Baraja dan Maha tertawa terpingkal-pingkal. Melihat satu adegan di mana Spongebob dan Patrick melakukan hal konyol. Di sertai kehadiran si gurita abu-abu—Squidward—yang selalu siap meledakkan lahar emosinya. Tawa keduanya tak kunjung surut. Terlebih ini hari minggu. Calon papa dan anak itu bisa bersantai seenak jidat. Tidak peduli pada geraman Pulung yang tertahan, perempuan yang sedang memasak di dapur itu hanya melirik-lirik terus sejak tadi.
Bukan apa-apa. Pulung sudah pernah memperingati Maha untuk jangan membawa Bara menonton kartun itu. Meski bagus dan ada pesan moral yang bisa di petik, tetap saja, kejahilan si spon dan bintang laut merah jambu itu meresahkan.
Jawaban Maha waktu itu begini: kadang aku bertingkah bodoh hanya karena ingin membuatmu tersenyum.
Dan di sambung dengan: meskipun aku tahu senyummu bukan untuk aku.
Kata Spongebob begitu. Yang demi kerang ajaib tuan Krabs, Pulung tidak peduli. Terpenting di sini, jangan bawa putranya menonton kartun macam itu. Titik. Pakai K. Tapi Maha tetap saja bandel. Pulung punya andil besar untuk mengambil remote dan mematikan layar plasma itu. Tapi tahu tidak siapa yang menjadi musuh Baraja? Dirinya, mamanya sendiri. Bayangkan seperti apa sakit hati Pulung.
Tapi, ya, sudahlah. Asal Bara anteng dan tidak merecoki dapurnya. Itu lebih baik ketimbang putranya rewel dan tidak bisa di tinggal.
Mendadak Pulung teringat akan doanya. Yang Pulung percayai bahwa niat baiknya telah semesta beri jalan. Yang menggema di setiap panjatan doa-doanya—kapan tepatnya Pulung lupa—begitu khusyu’. Tiba hari ini doanya telah terkabul. Kepercayaan Pulung berkali-kali lipat bahwa doa-doanya benar sudah ditiupkan ruh cinta. Tidak banyak yang Pulung pinta. Sekadar memohon agar Tuhan memberikan seseorang yang jujur dan setia dalam mencinta selebihnya akan di usahakan bersama.
Ternyata… Takdir Tuhan memang tidak ada yang menyangka. Maharaja Askara datang bersama dengan kepastian membawa hatinya menuju jalan meraih kebahagiaan. Yang mana Pulung sadari—sekali lagi—serumit apapun jalan untuk meraih harapan, jatuh cinta mendefinisikan kerumitan menjadi kesederhanaan. Karena lagi-lagi ketika Pulung mengangankan kriteria suami masa depannya, jatuh cinta tetaplah misteri dan ada dalam kuasa Tuhan. Pulung benar, kan? Nyatanya yang hadir adalah seseorang yang begitu dekat dengan dirinya. Bahkan dalam jangkauan mata.
Embusan napas Pulung terhela. Dadanya terasa sangat ringan. Dan tawa yang menggema keras memasuki rungunya menolehkan kepalanya. Di sana, dua lelaki kesayangannya sedang menikmati waktu selayaknya ayah dan anak, betulan. Di sana, bisa Pulung lihat ada secercah cahaya yang terus menghangatkan calon keluarga kecilnya.
Sudut bibir Pulung berkedut. Menahan tawa yang tak sepantasnya di perlihatkan. Umurnya dua enam, tapi kelakuan jatuh cintanya persis ABG yang mendapat balasan surat cinta dari pacar idamannya. Aigoo. Pulung malu sekali.
Tatapan Pulung mengunci tengkuk Maharaja. Yang mana lewat seorang Maha, Pulung belajar untuk tidak menjadi seseorang yang di kagumi oleh banyak mata. Lewat Maha, Pulung belajar menjadi dirinya sendiri. Cukup menjadi perempuan yang tidak hanya sebagai kekasih tetapi juga menjadi perempuan penyabar yang mendampingi seorang lelaki dengan mimpi besar yang hebat. Sampai banyak hari, Pulung tidak ingin membiarkan Maha berjuang sendirian. Sebab ada dirinya di sini untuk membuat Maha percaya bahwa Pulung juga sama mencintainya. Suatu hari nanti—saat status resmi pernikahan telah mereka dapatkan—Pulung berjanji bahwa pelukannya adalah alasan terbesar Maha untuk lekas menuju rumah.
