Sementang anak-anak sekolah demam dengan musim ujian, kehidupan Maha dan Pulung juga sama-sama mendapat ujian. Yang mana dalam beberapa hari ke depan hendak melangsungkan pernikahan. Datang seorang wanita berkisar 40-an ke rumahnya. Masalahnya—yang membuat Pulung uring-uringan—adalah bayi dalam gendongan yang sialannya sangat cantik milik Maharaja Askara, katanya. Yang artinya itu putri Maha bersama dengan entah siapa nama wanita itu.
Pagi hari yang cerah seketika redup. Oleh gulungan awan gelap di wajah Pulung Rinjani. Maha sampai-sampai takut untuk melirik. Perempuan itu menatapi secara tajam wanita di hadapannya tanpa berkedip sekali pun. Catat itu; TANPA BERKEDIP.
Duh, perut Maha mulas. Sakitnya melilit seperti di pelintir-pelintir. Kepalanya juga pening maksimal. Air mineral yang sudah tawar kian hambar tak berasa di indera pencecapnya. Kopi hitam pekatnya yang tanpa gula terasa seperti racun sewaktu melewati kerongkongannya.
“Jadi?” Begitu vokal Pulung terdengar, pasokan udara di sekeliling Maha menipis. Lirikan Pulung dengan kedua tangan bersidekap d**a silih berganti antara Maha dan wanita bernama Yema. Maha baru ingat detik ini.
“Ini anak mas Maha.” Buset! Maha terperanjat di tempatnya. Bisa-bisanya mulut Yema lancang dan memanggilnya dengan tambahan ‘mas’ di depan namanya. “Kita sudah pernah bersama sekitar satu tahun yang lalu.” Oh, saat Pulung bersama Maha dan ada Baraja. “Ini mau di kata kecelakaan tapi sudah kejadian—”
“Namanya kecelakaan, ya pasti kejadian lah mbak. Gimana, sih?!” Sewot Pulung.
Yang tidak pernah menjadi dugaan Maha hanyalah sikap tenang Pulung. Namun meninggalkan sejuta amarah lewat tutur katanya.
“Kok mbaknya ngegas.”
“Rumah punya siapa? Saya. Anda bertamu, suka-suka saya dong mau ngomong gimana juga.”
Bagus. Maha menyemangati Pulung tanpa kendor—dalam hati saja. Karena saat ini suara Maha bukan prioritas kedua kedua wanita ini. Jadi percuma. Diam lebih baik karena itu emas.
“Lagian mbak, kamu ini siapa, sih?! Kok rewel banget. Saya datang ke sini baik-baik dan sopan mau minta pertanggungjawaban mas Maha. Ini anaknya yang sudah dia telantarkan setahun ini.” Ungkap Yema sekaligus memberi cibiran perihal Pulung yang menurutnya hanya pengganggu. Hei, dia Nyonya di rumah ini. Jangan salah.
“Konyol dong kamu mbak. Sudah satu tahun baru nongol. Ini bukan zaman nggak canggih sehingga kamu nggak bisa nyari info. Kalai butuh uang, bilang. Saya kasih. Saya dan suami bukan dari kalangan miskin. Kamu jangan bikin malu keluarga lah.” Pulung tidak mau kalah.
Dan kata ‘suami’ yang masuk ke dalam rungu Maha, di labeli tanda kutip tanpa mau ada sanggahan. Wah, jadi seperti ini, ya rasanya di bela mati-matian. Maha besar kepala.
“Suami?” beo Yema. Kali ini kedua matanya mengerjap dan menoleh bergantian kepada Maha dan Pulung. “Maksudnya … nggak mungkin—”
“Ya, benar. Lihat nih!” Pulung tunjukkan sematan cincin berlian di jari manisnya. Beruntung lamaran Maha malam itu langsung Pulung terima. Dan cincin yang di pakainya bersyukur tidak dirinya lepas.
Kali ini benar-benar Maha bisa tersenyum yang sesungguhnya. Pun sama dengan ekspresi Pulung yang puas bisa mengalahkan Yema. Sehingga wanita itu tak berkutik dan mengangakan mulutnya.
Maha jadi ingin bangga dan berterima kasih pada dirinya sendiri yang telah berani mengambil keputusan yang berat. Walaupun sulit—pada awalnya—sudah Maha katakan kehidupannya tidak berjalan semulus dan selurus Tol Cipali. Sehingga beranjak dari satu tempat ke tempat lainnya memang menyisakan banyak kenangan yang harus di gali dan di kubur secara terpisah.
Termasuk soal hatinya yang tidak lagi goyah untuk memilih Pulung Rinjani. Perempuan itu bagai o***m yang kala Maha hirup, akan memabukkan menyisakan candu untuk dirinya terus merasai. Untuk dirinya terus mengagumi. Yang mana telah Tuhan hapuskan ibunya dari daftar hidupnya untuk di gantikan oleh Pulung. Sebagai masa depan yang tak bisa Maha dapatkan di masa lalu. Menyesal sekali karena baru hari ini Maha sadari bahwa sikapnya yang buru-buru menyimpulkan keputusan Tuhan. Kesal beralasan yang membuat egonya kian mengeras
“Yema.” Panggil Maha. Baik Pulung mau pun Yema menoleh. Kedua kepala beda umur itu memicingkan mata, menunggu kata selanjutnya yang akan Maha tuturkan. “Kita hanya pernah minum bersama. Bukan tidur bersama.” Maha tolehkan kepalanya untuk berfokus hanya pada Pulung. “Waktu itu ada relasi bisnis dari luar negeri yang minta di temani minum. Dan suer, aku cuma minum. Itu pun nggak sampai mabuk. Cuma sekali teguk dan aku pulang.”
