Tidak bisa berkata-kata menjadi tema di sore itu. Drama baru sedang tayang. Dan Ardika mulai goyah dengan pendiriannya. Antara Dante dan Naomi, tidak bisa dirinya pilih salah satu. Memilih Dante seperti melepaskan Naomi. Memilih Naomi sama halnya menyiapkan hati kehilangan istri dan putri keduanya. Sedang makna dari keduanya sama pentingnya bagi kehidupan Ardika. Kenapa memilih bisa serumit ini?
Meski dalam hidup memiliki pilihan yang mutlak untuk di jatuhkan, bisakah jangan membuat Ardika menjadi pengecut ketiga kalinya?
Ardika ingin keduanya, jika itu bisa. Ardika ingin Naomi bersamanya. Ardika juga ingin Dante dan Armani bersama dengan dirinya. Sama-sama menjalin kisah selayaknya keluarga pada umumnya. Membina rumah tangga yang sebenar-benarnya arti dari saling peduli dan memberi perhatian.
Dante juga demikian. Bungkam menjadi satu-satunya jalan untuk dirinya lakukan. Saat ini, selain membiarkan Ardika bersama pikirannya yang carut-marut, ada banyak rencana tersusun untuk segera dirinya jalankan. Meski begitu, tidak semudah bayangannya, nyatanya, melihat Ardika yang begitu rapuh tanpa Naomi, menyentil sisi terdalam hatinya.
Sudah Dante siapkan hati untuk mencintai. Apa pun risikonya, Dante sudah menyiapkannya dengan rapi. Untuk hatinya yang bisa menerima dengan ikhlas jika hendak kehilangan suatu hari nanti. Itu cukup untuk dirinya saja selama merenungkan. Lalu berpindah pada Ardika. Dante beri waktu untuk suaminya bisa melihatnya. Dirinya yang hadir di sini. Dirinya yang ada di sampingnya. Dan dirinya yang siap mengorbankan apa saja. Hanya untuk Ardika. Sebab, hati Dante pun butuh untuk di cintai. Dante pun pernah patah hati dengan luka yang sangat mendalam sehingga perihnya luka masih sering menganga.
“Aku kalau bisa mutar waktu, maunya nggak ketemu kamu.” Dante lirik Ardika yang menegang di tempatnya. “Karena ternyata cinta sama kamu nggak ngasih jaminan buat aku bahagia. Kamu baik dan itu nggak cukup buat aku ngerti arti cinta yang sebenarnya.”
Bahkan jika bisa, Dante tak ingin mengenal cinta lagi setelah ini. Dante ingin sendiri dan enggan berada di titik ini lagi. Lebih dari apa pun, rasanya sungguh melelahkan. Berjuang sendirian, cinta sendirian, dan sakit sendirian.
“Kamu nggak sepantasnya ngomong kayak gitu. Aku pernah ada di posisi kamu—”
“Sekurang-kurangnya aku ini perempuan. Egoku maunya di perjuangkan alih-alih berjuang bareng. Tapi abang?” Dante mendengus dan mengalihkan pandangannya. Percuma mengangkat obrolan ini menjadi topik. “Aku cuma pemeran pengganti di drama romansa yang abang mainkan.”
Tidak tahu lagi harus seperti apa Ardika menjawab. Dante di lingkupi amarahnya. Memberikan penjelasan bagaimana dulu dirinya berjuang, takkan membuahkan hasil. Perempuan dengan kekeras kepalaan memang sangat sulit untuk di tentang.
“Jatuh cinta yang romantis, di peluk dengan janji-janji yang manis, sampai akhirnya, semuanya meninggalkan luka, kecewa, air mata dan trauma.”
“Ini bukan akhir, Dante. Belum—tidak akan pernah.”
Inginnya Dante percayai. Apa yang Ardika ucapkan mengandung banyak gula yang berpotensi membuatnya kesakitan. Apa ada jaminan?
“Kamu berhak bahagia. Hatimu baik dan aku berhak memeluknya. Dalam cintaku yang tulus dan jujur. Tapi Dante …” Susah payah Ardika legut lidahnya yang terasa bercampur dengan paku tajam. “Beri aku waktu.” Sampai kapan? “Ibaratkan luka hari ini adalah bentuk cara dari Tuhan menguatkanmu, mendewasakanmu, dan menggantikan semua yang patah dengan sesuatu yang baru.”
Netra Ardika yang Dante hujam memancarkan sejuta harapan baru. Sebuah jalan untuk keduanya menuju kebahagiaan. Yang bisa di raih secara bersamaan. Apakah mungkin?
