Ini hari libur. Tapi Pulung mendapat panggilan untuk datang ke sanggar. Katanya, ada beberapa anak yang meminta di ajarkan menari di hari-hari tertentu. Itu bukan jadwal milik Pulung. Lantaran guru yang biasa mengajar berhalangan hadir, Pulung yang di minta untuk menggantikan. Mau tidak mau karena ini sudah risiko dari tanggungjawabnya sejak awal, maka apa boleh buat selain menerima.
Berangkat dalam keadaan yang masih terang benderang. Setelah dua hari dua malam di guyur hujan, di pukul dua siang ini langit sedikit menampilkan corak biru cerahnya. Udara sejuk yang sejak pagi tadi masih terasa dingin berganti sedikit menghangat.
Maha yang mengantar nampak anteng di tempatnya. Baraja juga melakukan hal yang sama. Seolah keduanya sudah sepakat untuk kompak. Alunan musik terdengar dari saluran radio dalam mobil. Lagu-lagu terbaru dari penyanyi Indonesia yang sedang booming di putar. Request demi request yang di kirimkan lekas terlaksana. Dan lalu lalang di luar sana jelas berbeda dari hari-hari biasanya.
Pulung embuskan napasnya. Pikirannya menerawang menembus cakrawala. Kadang dalam hidup, ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ada beberapa hal yang tidak searah dengan pemikiran. Ada beberapa janji yang tidak bisa ditepati. Pun ada juga beberapa hati yang tak pandai menepati. Semuanya tak bisa disejalankan dengan apa yang kita impikan karena Tuhan punya jalannya untuk tiap-tiap umat.
Tak apa. Jangan jadikan itu sebuah masalah. Sebab kita hanya manusia yang masih jauh dari kata sempurna. Kita manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Kita manusia biasa yang masih jauh dari kata bersyukur untuk setiap nikmat yang Tuhan berikan. Jadi, tidak semua hal bisa kita dapatkan.
“Kamu bawa baju ganti?” tanya Maha setelah sekian lama membiarkan kebisuan tercipta di antara keduanya.
“Kenapa?” jawab Pulung dengan tanya. Tidak biasanya Maha menanyakan hal demikian. Terlebih ini hari libur yang tak ada agenda di keduanya untuk hangout bersama.
“Aku ada rencana—” sudah Pulung duga bahkan sebelum Maha melanjutkan kalimatnya. “Mau renang sama Bara.” Itu juga sudah Pulung gaungkan dalam hati sejak pagi tadi. See, firasat perempuan terlebih itu seorang ibu tak pernah meleset. “Nggak jauh dari sanggar. Jadi nanti bisa sekalian jemput kamu.”
Pulung diam. Bukan ingin marah. Hanya sedang berpikir. Kenapa, ya? Itu saja. Tentang Maha yang sangat mencintai dirinya. Terus terang Pulung penasaran. Tentang Maha yang mau menunggunya sekian lama. Pulung juga penasaran. Kenapa, ya? Maha itu misterius sekali. Pergerakannya tak bisa Pulung tebak. Tindak-tanduknya tak bisa Pulung prediksi? Atau karena Pulung yang tak pandai menilai orang? Atau Pulung yang tak pintar membaca karakter orang? Ini Maha, loh. Yang sudah mengenalnya bertahun-tahun. Aneh, kan?
“Gimana?” Maha tolehkan kepalanya ke samping. Lampu merah menghentikan pergerakan mobil-mobil yang bergerak sehingga ada jeda bagi Maha untuk menatapi perempuan kecintaannya. “Kalau enggak, aku bisa belikan di toko entar.”
Ah, Pulung sudah tua begini jika di tatapi sebegitu intens oleh Maha bisa terbakar kulit wajahnya. Tidak tahu saja gimana Maha memandangnya. Bukan mau terlalu percaya diri dan lain sebagainya. Tapi sebagai perempuan—yang sama-sama manaruh rasa—Pulung tahu jenis tatapan apa yang Maha lemparkan.
Cinta, memuja, dan damba. Menjadi satu dan berjubel di netra Pulung yang tak mau teralih dari sana. Aigoo, apakah ini yang di maksud omongan orang-orang perihal; Tuhan mengambil apa yang kita punya bukan karena tidak pantas untuk memilikinya. Tetapi Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita terima dan apa yang kita butuhkan.
