Terkadang dan ada kalanya kita salah dalam mengambil tindakan. Seperti seseorang yang menyatakan perasaannya kepada orang yang di sukainya: kamu orang yang kukenal. Kamu orang yang kucintai diam-diam. Kamu harapan bagiku yang takkan pernah kulepaskan. Mengungkapkan bukan berarti menginginkan sebuah keterikatan hubungan. Kecuali jika Tuhan memang sudah berkehendak. Hati sekeras apa pun akan mencair dengan sendirinya. Ini murni tentang mereka yang mempunyai keberanian untuk mengambil kesempatan dan menanggung risikonya.
Normalnya, kupu-kupu yang mengitari perut akan beterbangan mendengar pernyataan cinta ini. Namun alih-alih bahagia, kita justru salah mengambil langkah untuk memulai. Sama halnya dengan memulai. Karena tidak semua orang bisa langsung memutuskan. Ada yang secara spontan mengangguk namun menyesal di kemudian hari. Ada yang sekadar penasaran dan sesudahnya selesai. Kembali lagi; Tuhan Maha Mengetahui dan membolak-balikkan hati. Kita hanya bisa mengikuti arusnya. Tanpa membuat sebuah kenangan penuh luka.
Bagaimana enaknya kita membahas bab ini. Karena seluruh dari konsekuensi cinta dalam mencintai pasti memiliki takaran yang tiap orang berbeda-beda. Ada yang langsung nyambung dalam satu kali klik memencet tombol. Berjuangnya nanti ketika semuanya telah di usahakan agar bisa bersama. Ada juga yang harus menjalani masa perjuangan di mana masing-masing pasangan harus bertukar pikiran dan tenaga. Mempertahankan berbagai argumen guna di jalankan bersama. Apakah bisa masuk ke dalam kategori kenyamanannya menjalin hubungan atau tidak.
Begini saja. Kita kulik sedikit tentang masa pacaran yang biasa di lalui dengan tebar pesona dan mengumbar perasaan. Melambungkan asa pasangan masing-masing sebelum—jika cocok—menuju ke pelaminan dan jika tidak bubar di tengah jalan.
Pacaran hanya menampakkan sisi luarnya saja. Yang terlihat hanya betapa cantik dan gantengnya pasangan kita. Yang terlihat di mata kita hanya baiknya tanpa menunjukkan betapa buruknya amarah yang sedang di tahannya. Dan ketika sudah meledak, bomnya menyebar ke seluruh penjuru. Membahas masalah-masalah kecil di angkat ke permukaan menimbulkan perintilan yang tidak semestinya. Meneriaki nama satu sama lain. Mencaci, memaki dan sampai di ujung lidah terucap kata pisah. Selesai sudah. Yang tersisa hanyalah benci dan sakit.
Maka pikirknlah lebih jauh sebelum menjatuhkan pilihan pada sebuah hati yang hanya membuatmu melambung tinggi. Jatuh cintalah dengan orang yang melihat sisi terburukmu, bukan hanya baikmu saja. Dengan orang yang tahu betapa tidak baik-baiknya saja kamu meski kamu berusaha terlihat baik-baik saja. Dengan orang yang mengerti sakitmu dan ingin menyembuhkannya. Dengan orang yang telah berdiri di sisimu melewati masa sulitmu.
Kini Maha temukan seseorang yang mau mendengarkan tiap keluh kesahnya. Dengan orang yang sudah tahu seperti apa lukanya di masa lalu namun masih mau bertahan berdiri di sisinya. Dengan orang yang sudah melihat seperti apa kesakitan Maha namun tetap mau bersamanya. Itu suatu hal yang tak di duga-duga untuk Maha ucapkan rasa syukurnya. Tuhan memang seadil itu untuk mau mengabulkan semua doa dan harapannya.
“Kamu senyum?” Pulung bertanya dengan sinis. Raut wajahnya tidak santai sama sekali di pagi hari yang mendung ini. “Pamer banget, sih!”
Menguarkan tawa di bibir Maha yang astagfirullah sekali. Pulung kalau sedang cemburu suka nggak pakai akhlak. Bukannya mengakui malah misuh-misuh sendiri. Padahal tinggal bilang: ‘Aku nggak suka sama senyum yang kamu tebar-tebar itu. Berasa kayak bagi sembako loh’ dan beres. Tapi Pulung memang punya banyak cara untuk menyangkal.
“Kamu tahu?”
“Enggak.” Juteknya menjawab.
“Ya sudah.” Maha pun diam. Tidak melanjutkan. Menahan tawa. Menunggu tindakan Pulung selanjutnya.
“Ngomong nggak!?” Benar saja. Firasat Maha juga sama kuatnya dengan milik perempuan. “Atau aku ngambek.”
OW-OWKEY. Maha baru tahu kalau Pulung sudah pandai mengancam. Masalahnya, ngambeknya Pulung memang paling estetik. Bayangkan! Ngambek sekali tapi mogok ngomongnya berhari-hari. Atau kalau ada keperluan saja baru bersuara. Sudah macam apa saja gitu, ya, kan. Maha bingung juga kelimpungan di buatnya. Kamu ngebalas, kok nggak etis. Masa cowok ngambek juga. Harga dirinya di mana coba?
