"Berhenti mengejar apa yang bukan untukmu. Maka Tuhan akan mendatangkan apa yang paling baik untukmu. Pernah mendengar kalimat itu?” Maha terkekeh begitu Friska—teman kuliahnya dulu menggeleng. Netra mata Maha berpendar ke penjuru ruangan restoran melihat Pulung yang fokus berbincang pada asisten Friska untuk katering pernikahannya pekan depan.
“Lo terlalu nyatu sama kehidupan Amerika sampai lupa ada kabar booming apa di negara sendiri.” Friska memberengut mendengar cibiran Maha.
Lelaki itu hanya sedang jujur tapi Friska yang terlampau galau mengambil hati perkataannya. Dan kuaran tawa kencang benar-benar Maha ledakkan.
“Ini negara berfollowers dengan kode +62. Galau sudah nggak zaman di sini. Adanya, lo balas dengan selingkuh lah.” Friska melotot. Benar-benar saran Maha tidak masuk akal. “Hei! Jangan jadi bodoh. Lo tuh kenapa menggantungkan harapan di tempat yang nggak bisa lo gapai? Lo nggak capek? Lo nggak lelah? Tidur lo nyenyak? Yakin? Kok mata lo bengkak.”
Aduh super duper cerewet adalah Maharaja Askara. Telinga Friska sampai panas maksimal. Ingin melempar apa-apa saja yang kiranya saat ini ada di depan matanya. Sayangnya cuma ada piring dan jajaran makanan mewah hasil olahan dapur restoran miliknya. Kan mubazir kalau di campakkan. Mahal cui!
“Bini lo—”
“Calon, Fris. Jangan salah lo.”
Friska memutar kedua bola matanya malas. Memang angjim surangjim banget si Mahakupret ini. Umpat Friska. Setiap yang Friska sampaikan selalu di sangkal. Ucapannya selalu di luruskan yang mana Friska pikir itu sebuah hal wajar. Apa bedanya calon dan sebutan istri kalau sebentar lagi juga di kekepi? Huh!
“Terserah apa kata lo. Tapi dia hebat bisa tahan sama lo yang cerewet kayak malaikat pencabut nyawa.” Rasanya lega dan puas bercampur jadi satu. Jarang-jarang Friska bisa menjawab hinaan Maha seestetik ini. Karena Maha memang sepandai itu untuk berdebat.
“Makanya—”
“Please lah. Berhenti ngecengin gue muluk. Gue capek Pak bos. Jujur nih gue capek.”
“Harusnya lo lepas kalau memang lo capek. Bukan malah bertahan dan ngejar apa yang bukan buat lo.” Lagi-lagi topiknya diangkat. Dan Friska memasang wajah malas sekaligus melas untuk menanggapi. “Dengerin apa nasihat gue. Jangan sampai lo tiba-tiba ngirim undangan dengan perut buncit.”
ETA MULUT!
Astagfirullah Akhi. Kenapa filter tahun ini sangat tidak bagus pembuatannya sampai jebol maksimal begini. Heran Friska tuh!
“Jangan terlalu sayang.” Mulai Maha dengan serius. Raut wajahnya di atur sedatar mungkin sehingga Friska tahu tidak ada bahan candaan di detik permulaan ini. “Dia cuma seseorang yang belum sepenuhnya milik lo. Just a boyfriend. Sikap lo ya biasa saja. Nggak usah berlebihan. Nggak bakal ada jaminan dia bakal setia sampai sah. Yang nikah bisa cerai. Yang tunangan bisa bubar di tengah jalan. Dan lo sekadar pacarana bisa sampai sedalam ini. Yang namanya sementara itu pasti ada. Cuma sementara. Pakai logika nggak perlu libatin perasaan.”
Semenyebalkan apa pun seorang Maharaja, nasihat jujurnya dan perkataannya yang tepat sasaran selalu membuat Friska tersentil ginjalnya. Tamparan kesadaran yang mengenai ulu hatinya, Friska akui itu benar. Tidak ada yang melenceng dari perkiraan jawaban Maha.
