Ayana pikir, hatinya sudah tidak terbuka lagi. Hanya mati cukup dan berhenti di Ardika Aksara saja. Namun sejak Rambe datang dan menawarkan kesembuhan bagi lukanya … di situ Ayana berpikir bahwa tidak buruk untuk mencintai lagi. Rambe nyatanya meringankan beban-beban terpendam yang ada di hatinya secara perlahan. Dan Rambe memberikan bukan sekadar janji saja untuk bisa melaju dengan tungkai yang lebih ringan.
Ya, benar. Ayana pernah berada di satu titik di mana terasa amat sulit membuka fase baru. Dalam benaknya tercanang bahwa Ardika saja sudah cukup. Bahwa dengan melihat Naomi dari jarak jauh sudah cukup membuat hatinya berbunga. Namun sifat alamiah manusia tidak demikian. Karena pada akhirnya Ayana menyerah pada kondisinya. Yang sangat ingin kembali memiliki, ternyata tidak Tuhan izinkan. Yang sangat ingin merengkuh tubuh mungil Naomi pun tidak bisa dilakukan karena putrinya sudah memiliki idola lainnya. Dan dari rentetan itu semua, ikhlas, hanya itu yang mampu Ayana lakukan.
Ketakutan Ayana tidak begitu mendalam. Beruntung Rambe selalu berada di sampingnya. Menemani setiap ketakutan yang mulai menderanya. Menghiburnya ketika Ayana curahkan keluh kesahnya perihal ‘bagaimana jika ketika aku di temukan atau aku menemukan seseorang tapi trauma kasih menghantui’. Dengan senyum terbaiknya Rambe salurkan ketenangan lewat elusan lembut di kepala Ayana dan berbisik bahwa ‘itu bukan masalah. Dan tidak akan pernah menjadi masalah. Selama aku mencintai kamu dan selama kamu berikan kesempatan. Menjaga adalah caraku mencintaimu’.
Tentram sekali rasanya. Hati Ayana melambung tinggi untuk sesaat meski sesudahnya tersadar jika menggantungkan harapan terhadap manusia amat tidak patut untuk dirinya lakukan.
Sekarang, setelah apa yang Ayana takutkan tidak terjadi, tersadar bahwa di hantui masa lalu bukan suatu tindakan yang tepat. Juga tidak patut untuk dirinya menyamakan Rambe dengan cintanya yang lama. Ayana tidak bisa membandingkan cinta Rambe dengan kenangan lalu yang membuatnya sakit. Rambe adalah Rambe. Yang begitu terbuka pada segala pemikiran serta kisah kelamnya Ayana. Yang selalu membisikkan kata-kata penenang di malam-malam panjangnya Ayana bahwa tidak apa-apa untuk sekadar takut mencintai lagi asal jangan menutup dan melupakan haknya Ayana untuk mencintai lagi, sembuh serta bahagia lagi.
Mestinya Rambe dapatkan perempuan yang lebih baik dari dirinya. Tapi Ayana juga egois perihal: apakah dirinya bisa tanpa Rambe?
Jawabannya tidak.
Karena Rambe jauh lebih tahu dan tepat untuk memahami bagaimana lukanya. Bahwa hanya Rambe yang tahu bagaimana rasanya ketika dirinya kehilangan semua orang yang Ayana impikan. Ardika, Naomi dan keluarganya. Mungkin masih menghantui hingga detik ini. Mungkin Ayana belum selesai menyalahkan diri sendiri atau bahkan menghujat perilakunya di masa yang dulu.
“Tidak apa-apa. Jangan menghukum diri sendiri.” Itu jawaban paling menenangkan sepanjang Ayana bersama Rambe. Sepanjang harinya mengarungi waktu, kalimat itu paling merasuk di relung jiwanya.
“Jangan menghukum dirimu karena satu orang itu. Kamu harus mau berbesar hati dengan kehidupan. Terutama bersamaku.” Bukankah tidak hanya kata-kata dan janji saja yang di ucapkan? Rambe benar-benar menepati semuanya dengan sangat pas. Takarannya, waktunya dan segala isinya.
“Apa aku harus membiarkan orang baik masuk? Itu termasuk pemberian Tuhan, kan?” Ayana ingat dengan pertanyaannya yang lebih kepada menawar. Hingga Rambe tertawa dan Ayana memberengutkan wajahnya.
“Sure. Kamu harus melakukannya. Apa lagi jika itu aku.”
“Enggak bisa! Kamu terlalu baik buat aku.”
“Justru karena aku yang terbaik. Tuhan mengirimkan aku padamu.”
“Gombal banget, sih.”
