan mencari jawaban yang tepat.
“Ada. Kemarin ada cewek datang. Nangis-nangis karena di cueki sama bapak. Bapak tuh, bu… asli idaman banget. Nggak ada, deh cowok kayak bapak yang setia sampai mati. Padahal ceweknya mau ngasih apa saja ke bapak—”
“Maksudnya?”
“Jadi, cewek itu punya saham yang di tanam ke perusahaan bapak. Bisa tuh jadi punya bapak. Tapi bapak nggak mau.”
“Perusahaan aman, kan?” Karena Ayana mulai ketar-ketir jika sudah mendengar kata saham naik ke permukaan.
“Aman bu. Semuanya lancar. Nah, ini kenapa bapak nggak bisa nemenin ibu? Karena ada tanda tangan proyek baru yang harus bapak tangani. Kemungkinan ke Lombok. Dan nampaknya, ibu bakal bapak boyong ke sana?”
“Hah?”
“Bapak sudah milih-milih model rumah di sana bu. Pasti buat ibu sama adek bayinya.”
Demi apa pun Ayana tak bisa berpikir dengan jernih. Mendengar apa yang Natalie ucapkan sungguh membuat hatinya mencelos. Kenapa Rambe sampai berbuat demikian? Tidak perlu, kan sampai harus pindah dan Ayana ikut serta? Ayana sangat mampu sekadar menghidupi dirinya dan anaknya kelak.
Ayana jadi merasa sangat merepotkan. Mendadak tidak berguna di hadapan Rambe yang telah sukses besar dan menanjak kesuksesannya. Sedang dirinya? Hanya seseorang yang Rambe pungut untuk mengisi kekosongan hati dan hidupnya. Yang hanya dijadikan selingan kala lelah mendera sehingga Ayana bisa menjadi hiburan untuk hari-harinya.
“Kamu nggak kayak gitu.”
Mata Ayana mengerjap berkali-kali. Sengatan lembut yang menyambangi pori-pori wajahnya terasa nyata meski rasanya tidak mungkin. Bukankah—
“Kamu?!”
“Kerjaan aku selesai.”
Keterkejutan yang Ayana perlihatkan membuat Rambe tertawa dan bertindak mencium keningnya. Tanpa risih dan malu meski di tatapi oleh pasien dan suster yang berlalu lalang. Astaga, lelaki ini! Ayana membatin dengan kesal namun tak sanggup mengelak.
“Natalie mana?” Sadar akan ketidakhadiran Natalie di sampingnya. Kepala Ayana celingak-celinguk ke segala penjuru rumah sakit. Dan tak ada sisa jejak Natalie. “Dia hilang?” tanyanya pada Rambe.
“Pulang,” jawaban Rambe santai sedang Ayana memberengut kesal. “Kamu nggak suka aku susulin?”
“Enggak! Kamu ngerusak mood aku lagi. Padahal nge-gibah bareng Natalie enak banget. Kamu pakai acara pulang segala.”
“Otak kamu travelingnya kejauhan.”
“Apa?”
Embusan napas Rambe sampai menerpa wajah Ayana yang spontan merapatkan kedua matanya. Harum mint yang khas menggelitik titik tertentu di tubuh Ayana yang sensitif. Sialan sekali jika itu sampai harus terjadi di sini. Rambe sungguh pintar memainkan perannya di saat Ayana harus selalu menahan.
“Cuma karena aku beli rumah bukan berarti kamu nggak berharga. Seharusnya nggak perlu berpikiran sampai ke sana kalau kita sudah sepakat untuk memulai segalanya dari awal. Kamu—”
“Kamu dengar semuanya?” Rambe mengangguk. “Kamu nguping?” Kedua bahu Rambe mengedik. “Nggak sopan.” Ayana mencibir.
“Tuh.” Dagu Rambe mengarah ke pintu masuk. Ayana mengikuti. Ada suster yang sudah menunggu dan memegang catatan di papan tulisnya. “Nama kamu.” Rambe giring Ayana ke sana setelah kesadaran tidak kunjung tiba di otaknya. “Bisa-bisanya kamu ngelamun.”
“Bisa-bisanya kamu jadi penguntit.”
“Hei, kamu calon aku.”
“Hei, aku punya privasi.”
Keduanya berdebat sampai dokter hanya menggeleng dan membiarkan perang mata terus berlanjut. Sampai Rambe yang memutuskan dan menjatuhkan kedua lututnya di lantai. Membuat pipi Ayana blushing serta perawat yang melihatnya megap-megap layaknya ikan meloncat keluar dari air.
“Sayang …” Panggil Rambe tepat di depan perut Ayana. Mencium sepuasnya dan melanjutkan, “buat mama nggak ngambek lagi, geh. Dia ngeselin kalau ngambek.”
“Nggak gitu juga caranya. Kamu bikin dia jauh dari aku.” Protes Ayana.
“Diam dulu deh, Yang. Kamu jangan cerewet. Dia bingung nanti mau nurut sama siapa. Aku papanya atau kamu mamanya yang tukang insecure.”
ETA MULUT!
Wae? Rambe sungguh sialan tiada tara. Bang—sabar-sabar.
“Papa tuh cinta sama mama kamu. Tapi mama kamu suka nggak adil sama papa.” Dokter dan perawat yang melihatnya terenyuh. Tersentuh dengan rangkaian kalimat yang meluncur dari bibir Rambe. “Padahal nggak pernah papa permasalahkan masa lalu mama kamu karena yang papa genggam adalah masa depannya. Hadirnya papa dan kamu di hidupnya. Terus kalau sudah kayak gini, papa kudu ottoke?”
Daebak! Bisa-bisanya ngelawak di jam kritis keseriusan. Hanya Rambe yang bisa melakukannya. Kepala Ayana sudah hampir patah untuk menggeleng kanan kiri mirip orang tahlil massal.
“Sudah papa maafkan kesalahannya di masa lampau. Karena katanya, memaafkan bukan urusan orang lain, tapi kita. Yang maksudnya, bukan urusan mama kamu karena papa sudah berdamai dengan hati dan berikhlas diri dalam menerima. Kenapa mama belum? Menurut kamu kenapa? Begitu tentram dan damai hati papa. Lurus semua masalahnya. Yang papa mau mama berubah. Itu saja. Tapi mama kamu bebal.” Rambe melirikkan matanya sinis.
Masalah ini akan terus menyebar jika Ayana tak mau mengerti dirinya sendiri yang berharga. Rambe akan keras sekali lagi terhadap Ayana agar perempuan itu paham dan mengerti.
“Kiyowo.” Komentar sang perawat. Kedua tangannya menyatu di depan bibirnya. “Saya juga mau banget punya suami kayak bapak.”
“Jangan, sus!” Rambe membulatkan matanya. “Jangan cowok ini. Dia nggak punya akhlak. Mana ada cowok ngelamar di depan semua orang. Di ruang pemeriksaan lagi.”
“Silakan dok. Dia sudah sehat lagi.”
Orang ini! Ayana misuh-misuh dan segera menaiki ranjangnya. Tidak mengizinkan Rambe melihat kondisi bayinya di layar monitor yang dokter perlihatkan.
***