Begitulah hidup. Ada satu sisi di mana kita merasakan hilang kendali. Tak bisa mengontrol segalanya dalam satu waktu. Tak bisa mengendalikan apa yang di kehendaki hati. Sehingga terkadang perlu untuk keluar dari jalur nyamannya.
Sama halnya dengan hati yang telah mati. Sekadar melihat harapan yang sesungguhnya saja sudah tak mampu. Semuanya menghilang dalam satu kedipan mata. Semuanya lebur bersama kuasa Tuhan yang kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan menjalani. Mencoba bangun meski tahu tidak mudah bagaimana rasanya berjuang sendiri.
Setidaknya sudah mencoba. Barangkali banyak para pemikir di luar sana yang mencetuskan ide ini. Dan akan berhenti kala porsi perubahan yang meski tidak signifikan sudah di rasakan membaik. Sudah terlalu bersyukur untuk semuanya. Sudah berjalan sampai sejauh ini pada sebuah perubahan, nikmat Tuhan memang tiada taranya.
Barangkali itu yang sedang Ardika renungkan di tengah malam ini. Lelah dengan segala kesenduan yang dirinya ciptakan sendiri. Sesal yang bercokol juga tak kunjung menghilang. Tidak yakin kapan bisa pupus perasaannya. Saat ini, terpenting dari segalanya, ingin Ardika sudahi dulu kebodohannya.
Jika prosesnya sudah penuh drama, Ardika impikan menuju ke awal lembaran baru tak sesulit sebelumnya. Lantas apa yang ingin Ardika mohonkan jika Tuhan kabulkan harapan barunya?
Simpel saja. Akan Ardika jelaskan di bawah ini dengan rinci.
Ardika pinta pada Tuhan untuk menjaga kebahagiaannya. Entah dengan siapapun setelah ini. Jika harus kembali pada Dante—sesuai yang sudah dirinya pertimbangkan—tidak mengapa. Ardika yakin Tuhan tidak pernah melepasnya jika Ardika sudah bersungguh-sungguh.
Ini sederhana. Bagi sebagian orang yang saling mencinta—tidak berlaku bagi Pulung karena hanya Ardika saja yang masih menyimpan rasa itu—terdengar aneh. Alih-alih meminta di sandingkan dengan perempuan pemilik hatinya, Ardika justru meminta sebuah kebahagiaan saja. Ardika tak ingin berlaku serakah, itu saja.
Tapi bagi Ardika, melihat Pulung yang hidup dalam kebahagiaan—walau bukan dengan dirinya—cukup menjadikan alasan bagi Ardika melangkah ke depan. Tiba-tiba Ardika terkekeh dengan benaknya yang melambungkan energi positif bahwa ini adalah yang terbaik. Percaya tidak, bahwa cinta yang tumbuh dalam ketulusan, seperti sebuah kekuatan?
Percaya tidak percaya itu urusan masing-masing orangnya. Jika ya, maka sesungguhnya kamu telah merasakan seberapa besar sebuah cinta sanggup menguatkanmu dalam kondisi paling terpuruk sekalipun—meski takdir menuliskan cintanya tak bisa dirimu miliki. Dirinya dengan Pulung, misalnya.
Ada penggalan kalimat begini: jika kamu tidak bisa memiliki raganya, tak apa, asal kamu tidak kehilangan waktu untuk selalu bisa memeluknya di tubuh doa.
Sadar dan menyadari, embusan napas Ardika terhela. Kali ini terasa sedikit lebih ringan. Seolah beban yang selama ini di pendamnya terangkat secara perlahan. Pundaknya juga lebih rileks dan tidak kencang seperti sebelum-sebelumnya. Rasanya … memang ini sudah benar. Dan rasanya memang ini jalan yang Tuhan pilihkan dalam kurun dua tahun penantiannya.
Tidak sampai di situ. Ardika lanjutkan penggalan kalimat: bahwa cinta baik, tidak akan pernah sia-sia begitu saja di mata Tuhan dan malaikat-malaikat-Nya.
Senyum mengembang dengan apiknya. Menggantung di ujung bibir Ardika. Kata-kata di atas cukup menampar pipi dan hatinya. Mengingat Pulung bukan sebuah kesalahan namun pelajaran agar ke depannya biar Ardika pilah mana-mana saja yang harus dijadikan pelajaran.
