Pulung bisa duduk berjam-jam hanya untuk melamun dan berpikir. Pulung bisa duduk diam dengan kepala yang rungsing dan hati yang kemrungsung (berisik). Pulung bisa melakukan apa saja untuk mengingat perjalanan hidupnya hanya dengan duduk diam. Sendiri, entah di tengah keramaian atau di kala sendiri. Dalam lingkup sunyi dan sepi. Semuanya tidak menjadi pengaruh. Semuanya bisa berdesakan ingin masuk. Menempati masing-masing bagian yang Pulung daftarkan dalam kenangannya.
Baik maupun buruk, bisa Pulung terima. Tidak ingin mencecar apapun kondisinya yang telah Tuhan berikan. Tiap manusia memiliki porsi masing-masing untuk kehidupannya. Milik Pulung … mungkin itu buruk. Tapi tanpa sebuah ucapan syukur, keburukan itu akan terus menghantui. Milik Pulung … mungkin tidak seindah milik orang lain. Berbuat demikian—membandingkan milik kita dengan orang lain—tidak akan merubah keadaan. Hasilnya yang akan membuat kita terus terongrong ketidakpuasan alih-alih menuju perubahan.
Bersyukur menjadi sangat penting. Tuhan tambah nikmatnya. Tuhan beri yang lebih jika kita mau menikmati apa yang sudah Tuhan berikan. Takkan Tuhan kurangkan. Memberi lebih sudah menjadi kebiasaan Tuhan kepada semua umatnya. Itu tidak repot. Asal kita sebagai manusia bisa mengaplikasikan keseluruhan secara positif.
Dua kali menjanda—itu miris. Siapa perempuan di sini yang mau menjadi janda dan di cap buruk oleh banyak kalangan?
Katanya, janda itu status terburuk yang banyak perempuan hindari. Ketimbang menjanda, ada pilihan untuk menerima madunya. Ketimbang menjanda dan memiliki keluarga yang berantakan, ada baiknya bertahan meski itu menyakitkan. Daripada menjanda dan di nilai ‘kita sebagai perempuan tidak becus mengurus suami’ baiknya menerima saja. Di sakiti sampai ke relung hati, apa rahasianya sampai bertahan sejauh itu?
Faktanya, tidak semua yang menjanda itu buruk. Ada kalanya mata masyarakat melihat dari segi perilaku sang suami. Lelaki—pada dasarnya—tidak pernah puas dengan satu perempuan. Mereka mudah bosan dan cepat melempar pilihan. Untuk bersenang-senang tanpa berpikir panjang ada yang menunggu di rumah. Ada hak anak yang harus di kucuri waktu dan kasih sayang. Ada istri yang terbangun petang guna menyiapkan keperluan suami dan terlelap di paling akhir, memastikan semua kebutuhan sang suami di hari ini cukup memuaskan.
Pulung bukan ingin menjatuhkan nilai lelaki di mata banyak orang. Hanya dari pengalamannya saja. Pernikahan pertamanya hancur karena ekonomi dijadikan alasan. Padahal tidak. Suaminya—yang sudah Pulung lupakan keberadaannya—menalaknya karena perbedaan status. Pulung yang hanya lulusan SMA, memiliki pendidikan rendah, tidak pantas bersanding dengan mantan suaminya yang berasal dari keluarga terpandang. Maka, Pulung setujui untuk sebuah perpisahan.
Kelihatannya saja adem ayem. Di usia tepat satu tahun pernikahannya, semuanya usai. Ekspektasi tertinggi Pulung mengenai dunia pernikahan, lebur sudah. Awal yang baik belum tentu menghasilkan akhir yang baik. Karena semuanya punya porsi yang tak bisa di sama ratakan.
Yang kedua dalam perjalanan pernikahannya. Ini sejarah tersingkat dalam hidupnya. Berapa bulan bersama Ardika? Sialnya, menyebut nama lelaki itu masih membuat jantungnya berdetak kencang. Pulung pikir sudah benar-benar selesai. Nampaknya ada sisa cinta yang masih tersimpan rapat.
Pun bukan kehendak Pulung untuk menerima Ardika sebagai suaminya. Tuhan yang menautkan hatinya untuk membuka kesempatan bagi Ardika. Lewat Naomi—ngomong-ngomong Pulung kangen dengan putri kecilnya itu—semuanya terasa mudah.
