“Kamu suka melebih-lebihkan,” kata Pulung. Usai berpamitan dengan Friska dan men-deal-kan pesanannya untuk tanggal dan waktu yang telah di tentukan. “Aku maunya yang biasa saja. Sederhana. Tapi kamu selalu bertindak di bagian yang enggak terduga.”
Hm, bagaimana Maha jelaskan, ya?
Karena sederhana baginya ternyata berbeda pandang dengan Pulung. Yang entah seperti apa selayaknya sederhana bagi calon istrinya itu. Tapi membuang uang jutaan rupiah yang biasa Maha dapatkan dalam hitungan menit, itu bukan perkara sulit. Tabungannya takkan terkuras, sahamnya takkan anjlok dan menghamburkan sedikit demi menyenangkan Pulung itu suatu kewajiban yang harus Maha tepati. Janjinya pernah terucap demikian.
“Kamu marah?” Pulung berdecak. Oke, Maha paham kenapa sampai begitu. Rumit, ya berurusan dengan perempuan. Padahal Maha tahu, para perempuan hanya ingin di turuti saja apa yang sudah menjadi keinginannya. “Aku mikirnya pasti kejauhan. Soalnya tiap cewek bilang ‘nggak apa-apa’ itu artinya ada yang sedang terjadi. Jadi aku pikir pas kamu bilang sederhana, ya kayak gini dalam pikiran aku nyaringnya.”
“Kan maen memang filter otaknya.” Tawa Maha menguar. Demi Tuhan Pulung lucu dan unik hanya masalah katering. “Nggak itu saja. Kamu juga nyuruh aku ambil baju di butik dengan harga fantastis. Tahu status aku apa?”
Ekspresi muka Maha berubah kecut. Tidak suka dengan apa yang baru saja Pulung sampaikan. Baginya itu bukan hal serius yang harus di pusingkan. Bukankah paling penting, Pulung tahu perasaannya dan menerima pinangannya sudah jauh lebih baik?
Status?
Tidak pernah Maha permasalahkan. Itu bukan hambatan apa lagi memengaruhi keputusannya. Di atas itu semua, Maha sudah lebih dari tahu. Maha sudah lebih dari siap sekadar menerima.
“Aku pernah hampir mundur buat ngejar kamu. Karena katanya manusia punya jatah sabarnya. Ada batasan yang nggak bisa buat di lampaui. Akal sehat dan hati mesti sejalur buat tetap waras. Tapi aku enggak.” Jedanya membanting setir perlahan ke kiri dan berhenti tepat di sisi jalan. Menetralkan degupan jantungnya yang menggila, mengembuskan napas yang memberat dan memejamkan matanya sejenak.
“Aku pikir berjalan mundur mungkin lebih baik. Ngejauh dari kamu yang waktu itu sudah kelihatan bahagia sama mantan suami. Aku selalu membelakangi kamu karena aku pikir itu juga langkah yang paling benar. Tapi semakin aku paksakan, semakin aku coba dengan cara paling keras pun, hasilnya tetap sama. Hati aku nggak berubah. Harapan aku nggak kendor buat tetap ada di sisi kamu.
“Aku sabar nunggu kamu di depan pintu hati kamu untuk kamu persilakan masuk. Yang nyatanya nggak pernah aku dapat. Karena setelah usai dengan mantan suami pertamamu, seseorang yang lain masuk. Yang aku pikir ‘kenapa dia begitu mudah mengetuk hati kamu sedang aku yang setia berdiri di garda terdepan selalu tertutup?’. Aku hampir nyerah. Berpikir bahwa penantian baikku nggak ada nilainya di mata kamu. Aku mau marah pun kelihatannya lucu karena memang aku nggak ada hak untuk itu.
“Sampai aku sadar kalau kamu dan setiap orang di luar sana berhak memilih dan mempersilakan siapa saja masuk ke dalam hidupnya. Termasuk Ardika. Di situ aku ngerti kalau ternyata di atas rasa sakitku ada kesenangan tersendiri di mana aku bisa nungguin kamu. Pasti kedengaran gila dan aneh. Tapi Pulung… Aku satu maka selamanya akan satu. Aku cinta kamu maka seterusnya berlaku begitu. Bahkan dunia runtuh pun, cuma kamu yang bakal aku sebut namanya.