Masih Pulung kais sisa-sisa ingatan di satu tahun yang lalu. Dan hanya pada kepulangan Maha yang terlambat karena urusan pekerjaan. Itu benar. Tidak ada gurat aneh di wajah Maha waktu itu. Artinya, tidak ada kesalahan apa pun atau kejadian yang Maha ciptakan.
“Bara sakit, ingat?” Pulung mengangguk. “Aku pulang larut, jam satu dini hari kalau nggak salah. Ayo kita cek CCTV apartemen. Aku ingat, kamu tidur di sofa karena Bara rewel.”
Mendadak Yema jadi manekin hidup di antara pasangan yang ‘suami-istri’. Kesal maksimal di perlakukan begitu.
“Sejak sama kamu, aku nggak pernah main-main soal perempuan. Aku rubah kebejatan aku karena aku mau serius sama kamu. Aku gak ke kelab lagi karena mau Bara bangga punya papi kayak aku.” Maha dan segala keangkuhan otaknya. Pulung gemas mendengarnya. “Jadi, aku nggak tahu siapa bapak anak itu. Yang jelas, aku nggak lakuin itu. Aku berani sumpah.”
Ocehan Maha terdengar sangat lucu di rungu Pulung. Sehingga tawanya lepas landas. Membuat tidak hanya Yema yang kebingungan dan mengumpat kotor. Maha terheran-heran; ada apa gerangan dengan Pulung.
“Nah mbak,” kata Pulung menatap Yema tajam. Tawa konyol yang beberapa detik lalu terpasang, telah lenyap dari wajah ayunya. “Maha nggak ngelakuin itu. Dia sudah berkeluarga. Ayolah mbak. Butuh uang berapa.” Pulung tepuk paha Maha sampai si empunya berjengit kaget. “Ayo papi, transfer ke dia berapa pun nominalnya. Papi nggak akan miskin cuma karena beramal ke yang lebih membutuhkan.”
“Perempuan sialan!”
Maha yang sudah siap dengan ponsel pintarnya terpaksa berdecak. Yema sangat drama. Melebih-lebihkan kondisi yang tidak semestinya Maha lihat. Pagi harinya kacau karena sinetron dadakan yang tayang di rumahnya.
“Berhenti mbak!” Pulung genggam tangan Maha untuk tidak menyahuti apa yang Yema pancingkan. “Mbak nggak bisa mengikat apa yang memang bukan di takdirkan untuk mbak. Lepasin saja. Maha punya saya. Bara punya saja. Dan seluruh kehidupan yang ada di antara dua lelaki ini—Maha dan Bara—adalah milik saya. Dan saya sangat posesif buat nggak ngebagi apa yang menjadi milik saya. Jadi jelas, Maha nggak akan pernah saya lepas. Sama halnya dengan Maha yang sudah melabeli saya dengan kata ‘MINE’ saya melakukan hal serupa.
“Coba mbak bayangkan.” Pulung menatap Maha dengan penuh pancaran cinta. Yang baru kali ini Maha tangkap ketulusan mendalam di dasar netra Pulung. Sumpahnya menggaung untuk tidak akan pernah mengkhianati terlebih melepas Pulung. Tidak akan pernah! “Mbak mau bangun rumah kalau pondasinya nggak kokoh, kira-kira bertahan berapa lama?” Kepala Pulung sepenuhnya menghadap Yema.
“Membangun rumah dengan pondasi kuat sama halnya dengan telah mengosongkan segala isi yang menjalar di dalamnya. Rumput, benalu, tanaman merambat dan jenis lainnya untuk bisa benar-benar bersih. Sekarang… Mbak ngebangun rumah baru di dalam hati Maha sedang hatinya masih terisi penuh tentang saya dan Bara. Anggaplah saya masa lalunya semisal mbak memang mau hidup sama Maha. Yakin mbak sanggup? Gimana pun juga, Maha hidup di masa lalu tanpa mau membuka lembaran baru. Maha hanya ingin hidup di dalam kenangan yang ada saya dan Bara di sana. Tidak peduli apakah ada hal baik di dalamnya, terpenting baginya adalah saya dan bara. Apa bisa mbak menggapai Maha?
“Orang bodoh saja tahu; TIDAK. Damage cinta nggak sesederhana bayangan kita mbak. Maha sudah memilih jalannya. Mbak juga harus melakukan hal yang demikian.”
“Anak saya—”
“Yema!” Suara Pulung terdengar menggelegar. Wajahnya sinis tanda tidak mau di bantah. “Jangan memperpanjang urusan. Ini bukan perkara sulit untuk saya seret kamu ke meja hijau. Maha milik saya, selamanya begitu. Jadi bangun! Jangan hidup di masa lalu apa lagi masa bayangan. Percuma kamu ingin meraih Maha. Dia cinta saya sampai kapan pun.”
Boleh tidak, ya Maha berbagga diri dengan apa yang telah dirinya dengar? Pulung … keren sekali.
***