Dan kiranya yang kita dapatkan dengan terlalu mudah maka akan cepat pula selesainya dengan kemudahan yang sama pengawalannya. Selesai, begitu saja. Pulung lihat Ardika bersama sepupunya, Dante, tak menjadi masalah bagi hatinya. Mungkin memang Ardika bukan jodohnya. Ardika dan Dante terlihat serasi sewaktu Pulung menatapnya lekat-lekat. Bahkan ada bayi yang sudah di bawa Dante di perutnya.
Untuk semua alasan yang ada, Pulung menyimpulkan bahwa Ardika menginginkan seorang anak. Sedang dirinya terlambat untuk memberikannya. Yang kini sedang duduk anteng dengan biskuit menyumpal mulut mungilnya; Baraja memainkan mobil-mobilannya.
Tidak mengapa. Pulung sudah ikhlas. Pulung sudah menerima sejak hengkang dari rumah yang pernah dirinya jadikan tempat pulang. Kini, babak baru sedang dirinya jalani. Bersama orang lain, orang baru—tidak juga sebenarnya. Karena Pulung mengenalnya dengan baik siapa Maharaja Askara. Tidak sepenuhnya juga.
Ah, kenapa plin-plan sekali otaknya ini. Maksudnya, Pulung akan mengenal Maha bersamaan dengan kehidupan barunya yang terajut. Sekarang, cukup Pulung pilih satu; Maha.
Yaitu yang paham bahwa hatinya pernah terluka namun tetap terus menjaganya. Yang hatinya pernah gelisah namun tetap di beri kabar untuk tidak bergemuruh dengan pikirannya sendiri. Yang telah Pulung pilih satu di mana mampu bersetia dengan dirinya. Yang berbangga dengan keberadaan Pulung. Dan ini yang paling penting, di mana Maha telah memilih dirinya sama seperti Pulung menjatuhkan hatinya dalam genggaman Maha.
“Muuu … pahhh.” Bara berteriak. Pulung paham artinya. Balita itu mencari Maha. “Pahhh.” Rengeknya menggelendot di kaki Pulung. Raut wajahnya sudah tidak serapi pagi tadi. Rambutnya yang lebat telah awut-awutan yang entah ada badai dari mana menyerangnya.
“Kerja,” jawab Pulung lembut. Mengangkat tubuh gempalnya untuk Pulung beri s**u sambung. Sudah dua tahun lebih, Bara Pulung lepas dari ASI-nya. “Kamu bobok harusnya. Cuma kamu bayi yang nggak suka bobok siang.”
Bara tertawa. Tidak paham dengan omelan Pulung. Tapi bagi balita sepertinya, suara sang ibu sangat merdu dalam rungunya. Mendayu-dayu merdu menerbangkan ke alam mimpi. Benar saja, tak lama dengan kedua tangan memegang botol, mata Bara melayu. Sembari menggerakkan bibir kecilnya untuk menyedot sisa susunya.
Pemandangan lain yang tak selalu bisa Pulung lihat. Namun merekam dalam ingatannya menjadi sebuah keperluan.
“Nggak sabar nunggu kamu gede. Perasaan kemarin kamu masih sekecil timun emas. Sekarang sudah sebesar buah nangka.”
Maha dan Pulung sama-sama memiliki masa lalu. Entah di bagian siapa yang paling dalam meninggalkan jejak trauma. Namun di hadapan waktu—yang saat ini sedang di pijaki—keduanya sepasang kekasih. Mata Pulung berfungsi tidak hanya untuk melihat kekurangan maupun kelebihan Maha, namun memandang Maha sebagai bentuk kebaikan Tuhan. Begitu juga sebaliknya dengan Maha yang Pulung panjatkan doa-doanya.
Hari-hari berikutnya, Pulung harapkan bahwa keduanya memiliki kadar cinta yang sama. Yang tak akan luntur berganti tahun. Yang terus tumbuh dan saling menerima. Yang di dalamnya tertuang kebahagiaan apapun niatnya.
Pulung selalu meyakini ini, bahwa ketika kita lahir, kita sudah menjadi sangat special untuk seseorang. Dan untuk kalimat itu, Pulung gantungkan harapannya pada Maharaja yang menyimpan namanya dengan apik sejauh ini.
“Makasih sayang.” Pulung kecup kedua pipi Bara. Bocah lelaki itu terlelap dengan sangat cepat meski tanpa Maha di sampingnya. “Kamu yang membawa kekuatan sejauh ini untuk mama bertahan. Makasih sudah hadir di sini.”
***