“Jadi aku nemu kata-kata—”
“Buat ngerayu cewek mana lagi?”
Di su’udzoni rasanya sesuatu sekali hyung. Ada enaknya terus bagian enggak enaknya, ya, buang saja lah. Di mana-mana nggak enak nggak perlu di konsumsi.
“Ada perbedaan antara senang dan sayang.” Dahi Pulung berkerut-kerut. Tidak paham kenapa Maha membahas ini. Kedengarannya freak tapi cukup membuat Pulung penasaran. “Senang atau suka itu cuma di jadikan ajang tontonan.” Karena tidak ada jawaban dari Pulung, Maha melanjutkan. Dan melirik sebentar sebelum berdeham. “Tapi sayang artinya di rawat, di buat nyaman dan di bikin tenang. Sama kayak kamu memperlakukan tanaman hias di rumah. Kamu sayangi mereka, kamu rawat mereka, kamu tempatkan mereka di beberapa titik yang sesuai menurut jenis tanamannya. Yang nggak bisa kena matahari, kamu simpan di tempat semestinya. Yang memang tahan sama matahari, kamu letakkan di tempat terbuka.”
“Oh, jadi kamu nggak suka halaman rumah di taruhi tanaman hias?”
Begitu lah wahai Bu-ibu. Perempuan dan jajaran wanita lainnya paling doyan kalau di suruh mengambil garis kerasnya saja. Casing bisa menipu sedang isinya belum tentu. Maka hanya senyum yang bisa Maha lebarkan. Mengurut d**a terlalu takut untuk dirinya lakukan. Entah ada apa dengan Pulung yang menjelang hari H pernikahan justru uring-uringan.
“Senang atau suka itu gampang, Yang. Kamu tinggal suka saja. Tapi sayang, itu yang susah. Sama kayak kamu naruh rasa ke aku dan aku ke kamu.” Kicep langsung. Diam dan bungkam seribu bahasa.
Maha hentikan mobilnya. Meregup kedua bahu Pulung. Sebelum membuka sesi obrolan lebih dalam, matanya melirik ke arah lampu rambu yang masih panjang.
“Aku belum pernah bilang ini; makasih.” Mulai Maha dan menjeda dengan kepala terjulur ke depan. Mengecup dahi Pulung lama. Menyalurkan rasa yang tumbuh tanpa permisi. Kian membesar dan bertambah di setiap harinya. “Aku pernah minta ke Tuhan buat jatuh cinta sama sahabat sendiri. Makasih karena kamu yang hadir dan menjadi jawaban. Makasih karena ternyata kamu yang paling tepat dan mengisi seluruh kekosongan hati aku. Makasih, makasih, dan makasih.
“Kamu yang menginspirasi aku untuk bisa berubah sejauh ini. Bikin aku jadi orang baik terlepas dari mana bentuk dosa yang aku buat di masa lalu. Kamu yang memberi dorongan ke aku buat ngejar impian. Ingat pertama kali kita ketemu?” Pulung mengangguk dengan cepat. “Aku nggak pernah lupa hari itu.
“Kamu orang pertama yang percaya ke aku kalau aku bakal berhasil seperti apa yang aku ucapkan. Kamu orang pertama yang ngasih dukungan ke aku bahkan di saat aku nggak punya apa-apa. Yang saat orang lain ninggalin aku, kamu tetap di sini, tetap setia sama aku tanpa melihat kayak gimana kesalahan dan kekurangan yang aku punya. Makasih sudah hadir di sini.”
Benar. Jatuh cinta memang sesimpel itu. Begini saja Pulung merasakan bunga-bunga bermekaran di sekelilingnya. Begini saja Pulung enggan mengalihkan pandang dari Maha yang menatapnya penuh pancaran cinta. Dan benar juga, jatuh cinta bersama orang yang mengerti kita, membaca ekspresi kita, tahu tentang harapan-harapan kita, ketakutan, impian dan tidak pernah menghakimi keaslian kita. Seseorang yang berani menyuruh kita untuk jangan jatuh cinta kepada orang yang beracun. Yang akan menyeret kita pada kondisi yang berantakan dan risiko memilukan yang tidak cocok dengan kita. Karena itu memiliki maksud bahwa dialah yang mencintai kita dengan sangat dalam.
“Kamu baperan banget,” jawab Pulung membuat Maha melotot kesal. “Berarti kamu cinta kali kali kali ke aku dong, ya.” Goda Pulung. Maha mendengus. “Kamu peduli sampai kamu berjuang segini jauhnya. Kamu selalu ada buat aku dan Bara tanpa pamrih. Aku juga lebih berterima kasih. Kamu sudah hadir di sini.”
Sekali lagi, Maha tuturkan dalam hati banyak-banyak terima kasih. Karena Pulung pun memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Merasakan apa yang dirinya rasakan. Membayangkan apa yang dirinya bayangkan. Dan mengharapkan apa yang dirinya harapkan. Semuanya nampak nyata dan menguap dalam rona bahagia di sudut bibirnya yang tak bisa tersamarkan. Lengkungan sabit terus terbit. Maha senang bukan main.
***