Jadi kisah tentang Ayana juga masih berlanjut. Meski bukan tokoh utama namun karena pernah terlibat dengan si aktor dan aktris, nama Ayana terus terseret. Hingga beberapa bab ke depan dan melanjutkan jalannya sendiri.
Seperti pagi ini misalnya. Di balkon apartemennya yang bersinggungan dengan mentari pagi, hiruk-pikuk Jakarta tak pernah berubah. Waktu baru menunjukkan pukul enam pagi. Dan bisingnya klakson sudah memekakkan rungunya. Sembari menunggu semburat orange kian meninggi, Ayana usapi perut buncitnya. Ah, sudah berapa lama, ya?
“Kamu nggak mau mandi?” Rambe melingkarkan tangan kokohnya di atas lengan mungil Ayana. Menggetarkan gelenyar aneh yang akhir-akhir ini membuat Ayana kebingungan. Pasalnya, hormon miliknya tidak stabil. Kadang, jenis sentuhan model apa pun yang Rambe salurkan menjadi sangat sensasional di darah Ayana yang berdesir. Namun tak jarang membuatnya uring-uringan. Layaknya keinginan lebih untuk di sentuh tanpa mau berhenti.
“Malas,” jawabnya singkat. Bibirnya mengerucut yang langsung di sambar Rambe. Penuh tuntutan dan Ayana terlena di buatnya. “Stop! Jangan godain aku!” Gerutu Ayana. Membalikkan tubuhnya, memandang wajah Rambe sejenak dan hengkang dari sana.
“Aku salah apa?” Rambe mengejar. Lelaki itu tahu apa yang Ayana rasakan dan apa yang Ayana butuhkan. Mood swing yang berubah-ubah jelas mempengaruhi segala tindak-tanduk Ayana. “Kamu pengen sesuatu?” Gelengan dan mulut rapat terkunci diajukan menjadi jawaban.
Helaan napas Rambe memburu. Sedikit bingung bagaimana cara menjinakkan perubahan di diri Ayana. Dokter yang sudah mewanti-wanti tak cukup membantu untuk Rambe bisa lebih bersabar. Bukan ingin meluapkan amarahnya atau sama-sama meluapkan emosinya. Terlalu mencintai Ayana, perasaan yang Rambe tanamkan pun menjadi hal terburuk dalam menentukan tindakan.
Bagaimana jika mendadak Rambe terseret arus kemarahan Ayana?
Bagaimana kalau Rambe kesulitan menahan diri?
Bagaimana kalau cinta yang di milikinya untuk Ayana pudar secara perlahan hanya karena memendam kekesalan?
Rambe takut. Jujur saja. Peran yang tengah dirinya nikmati saat ini, kadang-kadang membuatnya lupa diri. Sedetik terbang ke awang menembus cakrawala. Sedetik terhempas di atas bebatuan runcing. Sedetik kemudian ada desakan tangis yang harus dirinya tahan. Rasa cintanya untuk Ayana sungguh mengharu biru tanpa alur yang tepat. Atau karena terlalu lama memendam sehingga semuanya terasa menyakitkan?
Entahlah.
“Aku juga nggak tahu.” Ungkap Ayana menghentikan langkah Rambe menuju kamar mandi. “Aku suka sama sentuhan-sentuhan kamu. Mau melanjutkan ke arah yang lebih normal selayaknya kita melakukan hubungan badan. Tapi…” Jedanya. Kali ini netra matanya menghujam di hazel mata Rambe yang tercetak keantusiasan tinggi. Sebab Ayana mengutarakan apa yang dirasakannya. Oh, ternyata seperti ini di puja dan di perjuangkan oleh orang tercintanya. Diam-diam Ayana bangga dan bersyukur. “Kamu candu aku.”
Meninggilah harapan Rambe. Menembus langit ke tujuh yang langsung menubruk tubuh Ayana. Menguncinya ke dalam dekapan seolah-olah Ayana barang ringkih yang akan melebur jika di lepaskan.
“Makasih. Ini lebih dari cukup buat semua cara kamu nerima aku. Aku janji. Nggak akan minta lebih setelah ini. Cukup kamu dan bayi kita. Itu sudah lebih dari cukup buat aku melanjutkan hidup.”
Tawa Ayana mengudara. Satu tangannya memukul d**a bidang Rambe tidak keras sedang satunya lagi mencengkeram tengkuk lelakinya.
“Kamu lebay,” katanya. “Cuma begitu bisa-bisanya kamu bucin setengah mati.”
Hei! Jangan salah. Karena ini Ayana makanya Rambe bertindak brutal dan gila.
