Wajah Naomi yang semringah mendadak suram. Hilang tak berbekas begitu matanya bersinggungan dengan sosok papa dan mama tirinya. Terlebih ada bayi dua tahun dalam dekapan Ardika. Rasanya Naomi ingin menangis dan meluapkan segala amarahnya. Namun alih-alih mewujudkan apa yang ada dalam pikirannya, datar maksimal yang Naomi pilih untuk menutupi sakit di hatinya.
Katanya: ‘bahagia itu kita yang ciptakan.’
Pernah Naomi dengar kalimat itu lewat serial televisi. Entah apa judulnya, lupa adalah jalan paling tepat untuk dirinya sematkan.
“Papa kangen Omi.” Bisikan Ardika lirih. Ada cekatan suara di tenggorokannya bersamaan dengan kedua kakinya yang bertumpu pada lantai dan air matanya meluruh sembari memeluk Naomi. “Kangen banget.”
Dan Naomi memilih bungkam. Kedua tangannya terkepal di sisi kanan dan kiri. Tusukan jarum tak kasat mata sedang mengucurkan darah di jantungnya. Rasanya sakit namun juga bahagia. Rasanya pedih namun juga bersyukur. Setidaknya papanya tidak melupakan keberadaan dirinya dengan berkunjung ke rumah oma opanya. Tapi tetap saja. Ada jeda penerimaan yang harus Naomi lakukan untuk ini semua. Atau malah tidak sama sekali?
Bukan ingin bertindak egois. Naomi hanya meminta satu hal dari papanya untuk jangan bertindak sejauh ini lagi. Rasanya Naomi takkan bisa bertahan. Ini terlalu sulit di saat semua teman-temannya memiliki satu ibu yang terus mendampingi aktivitasnya. Naomi harus rela kehilangan momen itu. Apa salah, Naomi meminta mama Pulung untuk terus bersama papanya?
Sekarang, siapa yang paling bersalah di sini?
Naomi yang egois atau papanya yang kejam?
Mengucurkan luka tak berkesudahan. Sampai Naomi pikir ‘ah, tidak memiliki mama bukan sesuatu yang buruk’ atau ‘tanpa mama dunia takkan runtuh’. Benar, mestinya begitu. Sejak awal seharusnya seperti itu. Bukan melimpahkan kebahagiaan yang ujungnya menggoreskan luka.
“Oma…” Panggil Naomi lirih. Mija mendekat. Di mana lingkupan Ardika masih menempel dengan tubuh Naomi. “Omi mau bobok. Sama Oma.”
Kali ini Ardika tahu bagaimana sakitnya penolakan. Dan baru saja Naomi membalaskan karma yang memang ada. Naomi—putrinya sendiri—baru saja menolaknya. Tidak lagi membutuhkan dirinya sebagai teman tidur dan itu rasanya lebih sakit dari sebuah tusukan pisau.
Mija kebingungan. Tidak serta merta menyetujui apa yang cucunya pinta. Kedua bola matanya bergulir menatap Naomi dan Ardika secara bergantian. Tak mendapat seperti apa yang Mija harapkan dari cucunya pun dengan Ardika yang terlihat syok. Mija gerakkan bibirnya tanpa suara ke arah sang suami. Yang sama tegangnya dan tidak tahu harus berbuat apa.
Katakanlah ini situasi ter-awkward. Mija tidak bisa berbuat apa-apa selain menggiring Naomi menuju kamarnya. Dan dengan itu, bocor sudah air mata Ardika. Yang mati-matian di pertahankan.
Sekarang Ardika paham makna sendiri yang sesungguhnya. Karena dirinya yang merasakan tangis di mana hanya dirinya yang tahu bagaimana kondisi hatinya. Karena dirinya yang menangis diam-diam meski ada istri dan papanya dalam satu ruangan. Nyatanya tak membantu sama sekali untuk Ardika tahankan kucuran airnya.
Dan sampai di mana Ardika raba dadanya. Yang dengan sombongnya sudah sangat mengenal Naomi, nyatanya belum. Yang selalu membatin bahwa hanya dirinya saja yang mengetahui dan tahu cara mengatasi Naomi. Itu juga belum sama sekali Ardika dapati. Ardika merasa menjadi orangtua yang gagal. Ardika merasa berdosa untuk setiap rasa yang Naomi alami di hidupnya.
