Dahulu, pertama kalinya Maharaja Askara jatuh cinta, itu menjadi sejarah dalam patah hatinya pertama kalinya pula. Menggilai Pulung Rinjani bukan sesuatu yang mudah ternyata. Di samping perempuan yang akan dirinya persunting sebentar lagi itu masuk dalam golongan kurang peka. Pulung juga amat menjaga sebuah hubungan. Percayanya begini; pertemanan yang sudah di campuri dengan perasaan, akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Bersama sebagai pasangan kekasih yang langgeng, mengenal satu sama lain dan mencintai satu sama lain. Atau kehilangan bersama karena satu pihaknya tidak menerima alasan apa pun dari pihak yang satunya. Dan Pulung adalah tipe orang yang mengambil kesempatan selagi itu masih ada.
Jika di rasa kesempatan itu membuat sebuah hubungan yang di bangunnya akan renggang. Memilih tidak sebagai jawaban akan Pulung tegaskan. Namun jika tidak berdampak apa-apa—sekali pun mustahil—lebih baik seperti ini; berteman dan berbagi. Tanpa melibatkan hati.
Pernah Maha dengungkan dalam hatinya. Sebuah tanya yang kini terjawab dengan denyutan sakit. Kira-kira berapa persen sebuah hubungan baik yang baru di mulai malah di cemari oleh perasaan? Apakah ke depannya akan baik-baik saja atau malah hancur seketika? Pikiran manusia tidak ada yang tahu. Benar.
Terkadang manusia pun berlaku kejam terhadap manusia lainnya. Tidak peduli seberapa sakitnya seseorang terpenting baginya, tidak mengambil kesempatan yang ditawarkan, tidak menjadi masalah. Maha masih heran. Itu saja.
Sembari menunggu antrian mobil di depannya melaju. Kondisi hujan yang mengguyur sejak pagi menciptakan kemacetan panjang. Jari-jari Maha mengetuk permukaan setir mobilnya seraya menggumamkan lagu yang sedang terputar di radionya.
“Waktu telah berdetak, hati yang berlari. Berpikir dewa asmara merencanakan sesuatu. Kau bertanya padaku bagaimana aku merasa, aku tak mengatakan apa pun. Tapi akhir-akhir ini terlihat begitu cerah berwarna. Dan bintang-bintang menerangi malam. Kakiku merasa sangat ringan. Aku mengabaikan semua tanda-tanda.”
Liriknya seperti mengingatkan dirinya selama beberapa bulan ini. Meski tidak begitu masuk untuk hatinya yang tengah berbunga-bunga. Namun kata ‘berwarna’ yang di lantunkan menghantam detak jantung Maha bahwa Pulung ada dalam tiap langkahnya.
“Aku terus berbangga, ya, aku terus menggertak. Aku terus bertanya-tanya. Terus berburu untuk cintaku. Karena aku ingin kita berpelukan. Ya, aku tetap membandel. Karena aku tak bisa mengakui, bahwa kau punya tali. Dan tahu bagaimana untuk menarik mereka”
Benar. Maha amat bandel perkara hati. Diam-diam, dengan berani memperhatikan Pulung. Diam-diam, dengan berani mengamati tiap pergerakan Pulung. Diam-diam, tanpa sadar mendatangi Pulung dan menawarkan obat luka untuk perempuan itu mau menerimanya. Sehingga Maha bertanya-tanya karena kesulitan mengakui perasaannya sendiri.
“Aku pikir aku jatuh cinta lagi. Kepalaku, ya, kau ada di kepalaku. Aku tak berpikir itu bisa menjadi kenyataan. Biarkan saja itulah kau.”
Yang ini akan Maha akui dengan sangat keras. Bagaimana hatinya berseru girang kala tahu jika rasanya untuk Pulung masih sama. Getaran jantungnya juga tetap utuh meski tahun-tahun telah berganti. Sampai Maha biarkan saja kalau rasa ini memang benar.
“Hatiku tak mau diam. Aku bingung, aku merencanakan. Aku melihat sesuatu yang tak pernahku lihat. Dirimu, itu membuatku gemetar. Aku pasti berhalusinasi. Aku mendengar hal itu terjadi, aku hanya bilang ‘Sayang aku hanya bilang’. Seseorang memberiku beberapa kertas. Seseorang memberiku beberapa krayon.”