“Aku serius.” Tatapan Rambe berubah menajam dan intens. “Aku—orang ini—yang akan menyembuhkanmu. Kamu harus percaya itu. Aku memaksa. Kamu harus percaya bahwa aku orang yang nggak akan pernah sedetik saja lepasin kamu apa pun yang akan terjadi. Entah kamu suka atau enggak, aku bakal nunggu. Bahkan ketika aku punya kehidupan yang lebih sulit dari ini, kamu akan tetap jadi prioritas aku. Kamu tetap pilihan aku satu-satunya dan selamanya.”
Rambe eratkan telapak tangannya pada telapak tangan Ayana dan memegangnya erat. Mengangkatnya untuk tepat berada di depan bibirnya dan menciumnya.
“Begini lah aku akan memegang kamu. Saat nanti hal tersulit dan keadaan makin memburuk. Aku harap kamu mau jadi lentera aku untuk menunjukkan jalannya. Dan ketika kamu sudah bisa mencintai aku meskipun kamu selalu berkata ‘aku buruk’ aku tidak peduli. Seberapa besar pun kekuranganmu, semengerikan apa pun bayangan masa lalumu. Aku harap akan ada waktu bagi aku membuktikannya. Please, paham sama bahasa jiwaku. Ayana … Aku nggak pandai ngerangkum kata.”
“Kamu baru saja nyentuh sanubari aku.”
“Kita nggak perlu buru-buru. Aku tahu kamu butuh waktu. Tapi kita nggak perlu menghadang cinta yang akan datang. Aku harap, ini bisa mengingatkan kamu tentang hari-hari di mana semua terasa berat dulu, tapi kamu harus tahu, Tuhan akan menyembuhkan semua luka-luka kamu tanpa bekas.”
Bungahnya hati seorang perempuan banyak. Ada yang dari barang-barang mewah. Ada yang dari di ajak pergi liburan keliling Eropa. Menikmati musim panas di negara tropis terbaik dan menyaksikan banyak lampion yang beterbangan. Ada juga yang hanya dengan satu barang berharga tersemat di jari manisnya lekas sebuah ajakan pernikahan terjadi.
Perempuan meski nampak ribet, mereka adalah makhluk paling memahami isi dunia. Terutama lelaki yang sudah mau memperjuangkan dirinya dan menghargai cintanya. Perempuan walaupun misuh-misuh tidak jelas karena satu keinginannya yang tidak di turuti, cinta bagi mereka dan janji yang sudah di ucapkan di tepati. Semuanya menjadi sangat indah di satu waktu. Jadi, ayo rubah cara pandang kalian soal perempuan yang katanya identik dengan keglamouran. Tidak semuanya begitu.
Perempuan berjuang dan bertahan melalui masing-masing kondisi yang tidak bisa di sama ratakan. Atau perempuan berbuat demikian guna menutupi luka hati di jiwanya yang terongrong kekosongan. Perempuan terlihat angkuh bukan artinya kehidupan mereka sangat high class. Mereka hanya sedang memasang tembok untuk tidak tersakiti lagi. Itu sederhana. Kalian tahu jika perempuan adalah seribu gerakan? Bisa kalian lakukan pekerjaan rumah tangga selayaknya perempuan?
Demikian dengan Ayana. Tidak bisa membuka hati untuk mencintai lagi bukan artinya menutup semua akses untuk menerima. Ayana sadari itu salah. Sejak awal dengan lantang menolak Rambe namun juga enggan melepas lelaki itu. Mestinya jika Ayana menolak tindakan selanjutnya hanyalah menjauh dan pergi. Tidak perlu berada di sekitar Rambe dan memberi lelaki itu harapan untuk bersama.
Siapa yang kejam di sini?
Rambe … pasti sudah belajar lebih keras untuk bisa mencintai Ayana. Karena lelaki itu sudah ditimpa dengan sangat keras bahwa tidak bisa mengandalkan orang lain untuk menghargai, mengerti dan membalas perasaan. Untuk itu, Ayana patut berbangga diri karena Rambe hanya bergantung pada dirinya. Tidak bisa Ayana bayangkan jika suatu saat nanti Rambe berhenti peduli dan mengandalkan dirinya. Apa Ayana siap?
Di dunia ini, menjadi orang baik tidak menjamin orang lain akan menjadi baik juga. Tapi Ayana tidak menjadi masalah. Di samping belajar, Ayana pun coba memahami semua konsep kehidupan. Ayana memiliki kendali terhadap diri sendiri dan bagaimana kita memilih untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tentang orang lain, Ayana hanya bisa memilih untuk menerimanya atau menjauhinya. Sisanya akan Ayana serahkan pada Tuhan.
Terpenting sekarang, Rambe mau mengajarinya mencintai lagi tanpa ada rasa takut yang membelenggu. Paling penting sekarang, Rambe ada bersama dan selalu di sisinya. Ayana sudah belajar damai lewat Rambe yang mau bertahan demi dirinya. Dan enggan untuk berperang dengan masa lalunya lagi.
***