Langsung Ardika peluk. Masuk ke dalam dekapannya. Menyatu dengan tubuhnya. Tidak peduli pekikan maupun protesan yang akan terlontar setelah ini. Bahkan jika ingin mengomel, akan Ardika dengarkan. Satu jam, satu hari bahkan satu minggu. Akan Ardika lakukan.
Indera penciumannya menyerap banyak-banyak kuaran parfum lembut yang menusuk masuk. Sangat anggun terekam dalam otak Ardika. Memorinya penuh dengan harum tubuh yang teramat Ardika rindukan. Pertanyaannya: sudah berapa lama?
Bertambah durasi waktunya, bertambah pula pelukan Ardika yang mengerat. Bisa di samakan dengan ular yang melilit korbannya. Yang tidak ada perlawanan. Justru balasan yang sama kuatnya. Ada tangis yang terdengar di rungunya. Ada basah yang merembes di kemejanya. Abaikan saja. Ini sesi penting. Ardika sedang menikmatinya.
Sekarang Ardika tahu jawabannya. Bahwa inilah yang dirinya cari selama ini. Bahwa sebesar inilah cinta yang semestinya Ardika tunjukkan. Dan inilah kebenaran di mana hatinya terpeluk dengan cinta yang berbalas.
Cukup untuk mimpi dan keinginannya yang kian membesar. Untuk isi kepalanya yang mulai mengembang. Penuh sesak yang di dalamnya terpanjat harapan; tetap Ardika yang ingin menjadi pendamping dan mendampinginya. Tidak apa-apa jika itu terkesan egois. Cinta memang sepatutnya begitu.
Sejak menemukanmu—hari ini—kembali Ardika rasakan perasaan mencintai tanpa mau kehilangan.
“Maaf saja nggak akan cukup. Iya, kan?” Suara bergumam di d**a Ardika sudah memberi jawaban yang ingin dirinya dengar.
Sadar pada kalimat: tidak ada yang abadi baik untuk kebahagiaan maupun luka. Ardika mengerti artinya. Suatu saat nanti akan tiba waktu dan titik di mana menertawakan rasa yang dulu begitu di agungkan. Entah untuk sakit atau menangisi rasa yang indah. Sudah Ardika pahami maknanya.
“Kita nggak perlu pura-pura lagi?”
“Hm, nggak perlu lagi. Kamu bisa kapan pun butuhin aku. Kamu bisa lemah di depan aku. Nggak perlu sok-sok’an tegar padahal lagi hancur.” Meluncur kekehan yang hanya keduanya saja pahami apa maksudnya. “Kamu bisa senyum bebas sekarang.” Ardika lepas dekapannya. Merangkum wajah Dante yang sudah basah total dengan simbahan air mata. Mata perempuan itu sudah sayu dan liquidnya terus bercucuran. “Astaga! Kamu sekangen itu, ya, sama aku?”
Dante pukul pelan d**a Ardika. Tidak sakit. Namun mentotalitaskan godaan, Ardika pasang wajah pura-pura sakit.
“Makasih sudah balik,” ucap Dante. Menempelkan bibirnya—sekadar menempel. Kecupan biasa yang tak merajutkan benang-benang saliva. “Aku patut bersyukur buat ini.”
Berganti Ardika yang mengangguk. Sudah cukup baginya untuk bermain-main. Kini, ingin hatinya hanya untuk fokus pada apa yang telah di raihnya. Tidak ingin membandingkan bahagia yang dulu dengan yang saat ini akan dirinya jalani. Kembalinya dirinya ke sini, bukan untuk merajut apa yang sudah dirinya awali. Melainkan membuka lembaran baru dan menutup kisah kelamnya.
Sebagai manusia biasa, Ardika tidak ingin lupa jika dirinya punya rasa. Yang jika terkena sayatan akan sakit. Maka Ardika akan menerima. Tidak akan Ardika tolak apalagi mengelak. Yang justru akan semakin terasa nyata.
‘Sesekali merasa tidak baik-baik saja, itu tidak apa-apa.’
“Kamu nggak perlu menahan lagi. Ingin menangis, keluarkan. Capek, ucapkan. Kamu muak, katakan. Jangan menahan lagi. Apapun. Meski bersikap baik-baik saja bukan sebuah masalah. Tapi aku mau, kamu menjadikan aku tempat bersandar.”