“Gilanya lagi, aku pernah punya janji. Kalau sampai nggak datang kesempatan buat aku miliki kamu, aku minta waktu mengizinkan buat tetap berdiri di sini buat kamu. Aku? Nggak masalah, asal kamu bahagia. Aku tahu batas kemampuanku buat nunggu kamu masih sanggup walau nggak sebesar awalnya. Dan itu berhasil. Aku bisa mencapai puncak dari sekian penantianku. Aku mengalahkan waktu yang terus berbisik kalau berhenti jauh lebih baik. Bahwa bersabar nggak perlu berkorban dengan kubangan sakit berkepanjangan. Bayangkan kalau aku nggak berdiri terus di sana?”
Sentuh Maha di tengah-tengah d**a Pulung. Menepuknya perlahan lantaran kedua netra perempuannya berkaca-kaca. Ya Tuhan, Maha merasa berdosa sudah berbicara panjang lebar tanpa mau melihat kondisi Pulung yang pasti terluka. Yang memiliki mulut tapi tak Maha beri kesempatan untuk menyela. Yang hanya memfungsikan telinganya guna mendengar keluh kesahnya. Maha jadi merasa sangat tidak berguna sudah mengeluarkan keluhannya.
“Padahal kamu bisa dapatin lebih dari aku.”
“Aku suka.”
“Kamu juga nggak perlu lakuin kayak gitu.”
“Aku harus.”
“Aku ngerasa ini berlebihan. Aku nggak seberharga itu.”
“Kamu pantas mendapatkan apa yang memang sudah seharusnya. Kamu berhak di perjuangkan, berhak di bahagiakan dan berhak punya apa yang sudah hak kamu.”
“Kamu bikin aku sesak.”
Kepanikan Maha sudah tidak bisa di tutupi lagi. Sampai Pulung terkekeh dan bibirnya untuk pertama kalinya bersentuhan dengan milik Maha. Hanya hitungan detik dan terlepas dengan senyum bahagia yang merekah.
“Jangan ngomong gitu.” Maha letakkan kepalanya di bahu Pulung. Naik turun napasnya. Embusan napasnya bahkan bisa menerpa kulit Pulung yang sudah terlapisi kemeja hitamnya. “Jangan sakit sebelum aku selalu bisa ngerawat kamu. Jangan sedih sebelum aku bisa hapusin air mata kamu. Cukup hari ini. Setelahnya, kita punya banyak agenda untuk di wujudkan.”
“Contohnya.” Pulung benar-benar tidak mengerti. Omongan Maha tidak mengandung keambiguan tapi otak Pulung sudah berjalan-jalan ke antah berantah.
“Bara butuh adik. Aku juga butuh anak cewek. Kayaknya lucu kalau dapat dua yang satu mirip kamu terus satunya lagi mirip aku.”
“Itu akal-akalan kamu doang. Bilang saja minta anak.”
“Aku nggak mungkin nyampein secara gamblang, Yang.”
“Kenapa?”
Tidak secepatnya Maha balas. Menjalankan mobilnya adalah salah satu cara Maha menghindar. Membuat Pulung mengerutkan keningnya heran. Tinggal menjawab saja Maha harus menahan senyum yang melukiskan kemerahan di kedua pipinya. Dan itu sangat lucu di pandangan Pulung.
“Kamu demam?” Maha menjawab dengan berdeham. Dan menggeleng secepatnya. “Pipi kamu merah.” Sekarang Pulung larikan telapak tangannya ke sekitaran leher dan dahi Maha. Membuat tubuh lelaki itu menegang di tempat. “Suhu kamu normal kok.” Pulung tarik kembali tangannya dengan dahi berkerut-kerut.
Suasana di luar ramai. Lalu lalang kendaraan menyita fokus Pulung begitu juga dengan Maha. Kecepatan rata-rata yang melaju bersama mobil lainnya. Sebelum Pulung melotot dan menatap Maha intens. Menelisik secara merata apa-apa saja yang sedang lelaki itu pikirkan.
“Kamu nggak lagi hng …” Tidak kuasa Pulung lanjutkan. Terlalu tabu meskipun dirinya berpengalaman, tetap saja aneh.
“Pikiran kamu travelingnya kejauhan. Kalau pun iya aku bisa nagih ke kamu. Mau?”
Tentu Pulung paham. Maha dengan segala pemikirannya memang tidak bisa di kalahkan untuk tiap eksperimennya.
“Yang tadi belum kamu jawab.”
Decakan dan bungkam sepanjang jalan. Pulung menahan tawa agar tidak menyinggung. Ya Tuhan, jadi seperti itu wajahnya.
***