Pertama-tama, harus bagaimana Maha bertindak? Harus dari mana Maha memulai?
Sedang Pulung terlihat sangat anteng adem ayem, Maha yang belingsatan sendiri. Napasnya memburu. Jakunnya naik turun. Keringat dingin bercucuran keluar dari pori-porinya. Yang menjadi masalah adalah … ayolah! Jangan bikin Maha malu cuma karena adegan di dalam video. Yang mana, Maha itu cowok normal. Pasti terangsang birahinya melihat adegan demi adegan yang tersaji.
Kecupan-kecupan basah yang dua pasangan itu lakukan menghempaskan Maha pada daratan untuk sadar. Namun otaknya mengawang di nirwana. Seolah hanya dengan melihat mereka melakukannya, Maha pun ingin ikut andil di dalamnya. Tidak adilnya hanyalah, dirinya harus menahan mati-matian tapi Pulung tenang maksimal.
Kok bisa?
Itu yang Maha misuhkan dalam hati. Kenapa bisa Pulung sesantai itu bahkan tidak ada ekspresi wajah jijik apalagi ingin muntah. Oh, Maha baru ingat. Apa memang begitu damage janda—mantan janda? Pulung akan official dengan dirinya sebentar lagi.
“Kamu kenapa?” Mata Pulung mengerjap-ngerjap bodoh. Kepalanya baru menoleh akibat suara gerasak-gerusuk di sebelahnya. “Tumben kamu lasak.”
Tumben katanya. Tumben, loh. OW-OWKEY.
“Mandi, ah.” Tubuh Maha segera bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi dekat dapur. “Kamu!” Tunjuknya sebelum benar-benar tertelan pintu kamar mandi. “Bakal habis sama aku.”
Mulut Pulung terbuka lebar. Tidak mengerti akan apa yang Maha ucapkan. Ingin membalas namun terlambat. Pergerakan Maha begitu gesit dan debaman keras yang masuk ke dalam rungunya.
“Dia itu kenapa, sih?” gerutu Pulung. Melanjutkan aksi nontonnya yang tidak tahu mengapa amat membuatnya penasaran.
Kira-kira berapa milyar para pemain itu mendapatkan upahnya dalam satu kali permainan? Atau, mereka pernah tidak, ya, melihat aksinya sendiri di atas ranjang yang menurut penonton panas dan ganas itu? Dan mereka itu di hujat tidak, sih? Karena Indonesia adalah negara hukum yang menganut kuat adat istiadat dan norma. Tentunya akan sangat aneh jika perilaku tersebut dilakukan di sini. Namun nyatanya tak jarang yang berkecimpung di dunia kelam. Alih-alih alasan ekonomi, mereka punya cerita tersendiri untuk di tuangkan.
Pikiran Pulung kumal. Sekumal tumpukan cucian yang berada di sudut ruangan. Tidak terjamah sejak beberapa hari lalu. Hujan yang mengguyur menyusahkan segala aktivitas termasuk menjemur pakaian. Di jemur hujan. Tidak di jemur hujan tidak datang. Itu, kan angjim surangjim sekali namanya. Ibu-ibu sekelas Pulung di kerjai total.
Sudahlah. Lebih baik melanjutkan. Pulung anggap ini obat magernya (malas geraknya). Mumpung libur dan Baraja nyenyak dalam alam bawah sadarnya. Kapan lagi Pulung bisa menikmati me time-nya?
“Kamu belum selesai juga?”
Fokus Pulung terlalu tinggi menikmati adegan utamanya. Dan langkah Maha yang tidak terdengar menjadi sangat mengejutkan. Lelaki yang tidak mengenakan pakaian atasnya itu nyengir kuda. Berlalu tanpa dosa setelah puas mendapat pelototan dari Pulung.
“Calon nggak ada akhlak!” Kini Pulung yang misuh-misuh. Tidak sepenuhnya, sih. Tapi lebih kepada megap-megap. Ya, gimana nggak kelabakan coba? Di depan sana tersaji adegan panas super hot. Dan baru saja, ada setan ganteng lewat tanpa pakaian lengkap. Kalau Pulung khilaf—sudah malahan, matanya—kan berabe?
Bayangkan! Bagaimana perasaan Pulung.