Jika Ardika bisa dengan mudah kembali ke dalam pelukannya. Menerima dirinya tanpa ada alasan lainnya kecuali bahagia dan ingin memulai semuanya. Dante pun demikian. Melakukan hal serupa guna mengimbangi perjalanan cintanya.
Sejujurnya—walau memang benar keinginan Dante mengincar Ardika hanya karena harta—Dante tak mencari pasangan yang sempurna. Dante hanya ingin menemukan seseorang yang dengan mudah mengajaknya tertawa. Itu Ardika. Membuat Dante nyaman. Itu Ardika. Yang pandai membangun obrolan-obrolan kecil. Pun itu Ardika yang lakukan.
Bagi Dante, pendamping yang sempurna bukan dari wajahnya yang rupawan. Bukan dari gelimangan harta yang tercatat di buku-buku keuangan. Bukan juga dari saham-saham yang bernilai triliunan rupiah. Namun, selain jujur dan setia, kualifikasi sebagai teman cerita untuk membicarakan topik apa saja. Dante percaya, dengan memiliki pasangan yang mampu menjadi teman bercerita itu memang sebuah keharusan. Sebab Dante pun ingin menjaga cintanya lewat percakapan-percakapan manis yang sederhana.
Ingatan Dante melayang pada isi dialog sebuah film. Bahwa katanya, mereka yang menua bersama hingga langgeng kuncinya amatlah mudah. Hanya dengan berbagi cerita. Entah menukarnya pada pagi hari ketika kedua mata saling terbuka. Atau siang hari saat makan siang di janjikan. Atau sore hari kala senja mulai meredup dan secangkir teh menjadi temannya. Atau malam hari saat sama-sama mengarungi alam mimpi.
Maka mulai saat ini, Dante ingin memahami bahwa menemukan pasangan hidup adalah menemukan teman bercerita. Anggaplah Dante sedang mengemas cinta dalam artian yang rumit. Namun memang benar adanya. Cintanya untuk Ardika serumit jalur pendakian. Sampai akhirnya—hari ini tiba—Dante temukan Ardika yang kembali. Seseorang yang telah Tuhan kirimkan untuk Dante letakkan rasa percaya di genggaman. Bukan sekadar suami, pasangan, pendamping namun juga pendengar cerita dan teman yang baik.
“Konsep jodoh yang orang-orang katakan memang nggak salah,” ucap Dante. Mengelusi rahang Ardika yang kokoh. Sedikit kasar namun terkesan maskulin. Rambut depannya juga memanjang. Menambah kesan manly. “Tentang mereka yang menemukan pasangan jiwanya. Yang harus percaya bahwa jodoh seperti cerminan diri kita. Kita yang baik, kita yang buruk bahkan kita yang bodoh akan di pertemukan pasangannya yang tumbuh dalam tubuh yang berbeda.”
“Kamu punya harapan baru?” tanya Ardika ganti. Posisi keduanya masih berdiri. Di ambang pintu dengan latar awan kelabu di siang hari. Karawang sedang tinggi curah hujannya. Jadi, tidak tahu waktu kapan mendung akan menjatuhkan airnya.
“Enggak!” jawaban Dante tegas. Dan Ardika hargai itu. Perempuan berstatus istrinya ini sudah berjuang banyak untuk menemani dirinya yang teruruk. “Enggak tahu kalau nanti,” sambungnya menggelakkan tawa. “Sekarang cuma mau menikmati apa yang sudah Tuhan kasih. Cukup dengan kamu dan Armani. Naomi, bagi aku sudah lebih dari cukup.”
Nama Naomi disebut, tak banyak yang bisa Ardika lakukan. Itu pekerjaan terberat yang harus segera dirinya selesaikan. Setidaknya jika Dante sudah mau menyebutkan nama putrinya ke dalam list, ada kesempatan untuk hubungan mereka membaik. Atau jika harus berjauhan seperti awal dulu, lebih baik.
“Kita pikirkan itu nanti. Kamu juga perlu ketemu mama sama papa. Kita perlu menjelaskan ke mereka soal rujuk kembali.” Dante setuju.
Selama ini belum ada interaksi mendalam antara dirinya dengan sang mertua. Meski terkesan acuh, Dante tak memungkiri perasaannya yang iri. Di mana Pulung selalu menjadi topik obrolan yang tak putus padahal orangnya saja sudah lenyap dari pandangan.
***