Belum bisa Dante ungkapkan dengan rentetan kalimat. Hanya kata-kata yang baru terangkai untuk bisa di tuliskan. Dengan pelan, sebuah bolpoin Dante goreskan di atas kertas putih. Sejumput kata mulai terangkai membentuk kalimat yang sesungguhnya cukup mengiris hatinya. Namun tidak mengapa, karena Dante tahu risikonya. Dan ini yang sedang di tanggungnya. Maka cara ini jalannya untuk menikmati prosesnya. Mungkin masalah waktu yang bisa menjawab. Dan hanya menunggu yang bisa Dante lakukan alih-alih untuk mengeluh.
Yang Dante inginkan hanyalah rindu yang jauh dari jarak. Dekat dengan pelukan dan kesiapan dirinya untuk menjadi seorang pendengar yang setia. Yang selalu berdiri dengan kokoh di sisi Ardika untuk lelaki itu yang hendak mencurahkan segala keluh kesahnya. Tawa dan senyum Dante berharap bisa menawarkan luka lelah di hati yang penuh tanggungan beban.
Tidak banyak yang bisa Dante lakukan kecuali menawarkan kedua bahunya untuk Ardika sandari. Yang lelah menghadapi pekerjaannya yang menumpuk. Yang menahan amarah kala kesalahan-kesalahan kecil cukup membuat hatinya gerah. Tidak, Dante tidak akan membiarkan Ardika menanggung semuanya sendirian sedang di sini ada dirinya yang siap menjadi pendamping dalam tiap kesusahannya.
Tidak peduli sebanyak apa pun pekerjaan yang akan Ardika bawa pulang dan selelah apa tubuhnya dalam mengerjakan semuanya. Dante memastikan untuk Ardika tidak sekali pun kehilangan doa-doa yang selalu dirinya panjatkan. Meski lengan Dante belum bisa memeluk lelahnya, Dante ingin Ardika percaya bahwa hanya namanya yang selalu Dante sebutkan seusai sujudnya. Selalu Dante bawa nama keduanya untuk mengangkasa ke langit agar secepatnya Tuhan meniadakan jarak di antara keduanya. Agar selamanya tetap Ardika yang mencium kening Pulung sebelum pejam tiba dan berucap ‘selama kita memiliki kita, kita akan selalu bahagia dan baik-baik saja.’
Jika sudah bisa Dante tuliskan doa dalam selembar kertas, bukankah lebih baik untuk dirinya mempercayai apa yang sedang Tuhan rencanakan saat ini?
Benar. Ardika pernah berkata bahwa yang lebih membahagiakan dari rentetan kehidupan ini adalah tahu rasanya dicintai dengan kejujuran dan kesetiaan. Bahwa seseorang yang benar-benar terjaga hanya untuk yang pandai menjaga. Ardika benar dan Dante sedang merasakan apa yang pernah suaminya sampaikan. Meski berat penantian dalam mencapai puncaknya, ternyata tidak seburuk ketika kita memetik hasilnya. Sembari semuanya datang tepat di waktu yang telah Tuhan tentukan, Dante memperbaiki dirinya, memantaskan sikapnya untuk bisa bersanding dengan Ardika. Karena Dante inginkan jodoh sebaik Ardika untuk hidupnya di masa kini dan masa yang akan datang. Begitu juga sebaliknya, berharap bahwa dirinya telah Tuhan jodohkan untuk Ardika.
“Kamu ngapain?” Adalah Ardika yang langsung duduk di samping Dante. Meletakkan tas kantornya dan menarik tali sepatunya. “Aku capek banget.”
Senyum Dante terkembang. Berharap bisa menular ke Ardika yang di barengi dengan kepalanya menoleh pada Dante. Bibirnya terukir senyum segaris di lukisi wajah kuyu yang menunjukkan betapa beratnya hari ini.
“Makasih buat hari ini. Kamu bertahan sejauh ini.” Dante kecup pipi Ardika seraya berdiri. “Mau langsung mandi? Kebetulan aku juga masak udang tepung sama cumi asam manis.”
Terlihat Ardika berpikir dengan jari mengusap dagunya. Satu tangannya menyatu di sela-sela jari Dante. Kadar ketampanan yang Ardika miliki semakin hari kian bertambah. Membuat Dante kalang kabut tiba-tiba. Tidak di pungkiri overthinking selalu merajai otaknya. Namun percaya terus Dante teguhkan bahwa Ardika tidak berbuat demikian untuk kesekian kalinya.
“Mandi dulu deh. Segar kayaknya.”
“Mau kopi atau the?” tawar Dante.
“Mau kamu boleh?”