“Jatuh cinta sama orang yang tahu seberapa tinggi harapan lo tapi nggak coba mematahkan juga nggak mau melambungkan kian tinggi. Dia bakal ngasih dukungan ke lo dan bertindak kalau waktunya sudah tepat untuk maju. Nggak terburu-buru buat berbuka berarti nggak terburu-buru buat menikmati sajiannya.”
“Karena gue pikir begini saja sudah cukup.”
“Cukup buat lo belum tentu cukup buat orang lain. Dan beda lagi sama takaran cukup di mata Tuhan. Come on, Fris. Hidup lo nggak buat ngegalauin cowok yang nggak jelas macam Adrian. Dia… biarin saja berkembang dengan segala keberengsekannya—”
“Dia nggak gitu!?” Agaknya marah menjadi awal di mana letak kesakitan Friska untuk sesi percintaannya kali ini.
“Masih juga lo bela.” Sudut bibir Maha mencetak sabit mengerikan. Membuat Friska bergidik ngeri dan menciutkan nyalinya di tempat. Bahkan sekadar membalas tatapan Maha pun terasa berbeda. “Gue tahu semuanya. Tanpa lo cerita lebih awal.”
“Apa?” Walau begitu Friska menantang. “Lo memang nggak sesuka itu sama Adrian. Tapi bukan artinya lo bisa nuduh dia yang enggak-enggak.”
“Ya-ya. Terserah lo.”
“Kata ‘terserah’ milik cewek. Jangan lo pakai.”
“Mulut punya gue kenapa lo yang repot.”
“Lo asal nyolong. Itu ada pasalnya.”
“Yaelah.”
Adu mulut yang keduanya ciptakan mengundang tawa kecil di bibir Pulung. Rasanya senang melihat interaksi keduanya yang lebih nampak seperti kakak memarahi adiknya atau malah adiknya yang memarahi kakaknya? Karena ekspresi wajah Friska yang terus berubah-ubah dan Maha yang masih eksis dengan kedatarannya.
“Asli, sih. Apa hebatnya lo sampai-sampai itu mbaknya mau sama lo.” Tatap Friska penuh penilaian. “Muka lo biasa saja nggak kayak hyung-hyung Korea yang bikin kita para cewek bergelinjang hebat dan you know lah. Dompet lo oke lah. Tapi mbaknya nggak matre yang demen sama duwit lo. Kelihatan banget dari mukanya yang memang sederhana dan nerima lo yang cacat ini. Lo kaya. Iya lo tajir melintir tujuh keliling tujuh turunan tujuh tanjakan—”
“Bacot!” Serobot Maha memotong. Geramnya tidak ketulungan dengan cara Friska yang menyebutkan segala keburukan dirinya. “Kalau iri, ngomong. Jangan malah jatuhin gue. Ini nih mainnya nggak asik. Main halus tapi langsung nyerang ke lawan.” Protes Maha.
Terlihat ada kebungkaman di kedua sahabat itu. Pulung memperhatikan dengan saksama sebelum kakinya melangkah dan mendadak berhenti mencuri dengar keluhan Friska selanjutnya.
“Gue pikir, gue sudah cukup baik dengan menjadi cewek cerdas. Yang siap secara mental buat ngedampingin Adrian yang sibuk. Dan gue cukup dewasa buat menghormati waktu serta pekerjaannya yang selalu menggunung.” Maha justru tertawa sumbang. “Gue nggak pernah bingung ketika ngambil keputusan juga nentuin arah ke mana baiknya gue harus melaju. Walaupun Adrian nahkodanya, gue tetap mau ambil bagian buat semuanya berjalan di jalurnya. Dan itu susah.”
“Ekspektasi lo tentang kehidupan terlalu tinggi, anjir.” Sarkas Maha. “Lo harusnya cukup ngelihat apa yang terjadi hari ini, lo jalani, dan untuk esok bisa lo pikirkan. Benar, apa pun yang lo minta bisa di usahakan setelahnya. Tapi lo salah langkah dengan rencana yang tersusun rapi. Tuhan punya kuasa untuk membolak-balikkan apa yang menurutnya sudah tertulis di tangannya. Manusia—kita contohnya—cuma bidak kecil di permainan catur. Jadi lo tetap salah.”