“Lagian kamu tuh kurang kerjaan banget nonton begituan.” Maha kembali duduk di tempat yang sebelumnya. Membawa semangkok besar salad buah racikan Pulung. “Kita, loh, bisa langsung praktek. Nggak perlu nonton kaya gitu. Nggak perlu nahan—”
“ETA MULUT!” Pulung ngegas. Di pukulnya kuat-kuat bahu Maha. “Bisa-bisanya ngajakin aku yang iya-iya, eh, enggak-enggak. Kamu tuh calon iman keluarga. Ngomong kudu di filter. Ada Bara yang dengar—”
“Bobok. Nggak bakal kerungu. Kamu pun makin kualat. Sama suami—”
“Calon, ya, calon. CATAT!”
“Ya apapun. Intinya aku punya kamu, kamu punya aku. Puas?!”
Kok gitu?!
Mata Pulung melirik-lirik Maha yang ganyem salah buahnya. Wajahnya menghadap ke sembarang arah asal tidak pada sumber suara yang menghasilkan ide di otak Pulung. Sengaja Pulung dekatkan tubuhnya agar menempel pada tubuh Maha. Yang mana dalam sudut mata Pulung, terlihat keterkejutan menggelayuti ekspresi Maha. Hanya sebentar, berselang detik kembali fokus menusuk-nusuk potongan buahnya. Tidak habis akal, Pulung letakkan kepalanya di lengan Maha. Bersandar sembari menahan tawa. Ternyata se-cringe ini mengerjai Maha. Ada sensasi dugun-dugun di jantungnya yang berdetak kencang.
“Habis?” tanya Pulung yang berpura-pura tertarik dengan salad buah Maha. “Yah, kamu kok maruk banget, sih?! Belum juga aku minta. Sudah wasalam.”
Meski begitu—anehnya dalam pandangan Maha yang alisnya sudah berkerut-kerut—Pulung terus menempelkan tubuhnya. Yang kian intens dan Maha sesak sendiri. Maksudnya, ingin Maha menegur, tapi juga nggak mau munafik. Pikirkan saja, jarang-jarang Pulung mau—apa ya istilahnya—manja, mungkin, terhadap dirinya. Dan Maha yang bertipikal orang tidak mau kehilangan kesempatan, maka menggunakannya sebaik mungkin.
“Kalau kamu mau, aku bikinin, ya?” tawar Maha serupa pertanyaan. “Aku pikir kamu nggak mau tadi.”
“Nggak usah! Nggak napsu lagi aku.”
Gusti … kenapa perempuan kecintaannya unik sekali. Ciptaan-Mu yang satu ini memang tiada duanya. Begitu jeritan batin Maha. Yang sudah tidak suci lagi.
“Oke.”
“Gitu doang?!”
Ya gimana lagi Jamilah?
Maha jadi serba salah. Pulung juga nggak mau ngomong secara jelas saja. Mesti banget, ya, pakai kode gitu? Cowok itu—sini Maha bisiki—tidak paham perihal kode dan tidak suka di kode. Terlebih bagi Maha, itu tuh ribet pakai banget. Sialan.
Pekikan Pulung barusan cukup membuat Maha untuk mengerti dan caranya memahami perempuan kesayangannya.
“Aku kupasin bentar. Kamu di sini, oke,” katanya mengecup pucuk kepala Pulung. Yang mana si empunya speechless dengan pipi semerah tomat. Demi saus tar-tar yang suka di sebut Patrick di Bikini Bottom, Maha ingin menerkam Pulung. Saat ini, detik ini juga. Tanpa peduli status.
Tidak bisa. Lenguhan dalam hatinya meraung tidak terima. Setan-setan dalam dirinya berkerubung, saling membisiki untuk memutar balik tubuhnya. Mencium Pulung tepat di atas bibirnya untuk Maha raup sendiri.
“Kamu sakit?”
ETA JURIK! GIMANA BISA SELALU HADIR DI SEKITAR MAHA, SIH?!
“Enggak!” Sewot Maha mengelus dadanya. Kaget dengan kehadiran Pulung di kala otaknya sedang kotor.
Sebenarnya Pulung tahu apa yang sedang Maha pikirkan. Berbanggalah pada bakatnya yang bisa menggoda Maha hanya lewat sentuhan ringan. Pulung suka saat ‘pura-pura’ tidak mengetahui apa yang Maha rasakan atau yang Maha pikirkan. Sama seperti dulu saat Pulung pura-pura abai pada perasaan Maha.
Itu prinsip dirinya untuk menjadi perempuan cerdas. Menjadi tidak tahu apa-apa padahal Pulung mengetahui semuanya. Kemudian berani mengambil tindakan—dengan menerima lamaran Maha. Membuat pilihan bijak tanpa harus mendengarkan apapun alasannya.
***