“Kita perlu jeda. Ruang untuk kembali bisa tersenyum dan saling percaya seperti dulu. Bahwa semua hal yang hari ini melukaimu—kita dan keluarga kecil kita—akan membuatmu kian kuat di masa mendatang. Jadi, berhenti memberi kutukan. Kamu nggak berhak melangkahi kuasa Tuhan entah untuk masa lalu atau pun masa yang akan datang. Kita hanya perlu bahagia dan sembuh tanpa terburu-buru.”
Namun semuanya tidak semudah yang Ardika katakan. Dante selalu punya bayangan-bayangan indah yang keluar dari jalurnya. Berharap datangnya seseorang yang hatinya cukup luas untuk dirinya tinggali. Itu pun untuk Ardika. Yang hatinya tahu caranya bersetia—hanya kepada diirnya—dan paham pada tanggungjawabnya. Yang sayangnya pun belum sepenuhnya bisa Dante genggam dasar hati Ardika hingga detik ini.
Lalu, apa gunanya bertahan?
Keinginan Dante tidak banyak. Ia hanya ingin terus menyukai Ardika walau hanya sebagai pendengar dan sahabat. Meski tahu suatu hari nanti Ardika memiliki pilihan untuk tidak menyayangi Dante lebih dari seorang sahabat. Andai bisa begitu dan Dante ingin terus mencintai Ardika. Tanpa memikirkan bagaimana takdirnya yang akan kehilangan Ardika.
Sampai dengan hari ini, masih terus Dante yakinkan dalam hatinya bahwa cintanya untuk Ardika tidaklah jahat. Hanya cara mendapatkannya saja yang berbeda dari kebanyakan. Dante benar-benar merasa terpuruk. Pada dirinya sendiri yang tidak seberharga itu untuk di miliki. Pada dirinya sendiri yang semurah itu sehingga di nilai sebelah mata. Pada dirinya sendiri yang begitu rendah sehingga berharap pada Ardika untuk mencintainya saja sebuah ketidakmungkinan.
Ternyata ucapan teman lama Dante ada benarnya. Sangat menenangkan ketika kita tahu dicintai dengan begitu baik dalam kejujuran dan kesetiaan. Bahwa untuk percaya pada seseorang yang benar-benar terjaga, memang hanya untuk seseorang yang benar-benar menjaga. Dan Dante tahu itu bukan untuk dirinya apa lagi Ardika. Karena keduanya tidak masuk ke dalam kualifikasi mencinta atau pun dicintai. Keduanya egois yang hanya ingin di dengarkan saja perasaannya tanpa mau mendengarkan satu sama lain. Keduanya kejam bahkan untuk keluarganya sendiri. Yang sekadar menjaga saja tidak mampu untuk melakukan.
“Aku pernah kehilangan.” Vokal Ardika memelan. Kepalanya terdongak ke atas menatapi langit-langit ruang tamu kediaman orangtuanya. Sejenak, kilas balik soal dirinya beberapa tahun lalu menyita ruang pikirannya. “Mungkin aku yang nggak bisa menjaga kejujuran atau aku yang nggak pandai bersetia. Tapi, Nte …” Tubuhnya sudah meregup bahu Dante di mana ada embun yang siap menguap di kedua mata istrinya. Jantung Ardika teremas. Kesakitan tengah menampar relung jiwanya. “Aku belajar dari kisahku dan ketidakjujuranku. Bahwa sekecil apa pun kebohongan, pada masanya akan terbongkar. Dan aku sedang memulai kisah baru bareng kamu, Naomi dan Armani.
“Aku mulai memahami kata-kata ‘terjaga’ dan ‘menjaga’ sejak bersama kamu. Aku berhenti menuntut kamu untuk menjadi pasangan yang baik. Semestinya aku—di mulai dari aku—karena aku kepala rumah tangga di sini. Aku perlu memperbaiki diri dan inginnya kamu yang membantu. Nte … please. Sekali lagi. Pernah dengar kalau jodoh adalah cerminan diri kita?” Dante mengangguk. “Itu hukum alam yang memberlakukan. Dan percaya kalau aku cuma mau kamu, Naomi dan Armani?”
Akan Dante buka satu buku sebagai lembaran baru dalam memulai. Untuk hatinya yang jatuh cinta kepada Ardika; orang yang membuatnya tertawa. Yang membuatnya tersenyum bahkan ketika rasa sakit menjunjung tinggi ke permukaan. Dengan Ardika yang membuat hari-harinya terasa sangat luar biasa. Bersama Ardika yang telah banyak melihat betapa buruk dirinya, betapa busuk perilakunya dan betapa licik caranya untuk mendapatkan cinta. Itu Ardika. Dan bersamanya, Dante merasa ingin di miliki serratus kali lipat lebih banyak.
***