Wah, ternyata sedewasa dan seluas itu pemikiran seorang Maha. Apa karena seseorang yang sudah di timpa begitu banyak masalah bisa merubah cara pandangnya terhadap kehidupan? Jika ya, apa yang sudah menggempur Maha sampai bisa semenakjubkan ini dalam melihat dunia serta isinya?
“Lo harus sadar satu hal. Bahwa untuk di sayangi pasangannya, nggak harus terlihat hebat. Cukup jadi diri lo yang sabar dan tetap memeluk impian lo. Lo genggam apa yang sudah jadi tujuan lo. Dan dia genggam apa yang sudah menjadi tujuannya. Ke depannya, ketika lo berdua sama-sama marah, memeluk adalah cara terbaik untuk meredam amarah. Bukan saling berteriak apa lagi menghilang tanpa kabar. Cowok baik, bukan dia yang selalu ngasih hadiah mewah atau pun mahal. Tapi yang tahu caranya ngasih kabar dan ngejaga hatinya—”
“Kenapa lo bawa-bawa hati lagi, sih?!” Friska tidak terima. Perihal hati artinya ada yang tidak beres dengan Adrian terlebih pada hubungannya.
“Lo sanggah seribu kali pun tapi karena gue punya buktinya, pembelaan lo kalah. Jangan jadi t***l untuk cinta. Percuma kalau lo berjuang sendirian. Lo di nilai remeh dan rendah. Mending berhenti.”
“Ya!” Tawa Maha terpingkal-pingkal. Memancing amarah Friska selalu menjadi kesukaannya.
Di samping itu, Pulung tersenyum bahagia. Apa yang sudah masuk ke rungunya, terasa sangat benar. Pulung jadi teringat pada kisahnya bersama mantan suaminya yang pertama.
Dulu, Pulung sangat memaksakan kehendak untuk bersama dalam sebuah kisah yang sempurna. Mati-matian Pulung menjadi orang lain. Merawat diri agar di cintai. Bekerja keras untuk di labeli sebagai perempuan mandiri. Yang tidak pernah mengeluh terlebih merengek. Yang Pulung tahu hanya bagaimana caranya semuanya berjalan dengan baik.
Tidak merasa dicintai tidak masalah. Karena Pulung percaya semuanya akan berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahwa pada masanya nanti, akan ada kesempatan bagi dirinya mengambil dan memiliki apa yang sudah menjadi takdirnya. Namun sampai berakhir, Pulung tidak menemukan itu. Hanya selembar kertas berlabel logo pengadilan agama yang terbaca di kedua matanya.
Cerita Pulung kepada Tuhan begini; aku tidak perlu seseorang yang mengagumkan dalam banyak hal. Tapi Tuhan, tolong siapkan satu saja lelaki yang pandai bersetia, pandai menghargai keberadaan cinta dan perjuangannya, melihat Pulung sebagai pasangannya serta memperlakukan Pulung sebaik dia menjaga ibunya.
Itu adalah awal di mana bumerang dalam doa yang Pulung panjatkan meletup. Mempora-porandakan segala tatanan hidup yang sudah tersusun. Meninggalkan Pulung dalam keterpurukan dan pergi menjemput bahagianya yang lain. Pulung sangat naif. Sangat gigih mengejar apa yang telah menjadi keputusannya.
Tapi kini, mendengar apa yang Maha sampaikan. Pulung percaya bahwa doanya yang lalu hanya sedang tertunda. Tuhan sedang menyiapkan kejutan tepat dan kini sedang ada di hadapannya. Tertawa bahagia dan menghargai Pulung yang membalas cintanya.
Rasanya, Pulung ingin terus jatuh cinta pada Maha sebagai takdirnya. Pulung mencintai dirinya sendiri lewat Maha yang juga sama mencintai dirinya.
Takdir Tuhan memang seeksotis itu untuk di nalar manusia yang mau bersabar.
***