Di usia tujuh tahunnya dan Ardika torehkan luka yang begitu dalam. Perceraian, pernikahan dan kebersamaan dengan wanita-wanita dalam hidupnya. Harus Naomi saksikan secara langsung.
Rasanya, kalimat ini pantas untuk Ardika sematkan:
‘Semengenal apa pun orang lain berkata mengenal kita, pasti ada satu sisi di mana hanya kamu yang benar-benar memahami diri sendiri.’
Bahwasannya hanya Naomi yang mengenali tentang dirinya sendiri. Hanya Naomi yang tahu apa yang diinginkan hatinya. Dan apa yang menjadi harapan-harapan di tiap doa-doanya.
‘Seberapa sabar yang harus di bayarkan. Tentang seberapa tegar kita menghadapi cobaan. Seberapa kuat kita melewati badai di dalam kepala. Seberapa banyak air mata harus terjatuh dan hal-hal apa saja yang telah di korbankan.’
Mungkinkah ini akhir dari perasaan yang menggumpal di d**a Naomi? Sehingga memilih pergi dari Ardika—tidak—bukan pergi. Namun menjauhinya. Jadi, sudah sejauh itukah Naomi dalam bertahan? Pada badai prahara rumah tangganya yang hancur lebur. Pada keinginannya memiliki sosok ibu yang tak bisa Ardika berikan. Tentang perilaku dan sentuhan-sentuhan kecil yang berasal dari seorang ibu. Tak bisa Ardika kabulkan padahal itu bukan pekerjaan yang sulit. Ardika hanya perlu menikah dan bersetia.
Tapi apa?
Apa yang telah Ardika ciptakan selain luka menganga?
Apa yang Ardika lukiskan selain titik-titik luka berubah trauma yang terus tercanang di kepala Naomi?
Sampai kapan?
‘Kamu hebat, kamu kuat. Untukmu yang menebar senyum dan aura bahagia. Meski hati tidak sedang baik-baik saja.’
Informan yang Ardika sewa mengirimkan beberapa lembar foto di mana senyum Naomi menjadi sangat mengagumkan. Dan itu bukan jenis tawa yang berasal dari Ardika. Melainkan orang lain. Ardika rasakan hantaman sakit tak berkira di lubuk hatinya. Berdenyut sakit. Berkedut luka membujurkan seluruh saraf tubuhnya.
“Itu yang papa rasakan dulu?” tanya Ardika serak. Suaranya bercampur dengan luka yang di tahan untuk jangan menyebar. “Papa pernah punya pilihan dan saat ini berlaku untuk aku.”
Entah mengapa ada kesinisan di nada bicara Ardika yang membuat Aksara terenyuh. Benar. Sepenuhnya takkan Aksara sangkal. Apa yang telah dirinya tanam belasan tahun lalu, kini sedang dirinya saksikan ulang. Betapa kesakitannya sang putra. Betapa rapuh sosoknya. Betapa cinta telah melemahkannya. Selayaknya dirinya dulu.
Mencintai satu wanita takkan cukup membuat Aksara puas. Namun wanita terakhir adalah perebut unggul yang telah memecahkan kepalanya hingga tujuh keliling. Mencari celah, mencari cara dan menyelinap untuk bisa memiliki waktu bersama. Untuk menyalurkan—tidak hanya hasrat—namun juga pengungkapan tentang cinta secara menggebu-gebu.
“Ini karma terindah yang harus aku jalani. Makasih, pa.” Tatapan Ardika bertemu pandang dengan milik Aksara yang mengembun. Tidak akan pernah ada ampun—sumpah Ardika dalam hati—sebelum Naomi mau kembali bersamanya. Meski itu harus mengorbankan keluarga yang baru saja di bentuknya.
“Jangan!” seru Aksara. Tahu ke mana arah netra Ardika berujung. “Semuanya bakal sia-sia kalau kamu lakuin hal yang sama.”
“Apa maksudnya?” Vokal Dante menyela. Tidak mengerti pada pembicaraan suami dan mertuanya. Tapi tahu jika dari raut keduanya, sesuatu yang buruk sedang di rencanakan. “Abang jangan macam-macam, ya! Jangan ingkar soal janji yang sudah abang bilang.” Seyogyanya Dante tidak terima jika harus di perlakukan secara tidak adil lagi. Sudah cukup Pulung yang mendominasi seluruh kekacauan ini. Sekali lagi, tidak akan Dante biarkan, siapa pun merebut keluarganya. Termasuk Ardika.
***