Dan tawa keduanya mengudara. Setelah gagal membawa Naomi pulang, Ardika sempat terpuruk dan Dante harus menahan segalanya untuk tidak melibatkan emosi. Yang berujung pada ketidakbaikan hubungannya. Menunggu menjadi caranya mengatasi semua perkara ini walau tidak sehari dua hari. Tapi buah dari kesabarannya bisa Dante rasakan hari ini.
“Katanya capek.” Ardika ikuti langkah Dante menuju kamar keduanya. Memegang bahu perempuan berstatus sebagai istrinya dan memeluknya sebentar begitu sampai di kamar. Dante terkekeh. Ardika ketika lelah mode manjanya sangat tidak berakhlak. Dan Dante suka dengan itu.
“Karena aku memiliki kamu dan kita memiliki kita. Rasa capeknya jadi berkurang. Kamu ngasih aku jamuan apa, sih sampai-sampai betah buat di rumah.”
Kan maen memang omongannya. Bisa-bisanya Dante di su’udzoni sejauh itu. Tapi oke lah. Paham dengan candaan Ardika yang ke mana akan mengarah.
“Mandi geh.” Membalikkan badannya, tangan Dante terjulur membelai wajah Ardika. Bulu-bulu kasar mulai tumbuh di sekitar rahangnya yang kokoh dan melihat bagaimana Ardika memejamkan matanya begitu tentram. Dante tahu, hari ini Ardika lalui dengan khidmat meski susah payah. “Nanti aku temenin lembur lagi. Biar besok, pundak kamu nggak sakit.”
“Makasih,” bisiknya. “Aku beruntung punya kamu. Yang mau nunggu aku sejauh ini. Semisal enggak… Aku nggak tahu mesti kayak gimana lanjutinnya.”
“Kamu mulai kacau. Mandi sana.”
Dante tidak suka kala Ardika mengutuk dirinya sendiri. Karena baginya, Ardika berada di jalur yang saat ini di tempuhnya, sudah menjadi yang paling benar.
“Aku pernah mikir kalau jadi dewasa pasti enak,” ucapnya sambil memisahkan kancing dari lubangnya. Dante tersenyum tipis menyiapkan satu kaos dan celana pendek untuk di serahkan kepada suaminya. “Tapi hari aku baru sadar, menjadi dewasa nggak segampang bayangan aku. Buktinya aku pas capek gini pasti jadi bocil (bocah cilik).” Ringisnya mengeja singkatan yang di ucapkannya. “Ngelebihin Armani yang bisa anteng padahal nggak ketemu aku seharian.”
“Siapa yang bilang?” Mata Dante melotot gemas. Kesimpulan suaminya maksimal sekali. Sedang fakta lapangan menunjukkan jika Armani Aksara adalah turunan Ardika Aksara valid no debat.
“Ya, kan memang gitu, Yang.” Ardika membela dirinya sendiri. Dan bersiap melanjutkan sebelum Dante mengomel sepanjang jembatan Suramadu, “Makin ke sini, makin tambah umur aku, makin rumit. Dan aku menghadapi banyak rintangan yang nggak terduga-duga.”
“Ada konsepnya.” Sergah Dante cepat-cepat. Agar pikiran suaminya tidak kian bertambah runyam. “Kayak bagi beberapa orang yang sebelum sakit hati, memberi maaf dan ngelupain apa yang pernah orang lain lakuin ke kita, gampang-gampang saja. Tapi sekalinya hati kita tersangkut yang namanya kecewa dan terluka, ngasih maaf atau ngelupain nggak sesederhana kayak dulu. Dan kalau kita nggak mau lebih terbuka dalam berpikir, ujungnya melukai ego sendiri dan sakit sendiri.”
Ah, Ardika baru paham jika Dante jauh lebih memahami dirinya lebih dari dirinya sendiri. Dante juga semakin dewasa meski tidak berlagak seperti dulu yang sok bijak dan sering memberinya nasihat. Sekarang ini, bagaimana Ardika gambarkan, ya? Pokoknya Dante yang sekarang, yang setelah mengarungi rumah tangga bersamanya tidak lagi sama. Dua tahun cukup membuat seseorang berubah.
Sifat dan sikapnya juga berubah. Tidak lagi suka memaksakan kehendak. Lebih kepada pasrah dan mau menunggu. Membuat Ardika memantapkan langkahnya bahwa perempuan ini memang benar yang dirinya mau. Bahwa hanya Dante yang paling tepat untuk dirinya jatuhkan hatinya. Dengan aman dan damai. Dengan nyaman dan bungah bahagianya tak berkurang. Semuanya terlihat benar seusai kehidupan menimpa untuk kita terjatuh sebelum bangkit dengan penuh semangat.
***