Tapi ya sudahlah. Rambe tak ingin membalas ucapan Ayana lebih dalam lagi. Bersyukur lebih baik dirinya gaungkan dalam hati. Untuk apa pun yang telah Tuhan berikan; cinta dan hati. Itu lebih besar dari kesempatan yang terus berulang-ulang dirinya minta.
Dalam banyak kata. Ingin Rambe tuliskan setiap runtutan perjalanannya. Di mulai dari dirinya yang tidak sempurna, tidak sebaik atau setampan masa lalu Ayana. Namun bukan berarti Rambe tidak pernah belajar untuk memahami dan mencintai Ayana. Bukan artinya Rambe membandingkan. Apakah dirinya sudah sangat pantas bersanding dengan Ayana atau hanya bayang-bayang perempuan itu untuk memulai.
Dan setelah berusaha memantaskan diri. Rambe temukan jawabannya bahwa masa lalu Ayana tetaplah milik Ayana. Tapi masa depan Ayana adalah milik Rambe. Pasti terdengar egois? Tidak peduli itu egois atau tidak. Rambe sudah berjalan begitu dalam. Sudah masuk ke dalam perosok jurang terdalam dan sulit baginya untuk menggapai dasar daratan. Selain terus melanjutkan langkahnya.
Rambe tidak ingin mengubah Ayana. Karena Rambe mencintai Ayana sebagaimana adanya Ayana saat ini. Yang labil dan mudah marah. Yang manja dan selalu ingin di perhatikan. Yang mengomel meski tahu tidak ada satu pun kesalahan yang Rambe perbuat. Rambe terima semuanya dengan harapan Ayana melakukan hal yang serupa. Tidak mengubah dirinya menjadi seseorang yang bukan ‘Rambe’ terlebih membandingkan Rambe dengan masa lalunya.
“Aku malas ke kantor sekarang.”
Plak
Tidak tanggung-tanggung Ayana pukulkan keras-keras tangannya pada punggung Rambe. Mengabaikan akan kesakitan yang lelaki itu ringiskan.
“Kamu aku baikin dikit ngelunjak, ya?! Kamu pikir biaya persalinan itu murah, hah?! Kamu pikir s**u bayi di beli pakai daun? Kamu pikir sekolah anak-anak milik eyangnya yang sesuka kamu titipkan nggak perlu mikir biaya?”
Rambe justru tertawa. Membuat Ayana kesal setengah mati begini sungguh hiburan tiada duanya. Perempuan itu akan merepet sepanjang jalan kenangan dan satu-satunya cara menghentikan hanyalah dengan menciumnya.
“Jangan cium aku!”
Wah, kali ini pergerakan Rambe terbaca dengan jelas. Berkacak pinggang, Ayana tajamkan pandangannya. Andai itu pisau, hunusannya sudah menancap di d**a Rambe.
“Ya aku maunya nemenin kamu, Yang.”
“Alasan kamu! Kamu itu kepala rumah tangga di sini.”
Mendengar itu—bagai angin surga—kepala Rambe terangkat spontan. “Jadi kamu mau nikah sama aku?” tanyanya. Asli, Ayana memang sesuatu sekali. Paling tahu membuat hatinya dugun-dugun. Damage jatuh cinta nggak ngadi-ngadi Bund, meresahkan. Sumpah!
“Aku pikir-pikir lagi soalnya—”
“Oke aku mandi.”
Sepeninggal Rambe yang bersemangat menuju kamar mandi. Kepala Ayana menggeleng pelan. Berdecak kesal dan berganti dengan ekspresi geli. Ingatannya menerawang jauh pada kenangan beberapa tahun lalu. Keputusan demi keputusan yang pernah Ayana ambil di masa lalu, membawa dampak untuk hari ini. Bukan untuk menyesal.
Bersyukur menjadi lebih tepat untuk Ayana lakukan. Karena saat yang paling dirinya tunggu untuk menemukan seseorang—yang tidak hanya menjadi teman hidupnya tetapi menjadi teman tumbuh yang baik—telah hadir bersamanya. Adalah Rambe yang tak Ayana sangka-sangka. Seseorang yang hadir menerima apa adanya dirinya yang mampu membuat dirinya menjadi luar biasa. Membuat Ayana merasakan satu jiwa yang mana Ayana ambil kesempatan karena ini takkan datang dua kali.
Ini buah dari hasil penantiannya selama ini. Dan Ayana mencintai lelaki itu. Yang membawanya pada kondisi terbaik dalam mencinta.
***