Raga Pulung memang jauh darinya. Tidak mengapa. Asal Ardika tidak kehilangan nama Pulung di jantung doa yang tiap malam ia panjatkan. Itu sudah cukup.
Sederhana dan klasik. Karena Ardika bersungguh-sungguh—mulai sekarang—ingin menghabiskan sisa umurnya tanpa sia-sia. Tanpa sesal apalagi keluhan. Ardika sudah ikhlas. Tidak bisa mendampingi Pulung bukan berarti putus doa-doa untuk Pulung. Janji Ardika akan terus mendoakan yang terbaik dalam hal apapun yang menjadi pilihan Pulung. Akan terus menyemangati dalam jarak jauh. Akan menemani dalam pelukan doa-doanya agar tidak kesepian Pulung di mana pun tempatnya berada kini.
Ada Ardika di sini—yang lewat doa-doanya—ingin memahami Pulung bahwa di hatinya sangat Ardika cintai Pulung. Semoga Tuhan menyertai langkah-langkahnya ini. Sebab, Ardika tidak bisa memiliki Pulung selayaknya kekasih seperti dulu terlebih untuk mendampinginya. Jadi, begini saja sudah sangat benar.
***
Kopi buatan Pulung tak pernah berubah. Takaran pahitnya terasa pas kala bersalaman dengan lidah Maha. Uap panasnya yang masih mengepul menjadikan indera penciuman Maha terasa lega kala terhisap. Sensasinya sungguh menenangkan di saat gerimis pagi hari mengundang. Membuat sebagian umat manusia enggan berjauhan dengan kasur dan selimut.
“Paaa mo tu.” Pa, mau itu. Kira-kira begitu hasil dari teriakan Baraja. Balita dua tahun itu tidak tahu bahasa mager (malas gerak) yang mana hujan begini waktunya untuk terlelap kembali. Baraja asik dengan mainannya yang berserakan di lantai. Dan ketika bosan, Maha menjadi sasaran empuk untuk bahan kegabutannya.
“Mana boleh sayang.” Tolak Maha lembut. Bangkit dari sofa santainya menuju ke meja di mana sudah tersaji s**u dalam botol milik Baraja. “Ini punya Bara.”
“Ndak mo. Mo tu.” Yang mati justru Maha. Tahu bagaimana Pulung sangat overprotective terhadap putranya?
Masih terus Maha bujuk untuk mau memegang botol susunya. Ekspresi Baraja sangat lucu dengan pipi yang menggembung dan bibir mengerucut.
“Mama bisa marah. Itu bukan minuman enak.” Maha bawa ke dalam dekapannya. Menggendongnya untuk kembali ke tempat semula. Tentu setelah menjauhkan cangkir kopinya. “Mau ikut papa lagi?” Tawar Maha.
Mengambil hati Baraja tidak semudah kelihatannya. Bocah itu tetaplah bocah dengan segala pemikiran uniknya. Bahkan terbilang labil untuk seumurannya. Kadang-kadang ada sesi di mana Bara akan marah dan diam selama yang mulutnya sanggup terkunci rapat. Namun juga tak jarang hanya dalam hitungan menit semuanya usai seperti tak ada apa-apa. Mirip dengan orang dewasa. Perempuan terutama yang sedang dalam masa periode. Yang semboyannya: makan kenyang, nggak makan lapar. Duduk ganjal, nggak duduk pegal. Kira-kira begitu.
“Mmm …” gumam Baraja.
Kepala mungilnya sudah asik nemplok di d**a Maha dan seperti tak mau di debat, kedua matanya mulai terpejam. Sayu-sayu merapatkan kedua netra cantiknya di dalam sana.
“Lah bobok?” Pulung datang bersama pakaian rapinya sesudah mandi. Berjalan langsung ke meja makan menata hasil olahan masakannya untuk segera di santap. “Gitu tuh kalau sok-sok’an mau jadi orang dewasa. Duduk bentar, ada dot nyumpal di mulutnya, merem. Kakek-kakek!” Ejek Pulung.
Maha terkekeh. Ibu dan anak itu nampaknya punya kesenangan tersendiri. Untuk membuat keduanya terihat kompak.
“Suasananya mendukung, sih. Aku juga mau bobok lagi.”
“Bos kok kaya gitu. Malesan banget kamu!” Hardikan Pulung tak salah. Namun Maha tak tersinggung. Justru suka dan merasa bangga di perhatikan oleh Pulung sedalam ini.
***