Kedengarannya sangat berlebihan, ya?
Pulung terkekeh. Yang tidak di sadari sudah ada Maha di belakang tubuhnya. Memperhatikan dengan intens. Lelaki itu juga sedang memikirkan sesuatu. Meninggalkan Bara yang kembali anteng dengan mainannya seusai menonton kartun kesukaannya.
Tidak banyak yang Maha pikirkan. Namun melihat senyum Pulung beberapa menit yang lalu, getaran dadanya meningkat. Dan percaya bahwa Pulung pun sama mencintainya. Rasanya sangat mendebarkan. Sampai-sampai Maha ingin memberi tahu pada Pulung alasan apa yang membuat dirinya terus bertahan dan menunggu. Alasan mengapa Maha tetap memilihnya. Alasan mengapa Maha tetap mempertahankannya.
Sebelum hari ini—jujur saja—Maha tidak bisa memilih kepada siapa dirinya ingin jatuh cinta, termasuk hatinya yang memilih Pulung. Tetapi berkat itu semua, setidaknya hari ini, Maha tahu dengan siapa dirinya berjuang dan merencanakan hal-hal baik di masa depan. Maha sudah berkenalan dengan baik macam-macam kekurangan yang ada di diri Pulung. Dan tetap memilihnya. Tetap pada titik di mana hatinya terus menjatuhkan cintanya. Pun Maha percaya, baik suka maupun suka, bersama Pulung adalah kebahagiaan terbaiknya.
“Oh, astaga!” Kepala Pulung menubruk d**a bidang yang keras. Itu Maha yang sama terkejutnya dan berjengit mundur. “Kamu ngapain, sih jadi patung di sini?” Dumel Pulung.
Beruntungnya, panci panas berisi sop ayam buatan Pulung tidak tumpah. Akan sangat berbahaya jika sampai mengenai kulit Maha. Bisa-bisa melepuh dan—tidak bisa Pulung teruskan. Otaknya suka sekali traveling pada kemungkinan-kemungkinan yang buruk.
“Kamu nggak apa-apa?” Adalah Maha yang bertanya. Kebalik, Bambang! Pulung mendengus kesal. “Aku tuh mau ambil minum. Tapi kamu asik banget kayanya sama gorengan bakwannya.”
Bukan asik tapi fokus. Kalau Pulung meleng sedikit saja, bisa gosong, kan eksperimen dapurnya?
Maha suka nggak ada akhlak kalau menyimpulkan.
“Mau jadi patung jangan di sini, deh, besok-besok lagi. Langsung ke bawah patung pancoran, beli pilok warna silver. Jadi manusia silver terus joget-joget di sana.”
Di respon oleh Baraja. Pulung menoleh dan bengong. Kenapa bisa putranya tertawa serenyah itu. Hari ini ada apa, sih? Kok Bara banyak ketawanya timbang rewelnya?
“Bukan aku,” ucap Maha mengangkat kedua tangannya. Pasalnya, mata Pulung sudah memicing yang mengindikasikan tuduhan tepat sasaran bahwa Maha sudah meracuni otak putranya. “Sumpah enggak ya, Yang.” Elaknya.
Percaya tidak kalau firasat perempuan itu selalu kuat dan tepat sasaran?
“Awas, ya, kalau sampai ada rencana di belakang!”
Tidak gampang, deh mengelabui si betina itu. Belum-belum saja Maha sudah mendapat ancaman. Pulung kalau sudah main ancam-mengancam nggak ada damagenya Bund. Serius. Itu lebih horor dari mbak kunti yang bergelantungan di pohon bambu.
“Suka banget suudzon sama aku.” Maha posisikan tubuhnya kembali di samping Bara. “Dosa tahu!”
“Salah sendiri, sih. Orang memang punya kebiasaan begitu kok.”
“Kan nggak seterusnya aku begitu. Sesekali.”
“Sesekalinya kamu itu selawase.”
Terjadi perang mulut. Dan tidak ada yang mau mengalah. Pulung dengan firasatnya yang kuat. Dan Maha membantah tanpa ampun. Padahal, kalau di pikir-pikir lagi, ya memang benar. Maha punya rencana bersama Bara. Tapi nggak yang ekstrim banget. Itu masih di tahap normal. Cuma berenang, kan nggak ada aneh-anehnya. Pulung saja yang sukanya negatif.
***