Rencana Maha yang tersusun, bermula dari hatinya yang diam. Layaknya halusinasi ketika tersadar bahwa getaran hatinya terus tertuju pada Pulung. Sampai bibirnya berteriak perihal kertas dan krayon yang diberikan oleh seseorang. Maha lukiskan semua perasaannya di sana. Tertuang bersama cinta dan sayang yang tak bisa di tebak bagaimana awalnya.
“Aku merasa seperti anak kecil, aku butuh sesuatu untuk bermain. Aku berusaha keras untuk memeprcayaimu, ketika kau mengatakan, “berikan tanganmu.” Sayang, aku terjatuh, kuharap kau menangkapku ketika aku mendarat.”
Saat Pulung pada akhirnya menerima pernyataan cinta Maha dan menjawab dengan senyum seraya bisikan ‘berikan tanganmu’. Tak ada kata-kata seindah senyuman yang terus tercetak di bibir Maha. Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, Maha ingin berkeliling taman sore itu. Tidak peduli orang-orang yang melihatnya akan menatapnya aneh. Maha terlampau bahagia atas penerimaan yang Pulung berikan.
Kini, sesuatu yang awalnya Maha anggap sulit, menjadi sangat mudah kala Pulung membuka jalannya. Mau tahu bagaimana Maha menyimpan rasanya dengan sangat rapat? Cukup dengan diam. Dan Maha mencari kesenangan lain yang mengalihkan pikirannya untuk tidak tertuju pada Pulung. Tidak mudah. Semuanya membutuhkan waktu dan cara proses yang tidak sebentar. Di titik ini Maha ucapkan banyak syukur. Karena Tuhan tak pernah memutuskan cita-cita cintanya meski tidak semudah orang-orang mendapatkannya.
“Kok tumben cepat?” Pulung menyambut Maha bersama Bara di teras. Rintikan hujan masih menetes dan itu kesukaan Bara semenjak pindah ke rumah yang telah Maha siapkan. Bukan lagi apartemen yang mereka tinggali selama dua tahun. Pikir Maha, Bara dan calon adik-adiknya membutuhkan tempat lebih lapang untuk mengembangkan imajinasinya untuk bermain. “Mau makan sekarang apa nanti?” Tawar Pulung.
Gelengan Maha diajukan sebagai jawaban. Dan menghampiri Bara yang tengah asik dengan mainan pancingnya. Tidak terusik sama sekali meski Maha mengalungkan tangan kekarnya di sekitaran leher kecilnya.
“Mandi dulu, deh Sayang—”
“Sayang,” ulang Bara mengikuti. Lidahnya terdengar jelas saat kata ‘Sayang’ Maha luncurkan.
“Kamu, ih!” Misuh Pulung. Menarik telinga Maha agar jangan mengulangi perbuatannya lagi.
“Ya ampun, Say—”
“Paaa ucu.”
Maha dan Pulung sama-sama tertawa. Bara yang mulai aktif bicara akan mengikuti semua ucapan yang di dengarnya. Membuat Pulung ingin selalu melingkari hari-hari tertentu untuk menjadi pengingat. Pulung ingin memeluk hari ini ketika nanti usia senja memakan ingatannya. Pulung ingin mengingat semua kejadian hari ini ketika nanti mendung di hatinya menyapa. Menjelaskan bahwa seburuk apa pun takdir masa depan menyeret sebuah nasib, Pulung berhak untuk bahagia.
Berlaku untuk Maha yang kini menciumi pipi putranya dengan sayang. Pulung panjatkan banyak terima kasih yang tak berkesudahan pada lelaki yang mau menerimanya dengan lapang. Yang selalu Pulung percayai ketika nanti atau saat ini hanya Maha yang bersiap mendengarkan berita terburuk tentang dirinya.
Ingin Pulung janjikan, tidak ingin pergi meski nantinya di hadapkan pada kejadian-kejadian yang sulit. Pulung ingin menghargai Maha begitu juga sebaliknya. Karena bagi Pulung, Maha amatlah berharga untuk dirinya. Pulung ingin mencintai Maha setulus-tulusnya selayaknya Maha yang mencintai dirinya tanpa syarat.
Semoga yang selalu Pulung panjatkan dalam doa; tidak ada satu pun yang terlepas dari genggamannya. Semoga untuk selamanya kita bisa berbagi cerita sebagaimana mestinya pasangan. Dan semoga apa yang menjadi semoga terpeluk di langit semesta.
***