Omo! Apa ini artinya … Astaga, Pulung seperti baru tersadar dari komanya selama satu tahun.
Pergerakan Tuhan dalam memberikan kebahagiaan pada tiap-tiap umatnya sangat tidak tertebak. Tahu-tahu Pulung ada di sini, bersama lelaki yang tak pernah dirinya sangka-sangka. Yang akan merajut tali kasih bernama mahligai rumah tangga. Untuk ketiga kalinya dan Maha tidak pernah mempermasalahkan masa lalu maupun statusnya.
“Oke, beli saja.” Putus Pulung. Lama berkecamuk dengan teori cinta dalam pikirannya sampai mobil bergerak pun tidak dirinya rasai.
“Kamu ngelamunin apa?” Maha punya tingkat keingintahuan yang tinggi. Mengalahkan bayi seperti Baraja yang saat ini sudah terlelap di kursinya. “Kalau ada yang kamu pikirin dan itu memang beban, bisa bagi ke aku? Kita ini—”
“Nggak ada!” jawaban Pulung terlalu cepat. Sehingga kerutan di dahi Maha sangat menggemaskan. Dan Pulung yang normal, ingin sekali, ingin banget melarikan jari-jarinya ke sana dan mengurutnya seraya berbisik ‘it’s oke. Aku cuma mikirin kamu dan kita.’ Aduh, Gusti! Sejak kapan Pulung punya tingkat kebucinan di atas level rata-rata, ya?
“Cewek susah banget di tebaknya.” Gerutu Maha. “Bilangnya nggak apa-apa, baik-baik saja. Tapi aslinya ada apa-apa dan nggak lagi baik-baik saja.” Maha mulai mendumel. Pulung menarik sudut bibirnya di tempat. “Mending bilang, deh. Jangan bikin aku nebak-nebak. Kalau salah aku juga yang rugi.”
Oho! Begitu, ya, otak pebisnis?! Semuanya di ukur dari skala besar untung dan ruginya. Bahkan sampai masalah hati saja di perhitungkan.
“Apa yang kamu pikirkan?” kata Maha menyambung. “Sudah aku bilang tadi. Mending ngomong. Nggak perlu bikin aku yang otaknya cuma nyantol di antara dua paha nebak-nebak. Aku bukan cenayang, ya, Yang. Bukan!” Melihat mata Pulung yang memicing, Maha tahu artinya. Tidak sulit, karena Maha sudah mempelajari dari keseluruhan sifat Pulung.
Sedang Pulung yang merasa tertohok tepat sasaran, hanya bisa menundukkan kepalanya. Anak-anak rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya yang ayu. Dan begitu mobil yang di kendarainya berhenti, regupan di kedua bahunya serta sabuk pengaman yang di lepaskan membuat kepala Pulung terangkat.
Senyum Maha terkembang pertama kali. Terekam jelas di memorinya yang sudah penuh sesak kian berdesak-desakan di sana. Kedua jempol Maha bergerak teratur naik turun mengusapi bahunya.
“Tuhan tuh adil.” Bukanya sembari mengecup kening Pulung agak lama. “Aku nggak bisa janji banyak kecuali untuk bikin kamu bahagia. Tapi aku juga senang. Perlahan kamu kasih aku kesempatan buat nyembuhin kecewamu. Dan aku tahu, aku butuh perjuangan buat mengutuhkan kembali hatimu. Ini juga nggak mudah. Aku tahu apa yang mau kamu proteskan. Tapi Sayang …” Maha menjeda. Yang terlihat jelas lukisan merah jambu di kedua pipinya. Ah, Pulung senang. Karena yang merasai bahagia ini tidak hanya dirinya. Maha bahkan bisa lebih salah tingkah padahal umurnya sudah tidak muda lagi.
“Ini persoalan waktu. Dan aku mau kamu baik-baik saja. Diam di sini nggak perlu lakuin apa pun. Kali ini, izinkan aku yang berjuang. Demi kamu dan Bara. Kamu harus sadar. Kamu sudah hebat dari apa yang pernah kamu pikirkan tentang dirimu sendiri. Aku juga sadar, konsep mendapatkan kebahagiaan artinya mau berkorban. Melewati beberapa luka dan meneteskan air mata.”
***